Halaman

Selasa, 02 April 2013

Aku Bukan Aku


Apa yang lebih menyakitkan dari mengetahui kalau selama ini hidup dalam kebohongan? Kebohongan yang begitu menyesakan sampai rasanya tidak sanggup lagi mengehela nafas untuk sekedar mengembangkan paru-paru. Kebohongan yang mengoyak semua harapan yang pernah terlontar dan harapan yang masih tersimpan rapi dalam bentuk angan.

Katanya semua itu adalah “white lies”. Bohong putih. Bohong untuk kebaikan, meskipun aku tidak tahu untuk kebaikan siapa. Kebaikan aku? Kebaikan mereka? Aku tidak punya jawaban.

Kalau aku boleh memilih, aku tidak pernah ingin tahu kenyataan yang sebenarnya. Apalagi kenyataan ini tidak siap aku telan. Tidak sekarang. Tidak nanti. Tidak kapanpun. Aku hanya ingin hidup dalam kebohongan ini, sehingga aku tidak perlu merasakan kesakitan sebegini rupa. Tidak perlu mengurai dari mana muasal semua ini berawal. Aku hanya ingin seperti kemarin. Hidup dalam kebohongan yang tidak pernah aku tahu. Hidup dalam penyangkalan kenyataan yang sudah membuatku sedemikian nyaman.

Salah aku apa? Tujuan apalagi Tuhan yang tengah Engkau persiapkan? Terima kasih sudah memberi kepercayaan sedemikian besar, tapi aku tidak sekuat apa yang Engkau bayangkan. Aku remuk, luruh bersama banyak mimpi yang ranggas dalam sekali hentakan. Aku tidak punya lagi harapan, semuanya sudah tergadaikan pada sesuatu yang sampai sekarang belum ingin aku percayai.

Hidup lebih dari 30 tahun dengan banyak kemudahan. Dengan kenyamanan yang mengayunambingkan, membuat aku merasa menjadi orang yang paling beruntung. Hidup berkecukupan tanpa pernah merasa rendah diri untuk sekedar menghadapi kehidupan yang menantang. Dan aku bangga karenanya, memiliki dua orang tua yang selayaknya titisan dari surga. Hadir untuk alasan mengantarkanku pada gerbang tujuan. Hadir senantiasa mengayomi perjalanan hidupku yang terkadang mudah tapi tak jarang pula sukar.

Ternyata aku salah. Kalau orang lain bilang bahwa anak itu titipan, maka aku juga merupakan titipan. Titipan yang secara harfiah memang sengaja dititipkan. Entah oleh siapa. Aku yang selama ini merasa bahwa orang tuaku yang sekarang adalah orang tua yang pada tubuhku mengalir darah keduanya, ternyata salah. Aku bukan anak kandung mereka. Aku bukan darah daging mereka. Aku hanyalah anak angkat yang mereka ambil dari sebuah panti asuhan yang saat ini panti asuhannyapun tidak bisa lagi dilacak keberadaannya.

Duh Gustiiiiiiiii, kenapa harus aku? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu ketika aku belum sedemikian terninabobokan nyaman? Kenapa tidak sejak dulu ketika aku belum menggelembungkan pengharapan seperti yang harus aku kemasi sekarang. Kenapa? Kenapa Tuhan? Kenapa Mami? Kenapa Papi? Kenapa baru sekarang?

Katanya cinta kedua orang tuaku yang ternyata bukan orang tua kandungku tidak akan pernah berubah. Katanya aku memang bukan lahir dari mereka, tapi aku hadir perantaraan mereka. Untuk masalah itu aku memang tidak akan pernah ragu, tapi lagi-lagi aku bertanya kenapa harus sekarang? Apakah aku dirasa sudah cukup usia untuk menelan pil pahit yang dijejalkan tanpa ada bantuan air yang melicinkan tenggorokan. Kenapa tidak dari dulu? Karena kalau aku tahu lebih awal mungkin kesakitan yang aku rasakan tidak seperti sekarang.

