Lokasi : Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makasar
Waktu : Senin, 28 November 2011
Kejadian: sesuatu yang membuat saya seperti ABG. Senyum-senyum sendiri setelah pertemuan singkat yang hambar dan diakhiri dengan saling bertukar nomer telpon dan pin BBM
Efek: Sepanjang perjalanan Makasar – Sidrap – Toraja, wajah dia menari-nari di ingatan saya.
Efek lanjutan : Perang batin antara menghubunginya duluan atau menunggu signal kalau dia benar-benar tertarik. Tapi yang pasti saya sering mengecek display picture BBM-nya sambil senyum-senyum tidak jelas.
Efek lebih lanjut : Saya jadi bodoh!
Analisis : Ya, saya murahan. Dengan gampang saya memberikan nomer-nomer pribadi saya kepada orang asing hanya karena pujian yang membuat saya melambung. Pujian tidak penting sebetulnya, hanya saja berefek seperti gendam yang membuat saya hilang akal sesaat.
Analisis lanjutan : Mungkin saya terlalu putus asa dalam mencari cinta sehingga saya menangkap semua peluang yang mungkin sebetulnya tidak bisa dilanjutkan.
Analisis lebih lanjut : Saya menyedihkan.
Tapi setidaknya saya tahu kalau saya belum mati rasa. Saya masih bisa merasakan euphoria kesenangan yang ditimbulkan oleh sesuatu yang tidak penting sekalipun. Dan saya menikmati sensasinya. Seperti dulu, saat saya untuk pertama kalinya berusaha mengenali apa itu cinta.
Note : Tidak ada cerita tambahan, jadi saya tidak menerima BBM, email, DM, “kepo” atau apapun yang ingin penjelasan mengenai narasi di atas. Cukup saya, dia dan Tuhan yang tahu.
Note Lanjutan: Iya, saya sok penting banget!!
Selasa, 29 November 2011
Rabu, 23 November 2011
Aku Membunuhnya
Darah. Aku melihat darah dimana-mana. Bau amis dan warna merah menyumbat semua lubang panca inderaku, membuatnya kelu dan bisu. Sesaat aku limbung tak bisa mencerna rentetan kejadian yang membuat darah itu berceceran di lantai kamarku. Mataku perih, bukan ingin menangis, tapi aroma darah itu seperti membakar korneaku. Membutakan, merebut cahaya yang harusnya tampak dan menggantikannya dengan warna merah dan hitam. Bergantian.Pisau itu masih kugenggam. Gemetar. Tetesan darah segar menetes dari ujungnya kemudian merayap di dinding buram kamarku yang temaram. Sekali lagi aku limbung hampir hilang kesadaran, hanya warna merah dah hitam yang bergantian menghantam penglihatan.
Kuhempas pisau itu dari genggaman. Suara berdentang yang dihasilkan besi dan lantai menjalar melalui udara pengap yang memberangus keberanianku yang mulanya tersulut tertantang. Gemetar masih aku rasakan di setiap bagian tubuhku, menggigilkan dan membuatku beringsut ke pojokan sambil memeluk lutut hingga mencium dada. Masih kulihat darah dengan jelas tersimbah di lantai keramik putih sehingga warnanya semakin jelas tergambar. Dalam kubangan darahnya sendiri dia terlentang tak lagi bernyawa.
Aku membunuhnya. Melalui tanganku dia menemui ajalnya, menyapa kematian yang mungkin belum mau dia temui. Perantaraan keberanian dan ketakutan yang teraduk sempurna dalam rongga otakku, dia aku tikam menggunakan pisau berkarat yang sudah lama aku persiapkan. Butuh waktu lama hingga akhirnya hari itu tiba. Butuh banyak konflik batin sampai akhirnya aku benar-benar berani melenyapkannya dengan tanganku sendiri.
Malam tadi aku membunuhnya. Menguras habis darah yang mengalir dalam urat-urat nadinya hingga terburai membasahi hampir seluruh bagian lantai kamarku. Disana dia berkubang tanpa nyawa, dalam genangan darahnya sendiri.
Ada sedikit perasaan lega di tengah ketakutan yang menghadang. Tapi ada juga perasaan seperti seorang penjahat yang tertangkap basah dan siap dihakimi oleh masa. Keduanya menghasilkan sensasi gemetar yang maha dahsyat karena di ujung langkah aku takut menyapa sebentuk penyesalan. Perang batin lagi-lagi berkecamuk mempertanyakan apakah tepat bagiku mengakhiri hidupnya dengan cara yang sedemikian keji. Apakah keberanianku menghujam pisau berkarat tepat ke ulu hatinya sebetulnya hanya reaksi sesaat akibat kesakitan yang sudah sering dia beri. Aku dihantam banyak pertanyaan yang membuatku semakin mengkeret di pojokan.
