Halaman

Sabtu, 24 Mei 2014

Surat dari Kekasih

On Email :

Aku percaya konsep jiwa dan akal pikiran..
Jiwa dan akal sudah ditakdirkan seperti jalinan benang yang terikat satu sama lain tanpa saling mengenal batas awal dan akhir.
Akhir-akhir ini pikiran sering berkata kepada Sang Jiwa:
Sang Jiwa, ini tidak akan berhasil, Sang Jiwa ini terlalu berat untuk dicerna dan dikerjakan...
Sang Jiwa aku ingin bebas.. Sang Jiwa ini hal yang bodoh, Sang Jiwa aku lelah, Sang Jiwa Sang Jiwa Sang Jiwa dan Sang Jiwa...sang akal terus berbicara tanpa henti mengeluarkan semua yang dilakoninya selama ini... 
Sampai pada satu titik sang akal pun terdiam tanpa mendengar apapun dari Sahabat kekalnya..

Lalu suatu saat Sang Sahabat pun berkata: bukankah semua yang terjadi sudah sesuai keinginan mu? Aku menuruti dan mematuhi segala keinginan dan hasrat menggebu yang ingin kau lakukan. Kuberikan pasangan hidup yang mencintai mu dan menjadikan mu bagian dari hidupnya. Ku memohon pada Sang Ibu agar dialirkan nafas kehidupan  baru dan disediakan kenyaman di tempat asing yang kau tuju. Kuberikan setiap jawaban dari pertanyaan dan argumentasi tanpa ujung yang kau lontarkan. Kuberikan segala sesuatu yang kau minta sahabatKu. Mengapa sekarang kau tidak merasa puas dan bahagia?

Sang akal pun berteriak, kau berikan pasangan yang suatu saat akan meninggalkanku untuk mematuhi norma dan adat. Kau berikan pasangan yang luar biasa menyayangi tetapi juga sekaligus memberikan batas waktu untuk ada di sisiku. Kau berikan kenyamanan tetapi juga peluh keringat yang tidak henti mengucur. Apakah itu artinya Kau menyayangiku? Kau bilang Kau berikan seluruh jawaban tetapi disisi lain banyak hal yang harus kukorbankan. Itukah yang Kau bilang Kasih?

Dan Sang Jiwa pun hanya tersenyum. Wahai sahabatku apakah tidak letih kau mengejar sesuatu yang tidak berkesudahan? Tidakkah cukup waktu yang Kusiapkan untukmu setiap pagi? Apakah tidak cukup tanganKu menjaga engkau di setiap persimpangan yang kau hadapi? Tidakkah kau belajar untuk menikmati apa yang sudah kupersiapkan untukmu? Menikmati setiap tawa, setiap bulir kasih dan cinta yang kualirkan kepada mu? Sudah sedimikian butanyakah sampai kau tak melihat banyak tangan yang membantumu, menopangmu dan merengkuhmu, hanya untuk memuaskan ambisi-hasrat menggebu dan keinginan yang tak terbatas. Kehausan untuk merasa disayangi dan dicintai. Wahai sahabatku, tidakkah kau rasa dan lihat betapa kau beruntung..

Akal ku pun terdiam dan mulai melihat kebelakang. Betapa banyak tawa, cinta dan kasih yang didapat selama setahun kebelakang. Betapa banyak tangan tak dikenal yang menawarkan untuk menopang dan mengangkat setiap kali akal tersaruk oleh ulahnya.

Aku belajar untuk bersyukur. Tidak mudah memang dan seringkali menyakitkan. Aku belajar untuk berkata CUKUP-TIDAK-TERIMA KASIH dan AKU PUAS. Tidak mudah mengekang hasrat, niat dan keinginan yang mengotori sang akal. Tetapi aku bersyukur. Dalam keadaan apapun aku memahami bahwa Sang Jiwa sudah menyiapkan DIRIMU, yang memahami tanpa harus minta untuk dipahami.  Mengerti dan mencintai aku apa adanya.