Jauh aku sudah berjalan dengan kebahagiaan yang ternyata kiasan. Lama aku hidup dengan banyak kebanggaan yang ternyata sekarang harus tergadai. Dan aku bisa apa? Menangis? Air mata tidak bisa merubah keadaan. Aku akan tetap menjadi aku yang sekarang. Seorang anak pungut yang diambil dari sebuah panti asuhan yang keberadaannya tinggal kenangan. Seorang anak pungut yang diadopsi karena belas kasihan. Anak yang dipungut untuk dijadikan pancingan karena sudah bertahun-tahun orang tuaku yang sekarang tidak juga diberi keturunan.

Aku tentu saja berterima kasih kepada mereka, yang tanpa banyak perhitungan sudah membesarkan aku sampai sekarang. Berkat mereka aku mengeja banyak kemudahan. Karena mereka aku mengenal aspek kebahagiaan. Kebahagiaan yang sekarang mau tidak mau harus aku terjemahkan ulang. Kebahagiaan yang direnggut tanpa aku punya alasan untuk terus mempertahankan. Bagaimanapun aku bukan anak kandung mereka, bagaimanapun hak aku sekarang memiliki batasan.

Kenyataan ini membuatku limbung sehingga aku berharap tidak bisa terjaga esok pagi ketika aku tertidur kelelahan mencari jawaban. Tapi lagi-lagi aku harus mengetahui dari mana aku berasal. Siapakah orang tua kandungku? Siapakah mereka? Bagaimana rupanya? Tidak. Aku tidak akan menghakimi karena bagaimanapun berkat merekalah aku bisa mencicip hidup di dunia. Tapi aku hanya ingin bertanya, kenapa aku dititipkan di panti asuhan yang sekarang tinggal kenangan?

Kenapa?

Apakah aku anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan sehingga tidak diinginkan?

Apakah aku adalah aib kalau kalian membesarkan tanpa perlu menitipkanku di sebuah panti asuhan?

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

.......................

......................

......................

......................

Kenapa tulisan ini tidak diposting kemarin ketika April mop? Kenapa? 


Maaf, Apisnya sibuk.


Happy Belated April Fools everyone........

Rabu, 27 Maret 2013

Ala Orang Dewasa


Aku selayaknya dia adalah pemuja drama, tapi kami selalu meletakannya di halaman tanpa pernah sekalipun membawanya masuk ke dalam.

Katanya ini adalah hubungan ala orang dewasa. Hubungan yang tidak perlu mengumbar banyak kata cinta ke udara. Hubungan yang tidak patut dibumbui oleh drama banyak babak yang justru akan menjerumuskan hubungan itu sendiri pada sebuah prahara. Awal dari kehancuran karena terlalu banyak intrik seperti sinetron striping yang selalu mencari-cari alasan untuk memperpanjang durasi tanyang.

Tidak. Aku tidak keberatan. Aku justru ditantang untuk terus belajar, bukan hanya belajar menerima ketidakbiasaan karena ternyata aku sekarang tidak sendirian. Tapi juga belajar bagaimana merebahkan tangguh, melunturkan ego dan meredam letupan emosi tak perlu demi sebuah tujuan yang lagi-lagi tidak diperbincangkan secara mendalam. Katanya orang dewasa sudah saling tahu kemana tujuan akan dilabuhkan. Diskusi berkepanjangan hanya menghabiskan banyak energi dan seringkali malah saling berbenturan emosi.

Bagaimanapun sudah sedemikian lama aku sendirian. Terbiasa memutuskan banyak hal tanpa meminta pandangan orang lain termasuk pasangan. Kesendirian membuat aku sedemikian mandiri, kesendirian membuat aku merasa mampu melakukan ini dan itu tanpa bantuan dari siapapun. Kesendirian membuat aku terninabobokan nyaman. Tidak lagi mencari karena otak seperti sudah teraklimatisasi. Buat apa berdua kalau dengan sendiri semua juga bisa dijalani.

