Kamis, 31 Januari 2013

Kesendirian


Berbekal keberanian, seorang anak laki-laki memutuskan untuk menjalani hidup dalam kesendirian. Mengasingkan perasaan dari kehidupan yang sesungguhnya diputar secara cepat di luaran. Tubuhnya mungkin seringkali berada di tengah keramaian yang memekakakkan, tapi perasaannya bertolak belakang. Dia memupuk sunyi seperti laguna kering di tengah lautan luas berisi air yang nampak tidak akan habis sampai ribuan tahun ke depan.

Tidak banyak persiapan yang sebelumnya dilakukan. Tidak ada barang-barang yang bisa memberinya rasa nyaman apabila ada ancaman yang menghadang yang dia bawa ketika memutuskan untuk menjalani hidup dalam kesendirian. Dia hanya membawa sebilah keberanian yang sebetulnya diapun tidak yakin apakah itu cukup untuk mengantarkannya sebagai pemenang. Tidak ada juga memori pelajaran yang  dia bisa panggil ulang dengan mengandalkan ingatan. Semua benar-benar dimulai dari awal.

Seorang anak laki-laki memutuskan untuk menjalani hidup dalam kesendirian. Kenyataan yang dia temukan membuatnya mau tidak mau membuat keputusan demikian. Lewat banyak perenungan dia mengasingkan perasaan, memasungnya dalam cengkaram rasa tidak nyaman yang sebetulnya tidak ingin dia rasakan. Anak itu tidak punya pilihan. Membuka diri dengan berkawan justru membuatnya hidup dalam pengasingan yang semakin dalam. Berbaur dengan keramaian ternyata mengantarkannya pada banyak kesakitan.

Dia belajar menghindar. Mengurangi konflik melalui pergesakan perasaan dengan orang-orang yang membuatnya seperti tidak diinginkan. Lewat kesunyian dia menebalkan bebal. Dalam kesendirian dia memupuk harga diri yang selama ini banyak orang pertanyakan.

Menangis adalah salah satu hal yang paling dihindarinya. Simbol kelemahan yang justru membuat dia seperti mengemisi rasa kasihani. Tidak, menurutnya dia tidak lemah walaupun sebagian banyak temannya menterjemahkan kesendirian yang dia jalani sebagai bentuk ketidakmampuan. Dia justru menjelma kuat lewat waktu yang menggerus seluruh kepercayaannya tentang rasa bahagia. Melalui cara yang tidak biasa anak itu tumbuh menjadi sosok yang bisa dibilang cemerlang.

Bagaimana dengan kesendirian yang dulu dia jalankan? Apakah dia sudah meninggalkannya di belakang? Tidak. Kesendirian adalah rumahnya. Tempat yang paling membuatnya nyaman sampai sekarang. Bangunan tempatnya berlari membawa banyak kegundahan. Bangunan yang selalu memberinya rasa aman dari semua ancaman yang masih saja menghadang tak pernah bosan. Di rumah itu dia juga menyemai mimpi tentang kebahagiaan yang dia pernah gambar di secarik kertas usang ketika dia memutuskan untuk berjalanan dalam kesendirian. Mimpi yang sampai sekarang masih berbentuk sebuah sketsa.

Seorang anak kecil dulu memutuskan hidup dalam kesendirian. Dengan jemarinya yang mungil dia memunguti harapan di jalanan senyap penuh cobaan. Dia kumpulkan satu per satu harapannya itu dalam sebuah bejana waktu. Semacam mesin waktu yang dia pikir akan membawanya pada sebuah dimensi dimana dia akan menemukan keteduhan. Tempat dimana tidak ada lagi kebencian yang membuat dia merasa dikerdilkan. Tempat sejenis surga.

Sampai sekarang tempat itu belum juga dia temukan. Sering kali malah dia salah dalam mencumbui terang. Dia pikir itu petunjuk yang akan mengantarkannya pulang, sayang ternyata yang dia temui hanyalah sebuah lampu jalan. Fatamorgana yang kadang-kadang membuatnya seperti ingin menanggalkan mimpi. Bosan dengan banyak kekeliruan yang dijalani karena ternyata hidup tidak sedang diundi. Sudah ada ketentuan yang berlaku. Suka tidak suka semua harus dijalani dengan dititi ataupun dibawa berlari.

Anak kecil itu bukan lagi anak-anak. Puluhan metamorfosis sudah dilalui dan menjadikannya bentuk yang paling adaptif. Tidak ada lagi halangan yang dianggapnya sebagai rintangan. Tidak akan ada lagi proses yang dimaknai sebagai bentuk pengkerdilan diri. Anak itu tetumbuh laksana rumput liar yang tidak mudah tercerabut dari akar meski hidup sendirian di padangan yang subur dan ditumbuhi banyak pohon berduri.

Tidak ada komentar: