Jangan langsung terperangah membaca judulnya. Temen-temen deket gue pasti mau langsung protes. Tenang…tenang, ini bukan mau ngomongin gue kok. Lagian mana mungkin sih orang kayak gue never been kissed. Bibir gue udah tercemar ludah orang dari jaman kapan tahu, bahkan kalo gue bilang kapan tepatnya pasti semuanya shock. Gue udah bitchy sejak lahir, tau deh nyokap gue ngidam apa waktu hamil gue.
Kata nyokap gue, waktu hamil gue, dia ngidam makan tomat. Kiloan tomat pasti dia makan setiap harinya. Bentar, tomat? Kok nyokap gue cuman ngidam tomat sih, nggak keren bener. Ngidam itu pengen ganti mobil kek, pengen pindah ke pondok indah kek, ato pengen ke Phuket kek. Kok ini malah tomat. Tapi, emang tomat ada hubungannya sama ke-bitchy-an gue ya? Gue rasa sih nggak. Kalaupun disambung-sambungin paling cuman karena tomat itu merah, ranum dan menarik banyak perhatian. Menarik perhatian sih gue banget, tapi bitchy. Nggak ada hubungannya sama tomat.
Never been kissed. Harusnyakan bukan masalah, apalagi buat kebanyakan orang yang belom nikah. Katanya ciuman bukan budaya kita, kecuali sama pasangan resmi. Tapi cing, 2008 gitu lho. Kehidupan sudah teramat bebas, norma hanya ada untuk dibaca kemudian dinodai. Gue bahkan salut sama orang yang udah lulus kuliah sekalipun tapi never been kissed. Makanya gue jadi wondering, waktu kuliah ngapaian aja ya? Apa belajar terus? My Gosh, I cant imagine how boring they life.
Kampus…….kuliah……..perpus….kosan…..paling ke mall sama temen-temen…..ke kosan lagi……ke kampus lagi……ke perpus lagi……ujian…..praktikum……ngerjain tugas……penelitian…..ngumpul lagi sama temen-temen. Igh, membosankan sekali. Except the part hanging with friends. Hedonismenya mana? Pacarannya mana? Ciumannya mana?
Apa salahnya kalo belom pernah ciuman? Pasti ada sekelompok orang yang menggugat. Sebetulnya nggak salah, bener malah. Setiap orang punya alasan untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Kadang ciuman itu bukan refleksi rasa sayang tapi lebih ke mengumbar nafsu. Astagfirullah. Ada benernya juga sih, rasa sayang kan nggak perlu diekspresikan dengan ciuman. Ok skip the kissing part, tapi kalo belom pernah pacaran?
Kuliah di Bandung, salah satu kota dengan hedonisme tinggi, kuliah di perguruan tinggi dengan hampir 60%nya laki-laki, dan tetep aja belom pernah pacaran seumur hidup? Oh come on, where have you been?. Itu pilihan sih, nggak pacaran kan bukan berarti nggak laku. Tapi yang bener aja, nggak pacaran? Repeat after me : Nggak pernah pacaran? Ya gimana mau ciuman kalo pacaran aja belom pernah.
Kembali ke soal life is choice. Nggak pernah pacaran atau ciuman kan pilihan, jadi jangan pernah menghakimi orang di sekitar kita kalo mereka belom pernah melakukan hal itu. Biarkan itu jadi pegangan hidupnya. Lo boleh takjub, boleh heran, boleh merasa aneh dengan pilihan hidupnya, tapi lo nggak berhak menghakimi. Ingat, jangan menghakimi pilihan hidup seseorang. Biarkan orang itu menjadi seperti apa yang dia inginkan sendiri.
Tapi kalo gue, nggak pacaran, nggak ciuman. Aduh bukan gue banget. Ngebayanginnya aja gue nggak sanggup. Terucap seulas terima kasih buat seseorang yang pertama kali memperkenalkanku pada sensasi itu. Sensasi ketika dua muatan listrik perantara bibir bersatu, membakar rasa indah, menghangatkan relung hati. Terima kasih dear!
Senin, 07 Juli 2008
KESUAT-SUAT
Gue melihat segerombolan orang sedang ngobrol di bawah rindangnya pohon beringin, segerombolan lagi berkumpul di tempat makan sebuah kantin. Mereka ngobrol dengan santainya, diselingi suara tawa. Muka mereka riang, nggak punya beban. Ada sih beberapa kelompok yang sedang serius dengan buku-buku terbuka tergelar di hadapan mereka, tapi kebanyakan santai.
Cuaca yang terik ternyata tak mempengaruhi mereka untuk berkelompok, berjalan bergerombol sambil tetap ngobrol. Bahkan ada sekelompok laki-laki yang sengaja berpanas-panas ria sambil memainkan seperangkat alat musik. Bernyanyi, menghentakkan alat musik mereka dan tetap dengan muka bahagia, tanpa beban, tanpa tekanan. Semuanya merasakan kebebasan hidup.
