Halaman

Rabu, 08 Februari 2012

Black Pearl

Seorang teman bertanya kepada saya tadi malam. Mungkin mempertanyakan lebih tepatnya. Dia mempertanyakan masalah kenapa sampai saat ini saya belum punya atau mendapatkan seorang kekasih. Dia bilang padahal kan saya baik, perhatian, beredar dimana-mana, badannya bagus, sudah S2 pula.

Mendengar hal itu saya bak berdiri di point of nowhere. Merasa tersanjung dan terhina dalam waktu yang bersamaan. Karenanya saya mencoba merefleksikan apa yang sudah dia bilang dengan kenyataan yang ada.

Saya tersinggung karena dalam kalimat yang dia ucapkan kenapa dia tidak menyebutkan kata cakep atau ganteng. Hehehehehe. Saya sok ingin disebut ganteng, padahal dengan muka saya yang biasa-biasa saja memang jauh dari kesan ganteng. Mungkin dia berpikiran kalau dia menyebutkan kata ganteng, dia takut menyinggung saya, takutnya saya menganggap itu sebagai suatu ledekan atau cemoohan. Kalau begitu, baiklah saya maafkan dia karena tidak menggunakan kata itu.

Ketersinggungan saya yang kedua, dia bilang badan saya bagus. Saya kemudian bilang dalam hati, mungkin dia buta, tidak bisa membedakan mana badan yang bagus dan mana yang gendut. Saya itu gendut, jadi harusnya jauh dong dari kesan badan bagus. Atau jangan-jangan trend tahun ini memang badan bagus itu yang gendut yah?! Tapi kan itu penilaian dia, jadi saya hanya bisa mengomentarinya saja. Dalam hati.

Kalau masalah sudah S2, itu hanya kebetulan semata. Kebetulan papi dan mami saya masih mau ngasih beasiswa tanpa syarat, jadi saya ambil saja kesempatan itu. Kebetulan juga ketika saya daftar, panitianya sedang berbaik hati, mungkin kasihan sama saya. Makanya diluluskan aplikasinya. Kebetulan lain yang paling berharga adalah, kebetulan Tuhan sangat berbaik hati mempermudah saya menjalani kuliah S2. Mana ada mahasiswa program master yang bisa lulus tepat waktu tapi kerjaanya keluyuran atau dugem sesering yang saya lakukan. Kebetulan yang terakhir ini yang membuat saya sangat bersyukur. Terima kasih Tuhan.

Beredar dimana-mana belum menjadi jaminan kalau akan mebuat banyak orang yang tertarik sama saya. Lagian saya beredar kan hanya untuk membunuh sepi, membuat jalinan persahabatan baru, atau mencari klien. Dan biasanya ketika saya beredar itu, saya seringnya tidak bisa menanggalkan topeng jutek saya. Entah kenapa, sudah bawaan orok. Jadi nggak usah heran, kalau saya banyak beredarpun tetap tidak mudah mendapatkan pasangan.

Baik dan perhatian? Dooh untuk yang ini saya benar-benar tersanjung. Apa saya memang baik dan perhatian yah? Perasaan biasa-biasa saja, meski ada beberapa orang teman yang bilang saya seperti peri. Hehehehe. Masalahnya kalaupun baik dan perhatian ini merupakan modal awal dalam mendapatkan pasangan, intinya orang kan harus mengenal saya dulu baru mereka bisa menilai kalau saya baik dan perhatian , tapi orang mendekat dan mengenal saya lebih jauh saja tampaknya ogah, jadi bagaimana mereka bisa memberikan penilaian saya baik dan perhatian.

Saya punya pengalaman agak-agak traumatis. Meskipun saya telah berusaha baik dan perhatian tapi tetap orang itu menolak saya. Berarti kan untuk mendapatkan pasangan tidak cukup hanya dibutuhkan sikap baik dan perhatian. Maaf jadinya saya curcol.

Untuk menimpali pertanyaan teman saya tadi, saya cuma menjawab: “iya yah, kenapa sih banyak orang yang nggak engeh kalau ada mutiara hitam, meski dalam lumpur?”

