Halaman

Jumat, 04 Oktober 2013

Aku dan Kamu

Aku orangnya rapi dan kamu cenderung sangat berantakan. Dari awal aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kita berjalan bersamaan.

Aku orangnya teratur, akan mengembalikan sesuatu ke tempatnya semula untuk sejuta alasan. Sementara kamu orangnya serampangan, sesuka hati meletakan barang yang diambil di tempat baru yang sebetulnya tidak cocok dengan ruang. Kamu bilang nanti juga ada yang membereskan.

Aku seringkali kesal.

Kamu anak tunggal, terbiasa mendapatkan apa yang kamu inginkan sendirian. Tidak banyak pengalaman bagaimana berbagi mainan ataupun perasaan sementara aku anak sulung yang dituntut punya banyak tanggung jawab dan memberi perhatian. Bisakah kita menemukan jalanan untuk bersama dari sebegitu banyak persimpangan?

Aku tidak sedikit dihantui ragu.

Aku membatasi makan dengan alasan menjaga badan. Bagiku gemuk itu adanya di kepala, di dalam stigma. Jadi seberapapun orang bilang aku sudah kurusan, aku tetap merasa memiliki berat badan yang berlebihan. Bodoh memang, tapi itu yang kejadian. Kamu hobi membeli berbagai jenis varian makanan. Hanya dibeli dan bukan dimakan. Kalaupun dimakan, itu hanya seperti hiburan. Dicicip sedikit dan kemudian bosan. Tanpa rasa bersalah kamu memintaku untuk menghabiskan, dan seringkali aku menolak meski ujung-ujungnya tetap aku makan untuk alasan menghindari pertengkaran. Kamu tidak suka aku berdiet sementara aku kikuk dengan bentuk badanku yang sekarang.

Aku tidak suka pada sikapku yang tidak kukuh pada pendirian.

Sumbu emosiku pendek, mudah tersulut oleh hal-hal sepele ketika sesuatu tidak berjalan seperti apa yang  aku inginkan. Emosimu mudah meledak-ledak, bahkan oleh hal yang seharusnya tidak menjadi sumber kemarahan. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau kita sedang bertengkar. Mungkin seperti memelihara 2 bom waktu yang siap meledak dalam waktu yang bersamaan. Aku lantas berpikir dapatkah aku melakukan pemakluman untuk hal ini. Meredupkan sedikit bara emosi ketika sedang terjadi pertentangan.

Aku tidak yakin.

Aku hanya seorang pegawai pemerintahan. Dan kamu pasti benci aku membubuhkan kata “hanya” di depan pegawai pemerintahan. Tapi aku ingat dengan jelas bagaimana kamu menggugat. Katamu dengan background pendidikan yang aku miliki, dengan kualitas yang kamu lihat ada padaku maka aku hanya membuang banyak kesempatan dengan menjadi pegawai pemerintahan. Aku berdalih kalau ini adalah pilihan, seperti halnya kamu yang memilih untuk menjalankan bisnismu sendiri ketimbang bekerja di bawah orang.

Aku punya penghasilan. Cukup walau tidak berlebihan. Aku mandiri secara finansial, tidak akan bergantung pada siapapun untuk sekedar mencukupi berbagai jenis kebutuhan. Penghasilanmu jauh lebih besar dibandingkan dengan yang aku dapatkan. Kemadirian finansialmu mungkin akan jauh lebih matang. Dan aku ketakutan akan pendapat orang apabila kita memutuskan untuk jalan berisisian. Mungkin orang tidak tahu, tapi perbedaan yang jelas terlihat akan mengundang banyak persepsi. Kamu bilang abaikan sementara aku terus kepikiran.

Aku takut dinilai orang dekat denganmu memiliki motif tertentu.

Aku memiliki mantan, kamu pun demikian. Bedanya kamu selalu mencari tahu siapa mantan-mantanku. Entah untuk apa padahal aku juga tidak pernah menengok ke belakang. Sesekali memang dilakukan tapi hanya untuk melakukan wisata hati, sekedar napak tilas tanpa ingin mengulang. Aku tidak penasaran dengan mantan yang pernah mengisi kehidupanmu. Bukan tidak perhatian, tapi aku merasa bahwa semua orang punya masa silam. Sekarang adalah sekarang. Kemarin ada untuk memberikan sebuah pelajaran.

