Assalamualaikum,
Sadar memiliki mulut yang seringkali darinya keluar serapah. Memiliki hati yang seringkali mencaci karena emosi. Memiliki kebiasaan melontarkan becandaan yang seringkali kelewatan. Karenanya dengan segala kerendahan hati saya mohon dimaafkan atas segala kesalahan yang telah dilakukan dalam rangkan menyambut Ramadhan.
Marhaban Ya Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini bisa menjadi sarana untuk kita membersihkan diri dan meraih surga yang hakiki. Aamiin.
Doakan saya yang akan menjalani hari-hari berpuasa selama kurang lebih 19 jam di negara ynag jauh dari Khatulistiwa. Semoga dengan lebih panjangnya waktu yang tersedia, membuat saya memiliki lebih banyak kesempatan untuk mendulang pahala. Aamiin.
--Apisindica--
Kamis, 18 Juni 2015
Senin, 19 Januari 2015
Tiga, Bukan Dua Atau Satu
Satu lagi mimpi saya bertemu kenyataan. Hadir bukan lagi
dalam bentuk bingkai imaji, tapi sebuah realiti yang segera akan dijalani. Satu
lagi harapan saya bertemu kenyataan. Bukan lagi sekedar bunga-bunga mimpi yang
senantiasa dipelihara dalam lorong ilusi. Lewat banyak perjalanan yang
sebetulnya melelahkan, akhirnya saya bertemu dengan ujung yang sedari dulu saya
cita-citakan.
Hidup saya memang sedemikian drama. Bukan hanya mengenai
kisah cinta yang dulu berputar-putar pada masalah itu melulu. Mencintai kekasih
orang, bertepuk sebelah tangan, dikhianati bahkan ditinggalkan tanpa sebuah
kata pasti. Semua pernah saya cicipi tapi saya bertekad untuk bertahan. Menyemai
sebuah keyakinan kalau Tuhan sudah menggariskan kenapa saya harus lantas
menyangsikan. Semenjak 2 tahun silam, hati saya diisi seseorang. Tidak sempurna
memang, tapi setidaknya perasaan saya dilingkupi nyaman. Tidak lagi mencari
sesuatu yang sebetulnya saya juga tidak tahu. Bersamanya saya mencipta kata,
menguntainya menjadi sebuah cerita.
Saya mempunyai mimpi yang sedari lama saya simpan di laci
yang terkunci. Bukan tidak ingin orang lain membaui, tapi saya hanya mencoba
menjaga hati. Lelah terjatuh kemudian terbangun dalam hal yang akan mencederai
kepercayaan diri. Karenanya saya simpan dalam-dalam tanpa diketahui banyak
orang. Biar saja hanya saya yang berusaha mewujudkannya tanpa perlu ramai
meskipun saya tahu handai taulan akan ikut mendoakan. Tapi seringkali
kepercayaan saya terkikis oleh perjalanan waktu yang tidak lantas mengantarkan
saya pada sebuah realisasi.
Tidak jarang saya putus asa. Ingin menyerah pada takdir yang
saya nilai sedikitpun tidak berpihak pada apa yang saya cita-citakan. Berusaha
bermain aman dengan mengikuti jalan yang sudah Tuhan berikan tanpa pelu lagi
banyak mempertanyakan. Tapi saya kemudian tersadar kalau saya menyerah sekarang
maka saya akan ketinggalan. Dilindas oleh ketidakberdayaan yang justru
mengkerdilkan. Membuat perasaan saya tidak berkembang melalui serentetan proses pendewasaan.
Sudah lebih dari 5 tahun dan apa yang saya inginkan belum
juga bertemu kenyataan. Terus berusaha percaya kalau sekarang memang belum
waktu yang seharusnya. Sudah sedemikian lama menunggu, jadi kalau disuruh
menunggu setahun atau dua tahun lagi saya tidak keberatan. Kesabaran sudah
sedemikian ekstra saya tingkatkan, bahkan saya pasrah sampai level yang paling
rebah.