Teman saya sambil terbahak kemudian mengatakan: “Ya siapa juga yang mau ngubek-ngubek lumpur buat mendapatkan mutiara. Hitam lagi”

Mungkin itu juga masalahnya, saya merasa bahwa saya mahal, jadi saya berprinsip tidak mudah mendapatkan saya. Dibutuhkan usaha lebih. Tapi orang pasti akan berpikiran, untuk apa usaha lebih kalau untuk mendapatkan barang yang serupa bisa dibeli dengan mudah. Bahkan di pinggir jalan. Nurani saya berteriak, itu kan imitasi, kalaupun asli pasti mutiaranya berasal dari pelecypoda tidak berkualitas yang tumbuh di teluk Jakarta yang tercemar. Tetap saya tidak mau kalah. Tambah nggak heran kan kenapa saya tidak juga mendapatkan pasangan.

Akhirnya saya hanya bisa pasrah dan berserah. Saya yakin pada waktunya akan ada seseorang yang berani mempertaruhkan hidupnya untuk mendapatkan mutiara hitam seperti saya. Meski harus mengubek-ngubek lumpur. Saya hidup dengan keyakinan itu saat ini.

PS: Tuhan, saya tahu kalau saya tidak akan pernah mendapatkan semua yang saya inginkan. Ketika kita mendapatkan sesuatu pasti kita akan kehilangan yang lainnya. Oleh karena itu, apabila ada pilihan untuk saya menjadi mutiara putih yang bersih tetapi tidak memiliki wawasan keilmuan seperti sekarang ini. Saya lebih memilih menjadi mutiara hitam saja Tuhan.

Kamis, 02 Februari 2012

Fragmen

Isi celengan itu sudah penuh
Menunggu untuk dipecahkan hingga luruh

Aku menabungnya satu-satu
Setiap kali ada kesempatan, lewat sempit celah yang menganga aku membuatnya masuk

Mungkin yang pertama kumasukan dulu sudah seperti besi yang dimakan waktu
Berkarat
Mungkin yang pertama kumasukan dulu sudah seperti kertas yang dimakan usia
Usang
Tapi di sana mereka mengendap, membentuk fragmen perjalanan yang kutabung satu-satu

Mungkin ini saatnya kupecahkan tabungan itu
Membantingnya ke lantai hingga terburai sendu
Kemudian kupunguti satu-satu isinya seperti aku menabungnya dulu
Dan kususun menjadi sebuah deorama tak berlagu

Ternyata isinya hanya itu melulu
Meski dulu aku menabungnya satu-satu berjarak waktu

Sekarang aku menuai hasil dari apa yang kusimpan
Sesuatu yang aku jejalkan lewat celah sempit yang menganga satu-satu. Dulu
Kurekap isinya yang terburai bersama pecahan celengan
Dan isinya hanya itu. Rindu.

Rindu hasil dari menyalin wajahmu

Kamis, 26 Januari 2012

Sedih

Tadi pagi setelah menelepon Papi, saya menangis. Bukan menangis meraung-raung seperti waktu saya kecil saat tidak dibelikan mainan baru atau menangis sambil marah-marah ketika sering kali saya dilarang untuk keluyuran malam hari waktu jaman kuliah. Saya menangis tidak bersuara, hanya air mata yang tiba-tiba meleleh di pipi dan perasaan sakit di dalam hati yang tidak bisa dijelaskan bagaimana rasanya. Hanya perih.

Saya memang cengeng. Cenderung sensitif dan mudah menangis. Untuk hal-hal yang sebetulnya tidak perlu saja saya bisa mengeluarkan air mata. Dulu waktu kecil saya pernah menangis karena melihat ibu-ibu tua penjual kue cincin yang ikut berteduh ketika hujan di depan rumah. Si ibu sambil duduk menyenandungkan tembang sunda yang menyayat hati seperti sedang dilanda kesedihan yang teramat dalam. Saya yang mengintip dari balik jendela rumah tiba-tiba ikut menangis karena ikut merasakan kepedihan yang ibu itu rasakan.

