Jumat, 02 Juli 2010

Inikah Mati?

Inikah Mati?

Sebuah lorong gelap dengan cahaya samar di kejauhan saat kemampuan mata hanya terbatas sampai sana. Lorong yang banyak orang perbincangkan karena merupakan penghubung antara dunia kasat mata dengan dunia antah berantah yang mereka sebut akhirat. Sebetulnya aku ragu, dari mana mereka tahu tentang lorong ini padahal mereka belum mengecap mati.

Inikah Mati?

Saat raga merasa melayang seringan awan. Tanpa beban, tanpa persoalan. Katanya tidak berlaku lagi hukum gravitasi Newton yang membuat kita menapak pada tanah. Sesuatu yang juga katanya membedakan antara massa dengan berat. Entahlah apa itu karena aku sama sekali tidak mengerti. Yang aku tahu adalah sekarang aku melangkah bagai terbang. Tidak kurasakan gaya gesek yang biasanya menempelkan telapak kakiku pada tanah. Aku benar-benar melayang. Tanpa sayap.

Kerongkonganku berat. Tak ada lagi suara yang bisa aku keluarkan dari sana, padahal banyak sekali kalimat yang ingin aku sampaikan. Bukan protes karena aku ingat bahwa kalau mati itu sudah tiba maka katanya tidak ada lagi proses tawar menawar. Katanya sejago apapun aku berkelit kata, semuanya hanya akan sia-sia. Lagi-lagi katanya, karena sungguh ini adalah pengalamanku yang pertama.

Inikah Mati?

Kulihat seseorang dengan wajah berpendarkan cahaya menunggu di ujung penglihatan. Seseorang dengan wujud yang tidak pernah kukenali sebelumnya. Diakah yang disebut malaikat? Perpanjangan tangan Tuhan yang bertugas untuk menghitung berapa banyak kebaikan dan kenistaan yang sudah aku lakukan? Tiba-tiba aku gemetaran. Kepalaku berdenyut tidak karuan karena sebelum aku sampai pada sosok itu, kepalaku mencoba menghitung. Semakin mendekat, semakin baur hitungan yang sudah aku lakukan.

Aku tahu aku banyak dosa. Aku tahu hidupku nista. Aku meracau sambil terus berjalan mendekat ke arahnya. Mungkin sebenarnya aku tidak berjalan karena kakiku tidak berasa melangkah. Mungkin juga aku sebenarnya tidak mendekat karena dalam diriku aku merasa berlari menghindar. Sekuat tenaga aku beringsut mundur tetapi kenapa tetap saja jarak antara kami justru mendekat padahal dia tidak bergerak. Kepalaku semakin berdenyut. Telingaku semakin berdengung. Mataku semakin silau karena semakin dekat dia semakin berpendar.

Inikah Mati?

Bingung. Tidak ada sekelompok orang dengan jubah putih dan jubah hitam yang berdiri bersebrangan seperti yang aku lihat di film-film. Aku tidak bisa melihat mereka, padahal keberadaannya bisa dijadikan petunjuk bagaimana statusku sekarang. Mati ataukah bukan. Aku semakin limbung karena cahaya menyilaukan itu terus menghantam mataku, membuatnya kehilangan daya akomodasi sama sekali.

Cahaya benderang itu terus menghadang dan dengan sisa keberanian yang terkandung di badan, aku berusaha menantang. Kubuka mataku lebih lebar, tak peduli kalau itu bisa membutakan. Membakar retinaku sampai hitam. Aku tidak peduli karena entah dari mana datangnya, keberanian itu terhunus bagai pedang.

Cahaya itu masih menyilaukan. Tapi perlahan aku menyadari kalau itu bukan datang dari sosok yang tidak pernah aku kenali. Cahaya itu terasa akrab, datang dari balik terali di atas jendela kamarku. Cahaya yang setiap harinya sengaja kubiarkan menerobos untuk memberikan sensasi terang.

Syukurlah, ternyata aku belum mati. Itu hanya cahaya matahari.

Apisindica : Tiba-tiba ingat mati…

12 komentar:

Si Codet mengatakan...