Dan aku dikagetkan. Terkejut dengan banyak ketidakbiasaan yang ternyata harus dikompromikan. Terbelalak oleh perasaan yang jauh lebih nyaman ketika melakukan hal remeh temeh seperti melaporkan dimana posisi kita sekarang. Dulu tidak pernah ada yang peduli dimana aku berdiri. Tidak pernah ada yang mencari ketika malam-malam justru aku habiskan dengan melakukan hal yang aku senang. Sebut saja sekarang aku jet lag.

Tidak ada yang tidak bisa dipelajari. Begitupun hubungan ala orang dewasa yang sekarang ini sedang aku jalani. Hubungan tanpa banyak telpon berdering untuk saling mengawasi. Hubungan minim interogasi karena kami mencoba untuk saling mempercayai. Menganggap bahwa semua akan terpulang pada janji yang diucapkan ketika semua ini dimulai.

Aku mencintainya, dan dia tahu itu. Dia mencintaiku dan akupun mengetahuinya. Kalau sudah begitu kenapa harus saling berlomba untuk memamerkan rasa cinta? 

Kamis, 21 Maret 2013

Fragmen satu


Mobilnya sudah terparkir di satu-satunya car port di rumah itu, karenanya aku memarkirkan mobilku di jalanan komplek persis di depan rumahnya. Sedikit berlari aku menuju teras yang hanya berukuran 4x3 meter, hujan yang turun cukup deras membuatku sedikit kuyup padahal tidak lebih dari hitungan jari aku tadi berlari.

Kuketuk pintunya. Sekali. Tidak ada jawaban. Dua kali. Masih tidak ada jawaban. Kukeluarkan telepon selulerku hendak meneleponnya, tapi belum tuntas aku memijit tombol call, pintu sudah keburu terbuka. Dia muncul dari balik pintu. Mukanya pucat. Matanya sayu.

Refleks kuletakan punggung tanganku di dahinya. Tidak panas. Dia sudah tidak demam, padahal tadi waktu aku di kantor dia mengabari kalau dia demam. Kuletakan bungkusan bubur yang sengaja kubeli tadi di jalan sambil menuju ke rumahnya. Dia kulihat berbaring lagi di sofa depan tv sambil menonton film kegemarannya. CSI. Film yang seringkali membuatku cemburu karena merasa dinomorduakan. Konyol.

Selang nebulizer terlihat berantakan di dekat sofa. Dia pasti sesak lagi pikirku, tapi seperti biasa dia tidak pernah mau bilang. Dan kalau aku mempermasalahkan, sudah pasti sebuah pertengkaran yang akan dijelang. Makanya aku lebih banyak diam, kecuali dia yang bercerita duluan.

Kuambil sendok dan menyodorkan bubur yang tadi kubeli. Dia menggeleng. Katanya dia tidak bernafsu untuk makan. Tapi aku tidak menyerah, aku duduk di sebelahnya kemudian menyendoki bubur tadi dan menyuapinya. Dia memakannya. Mungkin terpaksa. Aku tidak peduli. Bubur hanya habis seperampatnya, tapi setidaknya ada yang makanan yang masuk sebelum dia memakan obatnya.

Tidak lama kemudian dia tertidur. Dengkuran halus teratur terdengar lebih riuh daripada suara film yang sedang diputar di televisi. Kuambil remote dan kemudian aku matikan tayangannya. Waktu sudah hampir jam sepuluh malam. Kunaikan selimutnya hingga menutupi dada, kukecup keningnya dan aku beranjak pulang.

