Halaman

Rabu, 24 April 2013

Cahaya


Mungkin kamu kaget kenapa sekarang telpon darimu aku angkat setelah ratusan telpon sama yang sebelumnya tak kuacuhkan. Mungkin kamu juga mengira bahwa aku sudah menyerah dengan kegigihanmu karena berusaha menghubungiku kembali. Kamu merasa menang bahwasanya aku menyerah seperti biasanya. Menyerah setelah kamu dengan ketekunanmu membuatku berpikir bahwa kamu memang layak. Seperti dulu. Saat pertama aku mengenalmu.


Bukan. Sekarang tidak seperti itu. Sekarang keadaanya lain, keadaan yang memaksaku untuk berubah. Kenapa akhirnya aku mau menerima telpon darimu? Jawabannya hanya satu. Perasaanku sudah teramat biasa. Tidak ada lagi sakit, tidak ada lagi amarah. Yang ada hanya satu, memaafkan. Aku memaafkanmu yang sudah sedemikian teganya membuatku kembali jatuh ke jurang yang itu-itu saja, jurang patah hati. Aku mengampuni semua kesalahanmu kemarin. Tanpa syarat. Hidup dengan perasaan tak memaafkan dan tak mengampuni hanya membuatku tersiksa, membuat keropos jiwa yang sebenarnya telah rapuh. Karenanya aku tak mau, aku memaafkanmu.


Di awal pembicaraan kamu memulainya dengan permintaan maaf dan penjelasan. Maaf, aku tidak butuh lagi penjelasan dan pembelaan. Semua sudah terjadi, dan penjelasan serta pembelaanmu tidak akan membawa hubungan kita kemana-mana. Penjelasan hanya akan membuatku menggugatmu, padahal aku sudah tidak mau. Menggugatmu hanya akan mengungkit luka itu, membuatnya kembali berdarah di bagian yang sama. Cukup, bukan itu alasanku mau kembali berbicara denganmu. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa perasaanku sudah sedemikian membaiknya. Hatiku sudah tidak kelabu, dan aku bisa kembali tertawa denganmu.


Tapi semakin kutahan, semakin kuat kamu berusaha menjelaskan semuanya. Semakin kualihkan, semakin menggebu kau memberiku argumen tak berkesudahan. Aku hanya memilih untuk mendengarkan karena aku memang tidak punya pilihan. Kamu bilang kamu khilaf, kamu lepas kendali. Terlena oleh sesuatu yang nyatanya tak seindah yang kamu pikirkan. Itu menurutmu, kembali aku hanya mendengarkan. Tidak berusaha menuntut, meghakimi apalagi menyalahkan. Aku sudah memilih untuk tidak berada dalam posisi itu. Aku sudah berdiri dikoordinat baru, tanpa rasa sakit itu.


Kamu juga kemudian bertanya, apakah aku masih mengingat konsep hubungan kita dulu. Dulu kamu bilang bahwa kita bagaikan sepasang kunang-kunang yang mencumbui bulan. Ketika salah satu kehilangan terang, maka cukup melihat bulan karena bulan akan menuntun salah satu dari kita menuju jalan pulang. Kelip fluorescens di badan kita menjadi pertanda bahwa kita saling menguatkan, saling mengarahkan kemana harus pulang. Ke hati kita berdua. Tapi itu dulu bukan? Ketika kamu belum menemukan terang yang lain, terang yang ternyata membuatmu juga merasa nyaman untuk kemudian menuntunmu pulang. Maaf aku jadi bertanya, padahal aku hanya ingin mendengarkan.


Kamu juga bilang, bahwa yang kemarin itu bukan bulan. Kamu salah menginderai terang. Katamu, kamu pikir dia mengarakanmu pulang menuju bulan, tapi ternyata hanya menuju lampu taman. Lampu yang terangnya temaram dan mati kala siang. Kamu kemudian tersesat dan tersadar bahwa penunjuk jalan ada dalam diriku. Aku tersenyum meski kamu tak melihatnya. Aku hanya berfikir, bagaimana aku bisa menuntunmu pulang sementara aku sudah memilih untuk berada dalam fase pupa. Tak ada lagi binar fluorescens di tubuhku yang akan menggiringmu mencumbui bulan. Bagaimana aku bisa membawa kamu berjalan ke arah yang dulu kita sepakati kalau aku sudah memilih untuk berhenti. Masuk kembali kedalam kepompong emas tempatku sekarang berlindung, menunggu saat yang tepat untuk menjadi kunang-kunang lagi bersama yang lain. Yang pasti bukan kamu.


