
On sms with my dearest friend:
My friend : gawat Bro, calon mertua gue maksa-maksa buat majuin jadwal merit gue jadi bulan Juli. Gue gak mau. Gue belom siap.
Gue : Baguslah Bro, artinya kehidupan lu yang lebih terarah yang lebih mapan bisa lebih cepat dicapai. Lagian gue lebih setuju bulan Juli deh soalnya kalo abis lebaran tiket pesawat mahal Bo! Hehehehe
My friend : Enak aja lu ngomong. Gimana kalau misalnya si “mata segaris” tiba-tiba bilang sama lu perginya bakal dimajukan jadi bulan Juli?
Gue : Gue siap lahir batin. Sekarang atau nanti sama aja. It just about time. Just face it!
Habis itu dia nggak bales sms gue lagi. Kayaknya dia marah!
Malam minggu kemaren gue sama si “mata segaris” itu ngobrol panjang lebar dari hati ke hati. Bisaanya juga ngobrol tapi kok rasanya malam itu beda banget. Kita membicarakan semua kemungkinan yang mungkin terjadi kedepannya dengan hubungan kita. Tentang kepindahannya bulan depan ke Singapur, tentang rencananya melanjutkan S2 ke US bulan September nanti. Bukan rencana lagi sih, sudah pasti tepatnya. Bulan depan pindah rumah, September kembali kuliah. Dua-duanya memiliki dampak yang sama, ninggalin gue sendirian.
Sedihkah gue? Rasanya nggak perlu gue jawab. Siapa sih yang tidak sedih akan dihadapkan pada kenyataan kalau sepotong hatinya akan pergi. Rasanya seperti dibangunkan dari mimpi, dihadapkan pada kenyataan yang satu demi satu harus dihadapi dan nggak bisa dihindari. Kalau boleh egois rasanya ingin tidak terjaga, ingin terus ada dalam mimpi. Tapi itu tidak adil, toh dia meninggalkan kita juga bukan untuk sesuatu yang tidak baik. Okelah dia pacar kita, tapi bukan berarti kita boleh egois terhadap kehidupannyakan? Dia punya jalan hidup sendiri, kita hanya jadi komplemen. Pelengkap.
Balik ke andai-andai temen gue itu, gimana kalau semua rencana si “mata segaris” ternyata dimajukan jadwalnya. Pergi meninggalkan gue lebih awal. Jawabannya akan sama persis dengan jawaban sms gue itu. Gue siap lahir batin. Kenapa? Karena sekarang atau nanti akan sama saja. Dia akan tetap pergi. It just about time. Toh dengan dimajukan dua bulan tidak akan merubah apa-apa. Tidak akan membuat gue menjadi serta merta siap kehilangan dia dan nggak sedih. Sekarang atau nanti tetep sedih juga kok pasti efeknya. So, all I need to do just face it kan?
Ya mungkin beda dengan temen gue yang mau merit itu, dua bulan bisa berarti banyak. Dalam dua bulan semua kemungkinan bisa terjadi. Sementara gue? dalam dua bulan tidak akan merubah apa-apa. Dia tetap akan pergi . Dan dibalik kesedihan gue itu, gue seneng kok. Dia pergi untuk nuntut ilmu lagi, setidaknya dengan pacaran sama gue dia jadi kepikiran untuk kuliah lagi. Ini pernah kita omongin panjang lebar sampe marahan berhari-hari. Dia tetep nggak mau, gue tetep maksa. Maklum pesan sponsor dari mamih. Lagian gak ada salahnya juga kan kalo dia sekolah lagi? Bagus malah.
Sekarang gue yang ketiban bingung sendiri. Dari dulu gue nggak percaya sama LDR, di kepala gue itu LDR isinya cuman sakit doank. Nah sekarang, masa gue harus menyerah? Gue nggak boleh nyerah..gue nggak boleh nyerah. Gue akan belajar menjalaninya dengan sadar. Maksudnya gue menjalani dengan sadar akan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Mamih aja nyuruh gue untuk tidak menyerah karena mamih yakin banget kalo cintanya si ‘mata segaris” itu cuman buat gue doank. Selamanya. Aih…co cuit!!!! Love you Mih, eh salah, Love you “mata segaris”!


