Halaman

Selasa, 16 Desember 2008

Skizofrenia


“Yang kumaksud skizofrenia adalah sebuah situasi saat kita memiliki dualitas kesadaran, dualitas persepsi, dualitas keyakinan. Ketika kita berpijak di titik hitam tetapi sebenarnya kesadaran kita putih, disitulah kita mengidap skizofrenia. Kita beribadah jungkir balik bersujud kepada Tuhan mengucurkan air mata kita dengan sikap yang (seolah-olah) putih, sementara di waktu yang lain kita melakukan tindakan-tindakan yang sangat “hitam”. Beragama tetapi jahat; tersenyum, tetapi membunuh, serigala berbulu domba!”
(Fadh Djibran, Skizofrenia : A Cat In My Eyes. 2008).

Aku berulang kali membaca salah satu paragraf dari cerpen tersebut. Semakin sering kuulang membacanya maka semakin keras tamparan yang aku rasakan. Panas. Tamparan-tamparan itu tidak hanya aku rasakan di pipi, tapi juga di hati. Membuatku kemudian berfikir dan mati rasa.

Apakah selama ini aku menderita skizofrenia? Karena apa yang Fadh tulis dalam cerpennya itu semuanya aku alami. Memiliki dualitas kesadaran, persepsi dan keyakinan. Semuanya pernah bahkan sampai saat ini masih aku rasakan. Aku kadang berfikir aku sangat baik padahal di lain sisi aku sangat jahat dengan menghalalkan segala cara demi mencapai suatu tujuan. Bukankah itu dualitas yang dimaksudkan Fadh.

Yang lebih parah adalah mengenai dualitas keyakinan. Jungkir balik ibadah untuk mendapatkan ridha Tuhan, tapi ketika ritualitas ibadah itu selesai dikerjakan, aku kembali berenang dalam “kenikmatan” dosa yang sebenarnya juga aku tahu kalau itu adalah dosa. Seakan hidup hanya menyeimbangkan takaran antara ibadah dan dosa sehingga timbul harapan ketika di akhirat ada perhitungan perbuatan, timbangan kita tidak berat sebelah ke kiri atau ke kanan. Kuantitas ibadah kita sama dengan kuantitas dosa. Itu yang sering aku lakukan. Lantas apakah aku menderita skizofrenia?

Terlepas apakah ketika memiliki dualitas itu digolongkan kedalam skizofrenia atau bukan, aku lebih senang menyebut diriku munafik terhadap Tuhan. Tuhan yang aku sambangi paling sedikit 5 kali dalam sehari, bahkan lebih ketika ada hal yang tak bisa aku adukan pada seorang karib sekalipun. Aku menyambangi Tuhan, tapi seringnya disaat yang sama aku juga menodai kepercayaannya dengan melakukan dosa. Dosa yang dengan semangatnya aku reguk dari cawan buatan setan. Dan itu sering, bukan hanya sekali dua kali. Itu yang aku maksud munafik.

Tak jarang sifat munafikku terhadap Tuhan kulakukan hampir bersamaan. Setelah selesai aku menyambanginya, memohon pertolongannya, aku langsung melakukan dosa besar lagi yang pastinya sangat dimurkainya. Bahkan tanpa sempat aku menanggalkan baju koko yang kupakai untuk menemuinya. Bukankah itu munafik? Bukankah itu dualitas yang menggolongkan aku menjadi penderita skizofrenia menurut Fadh.

Tuhan, ketika aku hidup dalam dualitas seperti sekarang ini apakah karena aku memang tidak Engkau beri pilihan? Atau Engkau sesungguhnya sudah memberiku banyak pilihan, tapi aku selalu memilih jalan yang salah, langkah yang keliru? Ketika kemudian aku marah, pada siapa aku harus marah? Kepada siapa aku harus mengugat? Kepada lingkungan? Kepada alam? Yang jelas, aku tak akan pernah Mengugat Mu. Kenapa? Karena aku yakin bahwa sebenarnya dualitas itu adalah suatu pilihan. Kembali aku yang selalu salah memilih.

Skizofrenia atau hanya munafik hanya Engkau yang bisa menilainya duhai Tuhan. Aku kerdil di hadapan Mu. Berilah aku kesempatan untuk selalu memilih yang benar meskipun dosa itu lebih manis rasanya.

