Halaman

Kamis, 22 Agustus 2013

Dahulu

Kaget. Itu yang pertama aku rasakan ketika untuk pertama kalinya setelah kehilangan kontak hampir setahun lebih mendengar suaramu kembali. Tawamu, nafasmu, pelafalan huruf R yang terdengar lucu, semuanya membuka lembar demi lembar memori yang sesungguhnya sudah kusimpan rapih dalam salah satu kotak kenangan di dalam hatiku.

Mendengar suaramu kembali meskipun di telpon memaksaku untuk kemudian membongkar semua ingatan masa laluku denganmu. Masa dimana dulu pernah kita jalani titian penuh pelangi. Mejikuhibiniu. Indah. Aku masih ingat semuanya, kenangan tentangmu memang kusimpan rapih disana, di kuadran khusus dalam siklus perjalanan hidupku. Ibarat pasir pantai, koyak oleh ombak tapi setelah itu rapi kembali

Masih bisa kurasakan hangatnya jabat tanganmu ketika kita berkenalan untuk pertama kalinya. Di Jepang. Ya, di negeri matahari terbit itu aku mengenalmu. Saat itu kita masih sama-sama bego, sama-sama bingung. Berjalan di selasar salah satu kampus, mencari kantor administrasi yang mengurus beasiswa kita. Kita sama-sama dapat beasiswa untuk short course di universitas tersebut. Perbedaan foundation yang memberi beasiswa yang membuat kita tidak pernah bertemu sebelumnya di Indo.

Lucu memang kalo mengingat masa itu. Masa-masa penuh perjuangan, penyesuaian dan yang paling indah tentunya masa ketika bunga sakura bermekaran seiring dengan mekarnya bunga cinta kita. Aku nggak tahu kenapa rasa itu bisa muncul. Apakah kebersamaan kita yang menyebabkan semuanya? Aku nggak peduli, yang pasti aku sangat bahagia mengenal dan kemudian jatuh cinta kepadamu.

Kita seringkali sibuk dengan urusan kita masing-masing, maklum kita memang beda jurusan. Studiku lebih banyak mengharuskan aku untuk berada di laboratorium, sementara waktumu lebih luang. Tapi itu tak menjadikan jalan keluar. Waktu studi yang terbatas membuat kita menjadi lebih egois, menjadi tidak memperhatikan perasaan masing-masing. Rasanya menjadi hambar. Kita tersadar ketika setahun berlalu dan kita sama-sama harus balik. Aku masih ingat jelas janji kita untuk melanjutkan studi di kota yang sama suatu hari nanti, barengan. Janji yang indah.

Semenjak pulang ke Indo, kita jarang berhubungan. SMS dan telpon hanya berbunyi datar, tak mampu memendarkan bara yang tersisa. Kemudian lama tak kudengar kabar darimu, dan tiba-tiba aku mengetahui bahwa kamu sedang mengambil studi mastermu di Amerika. Kamu memang lebih beruntung, beasiswaku tak kunjung datang. Makanya aku memutuskan untuk mengambil studi masterku di Indonesia.

Hari ini, disaat lebaran, kamu kemudian menghubungiku. Sekedar melepas rindu katamu. Mumpung lagi liburan sebelum kamu balik ke amrik bulan Februari besok. Kehadiran yang sesungguhnya tak aku harapkan karena aku tahu pada akhirnya hanya akan meninggalkan perih. Meninggalkan luka yang kembali menganga.


Komunikasi kita kali ini memang tak sebatas suara, tapi raga bernyawa ikut terlibat. My God, akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Kamu masih seperti yang dulu. Tak berubah, hanya banyak raut kedewasaan yang kulihat bertambah disana. Aku tahu kamu bukan kamu yang dulu, tapi aku yakin rasa itu masih ada di dalam hatimu. Rasa yang sama, yang pernah ada tujuh tahun yang lalu saat bunga sakura dan tsubuki bermekaran.

Senin, 05 Agustus 2013

Spiritual Journey

“Cuuuuuuh”  Tiba-tiba anak kecil itu meludahi saya. Untung saya berhasil menghindar sehingga ludah anak kecil itu tidak membasahi baju ikhram yang sedang saya kenakan. Sempat hilang kesadaran beberapa saat kemudian saya teringat dan mengucapkan istigfar beberapa kali. Istigfar yang saya lanjutkan dengan permohonan ampunan kepada Allah Sang Pemilik Hidup. Saya takut ini merupakan balasan dari apa yang pernah saya lakukan.