Suasana itu kemaren gue temuin di UI. Ya, Universitas Indonesia di Depok. Kampus ternama dimana ribuan anak manusia bertitel mahasiswa menuntut ilmu disana. Ada perlu apa gue kesana? Ngeceng? Tentu nggak, jaman-jaman itu udah lama berlalu dari episode hidup gue. I was there (baca: kuliah), and now I just can observing their activity. Gue ada kepentingan kerjaan sehingga gue musti ke UI. Akhirnya gue tau UI juga.
Yang ada di pikiran gue waktu melihat mahasiswa-mahasiswa itu adalah : YA ALLAH, GUE PENGEN KULIAH LAGI………
Kuliah lagi! Mungkin temen-temen gue geleng-geleng kepala. Kerjaan kok cuman sekolah terus. Like I said before, sekolah itu candu. Bikin gue ketagihan. Bukan soal hidup nggak punya beban atau tanpa tekanan. Saat kuliah memang bebas, penuh keriaan, penuh hedonisme. Tapi bukan itu saja yang membuat gue pengen kuliah lagi, meskipun sebagain ego gue mengiyakannya. Gue suka saat tenggelam dalam diktat-diktat kuliah, setumpuk kerjaan yang harus dikerjakan, ujian. Ya, kadang ujian membuat gue berfikir untuk kembali ke bangku kuliah. Ujian bikin adrenalin gue terpacu, like riding a wild horse in sabana.
Kadang gue nanya, tepatnya menggugat Tuhan. Kenapa gue pengen sekolah terus? Tapi sampe sekarang gue belom nemuin jawabannya. Dan semakin keras gue mencari jawabannya, semakin besar keinginan gue buat ngelanjutin kuliah. Apa keinginan gue ini salah? Apa nggak tepat? Apa nggak imbang sama porsi umur gue? Gue nggak tahu, gue nggak bisa jawab.
Kata temen-temen gue yang pernah ngeliat hedonisme hidup gue waktu kuliah, baik di S1 maupun S2. Kuliah S3 itu bakalan beda, lo nggak bisa hedon lagi, lo nggak bisa nyantei dan ketawa-ketiwi kayak dulu. Beban lebih berat, tanggung jawab lebih besar. But who care actually, gue nggak peduli.
Gue tahu, kuliah S3 itu nggak gampang. Beban yang ada di pundak gue nggak kayak dulu waktu gue kuliah S1/S2. Masa depan menjadi taruhannya. Kalau gue misalnya gagal (amit-amit…knock on wood!), I’m just wasting money, wasting time, wasting my rest of my life and ruin out my own future. Tapi gue nggak peduli. Gue harus punya keyakinan kalo gue itu bisa berhasil. Life is gambling. Sometime you are lucky, but sometime you are not. Just challenge your self! You never know until you try.
Just pray for me…Let me walk in my own stream, the world which created by myself.
Cuaca yang terik ternyata tak mempengaruhi mereka untuk berkelompok, berjalan bergerombol sambil tetap ngobrol. Bahkan ada sekelompok laki-laki yang sengaja berpanas-panas ria sambil memainkan seperangkat alat musik. Bernyanyi, menghentakkan alat musik mereka dan tetap dengan muka bahagia, tanpa beban, tanpa tekanan. Semuanya merasakan kebebasan hidup.
Suasana itu kemaren gue temuin di UI. Ya, Universitas Indonesia di Depok. Kampus ternama dimana ribuan anak manusia bertitel mahasiswa menuntut ilmu disana. Ada perlu apa gue kesana? Ngeceng? Tentu nggak, jaman-jaman itu udah lama berlalu dari episode hidup gue. I was there (baca: kuliah), and now I just can observing their activity. Gue ada kepentingan kerjaan sehingga gue musti ke UI. Akhirnya gue tau UI juga.
Yang ada di pikiran gue waktu melihat mahasiswa-mahasiswa itu adalah : YA ALLAH, GUE PENGEN KULIAH LAGI………
Kuliah lagi! Mungkin temen-temen gue geleng-geleng kepala. Kerjaan kok cuman sekolah terus. Like I said before, sekolah itu candu. Bikin gue ketagihan. Bukan soal hidup nggak punya beban atau tanpa tekanan. Saat kuliah memang bebas, penuh keriaan, penuh hedonisme. Tapi bukan itu saja yang membuat gue pengen kuliah lagi, meskipun sebagain ego gue mengiyakannya. Gue suka saat tenggelam dalam diktat-diktat kuliah, setumpuk kerjaan yang harus dikerjakan, ujian. Ya, kadang ujian membuat gue berfikir untuk kembali ke bangku kuliah. Ujian bikin adrenalin gue terpacu, like riding a wild horse in sabana.
