Halaman

Senin, 31 Mei 2010

tapping into my social network

Di postingan gue yang judulnya loveless, gue ngomongin tentang sahabat-sahabat gue yang minta tolong dicariin pacar atau pasangan. Waktu nulis itu nggak ada maksud apa-apa, hanya pengen nyeritain kalau belakangan ini banyak sahabat gue yang memang minta gue buat nyariin mereka pacar. Just it. Nggak pernah terlintas dalam pikiran gue tentang sesuatu yang bisa digali dari tulisan itu. Lagian tulisannya juga cuma seru-seruan, dan inti awalnya adalah tentang mencari dan menciptakan kebahagiaan.

Semua berjalan begitu sampai salah seorang pembaca blog gue yang mengomentari dan menganalisis di luar dari perspektif gue. Dan mau tidak mau gue juga mengiyakan apa hasil analisisnya yang mengejutkan itu. Kok gue nggak pernah berpikiran sampe ke arah sana yah? Mungkin gue terlalu naïf, atau mungkin lebih ke arah egois.

Tentang tapping into social network

Si komentator bilang bahwa dari ocehan sahabat-sahabat gue... they seems like wanted to tap into your social network, padahal kan bisa lewat facebook aje HIHI...

dan if they are really 'sahabat' it should be fine kalo mereka tapping into your social network kan? kecuali sebenarnya lu benci sama mereka, pura2 berteman aje karena mau tap into their network too HAHAHA...

karena sama2 berasa dirinya sahabat, so... bukan nya kita seharus nya senang melihat sahabat2 berbahagia mendapatkan idaman nya, walaupun mungkin deep inside lu berasa mereka hanya mempergunakan network elo doang, but hey... kapan2 kan lu bisa pake balik network mereka (kecuali mereka sebenarnya gak suka sama elo tapi cuman mau tap into your network aje...)

inti nya sih, kalo percaya teori aneh 'manusia adalah makhluk sosial' yah.. biasa dong saling tap into each other network? kaum socialite juga begitu kok... tenang sajah....

kalo berasa being used, yah.. namanya juga sahabat, sudah semestinya kan membantu? (kecuali emang elo gak suka membantu dia karena dia org nya menyebalkan hehehe)


Beneran, abis baca komentar dia gue ngakak. Tapi setelah ngakak gue mikir. Lama.

Apa bener kalau selama ini gue seperti melarang sahabat-sahabat gue buat tap into my social network? But wait, sebelumnya mari kita lihat dulu apa gue punya social network yang oke. Pertama, gue kerja sebagai abdi Negara which means orang-orangnya ya you know lah. Kedua, kalaupun abdi Negara bisa saja punya social network yang bagus perlu diketahui gue nggak di departemen atau kementrian yang berhubungan langsung dengan banyak orang. Temen gue banyaknya bakteri, jamur, virus dan untai DNA. Jadi kalau dari segi pekerjaan, nggak bisa dikatagorikan oke social network gue.

Kalau di luar pekerjaan gimana? Mari kita telaah. Pertama, gym friend. Okelah tempat fitness gue lumayan berkelas, tapi di gym gue nggak punya temen banyak. Minder liat orang-orang badannya bagus, terus suka susah aja memulai percakapan dengan orang baru. Secara gue merasa underdog. Kedua, temen gaul. Percaya atau tidak, gue nggak punya banyak temen gaul. Temen gaul gue banyakan kenal dari blog juga, merasa cocok terus sering gaul bareng. Sering dugem bareng (dulu), dan waktu di club dari ratusan orang yang datang, mana ada sih yang gue kenal. Artinya social network gue terbatas.

So, kalau gue dibilang tidak mengijinkan sahabat-sahabat gue tapping into my social network itu salah besar. Boleh ditanya, kadang gue bawa sahabat gue ke kumpulan temen gue yang lain meski sebelumnya gue Tanya sama temen-temen gue boleh atau nggak bawa temen lain. Karena kadangkala juga mereka tidak mau gue bawa orang lain. Kalau udah gini kan repot, ya udah gue nggak bawa sahabat gue jadinya. Tapi sering juga gue bawa kok kalau diijinkan. Tanya deh sama sahabat-sahabat gue.