Dia sudah sepantasnya mati. Bahkan harusnya dari dulu aku memiliki keberanian untuk membunuhnya atau paling tidak memasukan bubuk arsenik kedalam minumannya yang selalu dia minta di setiap kunjungan. Dia layak mati karena keberadaannya hanya mempersulitku yang ingin terbang dengan bantuan sayap rapuh kepercayaan yang tak kasat mata. Begitu kalimat-kalimat pembenaran berdengung dalam rumah siput di dalam telingaku. Memekakkan karena kalimat-kalimat itu seperti berpesta pora di sana, menarikan tarian kemenangan.
Dia pantas mati. Dan orang yang paling tepat membunuhnya adalah aku sendiri. Lewat aku dia harus membaui ajalnya. Perantaraan tanganku dia harus melepas nafasnya satu per satu. Tidak boleh ada penyesalan, karena semua sudah dilakukan. Tidak boleh ada penyesalan, karena semua ini demi kebaikan. Lebih lama dia hidup, maka akan lebih banyak kesakitan yang akan dia hidangkan dalam altar pemujaan. Karenanya aku lega dan tidak menyesal.
Malam tadi, dengan pisau berkarat yang sudah aku persiapkan lama, aku membunuh dia. Mengirimnya pada alam kematiam yang katanya abadi sehingga kuharap tidak ada lagi reinkarnasi yang akan membuat dia kembali. Malam tadi, aku membunuhnya. Masa lalu tentang kamu. Selamanya.
Rabu, 16 November 2011
No, Thank You
Buat saya cobaan terbesar dalam menjalin suatu hubungan itu adalah mencintai kekasih orang. Tidak dapat dieliminir memang, tapi saya pasti punya sejumput pilihan untuk kemudian berlari menghindar. Sulit, terus terang, apalagi ketika kenyataan tersebut baru diketahui belakangan saat saya sudah terlanjur banyak membelanjakan perasaan atas nama sebuah pengharapan.Jangan tanyakan pengalaman saya mengenai mencintai kekasih orang. Berulang-ulang saya dilimbung perasaan yang ternyata itu-itu saja. Mabuk oleh candu yang sebetulnya bisa saya buang dari awal. Tapi sepertinya pada beberapa keadaan saya memilih buta untuk berjalan di lorong yang sebetulnya terang. Saya memilih mengerat urat nadi saya sendiri secara perlahan sehingga menimbulkan sensasi sedih berkepanjangan.
Rasa pedih tersebut mau tidak mau harus saya telan tanpa berhak mempertanyakan. Saya terlanjur menyepakati perjanjian dengan kesakitan yang efeknya sudah saya kenal benar. Tapi tetap saya memilih untuk buta, memilih membebalkan rasa karena mungkin saya pikir saya akan kuat bertahan. Tidak lagi peduli pada luka yang akan menganga lebar di akhir batas sebuah kesabaran. Acuh pada air mata yang pastinya siap ditumpahkan saat saya menyerah di akhir langkah.
Bodoh. Tentu saja saya tahu kalau itu tindakan bodoh. Memilih sesuatu yang saya tahu salah dengan alasan yang seringnya tidak logis adalah tindakan bodoh yang tidak dapat dibenarkan. Dan saya selalu bertahan dalam kebodohan itu, tanpa takut pada ganjaran yang akan saya pampang. Saya bertahan dalam kubangan yang awalnya saya pikir akan membahagiakan karena saya anggap saya bisa berteman dengan konsekuensi dari menggenggam tangan kekasih orang.
Tapi itu dulu. Sekarang saya kapok berjalan pada acuan yang keliru. Mencintai kekasih orang hanya akan membuat hati saya semakin kerontang. Bukan hanya karena diganjar kemarau tak berkesudahan, tapi juga karena perasaan kerdil yang pasti ditimbulkan. Saya lebih baik sendirian ketimbang memunguti remah-remah sisa di pekarangan orang seperti pencuri yang takut ketahuan. Saya memilih tidak membelanjakan perasaan daripada saya harus membayar banyak kerugian yang tidak setimpal.
Kekasih orang tetaplah kekasih orang. Seperti apapun saya memagarinya agar tidak sering meloncat ke tanah tempatnya berasal, saya tidak akan mampu membuatnya terus diam. Dia akan kembali pulang untuk meretas mimpi yang telah lahir duluan. Bersama saya mimpi lahir belakangan, dan dengan cara apapun tidak akan pernah bisa menang. Tidak peduli kalau menurut dia mimpi yang dia semai duluan ternyata sekarang sudah tidak membuatnya nyaman.
