Selasa, 08 Februari 2011

Burung Puyuh dan Bulan

Seekor burung puyuh diam-diam jatuh hati pada bulan. Biasnya pada temaram malam telah membuat burung puyuh itu tak bisa lagi menggunakan logika. Terpaku pada bundar gemilang yang muncul saat gulita.

Burung puyuh itu tidak lagi peduli terhadap lingkungan yang mengucilkannya, yang menganggap dia gila. Baginya cinta yang dia pelihara terlalu berharga untuk dienyahkan begitu saja hanya karena dia kemudian tidak punya teman untuk berbagi. Cintanya pada bulan telah membuat volume hatinya penuh sehingga tidak perlu lagi teman bahkan sahabat. Cukuplah bulan yang setia menatapnya tanpa berkedip.

Dia membangun sarang di lubang tanah, sarang yang dia siapkan sebagai peraduan bagi bulan. Dia yakin suatu saat bulan akan datang bertandang, menyambanginya yang menanti penuh pengharapan. Baginya tidak ada yang tidak mungkin, apalagi setiap malam dia selalu mengirimkan pesan perantaraan hitam. Pesan berisi barisan-barisan puisi yang dia kumpulkan dari serasah dedaunan. Tanpa mengiba dia meminta agar bulan sudi turun ke pelataran sarang yang sudah dia rancang.

Begitu setiap malam. Tanpa bosan dia menganyam setiap kata dan menerbangkannya ke awan. Pernah dia berhenti mengirim pesan, tapi dia menggantinya dengan sepenggal doa. Penuh khusuk dia tertunduk, berharap pemilik semesta mengabulkan doanya. Dia ingin segera mati dan bereinkarnasi menjadi venus. Planet yang sering dilihatnya dengan jelas saat bulan baru datang dan saat bulan beringsut tenggelam. Baginya venus romantis, setia menemani bulan pada saat awal dan akhir. Tidak peduli pada bagian tengahnya dia saru dengan jutaan bintang yang juga menemani bulan.

Dia tidak ingin menjadi camar yang katanya bisa melayang sampai ke awan. Dia juga tidak serta merta meminta pada Tuhan diberikan tulang carina sterni agar menempel di dadanya, tulang yang membuat burung jenis lain bisa terbang dan hinggap di ranting pepohonan. Baginya melayang sampai awan belum tentu bisa menghantarkannya ke bulan. Untuknya bermain di ranting dan dahan belum tentu bisa menarik perhatian bulan. Dia hanya ingin menjadi dirinya, burung yang bulunyapun tidak indah warnanya.

Banyak yang menyangsikan. Camar yang bisa melayang saja belum tentu bisa menggapai bulan, burung yang bermain di ranting dan dahan saja belum tentu menarik perhatian bulan. Apalagi burung puyuh yang hanya bisa berlarian di tanah. Bukankah itu suatu keniscayaan? Ratusan kali komentar seperti itu berputar-putar di saluran pendengarannya yang tanpa daun telinga. Meragukan. Tapi dia hanya diam karena dia punya keyakinan. Cinta akan membuatnya terbang ke bulan. Bertemu dengan kekasihnya sepanjang jaman.

Suatu malam saat purnama, burung puyuh mengajak bulan berbincang. Sambil duduk di atas sarang dia membakar daun kering yang dia kumpulkan sepanjang siang. Melalui asap yang membumbung ke udara dia membisiki bulan dengan bermacam pernyataan. Pernyataan yang tidak pernah terkandung di dalamnya keputusasaan. Bagi burung puyuh cinta memang harus diperjuangkan, tidak peduli di dalamnya terkandung keniscayaan, ketidakmungkinan. Dia hanya ingin cinta menjadikannya pejuang yang tidak kalah sebelum berperang. Dia hanya ingin tamat pada rasa cintanya yang telah tersampaikan.

Kalaupun akhirnya burung puyuh tidak bisa bersanding dengan bulan di pelaminan, burung puyuh tidak lantas putus pengharapan. Baginya mencintai sesuatu itu adalah sebuah proses pendewasaan. Suatu tahapan yang akan mengantarkannya pada suatu kesimpulan bahwa terkadang ketika kita mencitai seseorang dengan teramat sangat maka bisa jadi cinta itu tidak terbalaskan.

3 komentar:

Dewi Siti R mengatakan...

huaaaaaaaaaaaa.... *mewek*

gak suka sama kalimat akhirnya... :D but still, i have to get real and face it..

nita mengatakan...

Crt yang buaguss :)
tp kasian banget si burung puyuh..

Apisindica mengatakan...

@ceuceu: don't cry honey, just face it. Nggak terinspirasi dari kisah hidupmu lho meski related. upss....

@nita: terima kasih nita. salam kenal...