Aku mengerti aku DICINTAI. Perasaan yang selama aku bertumbuh jarang kudapat bahkan langka. Ya benar, aku dicintai olehmu dan aku merasa tercukupi setelah kelaparan dan kehausan yang tidak pernah terpuaskan. Kamu mencintai aku dengan hal yang sederhana yang terkadang tidak bisa kupahami. Kamu mencintai aku dengan semangkuk sayur asem dan cumi yang meletup di wajan. Untuk pertama kalinya aku mengerti betapa nyamannya dicintai dan dimiliki oleh seseorang dan untuk pertama kalinya aku merasa aku bukan sampah yang harus membuktikan diri aku bisa, aku hebat, aku tidak bisa diremehkan dan banyak topeng lainnya. Terima kasih aku dicintai dan maafkan aku karena aku sedang belajar mencintai dengan benar. Aku belajar bahwa mencintai mu adalah membiarkanmu selama kamu bahagia seperti yang kamu lakukan kepadaku. Terima kasih. Akhirnya aku mengerti aku dicintai.

Regards,
H

Saya membacanya berulang-ulang. Semburat hangat tetiba muncul di hati saya bahkan di akhir saya membaca keseluruhannya untuk kali yang pertama. Memang ada bagian yang membuat saya tertampar semisal pada kalimat “Kau berikan pasangan yang suatu saat akan meninggalkanku untuk mematuhi norma dan adat. Kau berikan pasangan yang luar biasa menyayangi tetapi juga sekaligus memberikan batas waktu untuk ada di sisiku”. Hati saya mencelos, seperti bara pijar yang tiba-tiba dimasukan pada air dalam bejana. Andai saya punya banyak pilihan. Andai saya tidak perlu memilih, mungkin itu akan jauh lebih baik. Tapi untuk saat ini saya hanya berusaha menyemai benih maaf sehingga bila waktu itu terpaksa harus hadir maka benih sudah tumbuh menjadi pohon yang rindang. Itu saja yang saya bisa lakukan untuk saat ini. Entahlah bagaimana ke depan.

Soal belajar mencintai, saya juga sedang belajar dan terus belajar. Tidak mudah berdamai dengan banyak perbedaan. Tidak gampang mengesampingkan ego untuk menghindari percekcokan yang ujungnya hanya menghasilkan retakan-retakan yang mengancam keutuhan. Saya terus belajar karena saya yakin mencintaimu dengan cara saya adalah tidak salah. Mencintaimu dengan semangkuk sayur asem dan cumi yang meletup di wajan adalah bentuk kederhanaan yang bisa dihidangkan semua orang dengan kadar yang berlainan. Bagi saya melihatmu lahap menikmati kedua makanan tersebut sudah cukup membuktikan kalau kamu mencintai saya dengan caramu. Untuk itu saya tidak pernah menuntut lebih.

Berharap dicintai dengan cara yang sama saya mencintai hanya akan menimbulkan kebosanan. Merpercepat datangnya usang pada sebuah perasaan. Karenanya saya menikmati setiap detail caramu mencintai saya meskipun ada beberapa tindakan yang saya tidak suka. Dan kamu tahu itu.


Terima kasih sudah belajar juga mencintai saya. Sosok yang kadang rumit kadang sangat mudah ditebak sehingga keduanya menimbulkan efek sama yaitu sulit dipahami. Terima kasih sudah mengerti bahwa membuat saya bahagia adalah dengan membiarkan saya menjadi saya. Saya yang akan terus mencintaimu hingga nanti.

Minggu, 30 Maret 2014

Dia Memutuskan Untuk Pergi

Dia memutuskan untuk pergi. Menyisakan jarak yang tidak bisa sekedar dilangkahi.

Dia memutuskan untuk pergi. Katanya mencoba peruntungan baru karena di kota ini dia merasa sudah banyak hal yang membuat mutung.

Dia memutuskan untuk pergi. Membuat ceruk kesedihan menemukan jalan untuk mengalir lewat air mata yang menetes padahal sudah sekuat tenaga ditahan. Berusaha kuat padahal hati terasa sempoyongan. Mencoba tegar padahal perasaan seperti dilanda badai topan.

Aku mencoba bermufakat dengan akal. Tidak berlaku egois karena menurut nalar arti bahagia itu adalah melihatnya bahagia. Tidak peduli kalau ternyata kebahagiaan itu diperolehnya dengan cara beringsut meninggalkan kenyamanan yang sudah sekian lama kami rasakan. Tidak peduli kalau kebahagiaan itu ternyata harus diperoleh dengan perantaraan jarak yang terbentang. Jarak yang membatasi ketika hanya ingin saling memandang. Jarak yang terbentuk pada saat tangan ingin saling mengenggam. Sekedar berdekatan.