Saya ingat tahun 2013, mimpi saya hampir bertemu realiti.
Hampir yang artinya nyaris. Awalnya percaya kemudian dipaksa untuk menghadapi kenyataan
kalau ternyata ini belum saatnya padahal semua sudah ada di depan mata. Kembali
saya memunguti serpihan rasa percaya yang sudah terlanjur koyak. Berusaha tegar
meskipun panas terasa di bagian mata seperti membakar kornea dan retina.
Berusaha menerima walalupun saya merasa lagi-lagi terzhalimi banyak kepentingan.
Tahun 2014, saya mencoba lagi. Berpikir kalaupun nantinya
akan terluka lagi, saya sudah sedemikian kuat. Sudah terlatih dari awalnya
berdarah sampai akhirnya kering dan hanya meninggalkan perih. Ternyata kali ini
saya lebih beruntung meskipun tidak kurang drama dari eposide-episode
sebelumnya. Saya meminta satu, tapi Tuhan memberi saya tiga. Iya tiga bukannya
dua. Pilihan yang membuat saya limbung ditikam banyak pertimbangan karena
semuanya berpacu dengan waktu dan banyak pertentangan kepentingan. Saya
menjalani satu per satu. Mencoba memilah sambil berjalan acak dari satu acuan
ke acuan berikutnya. Tanpa pola karena sebetulnya saya sendiri terpusingkan.
Pada akhirnya saya harus memutuskan. Dengan bertanya pada
Tuhan yang dijawab dengan sebuah keyakinan yang tidak terbantahkan saya
mengucap Bismillah. Saya mengambil opsi yang datangnya paling belakangan, yang
karena keterlambatannya saya sempat menyicip opsi nomer dua walaupun sebentar.
Hanya dua minggu saya menjalani pilihan yang awalnya dengan sadar diputuskan
meski akhirnya kemudian mengundurkan diri. Saya menodai kepercayaan beberapa
pihak, tapi saya harus memilih dan pilihan saya ternyata bukan di sana.
Tahun kemarin, saya mendapatkan 3 buah beasiswa untuk studi
doktor saya. Tiga. Bukan satu seperti doa-doa saya. Saya mendapatkan beasiswa
dari sebuah universitas di Malaysia untuk program sandwich dengan universitas
di Jepang. Kedua saya mendapatkan beasiswa dari departemen keuangan untuk
kuliah di ITB yang sudah saya jalani selama 2 minggu. Dan yang terakhir, yang
datangnya sedikit terlambat saya mendapatkan beasiswa dari kementrian ristek
untuk studi di luar negeri. Dan saya memilih yang ketiga. Mendapatkan beasiswa
untuk saya studi di Belanda.
Alhamdulillah.
Selasa, 02 Desember 2014
Hello
Hai, sini duduk di
sebelahku. Sudah lama kita tidak berbincang intim macam dulu. Sudah banyak
drama di dalam kepala yang tidak menemukan cerita. Bermuara begitu saja tanpa
sempat mengecap gegap gempitanya cerca. Menguap sebelum aksara dan kata
bercumbu menghasilkan melodi yang akan menghiasi megahnya sebuah panggung
pertunjukan.
Tidak ada cerita berarti
tidak ada penonton yang biasanya riuh rendah bertepuk tangan atau paling tidak
menggerutu karena jalinan cerita yang terhidang tidak seperti yang mereka
inginkan. Kursi penonton berdebu, seperti halnya karat yang terbentuk di dalam
kepala saking jarangnya sesuatu keluar dalam bentuk diorama atau melodrama.
Bisa dilihat hiasan satu-satunya mungkin hanya serupa jaring laba-laba di
setiap sudut ruang yang terpintal tanpa pola dan aturan.