Senin, 15 Desember 2008

Kepada Gelap


Kepada gelap aku menitipkan sebaris pesan
Pesan untuk disampaikan padanya dalam diam
Seuntai perasaan yang tak bisa dijamah raga
Hanya agar dia tetap percaya padaku
Menghilangkan semua keraguannya

Sayang,
Aku hanya ingin kamu mengerti bahwa perasaan ini indah
Biarkan mengalir syahdu mengikuti riak-riak perjalanan kita
Jangan kau tolak dan jangan kau perintah
Biarkan saja
Biarkan alami, seperti perasaan kita

Ketika pagi menjelang dan kau lihat matahari di ufuk
Yakinlah bahwa aku ada disana
Menemanimu menghabiskan hari
Menganyam mimpi tentang kita
Mengukuhkan arti rasa yang ada, dan semoga tetap ada

Ketika matahari ditelan hitam
Kepada gelap aku kembali bergumam
Tak ada yang membuat purna semua isi mimpi
Selain melihatmu disampingku saat aku terjaga dari tidur
Merengkuhnya dalam hangat walau gelap

Kepada gelap aku menitipkan seuntai perasaan
Jangan pergi dariku
Jangan menyerah untuk sesuatu yang kita tahu bisa diperjuangkan
Jangan Pernah berhenti menabur benih disana
Di ladang cinta kita, meski kerontang

Kepada gelap aku berujar :
Jangan renggut dia dariku
Biarkan aku bahagia.

Sabtu, 13 Desember 2008

Surat Cinta



Mungkin sekarang yang namanya surat cinta udah ketinggalan jaman. Kalah sama gadget yang bisa menggantikan selembar surat yang biasanya berwarna merah jambu dengan latar belakang gambar hati berisi ungkapan perasaan seseorang. Kalau ada yang nerima surat cinta di jaman serba digital ini pasti dibilang kuno, nggak megang.

Bener gak sih surat cinta itu udah ketinggalan jaman? Mungkin buat sebagian orang iyah, dan bagi sebagian orang justru masih memujanya. Apalagi orang-orang yang pernah dimabuk cinta pada saat era surat cinta itu masih booming. Buat gue, surat cinta itu memang agak menyusahkan kalau sekarang, tapi gue masih memujanya. Sebagai orang yang hidup di jaman era sebelum serba pijit, surat cinta jadi sarana paling ngena untuk menunjukkan perasaan kita sama orang yang kita sayang.

Dulu banget, sebelum internet dan handphone menjamur kayak sekarang, gue paling seneng nulis surat cinta. Nggak peduli surat itu akhirnya gue kirim atau malah gue simpen. Gue seringnya nggak punya nyali besar buat ngasih surat yang udah gue tulis. For many reasons. Tapi selain nulis, yang paling gue seneng adalah ketika menerima surat cinta. Perasaan deg-degan, berdebar-debar, terus kalau minjem istilah temen gue, membuka dengan harapan yang membuncah-buncah, bikin dunia seakan jungkir balik, padahal belum tentu juga isi suratnya menyenangkan.

Pengalaman nulis surat cinta pertama gue adalah waktu kelas 1 SMP. Bayangkan kelas 1 SMP aja gue udah genit, sok jatuh cinta, sok mabuk kepayang. Makanya nggak heran kan kalau gedenya gue jadi kayak sekarang. Surat itu gue bikin buat kakak kelas gue, orangnya keren, semacam kecengan sejuta umat deh. Sialnya dia tahu kalo dia keren, makanya belagu. Hehehehe. Cinta ditolak, sumpah serapah mengintai. Nggak dink, gue nggak jatuh cinta sama dia, cuman kagum aja (boong mode on). Sayangnya, surat itu nggak berani gue kasihin, cuman gue baca berulang-ulang setiap malam terus gue simpen di bawah bantal.

Kalau pengalaman nerima surat cinta, gue nggak banyak. Nggak laku soalnya, dan mungkin orang-orang di luaran sana mikir kalo gue nggak layak dikasih surat cinta. Nampak buang-buang waktu dan energi. Tapi jangan salah, gue pernah nerima surat cinta disaat handphone udah kayak kacang goreng beberapa tahun yang lalu. Lucunya lagi dia ngasih surat nggak langsung dikasih ke gue tapi diselipin di wiper mobil gue di kampus. Nampak childish banget yah, padahal waktu itu gue udah kuliah.

Waktu gue buka dan baca ternyata itu surat surat misterius, surat tanpa nama. Isinya menyampaikan kekaguman dia sama gue, hasrat ingin mengenal gue. Pertamanya gue pikir pasti gue diisengin temen gue, biasalah badung-badungnya temen gue. Mau GeEr-in gue doang. Tapi ketika ada surat berikutnya dan berikutnya gue jadi mikir niat banget tuh orang yah. Dan disurat kesekian akhirnya dia menyelipkan sebuah nomer telpon.

Bukan gue kalau misalnya nggak penasaran. Gue telpon tuh orang, ngajak ketemuan. Tumben gue berani, padahal biasanya pasti sembunyi dan minder duluan. Habisnya gue penasaran banget sama penggemar rahasia gue itu.

