Halaman

Senin, 31 Oktober 2011

Saya (bukan) Cina

Saya bukan cina. Dan kalaupun ada darah cina yang (masih) mengalir dalam tubuh saya, itu sudah mengalami pengenceran beberapa kali sampai kadarnya mungkin tidak bisa terdeteksi lagi. Memang ada jejak yang masih terekam seperti prasasti di bagian mata, membuatnya tidak sebesar orang kebanyakan, tapi itu tidak lantas menjadikan saya terlihat seperti cina. Banyak pribumi yang matanya seperti orang keturunan, dan itu tidak menjadikan mereka seperti cina.

Bukan saya tidak bangga dengan (sedikit) darah cina yang mengalir dalam pembuluh darah saya. Bukan saya tidak mengetahui bagaimana silsilah atas kelahiran saya terbentuk secara pasti dan tidak terbantahkan. Saya hanya sudah tidak merasakan bagaimana aura kecinaan dalam diri saya bisa saya umbar karena konsentrasinya yang bisa disebut minim. Tapi bagaimanapun saya tetap bangga. Saya bangga nenek saya seorang cina tulen, saya bangga ibu saya setengah cina. Dan saya bangga menjadi seperempat cina.

Saya bangga menjadi seperempat cina selayaknya saya bangga menjadi seorang sunda. Darah sunda yang kental membuat penampakan saya menjadi sangat indonesia meskipun tidak bisa dibilang “terlihat” seperti sunda sejati. Melanin yang diwariskan turun temurun sebagai pigmentasi dalam kulit saya berkadar lebih dari orang sunda kebanyakan, menjadikan saya “murtad” dari kekhasan orang sunda itu sendiri yang kebanyakan berkulit bersih.

Kulit saya juga bersih, tapi hitam bersih. Sesuatu yang kadang membuat orang salah tafsir mengenai asal usul saya. Tidak nampak seperti cina, dan tidak nampak seperti sunda. Kemudian bolehlah saya mengkatagorikannya sebagai unik, keunikan yang sering saya tertawakan sendiri ketika saya sedang bercermin. Hal yang mulai sering saya lakukan ketika saya sudah mengerti bagaimana pohon keturunan atas saya terbentuk. Mentertawakan keunikan saya, yang seperempat cina dan tiga perempat sunda tetapi tidak mewakili keduanya.

Hal itu tidak membingungkan saya, saya hanya terlahir seperti ini. Born this way. Tetapi yang membingungkan saya adalah ketika ada orang yang tidak saya kenal kemudian menebak kalau saya memiliki keturunan cina. Beberapa hari yang lalu, saya sedang berkumpul dengan teman-teman cina saya, yang pasti akan membuat saya semakin terlihat “berbeda” dari mereka. Dan ketika saya pulang dari toilet dan sedang berjalan ke arah meja kami seorang bapak-bapak cina menyapa saya dan bertanya, “Kamu masih ada keturunan cina yah?” Seketika saya bengong, dan hanya “Hah?” yang muncul dari mulut saya.

Bagaimana si Bapak bisa membaui kalau saya masih ada keturunan cina walau encer? Padahal saya merasa sudah tidak nampak cina sama sekali malam itu, jangankan nampak, darah “pelit” dan “irit” khas golongan cina saja sudah hengkang dari darah saya. Bukan rasis, tapi saya banyak belajar dari teman-teman cina dan nenek saya tentang “kepelitan” mereka. Jadi bagaimana Bapak itu menerka kalau saya masih ada keturunan cina? Apa karena teman-teman gaul saya malam itu semuanya cina? Tapi bukankah kalau seperti itu saya malah nampak menonjol seperti dakocan di tengah area salju. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.

Saya seperempat cina. Tetapi saya merasa sudah kehilangan esensi dari menjadi seperempat keturunan ras itu. Sudah tidak ada ciri menonjol yang bisa saya guar berlebihan karena saya memang tidak punya. Kalaupun ada yang masih melekat erat di darah saya mengenai kecinaan itu, itu hanya karena saya lebih menyukai cina. Sekiyan.

Kamis, 27 Oktober 2011

Berkatmu

Berkatmu aku rela berbincang-bincang lama dengan Tuhan dalam doa.

Sebetulnya aku belum tahu kalau itu kamu. Terlalu banyak rambu malah membuatku bingung untuk menterjemahkan semua pertanda kemana harus melangkah. Karenanya aku lebih banyak diam berharap setidaknya ada kunang-kunang yang datang dan menunjukkan kemana jalan untuk pulang.

Berkatmu aku jadi lebih sering meraba hati.

