Senin, 05 Juli 2010

Senja

Aku membayangkan suatu senja datang mengundang. Kala langit biru bergradasi menjadi kemerahan kemudian berubah lembayung. Ketika angin berubah arah dari darat menuju lautan. Aku membayangkan senja itu kamu datang dengan senyum yang terpasang, mendekat ke arahku kemudian memeluk laksana pekat yang bercengkrama dengan malam. Erat tak terpisahkan.

Aku menunggu kala senja itu datang, karena begitu dia membayang tak sabar rasanya untuk memberimu setumpuk kertas ini. Kertas-kertas berisi tulisanku tentang kamu sebagai inspirasinya. Testimoni tentang bagaimana aku jatuh cinta, cemburu, marah, kecewa kemudian memaafkan sehingga kita bisa berjalan berpegangan tangan lagi memapah senja yang pasti akan datang.

Aku ingat kamu pernah bertanya. Katamu pernahkah aku berfikir kenapa kita saling mencinta? Aku ingat, bahkan aku abadikan semuanya dalam untai aksara di salah satu kertas yang akan kuberikan kepadamu kala senja itu datang. Aku bilang, aku tidak pernah memikirkannya. Mencintaimu adalah tindakan spontanitas, terjadi begitu saja. Tidak perlu dipertanyakan karena cinta memang tidak butuh jawaban. Tidak perlu dipersoalkan karena cinta datang membawa kedamaian.

Kamu pasti juga masih ingat ketika kita berbincang tanpa suara sambil menghitung bintang di belakang rumahmu sehabis hujan. Lihatlah, ketika cinta itu telah datang maka tidak lagi diperlukan suara sekedar untuk mengumbar sayang. Kata seperti terlebur sebelum mereka keluar dari kerongkongan. Tidak ada lagi prosa, tidak ada lagi drama. Kita hanya menikmati senyap sambil berdiskusi perantara telepati. Cinta bisa melakukan keajaiban itu.

Kala senja itu datang, aku berharap cinta yang sedari awal kita bina telah purna melewati evolusi. Kamu juga pernah bertanya, kenapa harus evolusi? Bukankah evolusi itu berlangsungnya secara perlahan? Aku tersenyum tidak menjawab. Tapi coba kamu telaah di salah satu lembar kertas itu, disana aku memaparkan. Evolusi memang perlahan, tapi hasil akhirnya merupakan bentuk paling sempurna. Bentuk yang adaptif terhadap segala macam rintangan dan penghalang. Pengejawantahan cinta yang tidak lagi bisa digugat cerca.

Aku tak sabar menanti kala senja itu datang. Aku membayangkan berbaring di perutmu selagi kamu membaca bundelan kertas-kertas yang aku berikan. Tak terdengar kamu banyak berbicara karena sepertinya kamu sibuk dengan kata yang berderet bagai sinema. Matamu sibuk hilir mudik dari satu tanda baca ke tanda baca berikutnya, tapi tanganmu tak pernah berhenti mengelus rambutku yang pastinya telah berubah warna menjadi abu-abu.

Tak perlulah kamu membacanya sedetail itu. Cukup beberapa halaman di awal, setelah itu bacalah sepintas-sepintas. Aku tidak ingin kamu melewatkan bagian akhirnya yang sudah aku persiapkan dengan matang karena keburu bosan. Tapi kamu bersikeras seperti biasanya. Katamu kamu ingin tenggelam dalam setiap frase yang membuatmu seperti melakukan perjalanan napak tilas. Kamu ingin menggelepar bahagia pada setiap koma yang mengantarkanmu pada klimaks.

Perasaanku tak karuan ketika banyak halaman sudah kamu habiskan. Antara senang dengan cemas saling baku hantam dalam keping otakku yang sepertinya mulai kehabisan kapasitas daya simpannya. Aku sudah mempersiapkan sebuah puisi berbait tiga di akhir kertas yang kuberikan. Bacalah sehingga kamu bisa meraskan semua yang selama ini aku pendam.

Waktu tidak pernah surut ke belakang
Dan dalam perjalanannya, dia mempertemukan aku dan kamu yang sama-sama ambigu
Awalnya berontak saling menghindar, menepis perasaan yang tumbuh dari sebuah ketidaklaziman
Mencaci Tuhan yang menciptakan cinta dalam ruang tak pandang penampakan

Kita belajar menerima, menganggap takdir sebagai sesuatu yang sudah ditasbihkan
Cemooh dan cibirin hanya sebuah batu sandungan yang justru menguatkan
Mempererat jalinan yang semakin pejal menggelinding di turunan yang terjal
Kita tertawa, kita merintih, kita menangis bersama
Atas nama cinta.

Tiba saatnya aku mengucapkan terima kasih kepadamu
Sosok yang sudah mau menerima dan menemaniku menapaki undakan usia
Tidak ada lagi rasa yang bisa kusembunyikan
Semuanya terumbar senja ini ketika kita berpelukan dan bercinta bagai remaja



7 komentar:

maiank mengatakan...

so sweet...kak...

duh jadi nggak enak dibuatin tulisan seindah ini, makasih loh :p

*komen ga tau diri

piss *.*v

rid mengatakan...

semoga saat senja itu tiba
hati masih setia menjaga cinta
semoga...

so sweet, apis :D

Grey_S mengatakan...

Gw jadi mo nangis pis, baca cerita yg ini.

Tottori mengatakan...

ya ampun.. dah senja aja...

Apisindica mengatakan...

@maiank: terima kasih kembali... :))

@Rid: amiiin. semoga cinta itu akan selalu ada. thanks yah!

@grey: mudah-mudahan nangisnya karena terharu dan bahagia bukannya karena sedih!

@tottori: iya neh, makin tua...

Reis's mengatakan...

senjamu berjelaga.
ada dahaga yang lama tak teraga.
maka biarkan ia berlalu di hitungan ketiga
karena ada aku, senantiasa terjaga
untuk malam-malam yang menganga...

Apisindica mengatakan...

@reis's:

Senjaku tak berjelaga
hanya tertutup awan untuk sementara
jangan paksa aku bergerilya
dari satu hati ke hati berikutnya