Ya, panggil saja saya berlebihan. Tapi itu memang kenyataan.

Saya rutin menelepon Papi, sekedar menanyakan kabar beliau atau hanya bercerita mengenai aktivitas saya sehari-hari. Maklum sebagai anak yang tidak lagi tinggal di rumah, saya tidak bisa bertemu dengan beliau setiap hari. Jadi komunikasi melalui telepon kadang menjadi obat ketika saya merindukannya. Tadi pagi setelah bangun tidur saya langsung menelepon Papi, alasannya karena saya bermimpi tentang beliau tadi malam. Dalam mimpi saya, beliau meninggal dunia.

Saya menangis bukan karena mimpinya, tapi lebih karena respon yang Papi saya tunjukan ketika saya bercerita perihal mimpi saya tadi malam. Memang, menurut primbon tua yang sebetulnya tidak saya percaya, memimpikan seseorang meninggal dunia artinya bahwa orang tersebut akan panjang umur. Saya mengaminkan arti mimpi yang ini. Saya ingin Papi saya panjang umur. Tapi tetap saya menghubungi beliau untuk bercerita mengenai hal tersebut.

Awalnya saya menanyakan kesehatannya, kemudian saya baru bercerita tentang mimpi kalau beliau meninggal dunia. Beliau menanggapinya dengan tertawa, dan seperti sudah diduga beliau akan mengartikannya sebagai isyarat kalau beliau akan panjang umur. Lagi-lagi saya mengamininya.

Beliau kemudian berkata “Doakan saja supaya Papi panjang umur! Papi masih ingin bisa menghadiri pernikahan kamu dan adik kamu” Pernyataan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Pernyataan yang membuat saya seperti tercekat di tenggorokan. Pengap. Kemudian saya berdiam. Lama. Setelah saya bisa menguasai keadaan, saya pamit kepada beliau karena saya harus siap-siap untuk berangkat kerja. Teleponpun saya tutup.

Saya tiba-tiba menangis. Sedih. Rasanya mendengar orang yang kita sayang mengucapkan keinginannya yang sampai sekarang belum bisa saya penuhi itu seperti merobek hati kita sendiri. Sakit.

Papi saya jarang menanyakan mengenai perihal kapan saya akan menikah. Bukan tidak pernah, tapi beliau seperti tidak memaksakan. Beliau mengerti dan tahu benar siapa saya, apa yang saya inginkan terlebih dahulu dalam hidup ini. Karenanya beliau tidak seperti kebanyakan orang-orang di luar lingkungan inti yang selalu mempertanyakan perihal pernikahan yang membuat saya seperti teriritasi. Memang lama-lama saya sudah kebal dengan pertanyaan tersebut, tapi tetap saja saya kesal kalau ada orang mempertanyakan lagi dan lagi mengenai hal tersebut.

Bukan saya tidak ingin menikah. Tentu saja saya ingin, dan bukan untuk alasan utama menyenangkan orang tua. Buat saya menikah itu hal yang prinsipil, yang harus saya lakukan dengan orang yang saya sudah yakin benar kalau dia memang dikirimkan Tuhan untuk saya. Untuk menemani dan berkolaborasi dengan saya yang seringkali complicated. Mungkin sekarang Tuhan belum percaya untuk mengirimkan jodoh bagi saya, tapi saya juga tidak berhenti berikhtiar. Pasti ada suara-suara sumbang setelah saya mengungkapkan hal ini, dan saya tidak peduli. Saya hidup demi kebahagiaan saya sendiri dan orang tua saya, bukan untuk kebahagiaan orang-orang di luar sana yang justru tidak mengerti maunya saya.

Tapi tetap saja saya sedih mendengar keinginan Papi yang ingin panjang umur agar dapat menghadiri pernikahan saya. Keinginan yang sederhana tapi sulit saya kabulkan dalam waktu dekat ini. Tapi siapa tahu Tuhan kemudian berbaik hati untuk membalikkan hati saya dan mempertemukan saya dengan jodoh yang sudah dipersiapkan oleh-Nya. Dan dengan begitu saya bisa membahagiakan Papi. Amin.

