Halaman

Kamis, 26 Juni 2014

Janji

Katanya akan ada pelangi setelah hujan, atau paling tidak akan ada udara segar beraoma tanah basah setelah debunya tergerus lindian air. Tidak ada cobaan yang akan datang terus menurus karena pada suatu saat pasti cobaan tersebut berbuah manis hasil sebuah penantian. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya hadir untuk sebuah alasan, sebuah pembelajaran atau bisa jadi sebuah peringatan.

Akan ada indah setelah penderitaan. Pasti muncul cahaya setelah gelap berkepanjangan. Jadi kenapa harus sangsi?

Katanya hidup seperti roda pedati. Kadang berada di atas tapi pasti juga berada di bawah kecuali pedatinya sedang berhenti. Entah sesaat entah untuk waktu yang lumayan lama. Hidup mengajarkan itu. Hidup memberikan pengalaman bagaimana kita bersikap ketika kita sedang di atas. Hidup memberikan peluang untuk kita berjuang bagaimana membuat tuas memutar roda ketika kita justru sedang terjerembab di kuadran paling bawah. Hidup mengajarkan semuanya.

Kadang kita hanya lupa bagaimana rasanya di bawah. Kita terbuai dengan aroma yang memabukkan ketika kita berada di atas sehingga kita lupa bahwa dalam hitungan sekejap semua bisa berubah. Kita limbung karena kita lupa memasang kuda-kuda. Kita takut karena justru kita tidak memiliki awahan untuk melompat dan tergerus bersama tanah kering dan bebatuan yang tidak jarang membuat kita kapalan. Kita lupa bahwa dengan tergerus dan mengkapal kita akan mengerahkan sekuat tenaga untuk berjuang dan lepas dari segala macam penderitaan.

Namanya juga manusia. Selalu ingin memilih hidup pada posisi nyaman yang tidak akan mengenal halangan. Namanya juga manusia. Kemudian mempertanyakan dan menggugat Tuhan karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Kita marah. Kecewa. Sedih dan kemudian meratap. Tidak salah karena semua sifat itu sangat manusiawi, tapi bukankah kita harusnya merasa beruntung karena pernah didera oleh semua perasaan tersebut. Perasaan yang justru akan mendewasakan pemikiran. Perasaan yang membuat kita semakin kuat karena kita diharuskan berjuang untuk bangkit, berdiri kemudian berlari.

Tidak ada satu orangpun yang tidak pernah berada di bawah. Kalaupun banyak yang tampak hanya mengalami kebahagiaan semenjak lahir karesa sebuah proses turun temurun dalam sebuah trah yang sudah kuat mengakar, yakinlah kalau itu hanya yang tampak dari luar. Pasti ada bagian dari hidupnya yang pernah merasa ada di bagian paling bawah dari lembah, entah itu soal perasaan ataupun soal kemandirian. Jadi kenapa harus risau? Yang paling penting adalah kita tetap berjuang dan belajar. Berjuang bagaimana keluar dari keterpurukan dan belajar bagaimana senantiasa siap ketika tiba-tiba hidup berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Bisnis hanya sebuah permainan. Kadang menang telak dan beruntung tapi kadang juga kalah terberangus banyak ketidakmenentuan. Tidak usah khawatir ataupun berputus asa. Mari kita berdoa, berusaha dan memulainya lagi. Tak perlu takut untuk melangkah setelah kita merasa kalah. Tidak perlu khawatir tidak bisa lagi berdiri setelah terjerembab dan dipaksa seperti mengerat nadi sendiri. Semua akan berubah baik. Semua akan menemukan jalan keluar karena seperti tadi sudah dibilang, akan ada pelangi setelah guyuran hujan yang seakan tidak pernah berhenti.

Jangan bersedih. Jangan kalut dan bimbang. Setidaknya ada aku di sini yang senantiasa menemani. Sekarang hingga nanti. Janji!

Rabu, 28 Mei 2014

Dunia Paralel

Pernah ikutan lomba menulis cerpen di nulisbuku.com beberapa bulan lalu dengan tema besar "love never fails". Saya mengirimkan sebuah tulisan dengan judul "dunia paralel" yang merupakan gabungan dua buah tulisan yang pernah saya posting di blog ini juga.