Anak kecil itu seorang perempuan. Berdarah arab yang terlihat jelas dari bentuk hidung dan matanya. Duduk di kursi roda di sekitaran maqom Ibrahim. Entah cacat atau tidak karena bisa jadi dia hanya didudukan di atas kursi roda milik kerabatnya, saya tidak tahu. Yang pasti ketika saya baru selesai menyempurnakan tawaf umroh saya di putaran ketujuh, ketika peluh masih belum kering membasahi hampir seluruh permukaan kulit, saya tanpa sengaja mengamatinya. Matanya yang polos memperhatikan saya seperti mengiba dari kejauhan. Lewat sorot matanya dia membewarakan kesedihan yang mendalam. Menurut saya.

Mata kami terus berpandangan sampai akhirnya saya memiliki kesempatan untuk medekatinya. Saya sengaja melewati anak kecil itu ketika akan melaksanakan shalat mutlak di belakang maqom Ibrahim sebelum prosesi sa’i. Ketika saya berjalan mendekat, dia terus menatap saya dengan sorot yang sama. Tidak berubah, tidak bergeming. Hati saya menciut seperti bisa merasakan pesan sedih yang dia ingin sampaikan. Karenanya ketika saya tepat berada di hadapannya, saya membungkukkan badan sambil mengusap tangannya dan mengucapkan “Assalamualaikum”. Seketika kemudian dia meludahi saya. Astagfirullah.

Entah kenapa dia meludahi saya, saya tidak tahu. Saya hanya beranjak meninggalkan anak itu sambil mengucap istigfar berulang-ulang. Dari jauh saya melirik ke arah anak itu dan dia masih saja memandangi saya dengan tatapan yang serupa. Saya anggap ini mungkin ganjaran atas kelakuan saya selama di tanah air sehingga selesai shalat mutlak saya berdoa memohon pengampunan. Saya menceritakan kejadian tersebut kepada pembimbing saya ketika menuju ke bukit Safa, saya bertanya apakah saya perlu shalat taubat karena kejadian tadi. Pembimbing saya bilang tidak perlu, cukuplah beristigfar dan memohon pengampunan dari Allah. Satu yang membuat saya sedikit tenang, pembimbing saya bilang mungkin anak kecil tadi meludahi karena dia saya sentuh tangannya. Budaya di Arab memang tidak membolehkan laki-laki menyentuh perempuan yang bukan mukhrimnya, dan itu sudah diajarkan dari mereka kecil. Ya semoga saja itu hanya kesalahan saya sebatas menyentuhnya. Amin.

Siapa yang tidak takut akan balasan atas banyak kesalahan? Sudah menjadi cerita kalau kita sedang berada di Tanah Haram maka akan banyak kejadian yang berupa balasan dari semua yang sudah pernah kita lakukan. Saya pun demikian. Sebelum berangkat dari tanah air saya melakukan shalat taubat. Meminta pengampunan dari banyak dosa, meminta dijauhkan dari segala macam balasan atas apa yang pernah saya lakukan. Tapi kalaupun harus kejadian maka saya meminta perasaan iklhas yang paling rebah dengan tanah. Itu saja.

Saya sadar benar kalau saya bukan orang yang sangat baik, tapi saya juga tidak jahat. Kalau soal dosa, saya berdalaih karena saya manusia. Gudangnya dosa. Karenanya ketika menginjakan kaki di Tanah Haram baik itu Madinah maupun Mekkah, saya sudah ikhlas lahir batin kalau ada kejadian yang akan membuat sadar kalau itu adalah balasan. Alangkah lebih baik menurut saya kalau saya diingatkan meskipun dengan cara dibalas oleh hal yang tidak mengenakan. Setidaknya saya langsung bisa meminta sebentuk pengampunan.

Ternyata manusia juga gudangnya ketakutan. Ketakutan-ketakutan yang saya khawatirkan akan mendapatkan balasan langsung alhamdulillah tidak kejadian. Dan mungkin Allah punya cara lain untuk membalasnya nanti kemudian, lagi-lagi saya hanya bisa berserah dan pasrah. Saya berdoa agar saya selalu diberi waktu untuk bertaubat sebelum datangnya hari pembalasan. Amiiin.