Kunang-kunang yang pernah jadi pasanganku, pulanglah sendiri. Carilah jalan yang akan mengantarkanmu pada bulan. Jangan kamu memintaku lagi untuk menemanimu, aku sudah memilih. Aku sudah terlanjur menjadi pupa. Dan dalam penantianku untuk lahir kembali dengan cahaya baru, aku akan terus mengamatimu, karena apabila kamu tersesat, aku akan menuntunmu pulang. Sebagai sahabat.

Selasa, 02 April 2013

Aku Bukan Aku


Apa yang lebih menyakitkan dari mengetahui kalau selama ini hidup dalam kebohongan? Kebohongan yang begitu menyesakan sampai rasanya tidak sanggup lagi mengehela nafas untuk sekedar mengembangkan paru-paru. Kebohongan yang mengoyak semua harapan yang pernah terlontar dan harapan yang masih tersimpan rapi dalam bentuk angan.

Katanya semua itu adalah “white lies”. Bohong putih. Bohong untuk kebaikan, meskipun aku tidak tahu untuk kebaikan siapa. Kebaikan aku? Kebaikan mereka? Aku tidak punya jawaban.

Kalau aku boleh memilih, aku tidak pernah ingin tahu kenyataan yang sebenarnya. Apalagi kenyataan ini tidak siap aku telan. Tidak sekarang. Tidak nanti. Tidak kapanpun. Aku hanya ingin hidup dalam kebohongan ini, sehingga aku tidak perlu merasakan kesakitan sebegini rupa. Tidak perlu mengurai dari mana muasal semua ini berawal. Aku hanya ingin seperti kemarin. Hidup dalam kebohongan yang tidak pernah aku tahu. Hidup dalam penyangkalan kenyataan yang sudah membuatku sedemikian nyaman.

Salah aku apa? Tujuan apalagi Tuhan yang tengah Engkau persiapkan? Terima kasih sudah memberi kepercayaan sedemikian besar, tapi aku tidak sekuat apa yang Engkau bayangkan. Aku remuk, luruh bersama banyak mimpi yang ranggas dalam sekali hentakan. Aku tidak punya lagi harapan, semuanya sudah tergadaikan pada sesuatu yang sampai sekarang belum ingin aku percayai.

Hidup lebih dari 30 tahun dengan banyak kemudahan. Dengan kenyamanan yang mengayunambingkan, membuat aku merasa menjadi orang yang paling beruntung. Hidup berkecukupan tanpa pernah merasa rendah diri untuk sekedar menghadapi kehidupan yang menantang. Dan aku bangga karenanya, memiliki dua orang tua yang selayaknya titisan dari surga. Hadir untuk alasan mengantarkanku pada gerbang tujuan. Hadir senantiasa mengayomi perjalanan hidupku yang terkadang mudah tapi tak jarang pula sukar.

Ternyata aku salah. Kalau orang lain bilang bahwa anak itu titipan, maka aku juga merupakan titipan. Titipan yang secara harfiah memang sengaja dititipkan. Entah oleh siapa. Aku yang selama ini merasa bahwa orang tuaku yang sekarang adalah orang tua yang pada tubuhku mengalir darah keduanya, ternyata salah. Aku bukan anak kandung mereka. Aku bukan darah daging mereka. Aku hanyalah anak angkat yang mereka ambil dari sebuah panti asuhan yang saat ini panti asuhannyapun tidak bisa lagi dilacak keberadaannya.

Duh Gustiiiiiiiii, kenapa harus aku? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu ketika aku belum sedemikian terninabobokan nyaman? Kenapa tidak sejak dulu ketika aku belum menggelembungkan pengharapan seperti yang harus aku kemasi sekarang. Kenapa? Kenapa Tuhan? Kenapa Mami? Kenapa Papi? Kenapa baru sekarang?