Aku kini kembali, menyapa
udara hampa yang mengisi ruang kosong setelah beberapa lama ditinggalkan. Tidak
bisa aku janjikan kalau pertunjukan akan dihidang sesering dulu ketika hati
sedemikian kerontang. Tidak bisa aku pastikan kalau aku akan datang mengirim
kabar tentang kesedihan atau menjadi selingkuhan atau cinta yang tak
terbalaskan. Masa-masa itu sudah terlewatkan, terpintal dalam berrol-rol
kenangan usang yang seharusnya dienyahkan. Sayang aku tak ingin kehilangan itu
sehingga semua dijejalkan dalam satu jambangan untuk suatu hari dikenang kala sedang
bosan.
Terus apa yang akan
diceritakan? Drama tanpa bumbu sedih percintaan seperti tidak lengkap dan tidak
mengundang decak kasihan. Katanya aku akan kehilangan simbol ketika yang aku
ceritakan bukanlah kepedihan. Tapi inilah hidup, tidak selamanya aku harus
hidup dalam lingkaran kesedihan yang terus berputar-putar tanpa menemukan jalan
keluar. Hidup selalu mengantarkan kita pada berbagai macam pemberhentian. Kemarin
aku berhenti di ceruk kesedihan sedemikian panjang hingga banyak babak yang
berhasil dipertontonkan. Sekarang aku keluar dari sana tanpa lagi ada drama
sehingga sulit sekali menggagasnya dalam bentuk prosa. Bahkan ketika kepala
dipaksa untuk mereka-reka. Tidak bisa.
Aku datang hanya ingin
berkabar. Membewarakan kalau aku baik-baik saja meskipun jarang menorek cerita
dalam lembaran lontar. Aku masih aku yang dulu, tidak ada yang berubah. Hanya
saja drama di dalam kepala tidak lagi bersahabat untuk diumbar sedemikian
terbuka. Drama-drama yang ada bisa terselesaikan tanpa harus dibahas dalam
sebuah pertunjukan tanpa jeda iklan. Drama-drama yang ada bisa dibereskan lewat
perbincangan panjang lewat perantaraan hitungan mundur pulsa yang selalu
berkurang. Disudahi karena masing-masing mengalah demi akhir yang sudah
disepakati. Tidak menodai janji.
Mungkin aku akan sering
datang. Atau bisa jadi Jarang. Tapi tolong didoakan semoga saja nanti, sebentar
lagi, aku akan berkabar dari negeri sebrang.
Senin, 29 September 2014
Selamat Tinggal
Aku benci berkemas.
Aktivitas yang di ujung lorongnya akan mempertemukanku dengan sebuah
perpisahan. Dan tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan, walaupun
perpisahan itu digagas untuk sesuatu yang lebih baik lagi. Katanya. Opsi yang seandainya bisa dilongkapi,
dihindari dengan cara berlari melalui jalan memutar meskipun penuh belukar.
Dihindari dengan berusaha menipu diri kalau semuanya akan baik-baik saja.
Entahlah.
Aku tidak pandai
mengucapkan selamat tinggal. Lidah biasanya seperti disimpul mati. Kelu. Bahkan
ketika suara belum keluar sama sekali. Aku tidak mahir menata kata ketika
lambaian tangan adalah sebuah penutup dari serangkaian perjumpaan. Rasanya
seperti tercekik. Sesak tanpa bisa berbuat apa-apa kecuali air mata yang
mengambang. Air mata yang justru ditahan agar tidak mengalir deras seperti
aliran sungai di puncak musim penghujan.
Dari sekian banyak
perpisahan yang pernah menghadang, aku tidak lantas menjadi pandai. Dari sebegitu
banyak aktivitas berkemas yang telah dilakukan, aku tetap saja bermuara pada
kubangan yang serupa. Dari pengalaman berkali-kali dipaksa melambaikan tangan
padahal telinga menangkap suara hati yang sobek, aku tetap saja tidak berubah
bebal atau bahkan kapalan. Semua terus menerus berulang tanpa aku bisa
menemukan jalan keluar sebagai bentuk pengalihan. Semua berdengung seperti
sekelompok lebah yang terbang rendah mendekati gendang pendengaran. Menganggu.