Selama di Tanah Haram saya justru mendapatkan banyak kemudahan. Saya bisa berulang-ulang shalat di Rawdah yang penuh sesak dan masuknya saling berebutan. Rawdah berada di dalam masjid Nabawi di Madinah. Rawdah merupakan mimbar tempat Rasulullah memimpin shalat, dan Rawdah ini pulalah yang disebut sebagai Taman Surga. Tidak heran banyak orang berebutan untuk bisa shalat di sana. Di Madinah saya juga berkesempatan beberapa kali bershalawat di makam Nabi yang tidak kalah sesaknya. Pernah ketika saya sesenggukan ingat dosa selepas shalat duha di Nabawi, orang arab di sebelah saya menepuk bahu dan menawarkan tisue. Saya ambil satu tapi dia bersikeras agar saya mengambil lebih. Dan sesenggukan saya semakin menjadi setelahnya.

Masih di hari yang sama setelah shalat duha dan kejadian saya diberi tisue, seperti biasa sebelum pulang ke hotel saya pasti mengisi botol air minum saya dengan air zam-zam yang banyak tersedia di dalam masjid. Karena jarak yang sangat pendek antara kran galon dengan lantai maka untuk mengisi botol biasanya jamaah mengisi berulang kali menggunakan gelas platik yang juga tersedia di situ. Pagi itu saya duduk di depan galon dan mulai mengisi gelas pertama, tapi belum juga penuh saya ditepuk oleh orang di belakang saya. Ketika saya menoleh, saya menemui orang india yang tanpa banyak bicara menepuk-nepuk galon tempat saya mengambil air. Setelah itu dia mengangkatnya sehingga saya bisa langsung mengisikan zam-zam ke dalam botol minum tanpa harus berulang kali menuangnya perantaraan gelas. Saya mengucapkan “syukron” ketika botol minuman saya telah penuh kemudian pamit pergi. Beberapa langkah saya menoleh lagi dan sudah tidak ada orang yang tadi menolong saya. Entah kemana.

Di Mekkah lain lagi. Pernah suatu saat saya keluar dari Masjidil Haram, berjalan pelan menuju hotel sambil mengamati ribuan orang yang berlalu lalang. Dalam hati saya berkata “Kok nggak ada orang cina yah?” kemudian melanjutkan perjalanan pulang  menuju hotel. Beberapa meter sebelum pintu hotel saya merasa ada yang menjajari langkah saya, cuaca panas dengan suhu hampir 50 derajat membuat saya lebih sering menutupi kepala dengan sorban dan berjalan menunduk. Karena terhalang pinggiran sorban tersebut kemudian saya mendongakan kepala dan menoleh. Ada bapak-bapak yang berjalalan bersisian dengan saya. Melihat saya menengokan kepala dia kemudian tersenyum dan mengajak bersalaman. Dia lalu bertanya “Are you from Indonesia?” Ketika saya menganggukan kepala dia kemudian bilang “I’m from China”. Subhanallah, hanya itu yang keluar dari mulut saya yang menganga.

Alhamdulillah di perjalanan Umrah kali ini saya juga berkesempatan memegang Hajar Aswad. Batu hitam di salah satu sudut Kabah. Awalnya saya sangsi melihat ribuan orang yang berebut ingin memegang bahkan menciumnya. Tapi ketika saya tawaf sunnah selepas shalat dzuhur, saya merasa ada yang mendorong saya untuk terus mengelilingi kabah di putaran yang paling kecil hingga jarak saya sedemikian dekat dengan batu itu. Sambil berdoa dan melafadzkan nama Allah saya berhasil menyeruak masuk ke dalam kerumunan orang-orang tersebut dan tangan saya bisa dengan leluasa mengelus batu hitam tersebut. Hanya saja ketika saya mencoba untuk membungkukkan badan ingin menciumnya, dari arah samping ada laki-laki arab berukuran badan 3 kali lebih besar dari saya mendorong sehingga saya terpelanting ke samping. Sadar saya tidak mungkin maju lagi, perlahan saya mundur dak keluar dari kerumunan. Rezeki saya hanya sampai mengelus, itupun sudah syukur Alhamdulillah.

