Halaman

Senin, 07 Juli 2014

Teruntuk Jarak

Aku berbisik pada angin, mengirim isyarat pada bulan sabit yang menggantung di cakrawala hitam yang tergambar sempurna tadi malam. Tidak banyak yang ingin aku sampaikan kecuali kerinduan yang seringkali memberangus pijakan bahwa semua ini sudah disepakati. Tidak banyak yang ingin aku utarakan, hanya ingin membewarakan bisikan hati kalau banyak masa yang sudah dilewatkan dengan membuat goresan-goresan pagar di tanah halaman belakang hingga berbuah sebuah perjumpaan yang terasa jarang.

Memang tidak selalu perasaan ini diberondong rasa ingin saling berpandangan. Tidak selalu tangan ini merasa perlu untuk saling menggenggam, tapi selalu ada masa-masa dimana hati berasa sedang di kuadran paling bawah dari sebuah lingkaran. Nyaris menyentuh dasar. Seperti menaiki bianglala tetapi pada posisi terbawah ketika kita baru saja menaikinya sementara ketika kita menengadah terpampang pemandangan yang indah dengan banyak lampu-lampu berkelipan menyodorkan setangkup iri yang tidak bisa dijelaskan. Kata lenyap terbakar udara tepat ketika kita membuka suara. Bisu digigilkan dingin.

Gemetar aku melangkahkan kaki di setapak kecil yang nampak mengkerdilkan. Beringsut dari satu koordinat ke koordinat lain berharap hati segera terbebaskan. Bukan berharap bertemu dengan ujung yang akan mempertemukan karena jadwal sudah disusun dengan matang. Kapan bisa bersentuhan dan kapan kembali terenggangkan sudah dituliskan rapih di lembaran-lembaran lontar. Hati hanya berharap beranjak dari kubangan kesepian. Lepas dari jeruji kesendirian sehingga bisa berlarian lagi di taman. Bermain ayunan atau prosotan seperti hidup yang tanpa beban. Hidup yang tidak diganduli perasaan kosong hanya karena sendirian.

Sering aku terbebas dari belenggu itu tapi seperti halnya siklus, aku akan menjejak di titik yang sama pada lain kesempatan. Kembali kaki terperosok pada kubang kesedihan sehingga sulit beranjak padahal sekuat tenaga sudah dikerahkan maksimal. Bodohnya ingatan jangka panjang menolak untuk dipanggil ulang. Entahlah dia berkomplot dengan siapa. Mungkin dengan keadaan. Atau bisa jadi bersekutu dengan setan. Senang melihat hati yang lagi-lagi terseok membawa beban buah dari perasaan kosong yang hadir tanpa diundang. Riang menyaksikan hati yang meringis karena menahan tangis akibat teriris buluh kerinduan.

Katanya aku disuruh mencari berbagai kesibukan agar semua luka bisa dialihkan. Katanya aku dianjurkan untuk banyak berkawan sehingga ada yang bisa mendengarkan atau setidaknya berbagi penderitaan. Dan betul, semua memberikan jawaban. Mengurangi penat yang menghimpit, memberikan suntikan udara pada ruang yang terasa hampa. Tapi ketika aku kembali ke ruangan yang memaksa aku sendirian, maka perasaan itu lagi-lagi datang tanpa diundang. Seandainya aku tidak perlu beristirahat dari menyibukan diri, seandainya kawan-kawan itu bisa terus bersisian sehingga membentuk ingkaran dalam diagram, tentu aku tidak perlu berjalan pulang pada kesendirian.

Lalu hati bertanya sampai kapan. Sampai kapan akan terus menggunakan banyak kesibukan sebagai sebuah bentuk pelarian. Sampai kapan kawan-kawan bisa diandalkan dan diharapkan selalu datang ketika hati remuk redam. Kedewasaan tidak datang dari pelarian dan uluran tangan para handai taulan. Kedewasaan justru hadir dari sebuah keterpaksaan. Keterpaksaan mengerti bahwa titah alam adalah sesuatu hal yang memang harus dijalankan. Suka atau tidak suka kita diharuskan belajar menjadi dewasa dengan caranya sendiri. Dalam kasus aku sekarang adalah menjalani hubungan jarak jauh yang membatasi pertemuan.

