Senin, 29 September 2014

Selamat Tinggal

Aku benci berkemas. Aktivitas yang di ujung lorongnya akan mempertemukanku dengan sebuah perpisahan. Dan tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan, walaupun perpisahan itu digagas untuk sesuatu yang lebih baik lagi. Katanya.  Opsi yang seandainya bisa dilongkapi, dihindari dengan cara berlari melalui jalan memutar meskipun penuh belukar. Dihindari dengan berusaha menipu diri kalau semuanya akan baik-baik saja. Entahlah.

Aku tidak pandai mengucapkan selamat tinggal. Lidah biasanya seperti disimpul mati. Kelu. Bahkan ketika suara belum keluar sama sekali. Aku tidak mahir menata kata ketika lambaian tangan adalah sebuah penutup dari serangkaian perjumpaan. Rasanya seperti tercekik. Sesak tanpa bisa berbuat apa-apa kecuali air mata yang mengambang. Air mata yang justru ditahan agar tidak mengalir deras seperti aliran sungai di puncak musim penghujan.

Dari sekian banyak perpisahan yang pernah menghadang, aku tidak lantas menjadi pandai. Dari sebegitu banyak aktivitas berkemas yang telah dilakukan, aku tetap saja bermuara pada kubangan yang serupa. Dari pengalaman berkali-kali dipaksa melambaikan tangan padahal telinga menangkap suara hati yang sobek, aku tetap saja tidak berubah bebal atau bahkan kapalan. Semua terus menerus berulang tanpa aku bisa menemukan jalan keluar sebagai bentuk pengalihan. Semua berdengung seperti sekelompok lebah yang terbang rendah mendekati gendang pendengaran. Menganggu.

Aku menyebutnya rumah pendewasaan. Rumah yang sekarang aku tinggali. Rumah yang banyak menyimpan cerita tentang menjadi dewasa. Rumah yang di dindingnya tertulis pelajaran-pelajaran tentang memaklumi, tentang berusaha mengerti. Rumah yang membuatku tahu bahwa tinggal dengan orang yang sifatnya sungguh bertolak belakang itu sangat menguras emosi. Seperti menaiki jet coaster. Harus siap kapan saja menghadapi jalanan yang tiba-tiba membolakbalikan perasaan. Harus sedia memasang kuda-kuda karena aku tidak pernah tahu kapan jalan akan mengantarkan aku pada terjal jurang yang terpaksa harus dilewati. Tidak ada lagi pilihan.

Aku menyebutnya rumah kami. Rumah yang diisi tidak hanya satu hati, tapi dua. Rumah yang semula ramai kemudian senyap karena salah satu hati memutuskan untuk beranjak pergi mengejar angan. Rumah yang ikut menjadi saksi bawa hubungan berbonus jarak tidak pernah mudah dijalani. Bisa dilihat di salah satu bagian dinding kamar mandi banyak coretan-coretan serupa pagar hasil menghitung rindu. Rindu yang sering kali tidak bisa ditahan sampai membuat kepala seperti dibebani bola api raksasa. Berat sekaligus menyiksa.

Rumah yang aku tinggali memang sunyi. Asosial. Tapi disanalah aku belajar menjadi pasangan yang tidak egois. Pasangan yang tidak menghalangi pasangannya untuk bergerak maju memintal impiannya. Kebahagiaan harus diperjuangkan, tetapi ketika dalam pelaksanaannya aku tidak bisa ikut serta maka hal yang bisa dilakukan adalah mendukungnya. Membiarkannya pergi meraih impian karena jarak sebetulnya bisa dikalahkan. Secara teori. Kenyataannya aku kadang tidak sekuat itu. Bersimpuh aku meratapi rindu yang tidak bisa dientaskan lewat perjumpaan yang bisa digagas kapan saja. Rumah ini saksinya. Bagaimana aku berjuang menjadi tidak egois. Belajar mengatur strategi agar kerinduan tidak memberangus semuanya.

Dan kali ini aku harus mengucapkan selamat tinggal. Bukan pada sebelah jiwaku, tapi pada rumah ini. Rumah yang sudah dua tahun menemaniku menjalani hari. Rumah yang semula ramai dan kini sunyi. Rumah yang menjadi saksi banyak pertengkaran ketika dua pemikiran tidak menemukan jalan untuk dipersatukan. Rumah tempat aku, dia, kami, bertransformasi dari sifat ingin menang sendiri menjadi saling memahami dan mengalah bahkan ketika tidak diminta. Rumah seribu cerita. Rumah tempat kami pulang ketika lelah mengganduli langkah. Rumah tempat kami bercinta tidak hanya fisik tapi juga pemikiran. Rumah tempat pentas banyak drama.

Dan kali ini aku dipaksa pergi dari rumah oleh keadaan. Lagi-lagi dengan alasan untuk masa depan yang lebih cemerlang. Aku mulai berkemas dan menyusun rangkaian kata untuk mengucapkan selamat jalan. Tidak pernah gampang karena rumah ini terlalu banyak menyimpan cerita. Tidak akan mudah karena sudah banyak kejadian yang tertoreh di semua kisi-kisi jendelnya. Tapi semua harus dijalani. Dilewati. Dan semoga saja akan kembali menjadi sebuah pembelajaran yang mendewasakan. Mudah-mudahan.


Selamat tinggal hunian nyaman tempat aku bersarang menyulam beludru. Selamat tinggal rumah banyak kejadian. Kita akan bertemu lagi 4 tahun dari sekarang.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

See you soon!

Anonim mengatakan...

Ahhh youve got that phd scholarship?? Im happy for you...