Wuih... serem banget bro.

[ epentje ] mengatakan...

gw bilang sih mending mati nya over-dosis deh.... gak kesakitan karena elo udah fly duluan... kalo pake obat anti hama, wah.... susah bow.... kesakitan dulu baru mati... kalo sakit2 mati yah gak seru lah.... tar malaikat gak mau deket2 soale elo bau pestisida :P

ato pake over dosis obat tidur juga oke tuh... udah bobo duluan :) ato mendingan pas bobo minta di tembak pake pistol aje, gak sakit juga kayaknya.....

jangan gantung diri... gak enak deh kayaknya tuh.... apalagi nyilet nadi... haduh... gak seru banget, kekurangan darah elo akan berasa dinginnnn banget sebelum elo mati... gak asik ah.. tar nyampe nya bukan ke surga tapi ke kulkas, kan sama2 dingin (loh?)

jgn juga loncat dari gedung... haduh... itu lebih mengenaskan, selain sakit, juga elo penuh ketakutan sesaat sebelum kena aspal, kata pelem2 org2 yg bunuh diri loncat gedung, biasanya gak tau how to die properly, jadi kalo elo mau loncat gedung, make sure elo mendarat nya kepala duluan, soale kalo kaki duluan, bisa jadi elo gak mati tapi malah lumpuh... susah kan jadi nya... musti di bunuh lagi pake bius :P.... tersiksa banget tuh.....

sekian pendapat gw soal mati enak dan mati gak enak HIHIHI... silahkan di pilih mau cara yg mana, tapi tetep gw lebih suka cara overdosis :))))

BaS mengatakan...

Sebenernya mau komen serius, tapi begitu baca komen kedua dari epentje.....buyar dah! Hahahaha......epentje orang gila! Kocak.....kocak tapi.....orang gila! Hahahahaha......

Linda Tan mengatakan...

awal membacanya sungguh menegangkan namun komentar kedua membuat semua yang menyeramkan menjadi lebih ringan.

Apis jangan mati dulu khan kita belum ketemu ^_^

Apisindica mengatakan...

@si codet: masa sih sereeem? nggak ah...

@epentje: gebleg.....epentje sinting!!! bisa aja dia ngomenin seenak perutnya tapi justru malah menghibur. lama-lama gw jatuh cinta neh sama lo. hihihihi

Dulu dia suka komen di salah satu blog trus blog itu dibukuin dan sukses. Mudah-mudahan nular ama blog gw. ameeen #ngarep

btw, tuh gw buka lapak buat lo tenar di blog gw. semua orang kagum sama komen2 asal lo itu. bener-bener manusia langka. ajaib!

@baS: epentje emang sableeeeng!!

@Linda: ketemuan yah? hmm...jadi apa nggak yah? hihihihi #berasatenar #mintadigampar

Ali Mas'adi mengatakan...

he..he..he komennya epenje bikin ngakak.. padahal tadinya.. udah siap2 pengen tobat.. jadi gila lagi deh

Si Codet mengatakan...

Iya serem.. Untung langsung bangun, jadi keterusan.

Si Codet mengatakan...

Jadi gak keterusan maksudnya. :P

Farrel Fortunatus mengatakan...

setiap orang hidup pasti akan mati (mau/tidak mau, siap/tidak siap). yang jadi masalah adalah 'waktu' dan 'cara' matinya. soal waktunya bisa nunggu saatNya Tuhan atau mau dipercepat sedniri :), trus soal caranya tinggal pilih: cara Tuhan atau ngikutin rekomendasi epen he he he...

Apisindica mengatakan...

@ali: hahaha, gw nggak ikutan ah. Epentje yang ngejerumusin yah, bukan gw!!!

@codet: ooh begitu maksudnya. Hooh, untung langsung bangun. Kalo keterusan bisa gawat. Belom kawin :))

@Farrel: kalo ngikutin rekomendasi epen, isi diluar tanggung jawab penulis yah. hihihihi

Fahma Nurika mengatakan...

huoh! sama dah

Apisindica mengatakan...

@fahma: apanya yang samaaaa????