Kejadian di Masjidil Haram yang paling membuat saya merinding adalah kejadian ketika saya Shalat dzuhur berjamaah untuk terakhir kalinya. Selepas salam seperti biasa saya beristigfar kemudian membaca shalawat dan takbir. Ketika sedang membaca shalawat, saat masjid masih dalam kondisi penuh bahkan shaft masih terisi penuh kecuali orang di sebelah saya yang entah kemana ada laki-laki yang tiba-tiba duduk di sebelah saya. Dia menepuk bahu saya kemudian saya menoleh. Saya bisa jelas melihat dia kecuali mukanya karena tertunduk sangat dalam. Putih, bersih, botak dan wangi.

Dia bertanya “Are you malaysian?” Bukan, saya bilang “I’m Indonesian”. Dia kemudian memperkenalkan namanya dan asalnya yang dari Yaman. Sayang saya tidak jelas mendengar namanya ketika dia menyebutkannya tadi. Dia bilang “I have no money, can i ask you some?” sambil menunjuk saku di dadanya dan tetap dengan tertunduk dalam. Saya balik bertanya “How much do you need?” Dia bilang “Up to You”. Saya lalu mengambil uang dari dalam tas sebanyak 10 real dan bertanya “it is enough?” Dia bilang “yes” kemudian “Syukron”. Setelah mengantongi uang dia berdiri dan pergi. Saya memasukan dompet lagi ke dalam tas dan ketika saya menengok ke arah dia pergi saya tidak menemukannya, padahal jarak saya memasukan dompet dengan menengok tidak lebih dari 10 detik.

Sampai hari ini saya masih dengan jelas bisa mengingat baju yang dia kenakan dan wangi yang semerbak dari tubuhnya. Entahlah dia siapa, saya juga tidak tahu. Mungkin saya dimintai uang karena saya kurang bersedekah di Indonesia, atau bisa jadi dia itu adalah..... Sudahlah tidak perlu menebak-nebak yang pasti saya ridha memberikan uang itu, bahkan kalau diingat sekarang rasanya kurang saya memberinya hanya 10 real mengingat harga kopi di luar pelataran mesjid saja mencapai harga 13 real. Ya semoga saja dia masih mendapatkan derma dari orang-orang yang dimintanya seperti saya. Amin.

Banyak pengalaman yang saya petik dari perjalanan Umrah kemarin. Tapi yang paling berharga untuk saya adalah perjalanan rohani ini membuat saya semakin sabar, semakin ikhlas dan semakin nrimo. Tidak selamanya apa yang saya inginkan akan dikabulkan. Tidak semua yang ingin saya hindarkan akan selamanya terhindar. Jadi tetaplah saja berdoa dan menghamba. Semoga saja perasaan ini tidak hanya bertahan sampai sekarang, tapi sampai tahun-tahun ke depan. Kalau bisa sampai saya mati nanti. Amiin. Mohon saya didoakan.

APIS : Rindu Kabah L

Sabtu, 27 Juli 2013

MATI

Inikah Mati?

Sebuah lorong gelap dengan cahaya samar di kejauhan saat kemampuan mata hanya terbatas sampai sana. Lorong yang banyak orang perbincangkan karena merupakan penghubung antara dunia kasat mata dengan dunia antah berantah yang mereka sebut akhirat. Sebetulnya aku ragu, dari mana mereka tahu tentang lorong ini padahal mereka belum mengecap mati.

Inikah Mati?

Saat raga merasa melayang seringan awan. Tanpa beban, tanpa persoalan. Katanya tidak berlaku lagi hukum gravitasi Newton yang membuat kita menapak pada tanah. Sesuatu yang juga katanya membedakan antara massa dengan berat. Entahlah apa itu karena aku sama sekali tidak mengerti. Yang aku tahu adalah sekarang aku melangkah bagai terbang. Tidak kurasakan gaya gesek yang biasanya menempelkan telapak kakiku pada tanah. Aku benar-benar melayang. Tanpa sayap.

Kerongkonganku berat. Tak ada lagi suara yang bisa aku keluarkan dari sana, padahal banyak sekali kalimat yang ingin aku sampaikan. Bukan protes karena aku ingat bahwa kalau mati itu sudah tiba maka katanya tidak ada lagi proses tawar menawar. Katanya sejago apapun aku berkelit kata, semuanya hanya akan sia-sia. Lagi-lagi katanya, karena sungguh ini adalah pengalamanku yang pertama.