Karena saat itu pekerjaan sedang banyak-banyaknya, tulisan yang saya buat tidak sempat dibaca dan diedit ulang apakah penggabungan yang saya lakukan kongruen atau malah tidak. Sekali jadi langsung kirim, mengingat saya juga mensubmit di hari terakhir batas pengumpulan. Dan benar saja, tulisan saya tidak jadi penenang.

Kemarin malam ketika saya masuk ke kamar saya di Bandung, saya menemukan kiriman dari nulisbuku.com yang berisi buku 17 kumpulan cerpen terbaik dari lomba tersebut. Alhamdulillah "dunia paralel" tercetak di sana beserta cerpen pemenang 1, 2 dan 3.

Nggak nyangka aja. Ternyata setelah digerus menulis banyak jurnal ilmiah, saya masih bisa menulis prosa. Bangga. Itu saja. Berikut saya posting ulang cerita tersebut. Kali-kali saja ada yang penasaran :)


DUNIA PARALEL

Di sebuah gerai kopi yang nyaman seorang laki-laki duduk sambil sibuk mengetik di atas tuts-tuts keybord komputer jingjingnya. Dia sendirian. Di atas meja bundar di depannya hanya ada komputer, gelas plastik berisi es mocha milk kesukaannya dan sebuah asbak tak berpenghuni. Asbak yang merepresentasikan dirinya. Sendirian. Dan kosong.

Entah apa yang tengah dituliskannya di lembaran kertas putih yang kadang terisi beberapa kalimat tapi kemudian kosong lagi karena seketika dipijitnya ctrl A kemudian del. Sepertinya dia sedang kebingungan. Gagal menuliskan sesuatu yang tengah berkecamuk di dalam pikirannya, atau jangan-jangan dia sedang berkutat dengan sebuah pekerjaan kantornya. Tapi ini malam minggu, dan laki-laki itu bukan karyawan yang super sibuk sampai harus bekerja di malam yang katanya banyak bergelimpangan cinta.

Lama dia terdiam. Sinar dari layar komputer menerangi hampir seluruh wajahnya. Tidak tergambar raut kekalutan seperti saat dia terburu-buru menghapus beberapa kalimat yang baru saja diketikannya sebelum membentuk sebuah paragraf utuh. Tidak juga terlihat sebuah keputusasaan padahal beberapa saat sebelumnya dia menghela nafas panjang kemudian menyeruput minuman dingin favoritnya. Dia nampak biasa saja. Hanya terlihat sebagai laki-laki yang menikmati malam minggu sambil berusaha menuliskan sesuatu yang mungkin dia juga tidak tahu. Sendirian.

Laki-laki itu seperti memberikan pengumuman tidak tertulis dengan bunyi “apa yang salah dengan menghabiskan malam minggu sendirian?” Dia seolah tidak peduli dengan orang yang berlalu lalang sambil bermesraan atau sekedar berpegangan tangan. Baginya mungkin itu hanya sebuah tontonan gratis yang terlalu diobral. Romantisme yang diumbar seakan butuh pengakuan kalau mereka adalah pasangan. Picisan.

Mendadak dia bersandar. Merebahkan punggungnya yang sedikit terlihat tegang di bantalan kursi yang semula berjarak. Ada sebuah tanda tanya di wajahnya. Tanda tanya yang mungkin bisa dengan jelas terlihat oleh orang yang memperhatikannya dengan seksama. Tanda tanya di akhir pertanyaan yang mungkin menggelumbung di dadanya. Pertanyaan yang kemudian dijawabnya dengan cara berlari. Laki-laki itu seperti berlari dari berondongan pertanyaan kenapa di malam minggu seperti ini dia hanya berdiam di rumah dan sendirian dari para handai taulan. Karenanya dia berlari. Menghabiskan kesendirian di gerai kopi favoritnya. Tempat yang dia anggap aman untuk terlihat seperti mencari kesibukan.