Aku menyebutnya rumah
pendewasaan. Rumah yang sekarang aku tinggali. Rumah yang banyak menyimpan
cerita tentang menjadi dewasa. Rumah yang di dindingnya tertulis
pelajaran-pelajaran tentang memaklumi, tentang berusaha mengerti. Rumah yang
membuatku tahu bahwa tinggal dengan orang yang sifatnya sungguh bertolak
belakang itu sangat menguras emosi. Seperti menaiki jet coaster. Harus siap
kapan saja menghadapi jalanan yang tiba-tiba membolakbalikan perasaan. Harus
sedia memasang kuda-kuda karena aku tidak pernah tahu kapan jalan akan
mengantarkan aku pada terjal jurang yang terpaksa harus dilewati. Tidak ada
lagi pilihan.
Aku menyebutnya rumah
kami. Rumah yang diisi tidak hanya satu hati, tapi dua. Rumah yang semula ramai
kemudian senyap karena salah satu hati memutuskan untuk beranjak pergi mengejar
angan. Rumah yang ikut menjadi saksi bawa hubungan berbonus jarak tidak pernah
mudah dijalani. Bisa dilihat di salah satu bagian dinding kamar mandi banyak
coretan-coretan serupa pagar hasil menghitung rindu. Rindu yang sering kali
tidak bisa ditahan sampai membuat kepala seperti dibebani bola api raksasa. Berat
sekaligus menyiksa.
Rumah yang aku tinggali
memang sunyi. Asosial. Tapi disanalah aku belajar menjadi pasangan yang tidak
egois. Pasangan yang tidak menghalangi pasangannya untuk bergerak maju memintal
impiannya. Kebahagiaan harus diperjuangkan, tetapi ketika dalam pelaksanaannya
aku tidak bisa ikut serta maka hal yang bisa dilakukan adalah mendukungnya.
Membiarkannya pergi meraih impian karena jarak sebetulnya bisa dikalahkan.
Secara teori. Kenyataannya aku kadang tidak sekuat itu. Bersimpuh aku meratapi
rindu yang tidak bisa dientaskan lewat perjumpaan yang bisa digagas kapan saja.
Rumah ini saksinya. Bagaimana aku berjuang menjadi tidak egois. Belajar
mengatur strategi agar kerinduan tidak memberangus semuanya.
Dan kali ini aku harus
mengucapkan selamat tinggal. Bukan pada sebelah jiwaku, tapi pada rumah ini.
Rumah yang sudah dua tahun menemaniku menjalani hari. Rumah yang semula ramai
dan kini sunyi. Rumah yang menjadi saksi banyak pertengkaran ketika dua
pemikiran tidak menemukan jalan untuk dipersatukan. Rumah tempat aku, dia, kami,
bertransformasi dari sifat ingin menang sendiri menjadi saling memahami dan
mengalah bahkan ketika tidak diminta. Rumah seribu cerita. Rumah tempat kami
pulang ketika lelah mengganduli langkah. Rumah tempat kami bercinta tidak hanya
fisik tapi juga pemikiran. Rumah tempat pentas banyak drama.
Dan kali ini aku dipaksa
pergi dari rumah oleh keadaan. Lagi-lagi dengan alasan untuk masa depan yang
lebih cemerlang. Aku mulai berkemas dan menyusun rangkaian kata untuk
mengucapkan selamat jalan. Tidak pernah gampang karena rumah ini terlalu banyak
menyimpan cerita. Tidak akan mudah karena sudah banyak kejadian yang tertoreh
di semua kisi-kisi jendelnya. Tapi semua harus dijalani. Dilewati. Dan semoga
saja akan kembali menjadi sebuah pembelajaran yang mendewasakan. Mudah-mudahan.
Selamat tinggal hunian
nyaman tempat aku bersarang menyulam beludru. Selamat tinggal rumah banyak
kejadian. Kita akan bertemu lagi 4 tahun dari sekarang.
Langganan:
Komentar (Atom)