Ternyata eh ternyata, dia itu beda fakultas sama gue, terus katanya lagi dia sering liat gue di kantin fakultas dia. Sayang sekarang kantin itu udah tutup, entah kenapa. Gue memang senengnya makan di kantin fakultas orang, untuk melihat dan dilihat. Dan kali ini berhasil, berhasil bikin orang penasaran. Kata dia dulu, dia udah nyari-nyari informasi tentang gue tapi katanya banyak yang gak tahu. Ya iyalah, dulu gue belom meletek. Coba sekarang, tetep banyak yang gak tau juga sih. Makanya dia pernah ngikutin gue dan ngapalin mobil gue, disimpenlah surat-surat itu disana.

Sampai sekarang gue masih simpen surat-surat cinta dari dia. Sekedar testimoni kalau pernah ada yang rajin kirim surat sama gue. Kita dulu juga sempet pacaran meski nggak lama karena abis lulus dia harus balik ke kampungnya, dan kita sama-sama nggak percaya sama long distance relationship.

Rasanya hari ini gue pengen ngirimin dia surat cinta, gue tiba-tiba kangen sama dia meskipun gue nggak yakin dia masih inget gue atau nggak. Tapi yang pasti gue bakal inget dia sampai kapanpun. Seseorang yang pernah ngirimin gue satu serial surat cinta yang indah.

Yuda : Ada yang mau ngirimin gue surat cinta gak?

Jumat, 12 Desember 2008

Napak Tilas Hati


Awalnya gue nggak berencana buat pergi ke tempat itu, suatu tempat yang mengingatkan gue sama lo. Lo yang dulu pernah ngisi berlembar-lembar diary gue, ngasih gue kenangan manis, indah, kemudian pahit dan getir. Kadang gue masih nggak ngerti sama keputusan lo dulu, ninggalin gue tanpa ba-bi-bu. Sakit tau, apalagi hubungan kita udah bukan dalam hitungan bulan lagi. Maenannya udah tahun.

Dari perkenalan basi melalui temen gue yang juga temen lo, ternyata kita merasa cocok saat itu. Kalo minjem istilah Tom Cruise di Jerry Maguire, you complete me lah. Gue ngerasa bahwa lo emang potongan puzzle yang selama ini gue cari, potongan yang bikin gambar hati di dada gue lengkap. Entah kenapa kita merasa cocok aja saat itu, dan kita jadi nggak terpisahkan. Dimana ada gue pasti ada lo, dua orang yang lagi dibanjiri hormon endorphin, hormon cinta. Cinta monyet khas remaja gila. Kadang gue suka pengen ketawa sekaligus nangis kalo inget jaman-jaman itu.

Suasana di tempat itu masih sama, bau daun basahnya, pohon-pohonnya, aroma tanahnya, air terjunnya. Parahnya gue masih bisa nyium keberadaan lo di sana, padahal udah lewat beberapa tahun. Di jalan setapak berbatu dimana dulu kita nyusurinnya sambil nggak lepas pegangan tangan. Di bukit kecil tempat kita menatap senja, we kissed, the best kissed. Berada di sana gue berasa napak tilas. Napak tilas hati tepatnya.

Dulu waktu lo masih ada di samping gue, gue selalu merasa nyaman. Kenyamanan itulah yang sering kali gue rindukan dari lo. Lo orang yang paling ngertiin gue, mau nerima gue apa adanya and never bugging me with questioning. Lo mencintai gue dalam sunyi, sunyi yang membuatku lebih mencitaimu. Di kesunyian yang tercipta itulah gue bisa menemukan siapa lo sebenarnya, seseorang yang mampu mengubah batu menjadi permata di mata gue.

Hari ini, di tempat itu, disaat gue napak tilas hati gue, gue kembali nggak menyesali apa yang udah terjadi dulu diantara kita. Gue sadar bener bahwa cinta itu berbanding lurus dengan sakit hati, jadi semakin gue jatuh cinta maka sakit hati yang bakal gue terima akibat cinta itu juga akan semakin besar. Perlu lo tahu, mencintai lo membuat gue jadi lebih kuat, lebih survive. Lo ngajarin gue segalanya, lo juga yang nyadarin gue kalo hidup di dunia ini khususnya di dunia lo dan gue itu nggak gampang. Harus berjuang lebih dari siapapun. Tapi ternyata lo memutuskan buat nggak berjuang di samping gue, lo memilih berjuang dengan jalan lo sendiri mesti gue tahu tujuan kita sama. Cinta.

Embun senja merayap turun, gue harus pulang meninggalkan kenangan kita di tempat itu. Aku puas mengenangmu di sana, meskipun aku hanya mencumbui bayanganmu di bawah rindangnya akasia. Itu cukup, bahakan lebih. Biarkan aku kembali ke setapak kecilku, berjalan sambil terus mengenangmu. Cinta terdahsyat gue, cinta yang hanya bisa kunikmati melalui napak tilas hati.