Jumat, 05 Februari 2010

EMAK

Wanita itu kini semakin renta. Keriput-keriput usia terlihat jelas menghiasi seluruh permukaan kulitnya. Bukan hanya di wajahnya tapi juga di tangannya. Itu yang jelas teramati. Keriput yang ternyata tidak menghalangi semangatnya untuk tetap bangun pagi dan tersenyum. Keriput yang selalu dia banggakan sebagai saksi dari perjalanan hidupnya yang katanya indah.

Wanita yang kini keriput itu adalah saksi hidup dari perjalanan hidup saya sejak lahir hingga kini. Wanita yang mencurahkan kasih sayangnya lebih daripada kepada anak-anaknya sendiri. Wanita yang pernah saya tuliskan dengan bangga di dalam skripsi dan tesis saya, dan pasti juga pasti di desertasi saya nanti. Sesuatu yang katanya selalu dia doakan, melihat saya merampungkan desertasi.

Saya mengenalnya ketika saya masih belum bisa mengenal sesuatu, saat yang bisa saya lakukan hanya menangis. Dia memang sudah tinggal di rumah saya bahkan ketika saya belum lahir. Dia adalah wanita yang hebat yang ikut membesarkan saya selain Mami dan Papi saya sendiri. Wanita yang kini sudah keriput, tanda usianya yang sudah beranjak senja.

Wanita kuat itu saya kenal dengan sebutan emak. Pengasuh sekaligus pembantu di rumah saya. Sebetulnya saya tidak suka menyebutnya pembantu, karena kehadirannya sudah selayaknya keluarga di hati saya. Wanita yang selalu membela saya, menyayangi tanpa pamrih, bahkan partner saya dalam melakukan banyak hal. Termasuk kebohongan.

Kini, diusianya yang menginjak 58 dia memutuskan untuk pensiun. Sebetulnya sudah dari dulu kami sekeluarga memintanya untuk pensiun saja, tapi dia bergeming untuk tetap tinggal di rumah saya. Katanya berat meninggalkan saya dan adik saya. Memang kami sudah sejak lama tidak membebaninya dengan pekerjaan lagi, dia lebih menjadi pengawas pembatu lain yang ada. Wanita yang kadang jauh lebih galak terhadap pembatu yang lain ketimbang kami.

Emak kini akan pulang. Menghabiskan hari tuanya bersama anak-anak dan cucunya sendiri. Hati saya sedih, karena dia sudah sedemikian lekatnya di hidup saya. Emak, seorang wanita yang sudah berperan sebagai salah satu pahlawan saya. Berkat kasih sayang dia juga saya bisa seperti sekarang ini. Berkat dia juga saya tahu bahwa sayang bisa tumbuh tidak hanya pada anak sendiri, tapi pada orang lain yang dianggap anak.

Emak, terima kasih sudah pernah dan akan selalu hadir dalam hidup saya. Bukan emak saja yang sedih, Apis juga sedih. Pasti rasanya akan aneh ketika pulang ke Bandung dan tidak mendapati emak lagi. Tapi semua memang harus seperti ini, kini saatnya anak cucu emak yang berbakti dengan langsung. Itu yang mereka inginkan. Emak harus bangga dengan keinginan mereka. Apis akan baik-baik saja, dan pasti akan sering nengokin emak di kampung.

Kalau emak sudah nggak ada di rumah, siapa yang mau Apis ribetin buat buka pintu pager kalo Apis pulang dugem? Siapa yang mau bantuin bohong sama Papi kalo Apis pulang kemaleman? Siapa yang mau kerokin Apis kalo misalnya lagi masuk angin? Pokoknya banyak hal yang harus disesuaikan ketika emak sudah nggak ada. Semuanya karena Emak adalah sahabat yang paling pengertian sedunia.

I LOVE YOU EMAK!

11 komentar:

Ali Mas'adi mengatakan...

si emak... pahlawan tanpa tanda jasa yg sesungguhnya...

Bandit Pangaratto™ mengatakan...

heheh

ntar titip salam ya sama Emak...

DESFIRAWITA mengatakan...

maaak I Lop U

Grey_S mengatakan...

Pis, tenang aja biasanya Emak seperti itu, meski bilang mau pensiun tapi paling bertahan 1-2 bulan, abis itu balik lagi.

Dulu gw juga punya Emak seperti Emak lo, gw panggil dia Nenek. (Emak sebutan buat oma gw sendiri)

Beliau sampe meninggal ikut keluarga gw. Makanya waktu dia meninggal, keluarga gue jg kehilangan banget.

ARIK mengatakan...

Siapapun sosok yang pernah hadir dan menjadi saksi kehidupan kita patut mendapat balasan perhatian dan kasih sayang kita.

So, meski dia 'hanya' seorang pembantu, namun andilnya dalam kehidupan kita tak bisa diremehkan begitu saja.

-Gek- mengatakan...

Mom is the best, Apis..

Alil mengatakan...

apis beruntung..
punya nanny for almost the whole life...
punya tempat untuk berbagi kenangan masa lalu..

ninneta mengatakan...

jadi kangen sama mama dan oma ku,... huhuhuhu,.... semoga mereka tenang disana,,,

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

duh, sedihnya kehilangan seseorang yg selama ini ada disamping kita ya bro..
semoga diberi kesehatan buat emak ya.. :)

Anonim mengatakan...

dan siti pun bahagia...

Apisindica mengatakan...

@ali: yup, ema is my hero. as always!

@bandit: ntar aku salamin deh. makasih ya!

@des: Loph you too (kata emak!)

@grey: kemaren anak-anak emak udah bilang sama kita sekeluarga, kalo mereka pengen berbakti sama emak di masa tuanya. jadi kayaknya emak gak akan boleh balik lagi.

gapapa grey, sudah saatnya emak bareng anak-anaknya!

@arik:setuju. aku gak pernah meremehkan peran emak. she always be my hero. in my heart!

@gek: mom is the best, but emak is my besties also!

@alil: im lucky for having her for almost my whole life!

@ninneta: amiiiin. semoga mereka tenang di alam sana!

@pohon: amiiin. semoga emak sehat selalu. makasih ya!

@anonim: yup, siti sebegitu girangnya karena nggak akan lagi yang galak sama dia. hehehe.