Laki-laki itu tetap berada di dimensi yang sama. Sendirian. Entah itu di rumah ataupun di tempat persembunyiannya sekarang. Bedanya dia hanya terbebas dari serangkaian pertanyaan yang mungkin memekakkan gendang pendengaran. Pertanyaan yang laki-laki itu bosan menelannya. Pertanyaan yang sering kali tidak cukup dijawab hanya dengan diam. Apalagi sekumpulan angka terus bergerak di lingkaran usianya.

Sudah jauh laki-laki itu berjalan sendirian. Menapaki setiap pematang yang membentang ingin ditaklukan. Membuka setiap kesempatan yang menggoda untuk sekedar dijajal. Banyak yang sudah dia dapatkan entah itu kebahagiaan atau sebuah kesakitan. Pelajaran-pelajaran hidup yang justru menguatkan, menempa batin yang awalnya rapuh tak tahan cobaan. Banyak pula yang sudah dia belanjakan. Penantian, mempertaruhkan, menyodorkan perasaan, disakiti, disia-siakan. Dan dia bertahan. Berharap semakin kuat setiap harinya meski dilaluinya dengan melakukan beragam pelarian.

Menurutnya sendirian bukan berarti lemah atau menjadi bisa dilemahkan. Sendirian buat laki-laki itu menjadi sebuah jalan untuk melakukan banyak penilaian. Objektif, tidak lagi subjektif. Pematutan dari serangkaian kegiatan ketika dia mulai berjalan. Penilaian dari serangkaian penerimaan diri ketika pertama kali menyadari kalau ada yang berbeda dari sebagian besar orang. Penilaian yang mulanya lebih banyak berisi angka merah karena dipenuhi dengan banyak kemarahan. Pengugutan kepada Tuhan. Ketidakterimaan.

Apakah laki-laki itu sekarang sudah memperoleh jawaban? Entahlah. Yang pasti dia sudah mengantongi sebuah pemakluman hasil berjibaku dengan banyak pertanyaan yang dulu sering dia gadang. Hasil yang mungkin tidak sesuai dengan harapan banyak orang. Hasil yang mungkin membuat orang justru mentertawakan. Laki-laki itu tidak peduli. Hidup bukan hanya pada koridor menyenangkan hati orang lain yang justru tidak mengenal siapa dia sebenarnya. Hidup adalah bagaimana meraih kebahagiaan dengan caranya. Meskipun sendirian.

Sendirian bukan halangan. Sendirian justru membuat laki-laki itu kuat dengan caranya sendiri. Terdengar klise? Pastinya. Mudah dijalani? Tentu saja tidak. Butuh waktu tidak sebentar untuk dia sampai pada fase seperti sekarang. Butuh banyak pemakluman seperti yang sudah dia bilang. Butuh banyak menebalkan telinga karena selalu sendirian menimbulkan banyak pertanyaan dari lingkungan, seakan kalau sendirian menjadikannya seorang pesakitan. Kesepian. Butuh dikasihani. Kasihan.

Kebiasaan sendirian bukan berarti laki-laki itu tidak lantas mencari pasangan. Lagi-lagi pengalaman mengajarkan banyak hal. Bukan berarti karena ingin lepas dari stigma kesendirian dia menjadi tidak lagi memilah. Angka dikepala tidak lagi muda. Bertualang dari satu pemberhentian sesaat ke pemberhentian sesaat yang lainnya bukan lagi saatnya untuk dilakukan. Sayang memboroskan waktu untuk sesuatu yang dari awal sudah  dia tahu bagaimana ujungnya, apalagi dengan kesadaran penuh bahwa ternyata dengan sendirian dia baik-baik saja.

Laki-laki itu sudah jauh berjalan sendirian. Mencoba menikmati apa yang sudah Tuhan beri sebagai jalan yang memang harus dijalankan. Tanpa pertanyaan walaupun terjal. Sudah jauh dia berjalan sendirian. Menyemai banyak doa di setiap kesempatan, berharap suatu saat ada sebagian doa yang dikabulkan. Tidak perlu semua, karena dia tahu tidak akan semua doa bertemu dengan jawaban. Sudah jauh dia berjalan sendirian. Mengetuk pintu-pintu virtual sampai bertemu dengan apa yang (mungkin) selama ini dia idam-idamkan.