Saya sekarang hanya lebih berpikir realistis. Kalaupun dia berjanji akan menterminasi mimpi yang lahir duluan untuk menjajaki mimpi yang lahir belakangan, jangan harap saya akan bersedia dibegitukan. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada saya-saya lain setelah saya yang sekarang. Saya akan ditinggalkan oleh mimpi barunya yang mungkin tidak bisa saya kembangkan. Dan saya percaya bahwa karma akan kejadian.
Sepertinya saat ini Tuhan sedang mengajak saya bercanda, karena lagi-lagi dia kirim seseorang dengan judul kekasih orang. Tapi jangan khawatir, saya akan mengencangkan tutupan pintu hati sambil berujar, “tidak, terima kasih”.
Senin, 14 November 2011
Sahabat Kala Galau
Saya berkenalan dengannya ketika saya menginjak dewasa. Kedua orang tua saya yang menginisiasi perjumpaan pertama kami, dan semenjak saat itu saya seperti ketagihan. Mengunjunginya di hampir setiap akhir pekan.Seperti ibu peri, dia mengerti saya. Kepadanya seringkali saya membawa gundah gulana atau keluh kesah. Memang dia tidak bisa menghilangkannya, tapi ketika saya berada di dekatnya saya seperti lupa. Dia menyihir saya sehingga saya melayani permainannya, bahkan saya tidak mempedulikan peluh yang bercucuran di tubuh saya.
Saya merasa bahagia. Menemukan jalan pelarian dari setiap masalah yang waktu itu saya punya. Umur yang belum terlalu matang membuat saya kadang tidak bisa memutuskan dan menyelesaikan. Karenanya saya selalu kembali kepadanya berulang-ulang.
Anehnya saya tidak pernah bosan. Bahkan ketika saya tersadar kalau sebetulnya dia tidak pernah memiliki solusi dari semua pertanyaan yang saya bawa lari. Dia hanya berperan sebagai tempat pengalihan dari segala bingung, bimbang dan galau sehingga sebetulnya setelah saya mengakhiri waktu kunjungan, saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya tidak sepenuhnya terbebaskan.
Saya hanya bahagia setiap menjelang waktu pertemuan, penuh persiapan saya berdandan. Deg-degan seperti mau bertemu dengan selingkuhan, gemetar seperti menunggu pengumuman kelulusan. Saya menikmati momen-momen tersebut sambil saya beranjak dewasa, belajar bahwa dia memang tidak pernah punya jawaban dari semua apa yang saya takutkan. Dia hanya sebuah bentuk pengalihan yang sempurna.
Memang sekarang saya masih menyambanginya terkadang, tidak sesering dulu karena saya merasa sudah bisa menemukan jalan keluar dari setiap masalah yang menghadang. Kalaupun saya mengunjunginya, itu hanya sekedar untuk mewisatakan hati, menikmati masa-masa dulu ketika saya masih tergila-gila kepadanya. Sudah banyak yang berubah, dan sayapun tidak lagi merasakan apa yang dulu saya pernah rasakan. Saya tidak merasa lagi adrenalin saya terpompa kencang ketika saya bercengkrama dengannya.
Saya tidak menyesali apa yang terjadi sekarang ketika saya sudah merasa tidak lagi memiliki ikatan batin sekuat dulu dengannya. Rasa yang dulu pernah terpupuk subur lambat laun meluntur dihajar pergerakan usia. Saya juga tidak menyesali kalau saya pernah dibuat gila olehnya. Itu hanya sebagian kecil dari perjalanan hidup yang kemudian mengantarkan saya menjadi saya yang seperti sekarang. Dari dia saya pernah belajar bagaimana menyelesaikan bimbang, bagaimana mengatasi gamang.
Saya tidak bisa berjanji kalau saya akan berhenti menemuinya ketika saya merasa rindu. Terlalu banyak hal yang dia sudah pernah torehkan sehingga saya seperti tidak bisa lepas dari jeratan buaiannya. Berada di dekatnya saya tidak mengharapkan mendapatkan sesuatu, karena dari awal saya sudah yakin kalau dia hanya bakal menjadi sahabat saya yang pendiam. Yang tidak akan banyak berkelakar ketika saya dirundung kesedihan.
Dan saya yakin dia akan tetap demikian, setidaknya buat saya. Tidak peduli ketika semakin banyak orang yang juga berlari ke arahnya ketika butuh hiburan atau sekedar membuang galau. Dia akan setia kepada saya, hadir ketika saya butuh teman untuk berbincang dalam ramai. Dia akan tetap begitu selamanya, siap saya hentak kapanpun saya mau. Dia akan tetap menjadi sebuah lantai dansa yang saya puja.
Langganan:
Komentar (Atom)