Kunci yang masih menempel di lubang pintu aku lepas. Kusimpan di guci tempat biasa dia meletakan kunci mobilnya. Perlahan kututup pintu dan menguncinya dari luar. Kunci yang sengaja pernah dia titipkan agar kapan saja aku bisa berkunjung ke rumahnya. Kunci yang memiliki simbol kepercayaan yang dihadiahkan kepadaku. Kepercayaan yang tumbuh begitu saja padahal hubungan kami baru saja dimulai.

Rabu, 20 Maret 2013

(pasti) Berujung


Aku masih memiliki keyakinan kalau suatu hari jalan ini akan berujung. Entah kapan, karena sampai sejauh ini yang kutemui selalu hanya serupa simpangan. Simpangan yang mau tidak mau membuatku berhenti sejenak dan memilah ke arah mana kaki ini harus dilangkahkan.

Selain lurus ke depan, jalanan juga menghadirkan belokan ke kanan, ke kiri dan awahan untuk beringsut mundur ke belakang. Dan aku selalu mengeliminasi opsi untuk mengambil jalanan yang pernah dititi. Mundur ke belakang hanya akan membuatku semakin jauh ketinggalan. Padahal waktu terus diputar, kehidupan terus dijalankan.

Sering kali aku memilih untuk terus lurus, mengabaikan belokan ke kiri ataupun ke kanan. Aku pikir dengan terus lurus jalanan akan lebih mudah untuk dilalui. Sering kali benar, tapi tidak jarang juga yang kutemui adalah sebuah kebuntuan. Jalan berujung rintangan yang tidak mengantarkan aku pada sebuah tujuan. Terpaksa aku berjalan memutar, membuka setapak asing sambil berharap menemukan jalanan besar yang tidak lagi membingungkan.

Tujuan. Apa yang aku ketahui tentang tujuan? Nihil. Aku hanya merasa kalau harus terus berjalan. Pernah aku menuliskan tujuan pada lembar-lembar lontar dan menyelipkannya di ikatan pinggang. Lembaran yang kemudian aku baca ulang ketika gamang menghampiri tanpa ada permisi. Tujuan yang membuatku merasa tetap harus hidup walau kenyataan hanya selayak ilusi. Mudah dibayangkan tetapi sulit untuk direalisasi.

Dan aku tersadar. Tujuan yang aku tuliskan tidak sesuai dengan harapan banyak orang. Awalnya aku tidak peduli, memilih menulikan telinga dan membutakan mata. Aku tidak hidup untuk mereka. Aku tidak berkewajiban memuaskan dahaga mereka mengenai cinta. Tapi aku salah. Lagi-lagi salah. Bagaimanapun aku dan mereka akan beririsan pada banyak hal. Bersinggungan pada kepentingan-kepentingan kolektif yang ternyata tidak bisa begitu saja diabaikan. Kompromi dijadikan jalan keluar. Melunakkan ego dijadikan landasan untuk membuat banyak pemakluman.

Apa yang aku dapatkan kemudian? Tidak ada. Aku tetap saja gamang. Bingung mau terus lurus ke depan atau berbelok ke kiri dan ke kanan. Tujuan yang semula dipegang lambat laun teruapkan. Tidak lagi jadi sebuah prioritas yang ingin dilakoni. Hidup dengan sederhana. Membahagiakan banyak pihak. Tidak lagi ramai mengajukan tuntutan. Berhenti mempertanyakan. Mengurangi gugatan. Cukup.

Impian yang dari dulu dilambungkan ketika mulai tersadar kalau aku tidak sama, pelan-pelan meranggas. Keinginan yang semula menggebu ketika mulai merasa bahwa aku berbeda, lama-lama berkurang. Aku kemudian merevisi arti bahagia itu sendiri. Menyesuaikan dengan putaran-putaran angka yang semakin lama semakin membesar. Tumbuh subur dipupuki kenangan dan pengalaman.

Jalan ini pasti berujung. Entah kapan. Karena sampai saat ini aku masih saja sendirian. Meski  (mungkin) bahagia.