Bohong kalau aku bilang hubungan terpisah jarak mudah untuk dijalankan. Dusta kalau aku kemudian berujar aku selalu keluar sebagai pemenang ketika diberondong rasa rindu yang tidak lantas bertemu jawaban. Tapi aku belajar menikmati, dipaksa untuk menikmati lebih tepatnya. Aku belajar bersabar menghitung perubahan pagi-siang-petang hingga malam dan kembali pagi lagi. Terus menerus berulang sampai aku sampai pada tujuan. Sebuah pertemuan yang layak untuk dirayakan. Sebentuk jumpa yang membuat nafas lega untuk dihela.


Jarak, berbaik hatilah pada kami. Aku tahu engkau tidak mungkin diperpendek dan dimanipulasi. Tapi selalu ada jalan keluar yang sekarang disebut dengan teknologi. Ada suara di ujung jalan yang bisa menghangatkan hati ketika berkecamuk perasaan seakan sendirian. Karenanya dukunglah apa yang tengah kami jalankan. Janganlah engkau berkomplot dengan hati sehingga memperburuk perasaan yang harusnya bebas berkeliaran untuk sekedar menghilangkan penat dan kesepian. Jangan pula bersekutu dengan kepala dan memboikotnya sehingga tidak bisa menterjemahkan keadaan. Jarak, aku mohon. Tidak hanya sekarang, tapi untuk seterusnya sampai kami menemukan jalan untuk pulang sambil berjalan bersisian.

Sabtu, 28 Juni 2014

Ramadhan Datang

I love ramadhan because that kid who never prays, prays. That girl who never covers, covers. That guy who never fasts, fasts. Even if it’s just for a month, at least these “types” of people tasted the “sweetness of faith” just for one month. And perhaps months later down in life, if their life ever becomes bitter, they will refer back to ramadhan and yearn for that same “sweetness” they sampled just that one month. You call them “Only Ramadhan Muslims” but i call them “Muslim who may only need Ramadhan to change”

Saya bukan orang suci. Bukan orang yang tidak pernah khilaf. Bukan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Bukan juga orang yang tidak pernah menyakiti perasaan orang lain baik yang tidak disengaja ataupun dilakukan secara terang-terangan. Saya manusia biasa. Sering khilaf, sering melakukan kesalahan dan sering menyakiti perasaan orang.

Saya tidak bangga, meski saya melakukannya lagi dan lagi. Saya tidak pernah jera bahkan ketika peringatan demi peringatan Tuhan hadirkan perantaraan kejadian yang membuat saya mengelus dada. Seringnya saya memaknainya sebagai sebuah kesialan karena saya tidak berhati-hati mengatur langkah. Saya bebal. Tidak kapok dan hanya sesaat tersadar untuk kemudian melakukan berbagai macam kesalahan lagi di setiap kesempatan. Saya mungkin tidak lebih pintar dari seekor keledai yang terperosok ke dalam lubang yang sama lebih dari satu kali.

Kemudian Ramadhan datang. Memberikan janji sebuah pengampunan besar di penghujungnya apabila saya menjalani setiap ibadah di bulan tersebut dengan penuh penghayatan, dengan tekad untuk melakukan sebuah pertaubatan. Dan saya tergoda untuk mengetuk pintu rahmat-Nya. Tanpa malu saya beringsut dari pojokan untuk mengiba sebuah bentuk pemaafan yang paling hakiki atas apa-apa yang sudah saya lakukan satu tahun ke belakang. Tanpa malu saya meminta lagi pengampunan seperti tahun-tahun sebelumnya. Meminta untuk dibebaskan dari segala macam ancaman dan ganjaran atas apa yang sudah pernah saya lakukan.