Soal tapping back into my friends social network, nggak pernah sengaja pengen dikenal-kenalin sama temen sahabat-sahabat gue. Kalau mau dikenalin boleh, nggak dikenalin nggak apa-apa. Yang penting gue tetep sahabatan sama sahabat-sahabat gue itu. Bersahabat dengan mereka sudah lebih dari cukup, kalau misalnya bisa mengenal temen-temennya itu hanya semacam bonus aja. Nilai lebih.

Inti dari tulisan ngawur ini pokoknya gue nggak pernah membatasi sahabat-sahabat gue buat tapping into my social network. Hayu aja asal waktu dan kesempatannya ada. Bener juga kata si kometator itu, kalau misalnya tetep mau tapping, masuk ke facebook gue aja terus add deh temen-temen gue yang kalian suka di friends listnya.

PS: soal dicariin pacar, gue udah berusaha ngenal-ngenalin yah. Silahkan bergerak sendiri-sendiri. Tugas gue cuma ngenalin kalian aja. Selanjutnya terserah anda…..

Kamis, 27 Mei 2010

gene, religion, gay scientist

Gay Scientist isolate Christian gene….

Dunia ribut, kontroversi bermunculan. Seketika hasil penemuan GAY scientist itu jadi trending topic dimana-mana, entah itu yang mengerti ataupun yang buta sama sekali mengenai gen dan blue print DNA.

Saya yang memang berkecimpung di dunia biologi molekuler mungkin jauh lebih akrab dibanding temen-temen yang lain mengenai gen dan tetek bengeknya, tapi orang awampun akan bisa mengomentari hasil penelitian GAY scientist tersebut. Dan komentarnya pasti akan sama dengan orang yang ahli molekuler sekalipun.

Hasil penelitian itu mengklaim bahwa ada gen yang menyandi protein yang akan menyebabkan seseorang menjadi beragama Kristen. Dan gen itu akan diturunkan secara sempurna kepada keturunan-keturunan berikutnya. Cara kerja gen memang seperti itu, tapi untuk sesuatu yang bisa disebut sebagai keyakinan atau agama, pendapat seperti itu bisa jadi suatu kesalahan. Apalagi mereka mencobakan penelitiannya terhadap tikus yang dicegah menjadi seorang Kristen.

Saya tidak sedang berbicara mengenai agama. Buat saya agama itu hak azazi, mutlak hak seseorang untuk kemudian menentukan akan meyakini yang mana. Jadi ketika saya menuliskan pendapat saya mengenai hal ini tidak ada maksud sedikitpun untuk mendeskriditkan salah satu agama. Saya hanya bicara dalam lingkup sedikit ilmiah.

Karakteristik seseorang akan dibentuk dari perpaduan antara gen dan lingkungan. Gen sebagai factor internal dan lingkungan sebagai factor eksternal. Jadi ketika gen dalam tubuh seseorang menyandi sesuatu yang sangat dominan sekalipun tetapi lingkungan tidak mengarahkan maka sifat dari gen tersebut tidak akan terkespresi. Masalahnya agama itu bukan sifat, agama itu keyakinan. Jadi agama bukan sesuatu yang terekspresi hanya karena ada gen “agama” dalam untai DNA seseorang. Pertanyaan yang menggelitik saya, bagaimana dengan orang islam, hindu, budha? Apakah gen tersebut tidak ada pada mereka? Yang atheis bagaimana??

Agama itu memang diturunkan, tetapi diturunkan oleh orang tua melalui pembiasaan dari kecil bukan karena gen. Pembiasaan itu yang akan membentuk seseorang menjadi beragama apa, meskipun banyak kasus yang ternyata berpindah agama. Ini yang akan mengugurkan penemuan di atas karena apabila suatu gen telah terkekspresi maka gen itu akan selamanya terekspresi, tidak akan berubah menjadi tersenbunyi atau silence gene.

Simplenya, agama itu bisa dicontohkan sama dengan kegemaran makan nasi. Kita, orang Indonesia dari kecil dibiasakan makan nasi dan jadi terbiasa, tetapi orang Indonesia yang lahir dan besar di Eropa lebih terbiasa makan roti. Tidak ada gen yang menyandi kegemaran makan roti atau makan nasi karena semuanya hanya pembiasaan, hanya diarahkan oleh lingkungan. Begitupun agama, jadi sangat jauh apabila menyimpulkan bahwa agama atau kepercayaan itu diturunkan melalui gen tertentu.