Apa laki-laki itu bosan? Tidak jarang. Tapi dia punya keyakinan kalau bosan hanya akan membunuh harapan. Kesendirian membuatnya kreatif agar terbebaskan dari belenggu bosan. Kesendirian memaksanya memutar akal agar dia tidak lantas mati perlahan. Laki-laki itu tetap harus hidup untuk berbagai alasan.

Malam ini dia masih saja berjalan sendirian, seperti biasa dia akan mengetuk pintu yang sudah dia amati sejak lama. Awalnya ragu tapi kemudian dia menantang diri untuk terus berani. Lama tak ada jawaban. Dia  menunggu. Satu, dua, tiga sampai sembilan. Tetap tak ada jawaban hingga akhirnya dia memutuskan bahwa dia harus memutar badan dan kembali berjalan. Tepat di langkah pertama yang dilakukannya, sebuah pemikiran yang tiba-tiba membuatnya seperti seakan tersadar.

Sementara itu di sebuah dunia paralel, seorang perempuan berbaju biru yang dipadu dengan celana jins ketat tampak bergelendotan manja pada tangan kekasihnya. Mereka berjalan bersisian di sebuah pusat perbelanjaan ternama di kotanya. Tanpa riskan mereka masuk dari satu gerai ke gerai lainnya  sambil terus mempertontonkan kemesraan. Cinta yang diumbar seolah tidak ada yang keberatan.

Perempuan itu sumringah. Tidak tampak sama sekali sebuah beban di hidupnya. Bagaimana tidak, di sampingnya ada seorang laki-laki yang padanya dia menggantungkan banyak pengharapan. Sedih berada jauh dari jangkauannya karena dia sudah menemukan cinta. Rasa yang dia gadang akan mengantarkannya pada perasaan pulang. Cinta yang akan menerbitkan sebentuk lain dari sebuah harap yang selama ini dia bayangkan. Termiliki. Seutuhnya.

Laki-laki di sampingnya terus mengenggam tangan sang perempuan. Seperti berlekatan kedua tangan itu tidak terpisahkan. Sesekali laki-laki itu menggoda yang dibalas dengan cubitan manja si perempuan yang mendarat di perutnya. Laki-laki itu seperti ksatria, tahu betul apa yang dibutuhkan pujaan hatinya. Sementara si perempuan berlagak jinak, seperti sudah ditaklukan lewat serentetan kejadian yang melambungkannya ke nirwana.

Mungkin bagi mereka tidak ada istilah malam minggu karena semua malam adalah serupa. Berisi hanya cinta. Mungkin bagi mereka, entah perempuan yang berbaju biru dan bercelana jins ketat atau laki-laki yang menjelma ksatria semua sudah diaturkan Tuhan. Ditulis dalam sebuah perjanjian jauh sebelum mereka dilahirkan. Sekarang mereka hanya memainkan peran, berusaha memenuhi perjanjian banyak pasal yang tidak pernah mereka ingat pernah ditandatangani berbarengan.

Ketidakingatan pada sebuah perjanjian yang dibuatkan Tuhan kadang menyebabkan seseorang salah mengambil jalan. Salah menterjemahkan bunyi pasal yang maknanya tidak tersurat secara gamblang. Salah mengejawantahkan arti karena bunyi dibaca tidak terlalu teliti. Karenanya banyak orang salah meyakini. Banyak orang salah mengambil titian langkah yang justru berputar padahal tujuan terpampang jelas di hadapan.

Di gerai kopi yang mulai sepi, laki-laki yang seperti sedang berlari kembali menuliskan sesuatu di layar komputernya. Lama dia terdiam setelahnya. Mencermati satu demi satu kata yang dia tuliskan menjadi sepenggal kalimat lengkap. Terlihat ada sebuah kepuasaan di wajahnya, seperti menemukan pencerahan. Tangannya menggeser-geser kursor kemudian menghapus kalimat yang baru saja mengantarkannya pada sebuah kepuasan. Membuat kertas di layar komputernya kembali  putih tanpa coretan.