Katanya cinta kedua orang tuaku yang ternyata bukan orang tua kandungku tidak akan pernah berubah. Katanya aku memang bukan lahir dari mereka, tapi aku hadir perantaraan mereka. Untuk masalah itu aku memang tidak akan pernah ragu, tapi lagi-lagi aku bertanya kenapa harus sekarang? Apakah aku dirasa sudah cukup usia untuk menelan pil pahit yang dijejalkan tanpa ada bantuan air yang melicinkan tenggorokan. Kenapa tidak dari dulu? Karena kalau aku tahu lebih awal mungkin kesakitan yang aku rasakan tidak seperti sekarang.

Jauh aku sudah berjalan dengan kebahagiaan yang ternyata kiasan. Lama aku hidup dengan banyak kebanggaan yang ternyata sekarang harus tergadai. Dan aku bisa apa? Menangis? Air mata tidak bisa merubah keadaan. Aku akan tetap menjadi aku yang sekarang. Seorang anak pungut yang diambil dari sebuah panti asuhan yang keberadaannya tinggal kenangan. Seorang anak pungut yang diadopsi karena belas kasihan. Anak yang dipungut untuk dijadikan pancingan karena sudah bertahun-tahun orang tuaku yang sekarang tidak juga diberi keturunan.

Aku tentu saja berterima kasih kepada mereka, yang tanpa banyak perhitungan sudah membesarkan aku sampai sekarang. Berkat mereka aku mengeja banyak kemudahan. Karena mereka aku mengenal aspek kebahagiaan. Kebahagiaan yang sekarang mau tidak mau harus aku terjemahkan ulang. Kebahagiaan yang direnggut tanpa aku punya alasan untuk terus mempertahankan. Bagaimanapun aku bukan anak kandung mereka, bagaimanapun hak aku sekarang memiliki batasan.

Kenyataan ini membuatku limbung sehingga aku berharap tidak bisa terjaga esok pagi ketika aku tertidur kelelahan mencari jawaban. Tapi lagi-lagi aku harus mengetahui dari mana aku berasal. Siapakah orang tua kandungku? Siapakah mereka? Bagaimana rupanya? Tidak. Aku tidak akan menghakimi karena bagaimanapun berkat merekalah aku bisa mencicip hidup di dunia. Tapi aku hanya ingin bertanya, kenapa aku dititipkan di panti asuhan yang sekarang tinggal kenangan?

Kenapa?

Apakah aku anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan sehingga tidak diinginkan?

Apakah aku adalah aib kalau kalian membesarkan tanpa perlu menitipkanku di sebuah panti asuhan?

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

.......................

......................

......................

......................

Kenapa tulisan ini tidak diposting kemarin ketika April mop? Kenapa? 


Maaf, Apisnya sibuk.


Happy Belated April Fools everyone........

Rabu, 27 Maret 2013

Ala Orang Dewasa


Aku selayaknya dia adalah pemuja drama, tapi kami selalu meletakannya di halaman tanpa pernah sekalipun membawanya masuk ke dalam.

Katanya ini adalah hubungan ala orang dewasa. Hubungan yang tidak perlu mengumbar banyak kata cinta ke udara. Hubungan yang tidak patut dibumbui oleh drama banyak babak yang justru akan menjerumuskan hubungan itu sendiri pada sebuah prahara. Awal dari kehancuran karena terlalu banyak intrik seperti sinetron striping yang selalu mencari-cari alasan untuk memperpanjang durasi tanyang.

Tidak. Aku tidak keberatan. Aku justru ditantang untuk terus belajar, bukan hanya belajar menerima ketidakbiasaan karena ternyata aku sekarang tidak sendirian. Tapi juga belajar bagaimana merebahkan tangguh, melunturkan ego dan meredam letupan emosi tak perlu demi sebuah tujuan yang lagi-lagi tidak diperbincangkan secara mendalam. Katanya orang dewasa sudah saling tahu kemana tujuan akan dilabuhkan. Diskusi berkepanjangan hanya menghabiskan banyak energi dan seringkali malah saling berbenturan emosi.

Bagaimanapun sudah sedemikian lama aku sendirian. Terbiasa memutuskan banyak hal tanpa meminta pandangan orang lain termasuk pasangan. Kesendirian membuat aku sedemikian mandiri, kesendirian membuat aku merasa mampu melakukan ini dan itu tanpa bantuan dari siapapun. Kesendirian membuat aku terninabobokan nyaman. Tidak lagi mencari karena otak seperti sudah teraklimatisasi. Buat apa berdua kalau dengan sendiri semua juga bisa dijalani.