Ramadhan datang, membuka pintu langit untuk manusia yang ingin berjalan menuju terang. Saya kembali mengetuk, menunggu di ambang pintu seperti kebanyakan orang karena rahmat Tuhan pada bulan itu sedang banyak dibagi-bagikan. Saya dengan pakaian paling bagus berkumpul dengan khalayak ramai untuk memburu rahmatan. Pakaian paling bagus yang saya punya, yang kali ini bukan untuk bertopeng ataupun menyamarkan. Paling bagus karena saya malu untuk meminta ampunan dengan pakaian lusuh yang seperti tanpa persiapan. Pakaian bagus yang saya jahit dengan amalan yang saya kumpulkan. Pakaian paling bagus yang ternyata masih menyisakan banyak lubang di berbagai tempat yang belum bisa tertambal.

Mungkin saya termasuk orang yang tidak tahu malu. Selalu meminta sebuah pengampunan setelah sebelas bulan melakukan banyak kesalahan, padahal ketika melakukannya seringkali saya sedang  berdiri sadar. Saya tidak tahu malu karena hanya berburu ampunan ketika Ramadhan datang, dan setelah itu biasanya saya kembali menelan bara dan angkara. Tapi saya yakin Tuhan Maha Pengampun, dan saya tidak sangsi kalau Tuhan Maha Tidak Menzhalimi. Seberapapun saya melakukan tindakan kesalahan, Tuhan akan menurunkan ampunan selama saya tidak menyekutukan-Nya.

Menyambut ramadahan ini baju saya masih kotor, masih berlubang meskipun saya merasa baju itu sudah paling bagus dan paling pantas untuk dikenakan. Dan karena kesalahan saya tidak hanya pada Tuhan tetapi lebih banyak pada hadai taulan dan teman maka izinkan saya pada kesempatan kali ini untuk memintakan maaf atas semua kesalahan. Kesalahan perkataan, berbuatan maupun hanya serupa lintasan hati berupa bisikan. Saya ingin menyongsong Ramadhan dengan perasaan termaafkan. Dan seperti yang sudah dituliskan di awal, saya membutuhkan Ramadhan untuk melakukan perubahan.


Saya tidak bisa berjanji akan menjadi baik sekali setelah nanti Ramadhan usai, tapi setidaknya berikan saya sebuah kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik perantaraan ramadhan. Karenanya sekali lagi saya mohon untuk dimaafkan.

Kamis, 26 Juni 2014

Janji

Katanya akan ada pelangi setelah hujan, atau paling tidak akan ada udara segar beraoma tanah basah setelah debunya tergerus lindian air. Tidak ada cobaan yang akan datang terus menurus karena pada suatu saat pasti cobaan tersebut berbuah manis hasil sebuah penantian. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya hadir untuk sebuah alasan, sebuah pembelajaran atau bisa jadi sebuah peringatan.

Akan ada indah setelah penderitaan. Pasti muncul cahaya setelah gelap berkepanjangan. Jadi kenapa harus sangsi?

Katanya hidup seperti roda pedati. Kadang berada di atas tapi pasti juga berada di bawah kecuali pedatinya sedang berhenti. Entah sesaat entah untuk waktu yang lumayan lama. Hidup mengajarkan itu. Hidup memberikan pengalaman bagaimana kita bersikap ketika kita sedang di atas. Hidup memberikan peluang untuk kita berjuang bagaimana membuat tuas memutar roda ketika kita justru sedang terjerembab di kuadran paling bawah. Hidup mengajarkan semuanya.

Kadang kita hanya lupa bagaimana rasanya di bawah. Kita terbuai dengan aroma yang memabukkan ketika kita berada di atas sehingga kita lupa bahwa dalam hitungan sekejap semua bisa berubah. Kita limbung karena kita lupa memasang kuda-kuda. Kita takut karena justru kita tidak memiliki awahan untuk melompat dan tergerus bersama tanah kering dan bebatuan yang tidak jarang membuat kita kapalan. Kita lupa bahwa dengan tergerus dan mengkapal kita akan mengerahkan sekuat tenaga untuk berjuang dan lepas dari segala macam penderitaan.