Sesaat setelah laki-laki di gerai kopi itu menghapus kalimat yang membuatnya orgasme, tiba-tiba perempuan berbaju biru bercelana jins ketat di sebuah dunia paralel merasakan sesuatu yang lain di hatinya. Sontak dia melepaskan genggaman tangannya yang seolah menempel dengan laki-laki yang selama ini dicintainya. Entah kenapa ada desir lain yang tidak pernah muncul sebelumnya. Sebuah keraguan yang timbul dalam sebuah keyakinan. Kegamangan yang hadir dalam sebuah kepercayaan. Absurd.


Laki-laki yang berselimut kesendirian beranjak dari gerai kopi yang didatanginya sejak dua jam silam. Mulutnya bergumam merapal kembali kalimat yang sudah dia hapal benar. Kalimat yang tadi dihapusnya setelah seketika mendapatkan pencerahan. Laki-laki itu terus mengulang dan mengulang. Dia bilang “Jodohku malam ini mungkin sedang sibuk mengumbar kemesraan dengan orang yang dia anggap jodohnya”. Lagi-lagi sesaat setelah laki-laki yang nampak sedang berlari selesai mengucapkan kalimat itu, hati perempuan berbaju biru bercelana jins ketat di dunia paralel mendadak hangat. Entah karena apa.

Sabtu, 24 Mei 2014

Surat dari Kekasih

On Email :

Aku percaya konsep jiwa dan akal pikiran..
Jiwa dan akal sudah ditakdirkan seperti jalinan benang yang terikat satu sama lain tanpa saling mengenal batas awal dan akhir.
Akhir-akhir ini pikiran sering berkata kepada Sang Jiwa:
Sang Jiwa, ini tidak akan berhasil, Sang Jiwa ini terlalu berat untuk dicerna dan dikerjakan...
Sang Jiwa aku ingin bebas.. Sang Jiwa ini hal yang bodoh, Sang Jiwa aku lelah, Sang Jiwa Sang Jiwa Sang Jiwa dan Sang Jiwa...sang akal terus berbicara tanpa henti mengeluarkan semua yang dilakoninya selama ini... 
Sampai pada satu titik sang akal pun terdiam tanpa mendengar apapun dari Sahabat kekalnya..

Lalu suatu saat Sang Sahabat pun berkata: bukankah semua yang terjadi sudah sesuai keinginan mu? Aku menuruti dan mematuhi segala keinginan dan hasrat menggebu yang ingin kau lakukan. Kuberikan pasangan hidup yang mencintai mu dan menjadikan mu bagian dari hidupnya. Ku memohon pada Sang Ibu agar dialirkan nafas kehidupan  baru dan disediakan kenyaman di tempat asing yang kau tuju. Kuberikan setiap jawaban dari pertanyaan dan argumentasi tanpa ujung yang kau lontarkan. Kuberikan segala sesuatu yang kau minta sahabatKu. Mengapa sekarang kau tidak merasa puas dan bahagia?

Sang akal pun berteriak, kau berikan pasangan yang suatu saat akan meninggalkanku untuk mematuhi norma dan adat. Kau berikan pasangan yang luar biasa menyayangi tetapi juga sekaligus memberikan batas waktu untuk ada di sisiku. Kau berikan kenyamanan tetapi juga peluh keringat yang tidak henti mengucur. Apakah itu artinya Kau menyayangiku? Kau bilang Kau berikan seluruh jawaban tetapi disisi lain banyak hal yang harus kukorbankan. Itukah yang Kau bilang Kasih?

Dan Sang Jiwa pun hanya tersenyum. Wahai sahabatku apakah tidak letih kau mengejar sesuatu yang tidak berkesudahan? Tidakkah cukup waktu yang Kusiapkan untukmu setiap pagi? Apakah tidak cukup tanganKu menjaga engkau di setiap persimpangan yang kau hadapi? Tidakkah kau belajar untuk menikmati apa yang sudah kupersiapkan untukmu? Menikmati setiap tawa, setiap bulir kasih dan cinta yang kualirkan kepada mu? Sudah sedimikian butanyakah sampai kau tak melihat banyak tangan yang membantumu, menopangmu dan merengkuhmu, hanya untuk memuaskan ambisi-hasrat menggebu dan keinginan yang tak terbatas. Kehausan untuk merasa disayangi dan dicintai. Wahai sahabatku, tidakkah kau rasa dan lihat betapa kau beruntung..