Hal lain yang membuat saya heran adalah kenapa dari awal diekspose, selalu didengung-dengungkan bahwa ini adalah hasil penelitian kelompok peneliti Gay? Kalau ditelaah, nggak ada hubungan antara peneliti gay dengan gen “Kristen” yang mereka klaim telah ditemukan. Kenapa preferensi seksual dari penemunya seakan menjadi muatan lebih? Toh yang mereka temukan itu bukan gen yang menyebabkan mereka menjadi seorang gay. Absurd sekali pemberitaannya.

Ternyata bukan hanya di Indonesia, di Negara manapun banyak sekali informasi yang tidak perlu yang kemudian digandengkan dengan suatu berita untuk menambah nilai lebih dari berita tersebut. Peneliti gay menemukan suatu gen, apa bedanya dengan peneliti botak menemukan suatu gen? sama-sama peneliti, sama-sama menemukan gen. Bedanya hanya di preferensi seksual, dan itu tidak akan mengubah atau menurunkan kualitas dari apa yang telah mereka temukan.

Saya hanya bingung, tapi yang baca ocehan ini jangan ikut bingung. Saya hanya seorang peneliti (baca: sinting) yang sedang melakukan analisa yang mungkin akan menambah kadar kesintingan saya.

PS: analisa saya mungkin salah, karenanya saya meminta ampun kepada Allah atas kekeliruan yang mungkin saya buat. Hanya Allah sumber dari segala kebenaran.

Senin, 24 Mei 2010

Bonus

God, You must be kidding me!

Saya tahu benar konsekuensi dari semua doa-doa saya, dan saya siap menerima kalaupun doa itu ternyata tidak dikabulkan. Tapi kan Tuhan tidak pernah zhalim, jadi saya selalu yakin bahwa setidaknya akan ada salah satu doa yang diijabah dari sekian ribu pinta yang saya tasbihkan. Makanya saya selalu berdoa. Tidak akan pernah bosan.

Untuk urusan pasangan atau pacar, saya tidak pernah menyebutkan nama kecuali memang sudah ada yang saya yakini atau sedang dekat untuk saat itu. Jadi saya berprinsip sediberinya Tuhan meski tentu saja saya berusaha mencarinya. Jodoh kan tidak seperti hujan yang tercurah begitu saja dari langit, kalau tidak dicari seringnya malah sembunyi.

Belakangan ini, saya hanya berdoa tanpa menyebut nama. Bukan tidak ingin spesifik tapi lebih ke tahu diri. Belum ada seseorang yang sedang mendekat atau saya dekati, jadi percuma kan kalau saya menyebut nama. Dan saya yakin sebenarnya Tuhan juga tahu apa yang berkelebat di dalam hati saya, tidak perlu namapun, Dia tahu siapa yang saya maksud.

Saya selalu meminta satu. Selalu. Tapi kenapa sekarang Dia mengirim tiga? Ya, tiga dan tiga-tiganya adalah orang dari masa lalu saya. Dua orang mantan dan satu orang yang pernah sangat dekat tapi tidak pernah ada ikatan karena banyak faktor. Tiga orang yang dalam waktu relatif bersamaan mendekat setelah sekian lama hilang kontak. Datang menggugat masa lalu dengan caranya masing-masing. Menimbulkan kebingungan.

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka membongkar lagi barang lama meskipun dijanjikan rasa baru. Menurut saya yang sudah berakhir ya sudah berakhir, tapi memberi kesempatan kedua atau ketiga sekalipun bukan hal yang buruk bukan? Dan tidak ada salahnya untuk dicoba. Seperti yang salah satu mantan saya pernah bilang, kesempatan kedua justru akan membuat hubungan makin kuat karena akan selalu belajar dan bercermin dari yang pertama kali. Dan saya setuju, sangat setuju.

Tapi kalau datangnya tiga sekaligus kan repot. Saya tidak suka memilih karena nanti saya terjebak pada ranah subjektif. Itu akan tidak adil bagi beberapa pihak, termasuk bagi saya sendiri. Karenanya saya merasa bahwa Tuhan sedang bercanda dengan hidup saya. Saya minta satu tapi diberi bonus tiga. Saya minta diberi yang terbaik, malah dikirim kebingungan baru.

