Kamis, 06 Januari 2011

(bukan lagi) Resolusi

Sudah enam hari beranjak di kalender baru tahun ini. Saya masih ingat setiap awal tahun semua orang membuat berbagai resolusi, termasuk saya. Di tahun-tahun terdahulu biasanya saya merinci apa-apa yang saya ingin realisasikan selama 365 hari kedepan. Mengeluarkan harapan dari sangkarnya untuk dijadikan pijakan dalam mengejawantahkannya dalam bentuk lebih nyata.

Setiap tahun saya merinci. Merunut keinginan dari yang paling logis ke yang paling tidak masuk akal. Mematrinya dalam kepala agar terus diingat dan diusahakan terlaksana sesuai dengan plot yang telah saya reka. Ada yang kesampaian, tapi banyak juga yang tidak kejadian. Seperti saya pernah bilang, ternyata banyak mimpi yang memang harus dipelihara hanya sebagai mimpi.

Enam hari bergerak dalam tahun yang baru saja dibuka, dan saya belum membuat resolusi apa-apa. Bukan tidak memiliki mimpi atau pengharapan, tapi rasanya setiap tahun saya hanya menuliskannya tanpa berusaha sekuat tenaga. Menjadi semacam ritual mengikuti kelatahan banyak orang tanpa bertanggung jawab untuk merealisasikannya dengan berusaha. Mungkin saya terlalu pemalas, atau hanya hidup dalam mimpi yang sebetulnya memang hanya mimpi. Entahlah.

Bukan saya putus asa. Tidak. Saya tidak pernah mengijinkan jiwa saya tergadai pada perasaan putus asa. Putus asa hanya membuat hidup kita stagnan, padahal hidup tidak diam atau surut kebelakang. Hidup itu bergerak maju, dan dalam perjalanannya banyak yang harus kita lihat sambil meraih kesempatan yang terpampang apabila dimungkinkan. Kesinambungan seperti itu yang harus terus dijalani, memanfaatkan semua kesempatan yang ada.

Saya tidak lagi muluk-muluk. Tidak ingin ini dan itu yang kadang hanya saya tulis sebagai kelatahan saya terhadap ritual bernama menetapkan resolusi. Saya hanya ingin memanfaatkan semua kesempatan yang pasti mampir selama saya melangkah di 365 hari kedepan. Kesempatan yang pastinya bisa saya raih untuk kemudian saya perjuangkan. Hasil akhir bukan saya yang menentukan, karena pastinya semua sudah diatur Tuhan. Saya hanya perlu berjuang yang dikombinasikan dengan merapal doa.

Tapi kalau saya diperbolehkan berdoa dan memilih kesempatan apa yang saya harapkan datang pada tahun ini, maka saya akan memilih beberapa. Tidak usah terlalu banyak, karena ternyata semakin bertambah usia semakin saya merasa lebih bijaksana menurut kacamata saya. Semakin banyak keinginan kita menjadi tidak fokus dalam merealisasikannya. Terlalu banyak pilihan yang justru membuat kita menjadi tidak beranjak kemana-mana.

Saya hanya ingin diberi kesempatan menjadi manusia yang lebih baik. Itu saja. Kalaupun dalam prosesnya nanti saya kemudian diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah seperti yang saya inginkan, atau diberi kesempatan untuk mempertahankan perasaan kepada orang yang sekarang mengisi hati saya sampai nanti, saya anggap itu rezeki. Imbalan dari setiap doa yang terucap, atau bonus dari berproses menjadi manusia yang lebih baik tadi.

Saya juga ingin diberi kesempatan untuk semakin dekat dengan Tuhan. Dzat Maha Agung pemilik dan pengatur hidup saya. Boleh saja orang menilai dan menghakimi jalan hidup yang sudah saya pilih, tapi saya yakin Tuhan tahu hati saya. Tuhan tidak akan menzhalimi saya, pasti ada alasan serta jalan keluar dari sebuah penciptaan masalah. Dan saya yakin Tuhan punya pemecahan dari keambiguan saya.

Hari ini saya berdoa, semoga setahun kedepan bisa saya jalani dengan baik. Penuh rintangan yang bisa saya hadapi dan siasati. Mengubahnya menjadi rahmat yang akhirnya saya syukuri. Amin.

4 komentar:

epentje mengatakan...

bikin resolusi? masih jaman yah?? being spontaneous is cool
and having a plan for whole year ahead seems like an activity of fat bald old wrinkle so called 'executive' job :)

Enno mengatakan...

amiiin.... semoga keinginannya tercapai ya...

bener, ga usah bikin resolusi, kesannya jd wajib terpenuhi dan akhirnya malah bikin bete kalo ga kesampaian...

being spontaneous kayak epentje bilang itu lebih asik :)

a.simple.guy mengatakan...

Saya juga ga nulis resolusi buat tahun ini :) yang biasanya selalu saya lakukan 3 tahun belakangan ini

Apisindica mengatakan...

@epentje: tidak pernah tidak setuju dengan komentar "ajaib"nya epentje :)

Mbak enno: iyah mbak, sesekali menjadi spontan itu menyenangkan, tidak dibebani oleh sesuatu yang kadang malah memberatkan.

@simpleguy: kalau begitu, selamat menjadi spontan yah!