Akal ku pun terdiam dan mulai melihat kebelakang. Betapa banyak tawa, cinta dan kasih yang didapat selama setahun kebelakang. Betapa banyak tangan tak dikenal yang menawarkan untuk menopang dan mengangkat setiap kali akal tersaruk oleh ulahnya.

Aku belajar untuk bersyukur. Tidak mudah memang dan seringkali menyakitkan. Aku belajar untuk berkata CUKUP-TIDAK-TERIMA KASIH dan AKU PUAS. Tidak mudah mengekang hasrat, niat dan keinginan yang mengotori sang akal. Tetapi aku bersyukur. Dalam keadaan apapun aku memahami bahwa Sang Jiwa sudah menyiapkan DIRIMU, yang memahami tanpa harus minta untuk dipahami.  Mengerti dan mencintai aku apa adanya.

Aku mengerti aku DICINTAI. Perasaan yang selama aku bertumbuh jarang kudapat bahkan langka. Ya benar, aku dicintai olehmu dan aku merasa tercukupi setelah kelaparan dan kehausan yang tidak pernah terpuaskan. Kamu mencintai aku dengan hal yang sederhana yang terkadang tidak bisa kupahami. Kamu mencintai aku dengan semangkuk sayur asem dan cumi yang meletup di wajan. Untuk pertama kalinya aku mengerti betapa nyamannya dicintai dan dimiliki oleh seseorang dan untuk pertama kalinya aku merasa aku bukan sampah yang harus membuktikan diri aku bisa, aku hebat, aku tidak bisa diremehkan dan banyak topeng lainnya. Terima kasih aku dicintai dan maafkan aku karena aku sedang belajar mencintai dengan benar. Aku belajar bahwa mencintai mu adalah membiarkanmu selama kamu bahagia seperti yang kamu lakukan kepadaku. Terima kasih. Akhirnya aku mengerti aku dicintai.

Regards,
H

Saya membacanya berulang-ulang. Semburat hangat tetiba muncul di hati saya bahkan di akhir saya membaca keseluruhannya untuk kali yang pertama. Memang ada bagian yang membuat saya tertampar semisal pada kalimat “Kau berikan pasangan yang suatu saat akan meninggalkanku untuk mematuhi norma dan adat. Kau berikan pasangan yang luar biasa menyayangi tetapi juga sekaligus memberikan batas waktu untuk ada di sisiku”. Hati saya mencelos, seperti bara pijar yang tiba-tiba dimasukan pada air dalam bejana. Andai saya punya banyak pilihan. Andai saya tidak perlu memilih, mungkin itu akan jauh lebih baik. Tapi untuk saat ini saya hanya berusaha menyemai benih maaf sehingga bila waktu itu terpaksa harus hadir maka benih sudah tumbuh menjadi pohon yang rindang. Itu saja yang saya bisa lakukan untuk saat ini. Entahlah bagaimana ke depan.

Soal belajar mencintai, saya juga sedang belajar dan terus belajar. Tidak mudah berdamai dengan banyak perbedaan. Tidak gampang mengesampingkan ego untuk menghindari percekcokan yang ujungnya hanya menghasilkan retakan-retakan yang mengancam keutuhan. Saya terus belajar karena saya yakin mencintaimu dengan cara saya adalah tidak salah. Mencintaimu dengan semangkuk sayur asem dan cumi yang meletup di wajan adalah bentuk kederhanaan yang bisa dihidangkan semua orang dengan kadar yang berlainan. Bagi saya melihatmu lahap menikmati kedua makanan tersebut sudah cukup membuktikan kalau kamu mencintai saya dengan caramu. Untuk itu saya tidak pernah menuntut lebih.

Berharap dicintai dengan cara yang sama saya mencintai hanya akan menimbulkan kebosanan. Merpercepat datangnya usang pada sebuah perasaan. Karenanya saya menikmati setiap detail caramu mencintai saya meskipun ada beberapa tindakan yang saya tidak suka. Dan kamu tahu itu.


Terima kasih sudah belajar juga mencintai saya. Sosok yang kadang rumit kadang sangat mudah ditebak sehingga keduanya menimbulkan efek sama yaitu sulit dipahami. Terima kasih sudah mengerti bahwa membuat saya bahagia adalah dengan membiarkan saya menjadi saya. Saya yang akan terus mencintaimu hingga nanti.