Memang benar yah, kalau lagi kering ya kering banget. Nggak ada satupun yang mendekati atau berhasil didekati. Tapi sekalinya hujan, malah bikin banjir. Dan kalau sudah banjir saya malah kebingungan mau mengungsi kemana. Kadang saya merasa kalau saya tidak bersyukur.

Saya tidak menyalahkan Tuhan. Saya menyalahkan diri saya sendiri. Mungkin kemarin-kemarin doanya salah. Boleh diralat nggak yah????

Jumat, 21 Mei 2010

Sang Mantan

Dunia mendadak hening.

Kata demi kata saya cerna menjadi satu kesatuan utuh, tidak lagi dibumbui banyak prasangka seperti ketika pertama kali saya melihat alamat email yang muncul di halaman muka email saya. Begitu banyak pertimbangan hanya sekedar memutuskan untuk membacanya atau tidak. Begitu banyak pergulatan mengenai dampak yang akan timbul jikalau saya memutuskan membacanya.

Saya membuka, membaca kemudian saya merasakan sesuatu. Hati saya hangat.

Dia, si mata segaris, mantan saya yang sekarang sedang kuliah di tempat yang jaraknya ratusan ribu mil dari sini kembali mengirim sebuah email setelah sekian lama. Dia, yang dulu pernah membuat saya seperti hidup di negeri dongeng kembali melemparkan sebuah sapa. Sesuatu yang justru membuat saya seakan tertarik kembali pada pusaran indah yang saya sebut cinta.

Saya tidak munafik, saya masih mengaguminya. Entah masih cinta atau tidak, saya tidak bisa memilah. Yang pasti pesonanya kerap kali menggetarkan dawai hati saya. Membuatnya menyenandungkan lagu seperti saat kami masih berjalan beriringan.

Dalam emailnya dia menceritakan bagaimana kuliah sangat menyibukan hari-harinya belakangan ini, bagaimana profesornya menekannya dalam mengerjakan tugas akhir, kemudian bagaimana dia merindukan saya. Sampai bagian ini, saya merasa ada turbulen yang memporak-porandakan sesuatu di laci kenangan saya. Rindu, dia merindukan saya. Ungkapan yang sama ketika kami berpisah di bandara, ungkapan ketika kami lekat berpelukan seakan tak ingin dipisahkan. Rindu yang mungkin terumbar sekian ratus ribu kali di awal-awal cinta jarak jauh kami.

Komitmen yang kami jalani memang tidak semulus yang dibayangkan, banyak rintangan yang akhirnya membuat kami mengambil keputusan untuk berpisah. Mungkin keputusan yang dilandasi keegoisan masing-masing. Keputusan karena emosi sesaat akibat kesakitan atau mungkin amarah. Tapi saya tidak menyesal pernah mengambil keputusan itu, seperti saya tidak pernah menyesal jatuh cinta kepadanya. Semua jalan hidup dan untungnya jalan hidup itu indah.

Di akhir email, dia menggagas kemungkinan untuk kami bersatu kembali. Memulai lagi segalanya dari awal tanpa mempermasalahkan cerita yang pernah tertoreh di belakang. Kemudian meyakinkan bahwa ke depan jalan akan lebih mudah dijalani karena kami telah sama-sama belajar, kami telah sama-sama merasakan pahit buah perpisahan. Dia meyakinkan kalau dunianya hanya kan mengorbit pada satu poros, saya.

Dunia hening seketika. Saya tidak tahu bagaimana saya harus bereaksi. Hati kecil perak saya meredup dan berbinar bergantian seakan kebingungan dengan rasa yang tidak bisa terejawantahkan.

Saya sudah bilang saya tidak munafik, hati saya masih hangat ketika saya mengingatnya. Tapi jarak bukan sesuatu yang mudah ditaklukan, rentangan ribuan detik perjalanan seringkali melunturkan sesuatu yang diyakini dengan sangat sekalipun. Bukan saya tidak percaya, bukan saya tidak mau berusaha tapi realita harus dipertimbangkan dengan logika.

Selesaikanlah dulu studimu, nanti kita bicarakan lagi. Saya tidak menjanjikan, tapi saya usahakan akan menunggu.