Halaman

Selasa, 20 Juli 2010

Sebelah Otak

Otak saya seperti manusia pada umumnya terdiri beberapa lobus. Frontalis, Parietalis , Oksipitalis dan Temporalis. Semua lobus memiliki peranan masing-masing yang membuat saya merasa sempurna. Saya hidup dengan kesempurnaan itu, meskipun kesempurnaan relatif menurut saya.

Saya pikir saya akan selalu hidup dengan kesempurnaan itu, ternyata saya salah. Beberapa hari yang lalu ada kejadian yang membuat saya merasa seperti kehilangan sebagian otak saya, entah lobus yang mana. Sebagian otak saya direnggut paksa. Dicuri tanpa saya sanggup memberikan perlawanan.

Saya sedih. Bukan karena merasa menjadi tidak sempurna, karena saya ternyata masih baik-baik saja. Saya menangis. Tapi bukan karena saya merasa bahwa saya akan cacat selamanya. Saya hanya berlaku seperti manusia, terpuruk ketika dilanda sebuah musibah. Musibah yang mungkin menurut sebagian orang pasti tidak seberapa. Musibah yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebanyakan orang di luaran. Tapi saya hanya manusia biasa. Bolehlah saya sekedar bersedih atau menangis.

Sekarang saya hidup dengan sebelah otak….

Laptop saya hilang digondol maling….

Data-data penelitian selama hampir 2 tahun hilang tanpa berbekas….

Proposal-proposal riset yang sedang saya garap ikut raib tak berjejak….

Draft novel yang sudah saya rintis hampir 3 tahun yang lalu dan sudah memasuki bab-bab akhir kini hilang tinggal kenangan….

Memori saya banyak tersimpan disana, dan ketika itu direnggut paksa maka saya merasa tanpadaksa. Cacat. Hidup dengan otak yang tidak sempurna.

Saya belajar mengikhlaskan, karena yang sudah terjadi tidak mungkin diulang kembali. Saya belajar ridho karena dengan ridho saya berharap akan mendapat pengganti yang lebih istimewa. Sesuatu yang telah disiapkan Tuhan yang akan membuat otak saya bukan hanya kembali utuh tapi otak dengan kapasitas yang jauh lebih besar.

Awalnya saya marah. Tapi kemudian saya ingat nasihat seorang karib. Dia bilang, beruntunglah saya karena masih mendapatkan cobaan dari Allah karena artinya Allah masih memperhatikan dan sayang sama saya. Cobaan ini hanya sebuah ujian bagi saya untuk naik ke level keimanan yang lebih tinggi. Ketika saya mampu melewatinya dengan sempurna maka saya akan termasuk orang yang dipercaya.

Tak ada lagi yang saya bisa lakukan selain mengangguk dan mengucapkan amin berulang kali.

Apisindica: memulai lagi hidup dari titik nol.

Rabu, 14 Juli 2010

Cin dan Can

Saya memanggilnya Cin. Entah untuk cina atau untuk cinta. Atau mungkin untuk keduanya, cina yang saya cintai.

Cin hadir dengan cara yang tidak biasa, cara yang sama sekali di luar dugaan bisa membuat saya jatuh hati kemudian mencintainya setengah mati. Bertemu pertama kali di depan gerai kebab di kampus kami kemudian dilanjutkan dengan makan siang di salah satu café. Semuanya biasa saja, kesan awal tidak ada yang patut untuk diumbar berlebihan, hanya saja saya suka sekali melihat matanya. Sipit.

Dia memanggil saya Can. Pencarian panjang sebelum akhirnya berakhir pada panggilan itu. Saya pernah bertanya kenapa harus Can, dan dia menjawab Can untuk Candu. Katanya saya ibarat candu buat dia. Membuatnya ketagihan.

Semenjak itu Cin dan Can berjalan dalam koridor cinta yang tidak biasa. Berjalan dengan ego dan kepentingan masing-masing tetapi pada akhirnya tetap bertemu di tengah-tengah ketika semuanya sudah lelah. Saling mengelap keringat yang meleleh di dahi untuk sebuah alasan yang seringnya tidak dimengerti. Kami saling menikmati ketidakpastian, mereguk kasih yang membingungkan.