Banyak pertentangan. Banyak perbedaan. Aku dan kamu seolah bertolak belakang dari berbagai aspek yang sedang dinilaikan. Tidak sedikit keragu-raguan. Sering muncul banyak ketakutan. Goyah justru sebelum langkah pertama dilakukan. Pengecut untuk lantang mengikrarkan apa yang tengah hati rasakan.

Waktu membuktikan. Memupus semua ketakutan, menghilangkan semua bentuk keragu-raguan. Aku bahkan tidak pernah menyangka akan dicintai sehebat ini. Aku juga tidak pernah menduga kalau aku mampu berdamai dengan sekian banyak perbedaan. Dan berhasil. Aku dan kamu berhasil membuktikan. Ketakutan dan keragu-raguan bisa dihilangkan dengan menanamkan kepercayaan. Percaya kalau kita akan mampu keluar dari kungkungan dan menjadi pemenang.

Aku mencintaimu tanpa ada lagi keragu-raguan. Aku menyayangimu tanpa bumbu ketakutan dikata-katai orang. Selamat ulang tahun, Sayang.

Selasa, 01 Oktober 2013

Menyalin Wajah

Kesalahanku hanya satu. Terlalu khusuk menyalin wajahmu sepanjang perjalanan hari itu. Wajah yang rautnya aku salin sempurna dalam lembar-lembar ingatan terbaik yang pernah aku punya. Tidak hanya raut yang aku gambar, tapi aku selipkan juga rona-rona yang terhias bagai pelangi yang muncul setelah hujan sore hari.

Kesalahanku hanya itu. Kesempurnaan replika yang aku salin dalam lembar terbaik ingatan ternyata sulit untuk dienyahkan. Bahkan ketika kesakitan dia hidangkan di altar sebagai bukti ketidaksetiaan yang akhirnya terbongkar. Wajah itu tetap berada di sana, menempati tempat yang paling istimewa padahal rasa terhadapnya sudah tidak pernah lagi ada. Mungkin secara tidak sadar aku justru memeliharanya, membiarkan dia tetap subur dalam ranah ingatan dengan substrat sejumput kenangan usang.

Sebetulnya tidak ada yang layak dikenang. Potongan-potongan cerita yang dulu terasa indah hanyalah sebuah kiasan. Bumbu yang justru menyamarkan dari rasa yang sesungguhnya terhidang. Sayang lidah suka akan tipuan sehingga seringkali tidak bisa membedakan mana kenyataan dan yang mana kebohongan.

Aku terlalu khusuk menyalin wajahmu sampai otak menolak lupa. Tidak hanya dulu, tapi hingga saat ini. Dan aku menyesal. Dengan keterbatasan kemampuanku membuat pola bagaimana bisa wajahmu justru tergambar dengan sempurna. Dengan keterbataan tanganku menghubungkan satu titik kordinat ke titik koordinat berikutnya, bagaimana rautmu justru tercipta tanpa cela. Aku ingat semua, bahkan setiap detail yang kadang orang lain tidak menyadarinya. Aku ingat semua, bahkan pada bekas luka yang kamu tutupi dengan sejumlah perona.

Ternyata aku salah. Yang aku salin dengan khusuk justru adalah sebuah topeng. Penghalang yang kamu kenakan untuk menyamarkan siapa yang sesungguhnya ada di belakang. Berbulan-bulan aku gambar wajahmu dalam berlembar-lembar kertas buram dengan penampakan yang nyaris sempurna. Ratusan malam aku habiskan tinta hanya untuk membubuhkan semua tanda yang aku rekam ketika mata terjaga. Dan itu sebuah kesalahan. Sketsa itu masuk ke dalam ranah ingatan jangka panjang hingga sekarang. Tidak mau enyah, bercokol tidak beritikad pergi.

Aku sudah jauh berjalan selayaknya kamu yang mungkin sudah ditelan penggalan-penggalan kisah yang terjelang. Aku sudah banyak menyicip jalinan-jalinan baru yang ditawarkan ketika aku berjalan meniti tujuan, tapi otak tetap nenolak lupa. Wajahmu yang dengan khusuk aku salin waktu dulu senantiasa menyambangiku. Mendatangi bahakan di saat sesungguhnya aku sedang ingin sendirian. Datang tanpa diundang justru menyulitkan karena seringkali aku tidak punya ancang-ancang. Tiba-tiba terpelanting karena tidak siap menerima kehadiran sosok yang wajahnya aku salin dengan khusuk  meski hanya serupa bayangan.