Selasa, 24 Januari 2012

Sang Pengkhianat

Dia mengkhianati saya. Lagi. Bukan sekali dua kali dia mengkhianati saya seperti ini, dan saya selalu seperti terbuaikan kembali. Saya mempercayainya lagi ketika saya sudah lupa, ketika luka yang ditimbulkannya sudah mengering tidak peduli menimbulkan noda keloid atau jaringan parut. Saya tetap menyerahkan segenap kepercayaan kepadanya. Lagi.

Saya bukan tidak kapok. Saya lebih memilih untuk buta. Dibutakan keadaan, dibutakan oleh janji yang sebetulnya belum genap dia ucapkan. Saya hanya yakin kalau janjinya akan menghasilkan sebuah kenyataan. Tidak perlu tepat, cukup mendekati. Hal itu pasti sudah membuat saya akan bernapas lega. Sering dikhianati olehnya saja saya masih tetap memupuk percaya, apalagi kalau dia sesekali mengabulkan janji yang saya paksa untuk dibuat olehnya.

Pernah dulu dia memperkenalkan pada cinta ketika saya beranjak remaja. Penuh tipu daya dia membuat saya tergila-gila, mencandu cinta seperti tidak ada besok lusa. Setengah mati saya menyemai rasa percaya, menikmati sensasi-sensasi baru yang belum pernah saya coba sebelumnya. Tapi dia mengkhianati saya, karena selain cinta dia mengajarkan saya apa yang disebut dengan cemburu. Perasaan yang membuat saya seakan menaiki perahu yang hampir karam. Terombang-ambing ketidakpastian. Sampai akhirnya benar-benar karam dan tenggelam.

Saya kehilangan cinta pertama saya. Kemudian saya terpuruk. Lama. Berusaha bangkit kembali sambil membenahi hati yang camping karena terlalu banyak mempertaruhkan percaya. Lewat catatan-catatan kaki yang sengaja saya buat ketika melangkah bersamanya saya kembali belajar, menghayati kehilangan yang saya rasakan sebagai bentuk sebuah pembiasaan. Semakin saya terbiasa, maka saya akan semakin cepat pulih ketika hal yang sama terjadi secara berulang. Begitu dia membisikan rapalan mantra yang sampai sekarang saya tidak pernah lupa.

Entah kekuatan apa yang dia punya, karena seperti apapun dia mengkhianati, saya tidak lantas membencinya. Marah pasti, karena bagaimanapun saya bukan benda mati yang hanya akan diam ketika dipermainkan. Tapi untuk benci sepertinya terlalu berlebihan, karena ketika amarah sudah mereda saya akan kembali menggandengnya untuk kemudian mengajaknya berjalan mengikuti setapak kecil yang terpampang di hadapan. Bersamanya saya menyongsong matahari pagi. Bersamanya saya menanam benih cinta. Lagi.

Dia seperti dua sisi mata uang. Hidup berdampingan tetapi memiliki sifat yang saling berlawanan. Mungkin saling menghilangkan, atau bahkan saling berkomplot menguji keberanian saya untuk terus bergerak tanpa pernah melangkah ke belakang. Buat saya, dia adalah penghkianat sejati. Tapi di lain sisi dia adalah sahabat yang bisa membuat saya percaya kalau saya mampu melewati berbagai rintangan yang sebelumnya tidak yakin bisa saya ampu dan lewati.

Saya tidak kapok dikhianatinya. Saya mau terus berjalan bersamanya. Karena dikhianati waktu sambil berjalan meniti potongan-potongan cerita sampai menjadi sebuah kesatuan cerita adalah ketentuan yang harus saya terima. Bersama waktu saya merefleksi diri, bersama pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan waktu saya belajar untuk menjadi pemenang. Nanti. Ketika dia sudah bosan bermain di ranah yang akan saya jalani. Bilakah?