Namanya juga manusia. Selalu ingin memilih hidup pada posisi nyaman yang tidak akan mengenal halangan. Namanya juga manusia. Kemudian mempertanyakan dan menggugat Tuhan karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Kita marah. Kecewa. Sedih dan kemudian meratap. Tidak salah karena semua sifat itu sangat manusiawi, tapi bukankah kita harusnya merasa beruntung karena pernah didera oleh semua perasaan tersebut. Perasaan yang justru akan mendewasakan pemikiran. Perasaan yang membuat kita semakin kuat karena kita diharuskan berjuang untuk bangkit, berdiri kemudian berlari.

Tidak ada satu orangpun yang tidak pernah berada di bawah. Kalaupun banyak yang tampak hanya mengalami kebahagiaan semenjak lahir karesa sebuah proses turun temurun dalam sebuah trah yang sudah kuat mengakar, yakinlah kalau itu hanya yang tampak dari luar. Pasti ada bagian dari hidupnya yang pernah merasa ada di bagian paling bawah dari lembah, entah itu soal perasaan ataupun soal kemandirian. Jadi kenapa harus risau? Yang paling penting adalah kita tetap berjuang dan belajar. Berjuang bagaimana keluar dari keterpurukan dan belajar bagaimana senantiasa siap ketika tiba-tiba hidup berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Bisnis hanya sebuah permainan. Kadang menang telak dan beruntung tapi kadang juga kalah terberangus banyak ketidakmenentuan. Tidak usah khawatir ataupun berputus asa. Mari kita berdoa, berusaha dan memulainya lagi. Tak perlu takut untuk melangkah setelah kita merasa kalah. Tidak perlu khawatir tidak bisa lagi berdiri setelah terjerembab dan dipaksa seperti mengerat nadi sendiri. Semua akan berubah baik. Semua akan menemukan jalan keluar karena seperti tadi sudah dibilang, akan ada pelangi setelah guyuran hujan yang seakan tidak pernah berhenti.

Jangan bersedih. Jangan kalut dan bimbang. Setidaknya ada aku di sini yang senantiasa menemani. Sekarang hingga nanti. Janji!

Rabu, 28 Mei 2014

Dunia Paralel

Pernah ikutan lomba menulis cerpen di nulisbuku.com beberapa bulan lalu dengan tema besar "love never fails". Saya mengirimkan sebuah tulisan dengan judul "dunia paralel" yang merupakan gabungan dua buah tulisan yang pernah saya posting di blog ini juga.

Karena saat itu pekerjaan sedang banyak-banyaknya, tulisan yang saya buat tidak sempat dibaca dan diedit ulang apakah penggabungan yang saya lakukan kongruen atau malah tidak. Sekali jadi langsung kirim, mengingat saya juga mensubmit di hari terakhir batas pengumpulan. Dan benar saja, tulisan saya tidak jadi penenang.

Kemarin malam ketika saya masuk ke kamar saya di Bandung, saya menemukan kiriman dari nulisbuku.com yang berisi buku 17 kumpulan cerpen terbaik dari lomba tersebut. Alhamdulillah "dunia paralel" tercetak di sana beserta cerpen pemenang 1, 2 dan 3.

Nggak nyangka aja. Ternyata setelah digerus menulis banyak jurnal ilmiah, saya masih bisa menulis prosa. Bangga. Itu saja. Berikut saya posting ulang cerita tersebut. Kali-kali saja ada yang penasaran :)


DUNIA PARALEL

Di sebuah gerai kopi yang nyaman seorang laki-laki duduk sambil sibuk mengetik di atas tuts-tuts keybord komputer jingjingnya. Dia sendirian. Di atas meja bundar di depannya hanya ada komputer, gelas plastik berisi es mocha milk kesukaannya dan sebuah asbak tak berpenghuni. Asbak yang merepresentasikan dirinya. Sendirian. Dan kosong.