Kesalahanku hanya satu. Terlalu khusuk menyalin wajahmu sehingga menepel pada ranah ingatan yang sulit dienyahkan. Dengan sekali kejapan aku bisa meningat semuanya, mengesampingkan kesakitan yang sering kamu pertontonkan. Dengan satu helaan nafas, kamu sempurna terhadirkan mengalahkan luka yang sebetulnya tidak bisa disebut kering benar.


Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi kali ini aku bersungguh-sungguh ingin lupa. Selamanya.

Selasa, 24 September 2013

(Ditinggal) Menikah

Semalam kamu paksa aku untuk ikut bermobil denganmu. Hari sudah teramat larut dan rasanya lelah telah memberondongku untuk sekedar menikmati gelap. Kamu tetap memaksa meski aku sudah berulang kali menolaknya. Kamu bilang ada sesuatu yang penting.

Bahasa tubuhmu menggambarkan sebuah kerisauan. Entah apa, yang pasti aku melihat sebuah beban bergelayut di wajahmu.

Ketika kutanya kita mau kemana, kamu hanya menjawab singkat. “Nanti juga tahu!”

Ketika kutanya mau membicarakan apa, kamu juga menjawab dengan singkat. “Nanti kalau sudah sampai disana, kamu juga akan tahu!”

Hening lebih banyak mendominasi perjalanan kita. Tidak banyak percakapan yang tercipta, tidak banyak kata yang terlontar. Bosan. Dan ketika aku berusaha membunuh kebosanan itu dengan bermain BB, kamu marah. Kamu bilang aku tidak berempati dengan muatan beban yang akan kamu sampaikan kepadaku. Aku menyerah, akhirnya aku hanya berusaha menikmati alunan musik dari speaker di mobilmu malam itu.

Mobil menepi di tepian jalan dengan pemandangan kota Bandung. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah kelipan lampu rumah-rumah penduduk yang membuat semuanya jauh lebih indah. Aku ingat tempat ini, tempat  dimana kita sering menghabiskan malam-malam panjang tanpa tujuan. Menikmati pekat, menghitung bintang. Disini juga kita sering berbagi cerita tentang apapun. Saling mencaci, saling mentertawakan kebodohan masing-masing.

“Aku akan menikah!” dia berkata tiba-tiba. Posisi tubuhnya berada beberapa meter di depanku sehingga aku tidak bisa melihat raut wajahnya ketika dia mengatakan hal itu. Tapi dari getar suaranya, aku tahu kalau dia mengatakannya dengan penuh kehati-hatian.

“Aku sudah tahu” jawabku singkat

“Kamu tidak keberatan? Maksudku kamu tidak apa-apa?” dia bertanya dengan posisi masih memunggungiku. Lagi-lagi aku kehilangan momen mengamati wajahnya ketika berkata semua itu.

“Untuk apa aku harus keberatan? Dari awal aku sudah bilang bahwa kalau kamu mau menikah ya tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja dan itu bukan masalah besar. Ini semua hanya masalah waktu, kalau waktu lebih berpihak kepadamu sehingga membuatmu harus menikah lebih dulu aku ridho”

“Benarkah?” Dia bertanya lagi. Kali ini dia membalikan tubuhnya dan memandangku.

“Sungguh. Jodohmu lebih dahulu sampai, tidak ada alasan untuk menunda-nundanya lagi. Tidak perlulah memperhatikan perasaanku, aku akan seperti biasanya. Mendukungmu dengan segenap kesungguhan. Bukan salahmu juga kalau jodohku datang terlambat, meski kamu harus yakin seperti halnya aku kalau jodohku itu akan datang suatu hari nanti. Sekali lagi ini hanya masalah waktu”

Tiba-tiba dia menghambur ke arahku kemudian memelukku dan berkata “ terima kasih atas pengertianmu”

Malam itu, di bawah jutaan bintang yang dihadirkan langit malam Bandung yang cerah dua orang laki-laki berpelukan erat. Tidak lagi ada beban dari laki-laki yang selalu memanggilku AA. Semuanya lenyap menguap seiring dengan angin yang mengigilkan tubuh karena malam semakin condong ke arah pagi.