Kadang gue nanya, tepatnya menggugat Tuhan. Kenapa gue pengen sekolah terus? Tapi sampe sekarang gue belom nemuin jawabannya. Dan semakin keras gue mencari jawabannya, semakin besar keinginan gue buat ngelanjutin kuliah. Apa keinginan gue ini salah? Apa nggak tepat? Apa nggak imbang sama porsi umur gue? Gue nggak tahu, gue nggak bisa jawab.
Kata temen-temen gue yang pernah ngeliat hedonisme hidup gue waktu kuliah, baik di S1 maupun S2. Kuliah S3 itu bakalan beda, lo nggak bisa hedon lagi, lo nggak bisa nyantei dan ketawa-ketiwi kayak dulu. Beban lebih berat, tanggung jawab lebih besar. But who care actually, gue nggak peduli.
Gue tahu, kuliah S3 itu nggak gampang. Beban yang ada di pundak gue nggak kayak dulu waktu gue kuliah S1/S2. Masa depan menjadi taruhannya. Kalau gue misalnya gagal (amit-amit…knock on wood!), I’m just wasting money, wasting time, wasting my rest of my life and ruin out my own future. Tapi gue nggak peduli. Gue harus punya keyakinan kalo gue itu bisa berhasil. Life is gambling. Sometime you are lucky, but sometime you are not. Just challenge your self! You never know until you try.
Just pray for me…Let me walk in my own stream, the world which created by myself.
FANTASTIK
Tenang-tenang, jangan langsung berfikir kalo gue mau mau narsis-narsisan dengan nulis judul fantastik. Gue bukan mau nyeritan gue kok, tepatnya nggak mau nyeritain itu lagi. Gue yakin bener kalo semua orang udah tau kalo gue emang fantastik, jadi nggak perlu diumbar lagi kan? (teuteup!).
Teringat ke sebuah wawancara kerja di salah satu perusahaan yang gue juga udah lupa namanya saking seringnya gue wawancara kerja (ketahuan deh kalo gue susah nyari kerja). Interviewernya nanya, tepatnya nyuruh kita menggeambarkan diri kita dalam satu kata. Pasti bakal banyak yang menjawab sekenanya, yang penting menggambarkan diri mereka masing-masing (baca : yang diinterview).
Botak, kurus, rapi, wangi, hitam dan sejumlah istilah fisik lainnya kadang jadi jawaban mereka. Nggak salah sih, tapi kayaknya hal itu nggak nyambung deh sama motivasi kerja dan bla bla bla yang diinginkan sebuah perusahaan. Inget peraturannya, don’t answer with your appearance looks like. Bisa-bisa lo diketawain interviewernya (meski dalam hati), atau setidaknya dia akan tersenyum simpul penuh makna.
Waktu itu gue jawab apa yah? Kalo gue udah bikin kesepakatan sama diri gue sendiri. Setiap ada pertanyaan semacam itu, gue pasti jawabnya KOMPETEN. Inget, kompeten bukan impoten. Eit, nggak boleh protes. Yang protes bayar! Hehehehe. Ya dibanding susah mikir, gambaran diri kita gimana. Jawab aja kompeten. Satu kata yang menurut gue mewakili semua kemampuan kita. Baik teoritis or practical.
Dengan kata kompeten, kita sudah menggambarkan bahwa kita mampu melakukan apa aja dalam kondisi apapun. Meskipun kenyataannya nggak juga. Jangan khawatir, kalo interview kerja yang penting kesan pertama dan antusiasme kita aja. Ntar kalo kita nggak lolos, buat keyakinan dalam hati bahwa perusahaan itu bakalan rugi besar nggak nerima kita. Kalo kita lolos dan kemudian keterima, gue cuma bisa bergumam : “nambah satu lagi yang tertipu dengan penampilan gue”. See, life is fun games. Mudah-mudahan menang, kalo nggak gak apa-apa, namanya juga fun games. Nothing to loose.
Kemaren di kantor gue, waktu kerjaan nyantei. Nggak meeting mulu karena big boss lagi ke luar negeri. Gue nanya sama temen gue yang kayaknya bakal jadi ibu komisaris deh. Gue dan temen-temen lainnya udah ngasih dia nama baru dengan inisial MMAT. Ternyata dia waktu gue suruh menggambarkan dirinya dalam satu kata, dia menggambarkannya dengan kata fantastik. Sontak, gue ketawa ngakak. Maaf bu komisaris, nggak maksud ngetawain, cuman takjub aja. Kok bisa yah kepikiran kata fantastik.
Karena kelakuannya itu, sekarang gue dan temen-temen satu departemen manggil dia dengan julukan “ibu komkom fantastik”.