Dulu, jauh sebelum hati bersepakat untuk berjalan berisisian kemungkinan untuk saling terpisahkan sudah ada dalam frame pemikiran. Entah dia atau justru aku yang memulai. Dalam timeline kami jarak sudah dipertimbangkan akan membayang meskipun datangnya entah akan kapan. Artinya kami harus senantiasa siap memasang kuda-kuda. Tidak lantas goyang tanpa awahan ketika jarak tiba-tiba datang memaksa untuk dihadirkan. Tidak segera ambruk ketika perpisahan berbuah jarak terhidang tanpa diundang.

Dia memutuskan untuk pergi. Mendahului aku yang di babak-babak awal justru yakin akan memulai langkah itu terlebih dahulu. Dan ternyata aku tidak sesiap apa yang sudah dibayangkan. Kaki ini goyah juga meskipun tetap memasang kuda-kuda. Aku seperti direnggut paksa dari rasa nyaman yang senantiasa bisa dihidangkan ketika kapanpun ingin berduaan. Aku seperti mendadak disuruh berhenti dari kesenangan merasakan sensasi komedi putar karena arena pasar malam tiba-tiba ditertibkan oleh sekawanan orang-orang berseragam. Aku seperti kehilangan sebelah pegangan. Gamang.

Lama bergumul dengan berbagai pemikiran sampai akhirnya sanggup untuk mengiyakan. Tidak sedikit pertentangan batin ketika menimbang hingga ujungnya ikhlas membiarkan dia terbang. Aku tidak boleh egois. Menghalangi kebahagiaannya hanya untuk mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Aku tidak boleh egois melihatnya kelelahan dengan segala hal di kota yang sudah membuatnya tidak nyaman hanya untuk membuatku merasa nyaman. Cinta tidak seperti itu.

Aku bertahan. Dia juga bertahan. Tidak mudah memang tapi seperti biasa ternyata jarak bisa dimanipulasi. Komunikasi bisa digagas dengan berbagai cara walaupun hanya tersisa selembar lontar. Perasaan masih bisa dihangatkan dengan kata-kata yang mengalir lancar lewat kabel sarat optik di udara. Memang kulit tidak bisa lagi sering bersentuhan, tapi esensi sebuah hubungan tidak melulu soal itu.


Kami belajar dewasa. Dipaksa dewasa lebih tepatnya. Dan kami bertahan. Hari sudah bergulir hingga hitungan bulan dan seperti dapat dilihat kami masih bersamaan. Saling mengenggam secara virtual dalam menghadapi segala macam masalah yang memang tidak bisa dihindarkan. Kami masih saling menyayangi, tidak peduli pada jarak yang tercipta memisahkan. Kami masih saling mencintai, tidak lantas menyerah pada dua titik koordinat yang saling berjauhan.

Senin, 27 Januari 2014

Dilangkahi

“Tuhan, Saya tidak pernah meminta untuk lahir duluan. Saya tidak pernah meminta jodoh saya untuk datang terlambat. Tapi apabila jodoh adik saya datang terlebih dahulu, maka atas nama-Mu aku ikhlas dan ridho”

Air mata saya menetes padahal sekuat tenaga saya sudah menahan diri untuk tidak terlalu terlarut dalam suasana yang memang syahdu sore itu. Lantunan kecapi suling dengan tembang entah apa semakin memperparah sesenggukan saya. Terbata-bata saya mengucapkan kalimat di atas. Kalimat yang saya buat sendiri untuk kepentingan acara tersebut. Kalimat yang menggantikan kalimat-kalimat yang sudah dipersiapkan oleh pihak WO. Kalimat yang menurut saya sederhana tetapi syarat makna.

Adik saya akan menikah, dan kebiasaan dalam tradisi sunda diadakan upacara langkahan sebelum upacara siraman apabila sang pengantin ternyata lebih dulu menikah dibanding kakaknya. Sore itu saya dan adik saya menggunakan pakaian tradisional sunda lengkap dengan bendo-nya (di jawa: blankon). Duduk saling berhadapan dengan posisi saya duduk di atas dan dia duduk di bawah. Adik saya meminta izin untuk menikah, melangkahi saya.

Sebetulnya apa yang dia ungkapkan adalah hal yang biasa. Lumrah untuk didengar. Apalagi keputusan untuk dia menikah bukan keputusan yang tiba-tiba. Dari awal saya setuju, jadi seharusnya tidak perlu upacara pelangkah ini dilakukan. Orang tua saya yang bersikukuh, katanya ini semacam tradisi. Semacam kebiasaan yang lazim dilakukan apabila adik akan melangkahi kakaknya. Saya menyerah. Upacara pelangkah ini akhirnya saya lakoni.