Mengeliminir apa yang dianggap tidak lagi pantas untuk dipajang di dinding perjalanan dan menggantinya dengan hiasan sesuai umur yang terpampang. Bukan berarti aku merubah diri menjadi orang lain yang mungkin asing, karena itu tidak mungkin. Aku hanya sekedar memperbaiki riasan yang pastinya tidak lagi sesuai dengan jaman.

Berkatmu aku seringkali larut dengan malam beserta gerimis yang turun perlahan.

Berharap. Mendamba. Atau paling tidak melambungkan impian tentang masa depan yang masih belum jelas gambarannya. Tapi itu tidak menggoyahkan tekadku untuk terus mengerami mimpi yang masih dalam cangkangnya. Belum tahu akan menetas seperti apa tapi setidaknya pasti membawa kebaikan. Bukan sesumbar, hanya yakin karena kebaikan niscaya akan berbuah kebaikan.

Berkatmu aku ingin tetap menjadi aku.

Kalau itu benar-benar kamu, maka kamu pasti akan menerima aku apa adanya. Mencinta tanpa syarat, mengasihi tanpa pamrih. Sederhana tapi mengalir deras seperti air bah yang meluncur dari puncak gunung, dan aku akan berusaha menampungnya tanpa tumpah. Karena bila benar itu kamu, maka aku harus melakukan hal yang sama. Mencinta dengan sepenuh nyawa.

Berkatmu aku terus berjalan. Tidak peduli pada rintangan yang pasti banyak menghadang.

Berkatmu aku terus menguntai doa. Tidak takut Tuhan akan bosan mendengar pinta yang hanya berkisar seputaran itu melulu. Hanya kamu dan kamu.

Berkatmu aku beranjak dewasa.

Berkatmu aku belajar bersabar dan menunggu.

Berkatmu aku tidak bosan bertanya. Benarkah itu kamu? Jodohku?

Senin, 24 Oktober 2011

RINDU

Rindu itu adalah ketika aku masih bisa merasakan rumput basah yang menggelitik telapak kakiku di halaman belakang rumahmu, padahal waktu sudah bergulir seiring dengan sobekan-sobekan almanak yang bertempo dinamis.

Mereka mengendap dalam labirin-labirin panjang tanpa sekat di sebuah padang ilalang subur tak terurus. Mempertontonkan ranum tarian angin yang membelai bulir-bulir kembang ilalang seakan menggoda dan mengajaknya berdansa.

Rindu itu adalah ketika aku masih bisa membaui aroma tubuhmu bahkan ketika kamu belum sepenuhnya masuk pintu. Menunggang udara, mereka menyapa lebut syaraf-syaraf penciumanku kemudian mencumbunya perlahan. Berkarat dalam rongga ingatan.

Perantaraan segala wahana, mereka minta dihadirkan meskipun aku tidak menghamba. Membuat limbung seketika karena aku seringkali tidak siap menerima hantamannya yang membabi buta. Mendesirkan selaksa lewat darah yang kuat terpompa menjelajahi setiap inchi bagian tubuhku, menjajahnya dengan leluasa.

Rindu itu adalah ketika aku masih seperti dalam rengkuhanmu padahal dulu itu malam terakhir kita berjumpa. Kamu pamit, tapi pori-poriku selayaknya terbungkam keringat yang meleleh gemetar dari erat yang tercipta. Mereguknya dan disimpan di jambangan rahasia untuk diuapkan sedikit demi sedikit sesukanya, bahkan ketika aku sudah hampir lupa.

Mereka menari. Bercanda. Bahkan tertawa lepas dalam palung-palung emosi yang memenuhi halaman rasa yang aku pelihara. Mereka sengaja menjebakkan diri pada palung buntu tanpa saluran sehingga tidak bisa lepas dari jeratan. Menenggelamkan diri dalam ceruk dangkal yang mudah tergambar membentuk bayangan. Memutar kisah antara aku dan kamu dalam bumbu kerinduan yang tertahan.

Rindu itu ketika kita berlarian di jalanan aspal tanpa sandal. Berebut berburu layang-layang yang putus tanpa tujuan. Tidak peduli lagi pada luka parut yang mungkin akan tergores, tidak takut pada matahari yang garang memanggang.

Dalam selokan mereka berdiam, dorman ketika lingkungan dirasa tidak menguntungkan. Seperti spora cendawan yang menyelubungi diri dengan selimut tahan ancaman, mereka hidup menghimpun tenaga untuk pecah suatu masa. Menyebarkan anak panah untuk menancap pada simpul-simpul syaraf yang membuatku tak bergeming menghadapi serangan.

