Halaman

Kamis, 13 Oktober 2011

Hujan Musim Ini (Repost)

Aku menghargai kejujuranmu yang telah mengakui bahwa sebetulnya kamu masih memiliki seorang kekasih. Entah kemudian menurutmu itu kekasih di luar nalarmu, di luar logikamu, tapi tetap dia disebut kekasih, seseorang yang pastinya masih mengisi tempat teristimewa di hatimu. Aku menghargai semua niat baikmu sehingga kamu masih menghormati aku dengan berterus terang. Sebelum semuanya berjalan lebih jauh.

Aku tidak ingin cinta menjadikanku bodoh. Aku tidak ingin cinta membuat jiwaku menjadi kerdil. Dan apabila kemudian aku mau berkompromi dengan semua keadaanmu itu artinya aku bodoh, dan aku membiarkan jiwaku kerdil. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menang bersaing dengan cinta yang masa tumbuhnya berkelipatan 365 hari itu. Aku akan selalu kalah tersisih. Tak peduli meskipun kamu bilang bahwa dia sebenarnya kosong, bahwa mencintai dia sungguh di luar akal sehatmu. Aku akan selalu kalah.

Mungkin aku kamu anggap bisa mengisi kosong yang kekasihmu beri, tapi itu artinya aku akan hidup dalam bayang-bayang dia. Dan aku tidak mau seperti itu. Apabila hubungan kalian sudah hitungan tahun, artinya selama ini kamu sudah berkompromi dengan kekosongan itu. Kenapa sekarang kamu justru seperti kebakaran jenggot dengan complain bahwa dia kosong? Jangan jadikan aku sebagai alasanmu mengugat kekosongan itu.

Kamu boleh bilang bahwa mencintainya di luar nalarmu, bahwa mencintainya membuatmu menomersekiankan logika. Tapi, ketika hubungan itu bisa kamu pertahankan sampai sekarang kamu bukan lagi hidup di luar nalar, tidak lagi mengabaikan logika, kamu sudah nyaman. Nikmati kenyamanan itu, jangan kemudian berontak karena kamu pikir aku bisa menutupi kekosongan kekasihmu. Aku mungkin hadir di saat yang tidak tepat, memberikan sensasi baru yang mungkin hanya sebuah selingan.

Gambar puzzle hati di dadamu mungkin tidak penuh karena kekosongan yang menurutmu dimiliki oleh kekasihmu itu, tapi selama hatinya masih bisa mengalunkan isyarat cinta kenapa harus dipermasalahkan. Aku mungkin bisa pas dengan potongan puzzle yang belum lengkap itu, tapi aku yakin warna gambar hatinya akan berbeda, dan aku hanya akan tetap menjadi potongan puzzle. Bukan gambar hati utuh. Karenanya aku memilih untuk mundur. Aku tidak ingin cinta menjadikanku tidak adil terhadap dia. Kekasihmu.

Hujan masih menyisakan genangan air meski bau tanahnya sudah menguap. Genting masih basah setelah sesaat dicumbu rinai hujan. Basah hujan musim ini aku memutuskan untuk beranjak dari sana, dari kepingan harapan yang sebelumnya aku kembangkan. Maaf jika aku kemudian menutup akses komunikasi diantara kita. Tolong beri aku waktu untuk menyembuhkan luka, karena layaknya gerimis, kamu hanya datang sesaat. Dan dalam kesesaatannya itu kamu masih meninggalkan jejak. Jejak air mata.

Note: artikel kedua yang dimuat di book of cheat jilid 2 dan diterbitkan oleh publisher Nulis Buku

Senin, 10 Oktober 2011

Pertaruhan

Taruhan. Sudah sekian lama saya mempertaruhkan hidup saya di atas meja judi. Tidak ada kekhususan judi jenis apa yang menjadi favorit saya, karena saya hanya ingin bertaruh bukannya berjudi. Andaikan permainan anak-anak semacam galasin bisa diajadikan ajang taruhan, saya pasti sudah mempertaruhkan hidup saya disana. Menikmati ketegangan, mencari keberuntungan.

Lewat dadu yang dilempar atau kartu yang dihentak bergantian, saya mempertaruhkan hidup saya. Mengatur beragam strategi untuk mendapatkan kepuasan batin yang tergambar melalui seulas senyuman kemenangan. Saya seringkali tidak tertarik dengan hadiah utama, karena proses bagaimana jantung saya berpacu seiring dengan deru kocokan dadu atau kocokan kartu mejadi hal yang menurut saya lebih penting untuk dinikmati.

