Otak saya seperti manusia pada umumnya terdiri beberapa lobus. Frontalis, Parietalis , Oksipitalis dan Temporalis. Semua lobus memiliki peranan masing-masing yang membuat saya merasa sempurna. Saya hidup dengan kesempurnaan itu, meskipun kesempurnaan relatif menurut saya.Saya pikir saya akan selalu hidup dengan kesempurnaan itu, ternyata saya salah. Beberapa hari yang lalu ada kejadian yang membuat saya merasa seperti kehilangan sebagian otak saya, entah lobus yang mana. Sebagian otak saya direnggut paksa. Dicuri tanpa saya sanggup memberikan perlawanan.
Saya sedih. Bukan karena merasa menjadi tidak sempurna, karena saya ternyata masih baik-baik saja. Saya menangis. Tapi bukan karena saya merasa bahwa saya akan cacat selamanya. Saya hanya berlaku seperti manusia, terpuruk ketika dilanda sebuah musibah. Musibah yang mungkin menurut sebagian orang pasti tidak seberapa. Musibah yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebanyakan orang di luaran. Tapi saya hanya manusia biasa. Bolehlah saya sekedar bersedih atau menangis.
Sekarang saya hidup dengan sebelah otak….
Laptop saya hilang digondol maling….
Data-data penelitian selama hampir 2 tahun hilang tanpa berbekas….
Proposal-proposal riset yang sedang saya garap ikut raib tak berjejak….
Draft novel yang sudah saya rintis hampir 3 tahun yang lalu dan sudah memasuki bab-bab akhir kini hilang tinggal kenangan….
Memori saya banyak tersimpan disana, dan ketika itu direnggut paksa maka saya merasa tanpadaksa. Cacat. Hidup dengan otak yang tidak sempurna.
Saya belajar mengikhlaskan, karena yang sudah terjadi tidak mungkin diulang kembali. Saya belajar ridho karena dengan ridho saya berharap akan mendapat pengganti yang lebih istimewa. Sesuatu yang telah disiapkan Tuhan yang akan membuat otak saya bukan hanya kembali utuh tapi otak dengan kapasitas yang jauh lebih besar.
Awalnya saya marah. Tapi kemudian saya ingat nasihat seorang karib. Dia bilang, beruntunglah saya karena masih mendapatkan cobaan dari Allah karena artinya Allah masih memperhatikan dan sayang sama saya. Cobaan ini hanya sebuah ujian bagi saya untuk naik ke level keimanan yang lebih tinggi. Ketika saya mampu melewatinya dengan sempurna maka saya akan termasuk orang yang dipercaya.
Tak ada lagi yang saya bisa lakukan selain mengangguk dan mengucapkan amin berulang kali.
Apisindica: memulai lagi hidup dari titik nol.