Sekarang Cin mau pergi. Tidak akan ada lagi ketidakpastian. Tidak akan ada lagi saling memperhatikan dalam ruang yang membingungkan. Semua jalan cerita dan peran sudah saatnya untuk ditamatkan, menunggu episode-episode baru dengan pemain yang pastinya digantikan. Tidak akan ada lagi Cin, tak akan muncul lagi Can. Cin dan Can sudah terbundel dalam satu scenario yang akan disimpan dalam laci kenangan. Mungkin nanti akan bisa ditayangkan lagi, tapi pastinya hanya sebagai film documenter. Atau bisa jadi hanya sebuah dongeng sebelum tidur.

Malam ini Can memakai baju pemberian Cin dan membawanya tidur. Berharap Can akan jatuh ke dalam mimpi bersama Cin untuk yang terakhir kalinya. Apapun itu nanti ceritanya.

Selamat jalan Cin…

Bila aku tak berujung denganmu…
izinkan rasa ini kukenang slamanya…
Tuhan tolong hapus rasa cintaku…
Bila tak Kau izinkan aku bersamanya…


Apalah Arti Cinta dari She, mengalun lembut mengantarkan Can melepas Cin

Senin, 12 Juli 2010

Dia (benar-benar) Pergi

Aku tidak tahu harus bicara apa ketika kamu akhirnya bilang kalau kamu akan pergi. Rasanya tadi malam aku mendengar hatiku robek. Perih. Terbayang di pelupuk mata kalau aku akan kehilangan semua momen yang hampir setahun lebih ini membuncah memenuhi rongga dada, menggoda untuk direalisasikan lagi dalam nyata.

Aku sadar aku bukan siapa-siapamu, jadi aku tidak memiliki cukup alasan untuk menahanmu agar tidak pergi. Kalaupun aku punya, aku tidak akan menggunakannya untuk sekedar menggugat. Aku tidak ingin menjadi egois apalagi ini berhubungan dengan masa depanmu. Akhirnya kamu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanmu yang sekarang dan menerima pekerjaan baru di Negara tetangga itu. Meninggalkan aku yang memang bukan siapa-siapa.

Selama ini aku bohong. Kalau aku pernah bilang sudah berhenti mencintaimu, itu semua bohong. Aku memang berusaha untuk berhenti, tapi aku tidak sanggup. Pesonamu tidak bisa enyah bahkan untuk sekejap dalam imaji yang terkungkung memori. Memang aku tidak menunjukkannya seperti dulu ketika kamu juga melayani, menyambut semua kedekatan kita dengan apa yang disebut perhatian. Tapi ketika kamu mempertontonkan penolakan, egoku terlalu besar untuk mencobanya lagi bahkan ketika kamu datang kembali.

Kamu tahu, kamu adalah satu-satunya teman yang pernah membuatku jatuh cinta. Tabu memang untuk jatuh cinta pada seorang teman, seorang sahabat. Tapi hati tidak bisa dibohongi. Ketika kamu datang dengan semua keluh dan sifatmu yang tidak biasa, itu justru membuatku jatuh cinta. Membuat aku berusaha menunjukkan kalau aku bisa diandalkan. Mungkin aku buta, memilih buta tepatnya tapi aku memiliki keyakinan kalau kamu pantas untuk diperjuangkan. Jangan tanyakan alasannya, karena sampai detik ini aku juga tidak pernah tahu.

Sekarang kamu akan pergi. Artinya mungkin akan sedikit terlambat kalau aku mengagas lagi sesuatu yang dulu pernah kita bicarakan. Mungkin juga jawabanmu akan tetap sama seperti saat itu, tapi setidaknya aku ingin jujur lagi kepadamu. Aku tidak pernah bisa mematikan perasaanku ini. Bolehlah banyak orang yang hilir mudik memasuki pelataran hatiku, tapi kamu masih kusisakan ruang teristimewa di sana. Karena kamu tidak akan pernah mati dan aku tidak akan pernah berhenti berharap. Aku yakin suatu hari kamu akan mengerti.

Jarak memang harusnya bukan menjadi suatu penghalang karena itu bisa diakali. Luasan yang terbentang harusnya bukan rintangan karena itu juga bisa dimanipulasi. Tapi hati dan perasaan tidak bisa diakali ataupun dimanipulasi. Aku bisa saja berpura-pura berhenti mencintaimu, tapi batinku berontak. Aku juga tidak bisa serta merta mematikannya begitu saja, apalagi aku merasa masih punya harapan. Tapi ketika sekarang kamu memutuskan untuk pergi, akankah ini juga merupakan pertanda kalau aku harus berusaha lebih kuat untuk melupakan dan melepaskanmu? Aku tidak tahu.