Entah apa yang tengah dituliskannya di lembaran kertas putih yang kadang terisi beberapa kalimat tapi kemudian kosong lagi karena seketika dipijitnya ctrl A kemudian del. Sepertinya dia sedang kebingungan. Gagal menuliskan sesuatu yang tengah berkecamuk di dalam pikirannya, atau jangan-jangan dia sedang berkutat dengan sebuah pekerjaan kantornya. Tapi ini malam minggu, dan laki-laki itu bukan karyawan yang super sibuk sampai harus bekerja di malam yang katanya banyak bergelimpangan cinta.

Lama dia terdiam. Sinar dari layar komputer menerangi hampir seluruh wajahnya. Tidak tergambar raut kekalutan seperti saat dia terburu-buru menghapus beberapa kalimat yang baru saja diketikannya sebelum membentuk sebuah paragraf utuh. Tidak juga terlihat sebuah keputusasaan padahal beberapa saat sebelumnya dia menghela nafas panjang kemudian menyeruput minuman dingin favoritnya. Dia nampak biasa saja. Hanya terlihat sebagai laki-laki yang menikmati malam minggu sambil berusaha menuliskan sesuatu yang mungkin dia juga tidak tahu. Sendirian.

Laki-laki itu seperti memberikan pengumuman tidak tertulis dengan bunyi “apa yang salah dengan menghabiskan malam minggu sendirian?” Dia seolah tidak peduli dengan orang yang berlalu lalang sambil bermesraan atau sekedar berpegangan tangan. Baginya mungkin itu hanya sebuah tontonan gratis yang terlalu diobral. Romantisme yang diumbar seakan butuh pengakuan kalau mereka adalah pasangan. Picisan.

Mendadak dia bersandar. Merebahkan punggungnya yang sedikit terlihat tegang di bantalan kursi yang semula berjarak. Ada sebuah tanda tanya di wajahnya. Tanda tanya yang mungkin bisa dengan jelas terlihat oleh orang yang memperhatikannya dengan seksama. Tanda tanya di akhir pertanyaan yang mungkin menggelumbung di dadanya. Pertanyaan yang kemudian dijawabnya dengan cara berlari. Laki-laki itu seperti berlari dari berondongan pertanyaan kenapa di malam minggu seperti ini dia hanya berdiam di rumah dan sendirian dari para handai taulan. Karenanya dia berlari. Menghabiskan kesendirian di gerai kopi favoritnya. Tempat yang dia anggap aman untuk terlihat seperti mencari kesibukan.

Laki-laki itu tetap berada di dimensi yang sama. Sendirian. Entah itu di rumah ataupun di tempat persembunyiannya sekarang. Bedanya dia hanya terbebas dari serangkaian pertanyaan yang mungkin memekakkan gendang pendengaran. Pertanyaan yang laki-laki itu bosan menelannya. Pertanyaan yang sering kali tidak cukup dijawab hanya dengan diam. Apalagi sekumpulan angka terus bergerak di lingkaran usianya.

Sudah jauh laki-laki itu berjalan sendirian. Menapaki setiap pematang yang membentang ingin ditaklukan. Membuka setiap kesempatan yang menggoda untuk sekedar dijajal. Banyak yang sudah dia dapatkan entah itu kebahagiaan atau sebuah kesakitan. Pelajaran-pelajaran hidup yang justru menguatkan, menempa batin yang awalnya rapuh tak tahan cobaan. Banyak pula yang sudah dia belanjakan. Penantian, mempertaruhkan, menyodorkan perasaan, disakiti, disia-siakan. Dan dia bertahan. Berharap semakin kuat setiap harinya meski dilaluinya dengan melakukan beragam pelarian.

Menurutnya sendirian bukan berarti lemah atau menjadi bisa dilemahkan. Sendirian buat laki-laki itu menjadi sebuah jalan untuk melakukan banyak penilaian. Objektif, tidak lagi subjektif. Pematutan dari serangkaian kegiatan ketika dia mulai berjalan. Penilaian dari serangkaian penerimaan diri ketika pertama kali menyadari kalau ada yang berbeda dari sebagian besar orang. Penilaian yang mulanya lebih banyak berisi angka merah karena dipenuhi dengan banyak kemarahan. Pengugutan kepada Tuhan. Ketidakterimaan.