Saya tidak ingin jadi bahan tontonan. Cukuplah saya dicibir oleh orang-orang yang tidak pernah tahu bagaimana perasaan saya sebenarnya. Melakukan upacara tradisi yang disaksikan banyak orang hanya akan membuat saya duduk di kursi pesakitan. Semakin mendapat tatapan belas kasihan. Padahal saya tidak butuh itu. Saya bahagia, sangat bahagia karena adik saya berani merealisasikan kebahagiaanya. Jadi tidak ada alasan untuk saya bersedih. Kalaupun air mata saya sore itu tidak berhenti menetes itu semata-mata karena saya sangat terbawa suasana. Suasana dikondisikan sedemikian rupa membuat saya berulang kali seperti mengunyah hati.

Apa saya malu karena dilangkahi? Tidak. Untuk apa malu? Saya punya pekerjaan, saya mandiri secara finansial, saya tidak hidup bergantung seperti benalu pada orang lain, jadi untuk apa saya malu. Dilangkahi menikah bukan sebuah aib meski banyak orang berpendapat demikian. Buat saya dilangkahi hanya sebuah permainan waktu. Adik saya lebih dahulu menjejak finish kalau menikah itu diibaratkan sebagai garis finis, sementara saya masih melangkah di belakang. Beda usia 6 tahun ternyata tidak membuat saya berlari lebih cepat. Tapi apakah itu masalah?

Buat saya tidak. Mungkin buat orang lain iya. Saya paham orang lain selalu berdiri dengan penilaian mereka sendiri, dan itu tidak salah seperti halnya saya yang tidak salah ketika nasib mengantarkan pada moment dimana akhirnya saya harus dilangkahi menikah. Jodoh adik saya lebih dahulu tiba, jadi kenapa saya harus menghalangi mereka hanya karena jodoh saya belum lantas kelihatan. Saya berhak untuk bahagia, dan dalam memperjuangkan kebahagian saya tidak sepantasnya mempertaruhkan kebahagian orang lain. Dalam hal ini adik saya.

Saya baik-baik saja. Tidak seperti yang orang bayangkan. Tidak perlulah saya dikasihani, karena saya tidak menderita. Dilangkahi menikah bukanlah bencana yang harus ditangisi. Ikutlah berbahagia seperti halnya saya yang sangat bahagia melihat adik saya akhirnya memantapkan hati pada wanita yang dia puja. Turutlah senang seperti saya yang tidak sungkan merogoh tabungan untuk sekedar menyumbang. Dilangkahi bukan menjadi alasan untuk saya sebagai kakak kehilangan peran dalam pesta yang akan dilangsungkan.

Saya berusaha tidak egois karena saya tidak merasa dikalahkan. Mungkin satu-satunya egois yang saya lakukan adalah egois terhadap orang tua saya. Saya bisa sedemikian rupa menulikan pendengaran, membebalkan muka kepada orang-orang yang selalu ingin ikut campur, tapi orang tua saya mungkin tidak. Mau tidak mau pasti hal itu menjadi bahan pikiran. Dan saya sedih karenanya, membayangkan orang tua saya diintimidasi secara verbal dengan pertanyaan-pertanyaan kenapa anak sulungnya belum juga menikah.

Banyak cara untuk membahagiakan orang tua, menikah mungkin salah satu jalannya. Tapi tolong untuk saat ini biarkan saya mengambil jalan memutar. Biarkan saya membahagiakan orang tua dengan cara saya sendiri. Cara yang mungkin buat orang-orang di luar lingkaran itu sukar dipahami.

Senin, 13 Januari 2014

Cermin Usang

Aku terperanjat. Sontak melangkah beberapa acuan mundur ke belakang. Langkah tanpa koordinasi yang membuatku sedikit terjengkang. Untung masih ada pinggiran bufet yang bisa kujadikan sanggaan badan yang bereaksi tanpa prediksi.

Sejenak aku terdiam, berusaha menenangkan diri. Mengatur nafas yang tadinya berpacu seperti dikejar-kejar waktu. Lama. Ketenangan tidak kunjung datang, aku masih saja ketakutan. Nafas masih saja menderu. Detak jantung kurasakan lebih cepat beberapa kali dari biasanya. Keringat mulai membanjiri dahi kemudian menjalar ke tengkuk dan punggung. Kuyup.