Dan aku dikagetkan. Terkejut dengan banyak ketidakbiasaan yang ternyata harus dikompromikan. Terbelalak oleh perasaan yang jauh lebih nyaman ketika melakukan hal remeh temeh seperti melaporkan dimana posisi kita sekarang. Dulu tidak pernah ada yang peduli dimana aku berdiri. Tidak pernah ada yang mencari ketika malam-malam justru aku habiskan dengan melakukan hal yang aku senang. Sebut saja sekarang aku jet lag.

Tidak ada yang tidak bisa dipelajari. Begitupun hubungan ala orang dewasa yang sekarang ini sedang aku jalani. Hubungan tanpa banyak telpon berdering untuk saling mengawasi. Hubungan minim interogasi karena kami mencoba untuk saling mempercayai. Menganggap bahwa semua akan terpulang pada janji yang diucapkan ketika semua ini dimulai.

Aku mencintainya, dan dia tahu itu. Dia mencintaiku dan akupun mengetahuinya. Kalau sudah begitu kenapa harus saling berlomba untuk memamerkan rasa cinta? 

Kamis, 21 Maret 2013

Fragmen satu


Mobilnya sudah terparkir di satu-satunya car port di rumah itu, karenanya aku memarkirkan mobilku di jalanan komplek persis di depan rumahnya. Sedikit berlari aku menuju teras yang hanya berukuran 4x3 meter, hujan yang turun cukup deras membuatku sedikit kuyup padahal tidak lebih dari hitungan jari aku tadi berlari.

Kuketuk pintunya. Sekali. Tidak ada jawaban. Dua kali. Masih tidak ada jawaban. Kukeluarkan telepon selulerku hendak meneleponnya, tapi belum tuntas aku memijit tombol call, pintu sudah keburu terbuka. Dia muncul dari balik pintu. Mukanya pucat. Matanya sayu.

Refleks kuletakan punggung tanganku di dahinya. Tidak panas. Dia sudah tidak demam, padahal tadi waktu aku di kantor dia mengabari kalau dia demam. Kuletakan bungkusan bubur yang sengaja kubeli tadi di jalan sambil menuju ke rumahnya. Dia kulihat berbaring lagi di sofa depan tv sambil menonton film kegemarannya. CSI. Film yang seringkali membuatku cemburu karena merasa dinomorduakan. Konyol.

Selang nebulizer terlihat berantakan di dekat sofa. Dia pasti sesak lagi pikirku, tapi seperti biasa dia tidak pernah mau bilang. Dan kalau aku mempermasalahkan, sudah pasti sebuah pertengkaran yang akan dijelang. Makanya aku lebih banyak diam, kecuali dia yang bercerita duluan.

Kuambil sendok dan menyodorkan bubur yang tadi kubeli. Dia menggeleng. Katanya dia tidak bernafsu untuk makan. Tapi aku tidak menyerah, aku duduk di sebelahnya kemudian menyendoki bubur tadi dan menyuapinya. Dia memakannya. Mungkin terpaksa. Aku tidak peduli. Bubur hanya habis seperampatnya, tapi setidaknya ada yang makanan yang masuk sebelum dia memakan obatnya.

Tidak lama kemudian dia tertidur. Dengkuran halus teratur terdengar lebih riuh daripada suara film yang sedang diputar di televisi. Kuambil remote dan kemudian aku matikan tayangannya. Waktu sudah hampir jam sepuluh malam. Kunaikan selimutnya hingga menutupi dada, kukecup keningnya dan aku beranjak pulang.

Kunci yang masih menempel di lubang pintu aku lepas. Kusimpan di guci tempat biasa dia meletakan kunci mobilnya. Perlahan kututup pintu dan menguncinya dari luar. Kunci yang sengaja pernah dia titipkan agar kapan saja aku bisa berkunjung ke rumahnya. Kunci yang memiliki simbol kepercayaan yang dihadiahkan kepadaku. Kepercayaan yang tumbuh begitu saja padahal hubungan kami baru saja dimulai.