Apakah laki-laki itu sekarang sudah memperoleh jawaban? Entahlah. Yang pasti dia sudah mengantongi sebuah pemakluman hasil berjibaku dengan banyak pertanyaan yang dulu sering dia gadang. Hasil yang mungkin tidak sesuai dengan harapan banyak orang. Hasil yang mungkin membuat orang justru mentertawakan. Laki-laki itu tidak peduli. Hidup bukan hanya pada koridor menyenangkan hati orang lain yang justru tidak mengenal siapa dia sebenarnya. Hidup adalah bagaimana meraih kebahagiaan dengan caranya. Meskipun sendirian.

Sendirian bukan halangan. Sendirian justru membuat laki-laki itu kuat dengan caranya sendiri. Terdengar klise? Pastinya. Mudah dijalani? Tentu saja tidak. Butuh waktu tidak sebentar untuk dia sampai pada fase seperti sekarang. Butuh banyak pemakluman seperti yang sudah dia bilang. Butuh banyak menebalkan telinga karena selalu sendirian menimbulkan banyak pertanyaan dari lingkungan, seakan kalau sendirian menjadikannya seorang pesakitan. Kesepian. Butuh dikasihani. Kasihan.

Kebiasaan sendirian bukan berarti laki-laki itu tidak lantas mencari pasangan. Lagi-lagi pengalaman mengajarkan banyak hal. Bukan berarti karena ingin lepas dari stigma kesendirian dia menjadi tidak lagi memilah. Angka dikepala tidak lagi muda. Bertualang dari satu pemberhentian sesaat ke pemberhentian sesaat yang lainnya bukan lagi saatnya untuk dilakukan. Sayang memboroskan waktu untuk sesuatu yang dari awal sudah  dia tahu bagaimana ujungnya, apalagi dengan kesadaran penuh bahwa ternyata dengan sendirian dia baik-baik saja.

Laki-laki itu sudah jauh berjalan sendirian. Mencoba menikmati apa yang sudah Tuhan beri sebagai jalan yang memang harus dijalankan. Tanpa pertanyaan walaupun terjal. Sudah jauh dia berjalan sendirian. Menyemai banyak doa di setiap kesempatan, berharap suatu saat ada sebagian doa yang dikabulkan. Tidak perlu semua, karena dia tahu tidak akan semua doa bertemu dengan jawaban. Sudah jauh dia berjalan sendirian. Mengetuk pintu-pintu virtual sampai bertemu dengan apa yang (mungkin) selama ini dia idam-idamkan.

Apa laki-laki itu bosan? Tidak jarang. Tapi dia punya keyakinan kalau bosan hanya akan membunuh harapan. Kesendirian membuatnya kreatif agar terbebaskan dari belenggu bosan. Kesendirian memaksanya memutar akal agar dia tidak lantas mati perlahan. Laki-laki itu tetap harus hidup untuk berbagai alasan.

Malam ini dia masih saja berjalan sendirian, seperti biasa dia akan mengetuk pintu yang sudah dia amati sejak lama. Awalnya ragu tapi kemudian dia menantang diri untuk terus berani. Lama tak ada jawaban. Dia  menunggu. Satu, dua, tiga sampai sembilan. Tetap tak ada jawaban hingga akhirnya dia memutuskan bahwa dia harus memutar badan dan kembali berjalan. Tepat di langkah pertama yang dilakukannya, sebuah pemikiran yang tiba-tiba membuatnya seperti seakan tersadar.

Sementara itu di sebuah dunia paralel, seorang perempuan berbaju biru yang dipadu dengan celana jins ketat tampak bergelendotan manja pada tangan kekasihnya. Mereka berjalan bersisian di sebuah pusat perbelanjaan ternama di kotanya. Tanpa riskan mereka masuk dari satu gerai ke gerai lainnya  sambil terus mempertontonkan kemesraan. Cinta yang diumbar seolah tidak ada yang keberatan.