Aku bertahan, meski kadang kala air mata meleleh perlahan. Membentuk alur memanjang sebagai pertanda suatu kepedihan. Aku menguatkan diri dengan mengkerut di pojokan, menonton kilas balik masa lalu yang menggantung dalam layar ingatan. Seperti godam yang berulang-ulang memukul ujung saluran pencernaan, tidak berhenti hingga semuanya termuntahkan tanpa sisa dan meninggalkan perasaan lega.

Rindu itu adalah seperti saat ini. Ketika aku rindu merindukan seseorang. Sepertimu. Dulu.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Unfaithful (repost)

Saya selingkuh.

Saya tahu saya salah. Saya melayani tawaran hati ketika hati saya sebenarnya telah termiliki. Saya bermain api yang saya sadari bisa membakar diri saya sendiri.

Saya tahu saya salah. Tidak perlu kemudian saya menyalahkan orang lain atau pasangan saya sebagai pemicu tindakan itu. Cukup saya menyadari kemudian merefleksi langkah yang selanjutnya harus ditempuh. Belajar dari segala kebodohan yang telah terlajur dilakukan. Menjadi dewasa dengan cara yang sebenarnya tidak dianjurkan.

Pasangan saya tidak salah. Meskipun dia posesif, meskipun dia banyak melarang saya untuk melakukan ini dan itu bahkan dengan alasan yang seringnya tidak masuk akal, dia tetap tidak salah. Harusnya saya bangga dicintai sedemikian rupa. Harusnya saya bersyukur dianugerahi pasangan yang menyayangi saya melebihi kapasitas saya menyayangi dia.

Selingkuhan saya tidak salah. Dia datang dari masa lalu, menggagas cerita lama untuk dirunut kembali, kemudian menawarkan hati warna merah jambu untuk direguk sarinya. Dia tidak salah, dia hanya datang disaat yang tidak tepat. Datang disaat hati saya sudah berlabel milik seseorang. Hati yang sedang dilanda berontak karena aturan yang makin hari dirasa memberatkan. Hati yang bimbang antara ingin bertahan dan ingin menyelesaikan.

Saya salah. Saya tergoda. Saya selingkuh.

Sebagai manusia biasa, meskipun saya tahu saya bersalah, saya ingin membela diri. Bukan mencari pembenaran, karena jelas-jelas salah. Bukan mencari bala bantuan yang akan mengiyakan karena sejuta iya tetap akan membuat saya sebagai yang bersalah. Saya hanya ingin menjelaskan, atau mungkin lebih tepatnya bercerita. Jangan dihakimi, saya sedang tidak butuh itu. Biarkan saya menghakimi diri saya sendiri. Dengan cara saya.

Saya tidak suka dilarang-larang. Tidak boleh gym, tidak boleh online di YM atau Gtalk, tidak boleh mengumbar cerita di blog, bahkan lebih parah saya dibatasi untuk bertemu teman-teman saya. Hidup saya tidak melulu soal dia, saya punya hidup saya sendiri. Saya ingin menjalani apa yang ingin saya jalani, meskipun tetap akan mengorbit pada dia. Jadi kenapa harus melarang-larang. Toh saya akan tetap hadir mengelilingi lintasan orbit dengan dia sebagai porosnya. Kenapa harus takut.

Lama-lama saya bosan. Saya terkekang. Saya mencari pelarian.

Ketika saya sedang berlari membawa hati yang bimbang, saya bertemu godaan. Manis. Godaan selalu manis, meski akhirnya pasti pahit. Saya salah karena saya melayani, saya salah karena saya kemudian tidak bertutur tentang kebenaran kalau saya sudah bersama seseorang. Entahlah, waktu itu saya memilih bungkam. Saya pikir saya akan keluar sebagai pemenang, ternyata saya jadi pecundang. Saya terlena. Hati saya terobati.

Beruntung saya menyadari dengan cepat sebelum semuanya menjadi rumit. Saya membuat pengakuan kepada keduanya. Membuat semacam list dosa. Saya tidak membela diri di hadapan mereka karena saya salah. Saya hanya ingin menyelesaikan semua urusan, mengakui apa yang memang harus saya akui.

Saya melepas keduanya. Hanya untuk bersikap adil menurut versi saya. Saya beranjak dari dua hati yang sama-sama ingin bertahan. Saya sudah terlanjur menyakiti keduanya, jadi saya tidak ingin menyakiti lebih salah satunya dengan memilih satu diantara mereka. Biarkan saya tetap menjadi saya yang bersalah, yang telah terlena dan tergoda. Saya yang berlari membawa kekeliruan kedalam kekeliruan baru.

Terakhir, untuk kesekian kalinya ijinkan saya untuk kembali mengucap maaf!

Note: Artikel ketiga yang diterbitkan di book of cheat jilid 3 oleh publisher Nulis Buku