Tidak jarang saya terlewat gila, saya gadaikan tidak hanya sebagian hidup saya tapi hampir keseluruhannya. Yang tersisa mungkin hanya kepercayaan bahwa siapa tahu saya menang. Siapa tahu saya bisa memberikan hidup saya sensasi arung jeram adrenalin yang akan membuatnya lebih kuat. Tempaan-tempaan semacam ini memang saya perkenalkan pada hidup saya agar dia tidak cengeng, agar dia tahu bahwa ada rasa yang disebut dengan kekalahan.

Saya bukan Tuhan, jadi tidak selamanya saya menang. Saya sering dipaksa menyicip kalah, dan kekalahan itu akan saya nikmati dengan mengemasi hati. Beranjak dari ajang pertaruhan itu untuk menjajal arena pertaruhan baru. Bagi saya mengemasi hati bukan lagi sesuatu yang dirasa sulit, aneka pengalaman telah memberi saya awahan untuk melakukannya sesederhana menghirup udara. Memang kadang arena pertaruhannya meninggalkan jejak yang tidak mudah dihilangkan, merapat erat pada hati selayaknya lintah yang belum puas mereguk darah. Tapi saya tetap berkemas dan terus berjalan.

Waktu akan menyembuhkan. Mengikis perlahan ketidakberuntungan yang saya pernah taruhkan di meja perjudian, meski tetap akan meninggalkan sebuah ceruk seperti bopeng akibat jerawat yang digaruk paksa. Kalau sudah seperti itu maka saya akan membungkusnya dalam kristal memori untuk saya telan dan simpan di lobus khusus hati saya. Kristal bening yang bisa saya terawang isinya ketika suatu saat saya ingin bernostalgia. Bukan mengungkit, karena saya hanya melakukan wisata hati. Memutar film dokumenter yang ceritanya sudah pasti usang.

Waktu akan menyembuhkan. Memberikan kekuatan baru untuk saya mempertaruhkan hidup di arena perjudian yang berhadiah sama. Saya tidak akan pernah tahu saya menang kalau saya tidak bertaruh. Saya tidak akan pernah bisa mengklaim kalau saya seorang pecundang, apabila saya tidak menggadaikan kepercayaan saya kemudian kalah. Saya hanya menjalani hidup dengan mengecap pertaruhan demi pertaruhan, dengan harapan di salah satu ujung pertaruhan entah yang mana saya akan mendapatkan apa yang saya inginkan.

Kali ini, entah untuk yang keberapa belas kali, saya pasang taruhan kemudian bermain sesuai aturan. Tidak banyak yang saya pertaruhkan, hanya segenggam hati perak kecil berisi anyaman kepercayaan yang saya inisiasi sejak lama. Sesaat sebelum saya melemparkan kocokan kartu ke landasan, saya terpejam dan berharap bahwa pertaruhan saya dengan takdir di permainan ini akan saya menangkan dan mengantarkan saya pada seseorang yang akan saya panggil jodohku.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Bukan Matematika (Repost)

Semalam kami bertengkar hebat, dan rasanya setelah pertengkaran itu saya merasa gamang melihat jalan yang terpampang di depan. Saya tidak lagi yakin kemana saya akan membawa hati ini berlari, saya melihat kebuntuan.

Memang bukan sekali dua kali kami berselisih paham, tapi kejadian semalam itu rasanya berbeda. Tidak hanya koma, saya melihat titik. Saya menginderai hadirnya sebuah akhir, garis finish.

Saya mengerti benar posisi saya, saya sangat tahu diri. Karenanya dari awal saya tidak pernah banyak menuntut, tidak pernah meminta untuk ini dan itu. Tapi ternyata dia terlanjur asyik dengan kenyamanan yang tercipta, tenggelam dalam tenang suasana yang saya pilih untuk saya jalani. Bukan saya tidak ingin berkonflik, bukan saya tidak ingin sekedar melakukan konfrontasi, tapi saya lebih ke mencoba memahami posisinya yang tidak gampang. Meraba hatinya yang sedari awal sudah terbagi.