Inikah Mati?

Kulihat seseorang dengan wajah berpendarkan cahaya menunggu di ujung penglihatan. Seseorang dengan wujud yang tidak pernah kukenali sebelumnya. Diakah yang disebut malaikat? Perpanjangan tangan Tuhan yang bertugas untuk menghitung berapa banyak kebaikan dan kenistaan yang sudah aku lakukan? Tiba-tiba aku gemetaran. Kepalaku berdenyut tidak karuan karena sebelum aku sampai pada sosok itu, kepalaku mencoba menghitung. Semakin mendekat, semakin baur hitungan yang sudah aku lakukan.

Aku tahu aku banyak dosa. Aku tahu hidupku nista. Aku meracau sambil terus berjalan mendekat ke arahnya. Mungkin sebenarnya aku tidak berjalan karena kakiku tidak berasa melangkah. Mungkin juga aku sebenarnya tidak mendekat karena dalam diriku aku merasa berlari menghindar. Sekuat tenaga aku beringsut mundur tetapi kenapa tetap saja jarak antara kami justru mendekat padahal dia tidak bergerak. Kepalaku semakin berdenyut. Telingaku semakin berdengung. Mataku semakin silau karena semakin dekat dia semakin berpendar.

Inikah Mati?

Bingung. Tidak ada sekelompok orang dengan jubah putih dan jubah hitam yang berdiri bersebrangan seperti yang aku lihat di film-film. Aku tidak bisa melihat mereka, padahal keberadaannya bisa dijadikan petunjuk bagaimana statusku sekarang. Mati ataukah bukan. Aku semakin limbung karena cahaya menyilaukan itu terus menghantam mataku, membuatnya kehilangan daya akomodasi sama sekali.

Cahaya benderang itu terus menghadang dan dengan sisa keberanian yang terkandung di badan, aku berusaha menantang. Kubuka mataku lebih lebar, tak peduli kalau itu bisa membutakan. Membakar retinaku sampai hitam. Aku tidak peduli karena entah dari mana datangnya, keberanian itu terhunus bagai pedang.

Cahaya itu masih menyilaukan. Tapi perlahan aku menyadari kalau itu bukan datang dari sosok yang tidak pernah aku kenali. Cahaya itu terasa akrab, datang dari balik terali di atas jendela kamarku. Cahaya yang setiap harinya sengaja kubiarkan menerobos untuk memberikan sensasi terang.


Syukurlah, ternyata aku belum mati. Itu hanya cahaya matahari.

Apisindica : Tiba-tiba ingat mati…

Selasa, 25 Juni 2013

Hampura

Assalamu’alaikum.

Nama saya Apisindica. Saya orang baik yang kadang berbuat tidak baik. Perbuatan tidak baik tersebut bisa jadi saya lakukan secara sadar maupun tanpa disengaja. Untuk perbuatan yang dilakukan secara sadar mungkin lebih mudah untuk saya dimintakan maaf karena bisa jadi saya mengingatnya atau saya bisa mengingat-ngingatnya. Yang jadi masalah adalah perbuatan tercela yang dilakukan tanpa disengaja. Seringkali saya tergelincir pada suatu keadaan yang ternyata itu menyakiti orang tanpa saya sadari benar. Dan karena tanpa disengaja tentu saja saya akan lupa, karenanya saya juga minta dimaafkan. Diampuni.

Nama saya Apisindica. Dari mulut saya bisa keluar banyak hal. Doa, harapan, nasihat, sampah hingga serapah. Saya juga seringkali tidak bisa mengontrol apa yang keluar dari mulut saya. Terlontar tanpa dipikirkan terlebih dahulu sehingga berujung tindakan menyakitkan bagi orang. Bergunjing juga merupakan aktivitas yang tidak bisa saya hindarkan. Membicarakan orang demi sekedar memuaskan kepenasaran atau malah justru menjelek-jelekkan. Lagi-lagi saya tidak bisa mengontrol mulut saya, sehingga darinya lebih banyak keluar dosa.