Adikku akan segera menikah, melangkahiku. 

Kamis, 22 Agustus 2013

Dahulu

Kaget. Itu yang pertama aku rasakan ketika untuk pertama kalinya setelah kehilangan kontak hampir setahun lebih mendengar suaramu kembali. Tawamu, nafasmu, pelafalan huruf R yang terdengar lucu, semuanya membuka lembar demi lembar memori yang sesungguhnya sudah kusimpan rapih dalam salah satu kotak kenangan di dalam hatiku.

Mendengar suaramu kembali meskipun di telpon memaksaku untuk kemudian membongkar semua ingatan masa laluku denganmu. Masa dimana dulu pernah kita jalani titian penuh pelangi. Mejikuhibiniu. Indah. Aku masih ingat semuanya, kenangan tentangmu memang kusimpan rapih disana, di kuadran khusus dalam siklus perjalanan hidupku. Ibarat pasir pantai, koyak oleh ombak tapi setelah itu rapi kembali

Masih bisa kurasakan hangatnya jabat tanganmu ketika kita berkenalan untuk pertama kalinya. Di Jepang. Ya, di negeri matahari terbit itu aku mengenalmu. Saat itu kita masih sama-sama bego, sama-sama bingung. Berjalan di selasar salah satu kampus, mencari kantor administrasi yang mengurus beasiswa kita. Kita sama-sama dapat beasiswa untuk short course di universitas tersebut. Perbedaan foundation yang memberi beasiswa yang membuat kita tidak pernah bertemu sebelumnya di Indo.

Lucu memang kalo mengingat masa itu. Masa-masa penuh perjuangan, penyesuaian dan yang paling indah tentunya masa ketika bunga sakura bermekaran seiring dengan mekarnya bunga cinta kita. Aku nggak tahu kenapa rasa itu bisa muncul. Apakah kebersamaan kita yang menyebabkan semuanya? Aku nggak peduli, yang pasti aku sangat bahagia mengenal dan kemudian jatuh cinta kepadamu.

Kita seringkali sibuk dengan urusan kita masing-masing, maklum kita memang beda jurusan. Studiku lebih banyak mengharuskan aku untuk berada di laboratorium, sementara waktumu lebih luang. Tapi itu tak menjadikan jalan keluar. Waktu studi yang terbatas membuat kita menjadi lebih egois, menjadi tidak memperhatikan perasaan masing-masing. Rasanya menjadi hambar. Kita tersadar ketika setahun berlalu dan kita sama-sama harus balik. Aku masih ingat jelas janji kita untuk melanjutkan studi di kota yang sama suatu hari nanti, barengan. Janji yang indah.

Semenjak pulang ke Indo, kita jarang berhubungan. SMS dan telpon hanya berbunyi datar, tak mampu memendarkan bara yang tersisa. Kemudian lama tak kudengar kabar darimu, dan tiba-tiba aku mengetahui bahwa kamu sedang mengambil studi mastermu di Amerika. Kamu memang lebih beruntung, beasiswaku tak kunjung datang. Makanya aku memutuskan untuk mengambil studi masterku di Indonesia.

Hari ini, disaat lebaran, kamu kemudian menghubungiku. Sekedar melepas rindu katamu. Mumpung lagi liburan sebelum kamu balik ke amrik bulan Februari besok. Kehadiran yang sesungguhnya tak aku harapkan karena aku tahu pada akhirnya hanya akan meninggalkan perih. Meninggalkan luka yang kembali menganga.


Komunikasi kita kali ini memang tak sebatas suara, tapi raga bernyawa ikut terlibat. My God, akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Kamu masih seperti yang dulu. Tak berubah, hanya banyak raut kedewasaan yang kulihat bertambah disana. Aku tahu kamu bukan kamu yang dulu, tapi aku yakin rasa itu masih ada di dalam hatimu. Rasa yang sama, yang pernah ada tujuh tahun yang lalu saat bunga sakura dan tsubuki bermekaran.