Fantastik. Mungkin kata yang lebih spektakuler dibanding dengan kata kompeten yang sering gue omongin waktu suruh gambarin tentang diri gue. Berasa lebih keren kayaknya, tapi cukupkah rasa kepercayaan diri gue buat bilang kata itu. Gue tau gue emang fantastik, semua juga tau (standing still). Kayaknya gue bukan nggak PD, tapi lebih ke menghindari seorang interviewer tersenyum simpul atau bahkan ngakak ngeliat jawaban spontan gue yang memang Fantastik beneran.
Should I try to use that word sometimes?
Teringat ke sebuah wawancara kerja di salah satu perusahaan yang gue juga udah lupa namanya saking seringnya gue wawancara kerja (ketahuan deh kalo gue susah nyari kerja). Interviewernya nanya, tepatnya nyuruh kita menggeambarkan diri kita dalam satu kata. Pasti bakal banyak yang menjawab sekenanya, yang penting menggambarkan diri mereka masing-masing (baca : yang diinterview).
Botak, kurus, rapi, wangi, hitam dan sejumlah istilah fisik lainnya kadang jadi jawaban mereka. Nggak salah sih, tapi kayaknya hal itu nggak nyambung deh sama motivasi kerja dan bla bla bla yang diinginkan sebuah perusahaan. Inget peraturannya, don’t answer with your appearance looks like. Bisa-bisa lo diketawain interviewernya (meski dalam hati), atau setidaknya dia akan tersenyum simpul penuh makna.
Waktu itu gue jawab apa yah? Kalo gue udah bikin kesepakatan sama diri gue sendiri. Setiap ada pertanyaan semacam itu, gue pasti jawabnya KOMPETEN. Inget, kompeten bukan impoten. Eit, nggak boleh protes. Yang protes bayar! Hehehehe. Ya dibanding susah mikir, gambaran diri kita gimana. Jawab aja kompeten. Satu kata yang menurut gue mewakili semua kemampuan kita. Baik teoritis or practical.
Dengan kata kompeten, kita sudah menggambarkan bahwa kita mampu melakukan apa aja dalam kondisi apapun. Meskipun kenyataannya nggak juga. Jangan khawatir, kalo interview kerja yang penting kesan pertama dan antusiasme kita aja. Ntar kalo kita nggak lolos, buat keyakinan dalam hati bahwa perusahaan itu bakalan rugi besar nggak nerima kita. Kalo kita lolos dan kemudian keterima, gue cuma bisa bergumam : “nambah satu lagi yang tertipu dengan penampilan gue”. See, life is fun games. Mudah-mudahan menang, kalo nggak gak apa-apa, namanya juga fun games. Nothing to loose.
Kemaren di kantor gue, waktu kerjaan nyantei. Nggak meeting mulu karena big boss lagi ke luar negeri. Gue nanya sama temen gue yang kayaknya bakal jadi ibu komisaris deh. Gue dan temen-temen lainnya udah ngasih dia nama baru dengan inisial MMAT. Ternyata dia waktu gue suruh menggambarkan dirinya dalam satu kata, dia menggambarkannya dengan kata fantastik. Sontak, gue ketawa ngakak. Maaf bu komisaris, nggak maksud ngetawain, cuman takjub aja. Kok bisa yah kepikiran kata fantastik.
Karena kelakuannya itu, sekarang gue dan temen-temen satu departemen manggil dia dengan julukan “ibu komkom fantastik”.
Fantastik. Mungkin kata yang lebih spektakuler dibanding dengan kata kompeten yang sering gue omongin waktu suruh gambarin tentang diri gue. Berasa lebih keren kayaknya, tapi cukupkah rasa kepercayaan diri gue buat bilang kata itu. Gue tau gue emang fantastik, semua juga tau (standing still). Kayaknya gue bukan nggak PD, tapi lebih ke menghindari seorang interviewer tersenyum simpul atau bahkan ngakak ngeliat jawaban spontan gue yang memang Fantastik beneran.
Should I try to use that word sometimes?
Kamis, 03 Juli 2008
CURI-CURI PANDANG
Dia curi-curi pandang ke arahku...........
Aku biarin aja........
Eh, dia masih curi-curi pandang juga.......
Aku biarin lagi..................
Tapi, dia kok masih curi-curi pandang sih.................
Pas, aku sengaja nge gap dia waktu tetep curi-curi pandang
Eh, dia malah memberi aku senyum manisnya.
Mati deh.............
Aku biarin aja........
Eh, dia masih curi-curi pandang juga.......
Aku biarin lagi..................
Tapi, dia kok masih curi-curi pandang sih.................
Pas, aku sengaja nge gap dia waktu tetep curi-curi pandang
Eh, dia malah memberi aku senyum manisnya.
Mati deh.............
Langganan:
Komentar (Atom)