Aku melirik ke tempat dimana tadi aku menemukan sedikit janggal. Sebuah pojokan temaram dimana di dindingnya menepel sebuah cermin usang yang tidak pernah terjamah rupa. Mungkin sudah sedemikian lama dia tidak bertemu bayangan yang tergambar. Sepertinya dia hanya mencumbui debu. Bersahabat dengan sinar matahari yang terbias dari celah-celah atap rumbia yang tidak kalah usang.

Penasaran, aku beringsut mendekat. Melangkah jingjit guna meminimalisir suara yang yang pasti tercipta. Pelan-pelan sampai aku merasa siap untuk melihat lagi ke arah cermin yang tadi menampilkan sosok yang tidak aku kenal. Entah keberanian dari mana yang tersulut saat itu, yang pasti aku hanya ingin membuktikan kepenasaranku. Membuktikan apa yang tadi kulihat bukan sekedar bayangan semu seperti yang selalu terbentuk di dalam kepala. Aku hanya mencari tahu.

Jarak sudah sedemikian dekat, ada perasaan ingin mundur dan membiarkan apa yang baru saja kejadian menjadi misteri tanpa pembuktian. Tapi keinginan untuk terus mendekat justru lebih besar hingga kini aku tepat berdiri di depan cermin misterius itu. Aku menatap lurus ke arahnya, berharap ada yang berubah seperti saat aku terjengkang ke belakang. Tidak ada perubahan. Yang teramati hanya debu tebal yang menempel seperti karat. Tidak ada bayangan padahal aku jelas berada tepat di depannya. Aneh.

Aku terpaku. Tidak lantas beranjak meskipun hasil yang kuharapkan tidak aku temukan. Aku diam. Menunggu. Aku yakin pasti ada sesuatu. Gemetar aku mengangkat sebelah tanganku, mencoba menyibak sedikit debu supaya lebih banyak cahaya yang terkumpul. Belum genap tanganku sampai pada permukaan cermin, tiba-tiba muncul bayangan seperti yang aku temui tadi di awal. Kali ini aku tidak melangkah mundur ataupun terjengkang. Kali ini aku tetap berdiri di hadapannya seperti menantang.

“Kamu siapa?” Seperti orang gila aku bertanya pada bayangan dalam kaca. Tidak ada jawaban. Hanya hening yang terpapar.

Aku kemudian mengulang, “Kamu siapa?” Lama tidak ada sahutan hingga aku hampir kehilangan kesabaran. Kuangkat tanganku, kukepalkan kemudian berniat untuk menghantam. Tapi aku lantas diam dengan kepalan mengambang di udara. Sosok di dalam cermin kusam itu tersenyum memamerkan sederetan giginya yang rapi. Perlahan dia kudengar tertawa atau lebih tepatnya mentertawakan. Sementara aku hanya bisa diam. Memperhatikan.

Dia masih saja tertawa. Menggema di hampir seluruh ruangan. Suara tawanya seperti penuh ejekan meskipun aku tidak tahu apa yang dia tertawakan atau apa yang dia cibirkan. Perlahan tawanya hilang. Perlahan aku bisa menginderai sosoknya dengan benar. Dengan jelas. Tapi aku tidak punya ingatan sedikitpun tentang sosok itu, mungkin ada sedikit tapi semuanya baur. Bias oleh cahaya yang semakin lama semakin terkumpul seperti pusaran. Aku berusaha mengingat, siapakah dia. Kenapa dia bisa muncul di dalam cermin yang aku gunakan untuk berkaca.

“Kamu tidak tahu siapa aku?” Dia bertanya balik dengan intonasi yang mengintimidasi. Aku menggeleng tanda aku tidak berhasil membongkar kotak memori untuk mengingat siapa sosok itu. Dia kemudian tertawa. Dengan isyarat tangannya dia memintaku untuk semakin mendekat.

Aku melangkah, awalnya ragu kemudian pasrah seperti dituntun tanpa bisa melakukan perlawanan. Di depan cermin usang itu aku mendekatkan telingaku. Perlahan kudengar dia berbisik “Aku adalah kamu!” Kaget, kujauhkan telingaku. Kutatap dia seakan meminta penjelasan. Tanpa perlu ditanya sepertinya dia sudah siap menjawab.


“Kamu berubah! Semenjak memiliki pasangan, kamu berubah. Sedemikian berubahnya sampai kamu tidak lagi mengenali siapa dirimu sendiri” Setelah mengatakan itu sosok dalam cermin usang menghilang dan yang aku rasakan hanyalah hitam.