Perempuan itu sumringah. Tidak tampak sama sekali sebuah beban di hidupnya. Bagaimana tidak, di sampingnya ada seorang laki-laki yang padanya dia menggantungkan banyak pengharapan. Sedih berada jauh dari jangkauannya karena dia sudah menemukan cinta. Rasa yang dia gadang akan mengantarkannya pada perasaan pulang. Cinta yang akan menerbitkan sebentuk lain dari sebuah harap yang selama ini dia bayangkan. Termiliki. Seutuhnya.

Laki-laki di sampingnya terus mengenggam tangan sang perempuan. Seperti berlekatan kedua tangan itu tidak terpisahkan. Sesekali laki-laki itu menggoda yang dibalas dengan cubitan manja si perempuan yang mendarat di perutnya. Laki-laki itu seperti ksatria, tahu betul apa yang dibutuhkan pujaan hatinya. Sementara si perempuan berlagak jinak, seperti sudah ditaklukan lewat serentetan kejadian yang melambungkannya ke nirwana.

Mungkin bagi mereka tidak ada istilah malam minggu karena semua malam adalah serupa. Berisi hanya cinta. Mungkin bagi mereka, entah perempuan yang berbaju biru dan bercelana jins ketat atau laki-laki yang menjelma ksatria semua sudah diaturkan Tuhan. Ditulis dalam sebuah perjanjian jauh sebelum mereka dilahirkan. Sekarang mereka hanya memainkan peran, berusaha memenuhi perjanjian banyak pasal yang tidak pernah mereka ingat pernah ditandatangani berbarengan.

Ketidakingatan pada sebuah perjanjian yang dibuatkan Tuhan kadang menyebabkan seseorang salah mengambil jalan. Salah menterjemahkan bunyi pasal yang maknanya tidak tersurat secara gamblang. Salah mengejawantahkan arti karena bunyi dibaca tidak terlalu teliti. Karenanya banyak orang salah meyakini. Banyak orang salah mengambil titian langkah yang justru berputar padahal tujuan terpampang jelas di hadapan.

Di gerai kopi yang mulai sepi, laki-laki yang seperti sedang berlari kembali menuliskan sesuatu di layar komputernya. Lama dia terdiam setelahnya. Mencermati satu demi satu kata yang dia tuliskan menjadi sepenggal kalimat lengkap. Terlihat ada sebuah kepuasaan di wajahnya, seperti menemukan pencerahan. Tangannya menggeser-geser kursor kemudian menghapus kalimat yang baru saja mengantarkannya pada sebuah kepuasan. Membuat kertas di layar komputernya kembali  putih tanpa coretan.

Sesaat setelah laki-laki di gerai kopi itu menghapus kalimat yang membuatnya orgasme, tiba-tiba perempuan berbaju biru bercelana jins ketat di sebuah dunia paralel merasakan sesuatu yang lain di hatinya. Sontak dia melepaskan genggaman tangannya yang seolah menempel dengan laki-laki yang selama ini dicintainya. Entah kenapa ada desir lain yang tidak pernah muncul sebelumnya. Sebuah keraguan yang timbul dalam sebuah keyakinan. Kegamangan yang hadir dalam sebuah kepercayaan. Absurd.


Laki-laki yang berselimut kesendirian beranjak dari gerai kopi yang didatanginya sejak dua jam silam. Mulutnya bergumam merapal kembali kalimat yang sudah dia hapal benar. Kalimat yang tadi dihapusnya setelah seketika mendapatkan pencerahan. Laki-laki itu terus mengulang dan mengulang. Dia bilang “Jodohku malam ini mungkin sedang sibuk mengumbar kemesraan dengan orang yang dia anggap jodohnya”. Lagi-lagi sesaat setelah laki-laki yang nampak sedang berlari selesai mengucapkan kalimat itu, hati perempuan berbaju biru bercelana jins ketat di dunia paralel mendadak hangat. Entah karena apa.