Minggu, 30 Maret 2014

Dia Memutuskan Untuk Pergi

Dia memutuskan untuk pergi. Menyisakan jarak yang tidak bisa sekedar dilangkahi.

Dia memutuskan untuk pergi. Katanya mencoba peruntungan baru karena di kota ini dia merasa sudah banyak hal yang membuat mutung.

Dia memutuskan untuk pergi. Membuat ceruk kesedihan menemukan jalan untuk mengalir lewat air mata yang menetes padahal sudah sekuat tenaga ditahan. Berusaha kuat padahal hati terasa sempoyongan. Mencoba tegar padahal perasaan seperti dilanda badai topan.

Aku mencoba bermufakat dengan akal. Tidak berlaku egois karena menurut nalar arti bahagia itu adalah melihatnya bahagia. Tidak peduli kalau ternyata kebahagiaan itu diperolehnya dengan cara beringsut meninggalkan kenyamanan yang sudah sekian lama kami rasakan. Tidak peduli kalau kebahagiaan itu ternyata harus diperoleh dengan perantaraan jarak yang terbentang. Jarak yang membatasi ketika hanya ingin saling memandang. Jarak yang terbentuk pada saat tangan ingin saling mengenggam. Sekedar berdekatan.

Dulu, jauh sebelum hati bersepakat untuk berjalan berisisian kemungkinan untuk saling terpisahkan sudah ada dalam frame pemikiran. Entah dia atau justru aku yang memulai. Dalam timeline kami jarak sudah dipertimbangkan akan membayang meskipun datangnya entah akan kapan. Artinya kami harus senantiasa siap memasang kuda-kuda. Tidak lantas goyang tanpa awahan ketika jarak tiba-tiba datang memaksa untuk dihadirkan. Tidak segera ambruk ketika perpisahan berbuah jarak terhidang tanpa diundang.

Dia memutuskan untuk pergi. Mendahului aku yang di babak-babak awal justru yakin akan memulai langkah itu terlebih dahulu. Dan ternyata aku tidak sesiap apa yang sudah dibayangkan. Kaki ini goyah juga meskipun tetap memasang kuda-kuda. Aku seperti direnggut paksa dari rasa nyaman yang senantiasa bisa dihidangkan ketika kapanpun ingin berduaan. Aku seperti mendadak disuruh berhenti dari kesenangan merasakan sensasi komedi putar karena arena pasar malam tiba-tiba ditertibkan oleh sekawanan orang-orang berseragam. Aku seperti kehilangan sebelah pegangan. Gamang.

Lama bergumul dengan berbagai pemikiran sampai akhirnya sanggup untuk mengiyakan. Tidak sedikit pertentangan batin ketika menimbang hingga ujungnya ikhlas membiarkan dia terbang. Aku tidak boleh egois. Menghalangi kebahagiaannya hanya untuk mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Aku tidak boleh egois melihatnya kelelahan dengan segala hal di kota yang sudah membuatnya tidak nyaman hanya untuk membuatku merasa nyaman. Cinta tidak seperti itu.

Aku bertahan. Dia juga bertahan. Tidak mudah memang tapi seperti biasa ternyata jarak bisa dimanipulasi. Komunikasi bisa digagas dengan berbagai cara walaupun hanya tersisa selembar lontar. Perasaan masih bisa dihangatkan dengan kata-kata yang mengalir lancar lewat kabel sarat optik di udara. Memang kulit tidak bisa lagi sering bersentuhan, tapi esensi sebuah hubungan tidak melulu soal itu.


Kami belajar dewasa. Dipaksa dewasa lebih tepatnya. Dan kami bertahan. Hari sudah bergulir hingga hitungan bulan dan seperti dapat dilihat kami masih bersamaan. Saling mengenggam secara virtual dalam menghadapi segala macam masalah yang memang tidak bisa dihindarkan. Kami masih saling menyayangi, tidak peduli pada jarak yang tercipta memisahkan. Kami masih saling mencintai, tidak lantas menyerah pada dua titik koordinat yang saling berjauhan.