Senin, 06 Juni 2011

Mari Berbincang

Kemarilah, duduk di sebelahku dan mari kita berbincang seperti layaknya dua orang dewasa. Dua orang yang sudah paham benar apa itu hidup sehingga tidak lagi ada kata yang beramunisikan amarah.

Aku dan kamu sama-sama sudah tahu bahwa dalam menuju ‘kita’ dibutuhkan banyak usaha. Diperlukan ribuan langkah berani untuk sekedar menjajal semua kemungkinan yang bisa dipertimbangkan. Dibutuhkan tidak hanya satu jalan karena jalan yang awalnya terlihat bisa saja berujung pada kebuntuan, atau ternyata jalan tersebut terjal sehingga menimbulkan sebuah ketidakmungkinan. Tapi aku dan kamu sama-sama berusaha, saling menggagas semua cara untuk sampai pada sebuah titik pemberhentian. Kita.

Aku dan kamu berproses. Saling meredam ego masing-masing, saling mengalah padahal mungkin sebetulnya tidak ada yang ingin merasa kalah. Tapi aku dan kamu melakukan itu, menghilangkan segala bentuk dominansi, sama-sama merasa memiliki tanggung jawab untuk sekedar membuat apa yang sudah dirintis setidaknya berguna. Tidak kemudian menjadi sia-sia karena terpentalkan oleh tindakan yang justru akan menjauhkan.

Sini, mari berbincang seperti layaknya dua orang dewasa. Dua orang yang sudah banyak pengalaman untuk urusan hati. Dua orang yang tidak akan saling mendendam ketika keadaan memaksa untuk melangkah mundur dan kemudian saling terpisahkan.

Dalam perjalanan menuju ‘kita’ proses mutlak dibutuhkan. Diperlukan aktivitas saling mengamati, menilik bagaimana sebetulnya kamu di mata aku dan sebaliknya. Proses saling mengenal karakter masing-masing untuk kemudian dipertimbangkan apakah memungkinkan untuk saling melangkah bergandengan. Dan itu tidak akan sebentar, dibutuhkan sedikit waktu ekstra untuk saling merefleksi. Saling meraba hati. Jadi jangan kamu umbar kata cinta terlalu dini, karena selayaknya manusia dewasa aku dan kamu sudah paham betul apa itu konsekuensi.

Kalaupun ternyata aku sekarang melangkah mundur, bukan berarti itu adalah keputusan yang tergesa-gesa. Bukan pula mengecilkan arti semua proses yang sudah kita jalani belakangan ini. Bolehlah kamu bilang aku menyerah, tapi aku merasa menyerah sekarang akan jauh lebih baik daripada nanti pada saat aku dan kamu sudah menjadi ‘kita’. Proses yang sudah aku dan kamu lewati ternyata tidak membawa ke sebuah titik nyaman, karena aku merasa banyak hal yang tidak bisa disatukan.

Jangan menutup mata, aku juga tahu benar kalau kamu merasakan hal yang serupa. Kamu hanya berusaha lebih, ingin memperbaiki ini dan itu sambil berjalan bergandengan. Kamu hanya ingin mempertaruhkan sesuatu yang sebetulnya kamu tidak yakin akan bermuara pada apa yang sebetulnya kita impikan. Aku tidak ingin seperti itu, karena pada akhirnya aku dan kamu hanya akan saling menyakiti. Dan aku tidak ingin menyakitimu.

Marilah kita berbincang selayaknya dua orang dewasa. Kita bicarakan apa yang memang harus kita diskusikan. Tidak saling memaksakan keinginan apalagi kita sudah bisa mereka akhir cerita yang akan menghadang. Aku dan kamu berhak untuk bahagia, dan mungkin kebahagiaan tersebut harus diraih dengan menempuh jalan yang justru saling menjauhkan.

Aku tidak ingin hidup layaknya kelopak bunga, entah itu kelopak mawar atau justru kamboja. Indah sesaat yang kemudian luruh dan menjadi hiasan pusara.

9 komentar:

kotakitem mengatakan...

"Aku tidak ingin hidup layaknya kelopak bunga, entah itu kelopak mawar atau justru kamboja. Indah sesaat yang kemudian luruh dan menjadi hiasan pusara."

kalimat yang sungguh menyentuh hati

Stephie Daydream mengatakan...

so true, Apis! i love this post :')

Enno mengatakan...

duh, jgn jadi hiasan pusara atuuh...

^^

BilikTehan mengatakan...

Udah lama euy gak blogwalking. Really miss your blog.
Indah hanya untuk dinikmati sesaat, tetapi andai menyentuh hati, akan berkesan selamanya. Bisa begitu gak pis? :)

Apisindica mengatakan...

@kotakitem: hey kamuuu, akhirnya kamu ngeblog lagiii! :) Welcome home darliing...

@stephy: terima aksih bu dokter...

@mbak enno: jadi apa atuh kalo bukan hiasan pusara? #mikir

@bilik tehan: iyah ih teteh kemana aja? sibuk sama tesisnya yah?? sukses yah Teh...

betuul, buat apa kalo hanya indah sesaat tapi cepet pudar...

BaS mengatakan...

Nice post pis, meski agak sedih bacanya....

Apisindica mengatakan...

@BaS: kalau sedih, dihibur atuh si akunya :))

dailydeWi mengatakan...

i love this post.. *baru baca* :P

Apisindica mengatakan...

@dailydewi: hahaha, i love you (waeeee)