Maaf. Mungkin hanya sepenggal kata tersebut yang saat ini bisa saya ujarkan. Saya mengerti kalau saya seperti membuat semuanya terasa sederhana. Mudah dilakukan. Bertahun-tahun membuat berbagai kesalahan, kemudian datang dengan enteng menghadirkan maaf yang seperti tanpa muatan beban. Tapi terus terang, saya juga tidak tahu bagaimana menghapusnya. Noda sudah terlanjur tergambar, jejak mungkin sudah mengeras tidak bisa hilang. Karenanya saya hanya ingin diberikan ampunan. Diberikan sebuah bentuk pemaafan. Tidak peduli seberat apapun kesalahan yang sudah dilakukan. Saya meminta maaf dengan penuh penyesalan.

Nama saya Apisindica. Saya tidak jutek atau judes. Potongan muka saya memang seperti ini dari sananya. Bukan ingin menyalahkan Tuhan atas apa yang sudah dia ciptakan. Bukan juga ingin mencari pembenaran dari mimik yang sering saya pertontonkan. Tapi benar, saya hanya terlihat tidak bersahabat. Saya hanya sulit untuk memulai perbincangan dengan orang asing atau orang yang baru saya kenal. Aslinya saya jauh lebih ramah, asalkan saya sudah merasa nyaman dan aman. Saya hidup dalam sebuah rahasia yang sampai saat ini belum berani saya buka. Saya ketakutan kalau apa yang saya sembunyikan terbongkar pada orang yang belum terlalu saya kenal. Itu saja.

Nama saya Apisindica. Saya orang sunda yang seperti kebanyakan orang dari suku tersebut senang sekali bercanda. Tapi mungkin saya bercanda kadang kelewatan, tidak meraba perasaan orang yang menjadi bahan bercandaan. Becandaan saya mungkin juga kadang seperti tidak berpendidikan karena saya lebih mementingkan bagaimana banyolan yang saya ucapkan menjadi bahan tertawaan. Saya sering lupa kalau apa yang saya lontarkan membuat orang tidak berkenan. Saya alpa. Nyaris selalu lupa.

Lagi-lagi saya minta dimaafkan untuk semua jenis kesalahan yang tidak akan selesai saya detailkan sekarang. Saya meminta maaf untuk semua perbuatan tidak terpuji yang sudah merugikan banyak orang. Saya berserah, dimaafkan atau tidak itu bukan menjadi persoalan. Saya hanya ingin berdiri jujur di titik ini dan meminta sebuah bentuk pengampunan. Mengakui  dosa-dosa yang sudah saya lakukan. Mungkin ada yang luput karena itu di luar kapasitas saya sebagai manusia dengan banyak keterbatasan.

Nama saya Apisindica. Saya pendendam. Saya mengingat orang-orang yang pernah menjadi mimpi buruk selama saya menjalani kehidupan. Orang-orang yang pernah melakukan pengkerdilan tidak langsung pada diri saya sebelum akhirnya saya bangkit dan membuktikan kalau saya tidak seperti yang mereka bayangkan. Saya mengingat mereka semua karena semakin saya ingin lupa, kotak memori itu justru dengan jelas tergambar. Mungkin mereka tidak sengaja. Atau bisa jadi mereka justru dikirim Tuhan untuk membentuk saya menjadi manusia seperti sekarang. Saya belajar memahami. Belajar memaklumi. Untuk itu saya mohon didoakan agar dapat menghapus semua keperihan-keperihan yang pernah tertoreh sehingga tidak lagi ada dendam.

Nama saya Apisindica. Insya Allah nanti malam saya akan melakukan perjalanan religi ke rumah Allah. Ke Tanah Haram untuk melakukan ibadah Umrah. Saya mohon dimaafkan atas semua kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan. Katanya dengan banyak dimaafkan, saya akan menjadi lebih lapang untuk melangkah bertemu Allah. Kalaupun nanti di sana saya mendapat ganjaran atas apa yang sudah saya lakukan, maka doakan saya ikhlas menerimanya sebagai kifarat atau penghapusan dosa. Saya Ridho. Pasrah sampai tingkatan pasrah yang paling rebah dengan tanah.


Doakan saya, agar ketika kalau saya pulang nanti saya menjelma menjadi manusia yang lebih baik dari sekarang.Tidak ada tujuan khusus dari kepergian saya mengunjungi Tanah Haram, saya hanya ingin meminta pengampunan. Insya Allah.