Untuk saya cinta bukan matematika. Dalam cinta tidak ada proses menghitung berapa yang sudah saya berikan kepada pasangan. Tidak ada menghitung persentase keuntungan dari saya menawarkan sebentuk hati. Tidak ada spekulasi linier bagaimana menghitung persamaan sebelah kanan agar bisa seimbang dengan persamaan sebelah kiri. Cinta itu ikhlas. Tanpa perhitungan, tanpa angka.

Tapi semalam dia memaksa saya menghitung. Semalam dia memojokkan saya sehingga saya dipaksa seperti membuat list laporan pengeluaran bulanan. Saya mendetailkan apa yang sudah saya korbankan. Saya merinci apa-apa yang hati saya sudah belanjakan sekedar untuk berjalan beriringan dengannya yang tidak lagi sendiri. Saya menghitung berapa banyak kerugian yang saya raup semenjak dulu saya berkata iya.

Salahkah ketika saya meminta perhatian lebih? Salahkah ketika saya meminta waktu yang lebih lama untuk berdua? Saya ingin apa yang kami jalani berkualitas meskipun berjalan di acuan yang mungkin salah. Saya hanya ingin dimengerti bahwa meskipun mungkin saya marginal tapi saya juga punya perasaan yang perlu dipertimbangkan.

Posisi saya selamanya akan seperti yang dia bilang tadi malam, selalu salah. Ketika saya banyak menuntut maka hukumnya adalah salah. Dia bilang saya sudah berkomitmen dengan segala konsekuensi yang saya tahu dari awal, jadi menuntut lebih hanya akan membuat saya seperti mengingkari komitmen yang sudah saya sepakati dengan hati saya sendiri.

Saya sadar, mencintai dia menimbulkan banyak polemik. Menyebabkan banyak konflik. Tapi bukan berarti kalau hanya saya yang harus mengerti, dia juga harus memahami. Menyelami hati saya yang sudah berkomitmen dengan statusnya. Tapi mungkin memang sudah saatnya saya untuk berjalan mundur, meninggalkan jejak keambiguan yang dia ciptakan. Saya harus pintar membaca banyak pertanda, dan mungkin ini tanda kalau memang hubungan ini harus segera diterminasi.

Semalam kami bertengkar hebat. Dan ketika dia berlalu sambil membanting pintu, jangan harap saya akan membukanya kembali. Cukuplah bagi saya dipaksa menghitung cinta yang sesungguhnya bukan matematika.

Note: Direpost karena tulisan ini baru saja dimuat di book of cheat jilid 1 yang akan diterbitkan oleh publisher Nulis Buku

Rabu, 05 Oktober 2011

KARAM

Kalau tidak sekarang lantas kapan?
Bukankah semua jembatan sudah aku jajal?
Mungkin memang perlahan
Tapi setidaknya aku sampai di ujung pandangan

Waktu bergerak ibarat anak panah yang melesat
Lewat busur yang meregang dia terlontar tak bisa dihalang
Mengantarkan aku pada satu pemberhentian ke pemberhentian berikutnya
Setia mengikutiku yang kadang berlari tapi seringnya terpapah

Kalau tidak sekarang lantas kapan?
Ratusan perahu alang-alang sudah aku larung ke lautan
Meskipun tidak ada satupun yang kembali pulang
Aku tetap berdiri menunggu di tepian

Karam,
Sepertinya mereka karam sebelum bertemu dengan daratan
Atau jangan-jangan justru tenggelam sesaat setelah mereka terlepas dari tangan
Dihempas angin yang berputar-putar di atas buritan

Mataku terpejam
Sebait pujian aku nyanyikan kepada pencipta alam
Kalau itu masih dirasa kurang
Tak ragu akan aku tarikan sebuah ritual mirip upacara seserahan

Kudengar bisikan yang datang menunggang kepiluan
Dia membewarakan bahwa benar semuanya sudah karam
Membentur karang di negeri seberang
Tercerai dari harap yang aku ucap dalam bimbang

Aku kecewa tentu saja
Bagaimana bisa alam membelot dari titah sang raja
Kuludahi langit sebagai bentuk tidak terima
Kurapal serapah untuk menunjukan angkara

Kalau tidak sekarang lantas kapan?
Haruskah menunggu bangkai perahu alang-alang itu terkubur di dasar lautan?
Atau aku harus meronce lagi satu demi satu harapan?
Yang mungkin akhirnya juga akan tetap karam

Karam, kau buat aku hidup dalam penyesalan.