Tadi malam aku seperti dipaksa untuk menelan sesuatu yang sebenarnya aku tidak suka. Dijejalkan begitu saja tanpa aku memiliki kesempatan untuk menolak. Tapi kamu jangan khawatir, aku pasti akan baik-baik saja seperti episode yang pertama. Butuh waktu memang, tapi aku akan bisa melewatinya seperti dulu. Hilangkan perasaan bersalahmu hanya karena melihat aku mengeluarkan air mata. Aku hanya sedih.

Buat kamu, cinta sebelah tanganku. Aku mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga dengan memulai hidup yang baru kamu akan belajar menjadi lebih dewasa dengan tidak banyak mengeluh. Semua memiliki konsekuensi, seperti halnya aku yang mencintaimu meski dalam diam atau meski dalam perih. Jadi hiduplah dengan keputusan yang sudah kamu buat lengkap dengan konsekuensinya.

Perlu kamu ingat. Aku tidak akan pernah berubah. Masih kusediakan sebuah tempat teristimewa dalam kuadran hatiku bila suatu saat kamu ingin kembali karena mungkin cinta ini tidak akan pernah hilang. Biarkanlah dia aku dormankan dan kutimbun dalam tumpukan cerita yang akan aku jelang kemudian.

Aku mencintaimu (dalam diam). Selalu!!!

Jumat, 09 Juli 2010

Jangan Menyerah!

Hampir setahun yang lalu kita pernah membuat semacam perjanjian, dan aku yakin kamu pasti juga masih ingat. Ya mungkin bukan perjanjian mutlak karena lebih tepatnya aku yang memintamu untuk bekerja sama demi satu tujuan. Tujuan yang sebenarnya tidak hanya menguntungkan aku tetapi kamu juga akan lebih terekspose. Aku yakin waktu itu kamu setuju.

Kita bekerja bahu membahu di setiap kesempatan yang tercipta, menganggap bahwa apa yang kita berdua cita-citakan bukan impian semu yang tidak bisa diwujudkan. Kita berjuang melewati semua rintangan yang seringkali hinggap tanpa diundang, mengikis sedikit demi sedikit semangat yang mulanya berkobar penuh keyakinan.

Mungkin aku seringkali memaksamu untuk bekerja di luar kemampuanmu, menganggap bahwa kamu akan segera terbiasa dengan apa yang aku rencanakan. Andai saja aku bisa menghindari kebiasaan memaksa dan menekanmu seperti itu, mungkin kamu akan jauh lebih kooperatif. Tapi bukankah kamu dari awal sudah setuju untuk bersinergi denganku, berjalan bersama demi masa depan yang diharapkan akan jauh lebih baik. Ingat, kita berdua ingin akhir yang indah. Akhir yang akan membuatmu selalu berdampingan dengaku. Tidak akan bisa dipisahkan.

Aku tahu pasti kamu seringkali bertanya kenapa aku sedemikian memaksamu seperti itu. Kamu ingin tahu alasanku? Biarkan sekarang aku jujur. Aku memaksamu atau menekanmu karena aku percaya padamu. Percaya bahwa kamu pasti mampu melewati semua ini, mampu berjuang bersama denganku melewati rintangan. Aku percaya dengan daya recoverymu yang cepat, karena begitu kamu lelah dan aku menizinkamu berisitirahat, tidak lama kamu akan bisa aku ajak bekerja sama lagi.

Kalau kamu bosan, aku bisa mengerti. Tapi tolong jangan seperti ini. Jangan berontak dengan memboykot semua kerja keras kita. Tujuan akhir itu memang masih dirasakan jauh, tapi kalau kita menitinya bersama pasti akan sampai meski memakan waktu yang lama. Aku akan bersabar, asal kamu tidak lantas berhenti bersinergi denganku. Lihatlah ke belakang, sudah berapa banyak yang kita berdua korbankan untuk sampai ke titik sekarang? Jadi jangan menyerah. Jangan buat apa yang sudah kita perjuangkan dari awal berakhir sia-sia.

Apa lagi yang harus aku berikan kepadamu? Suplementasi semangat sudah aku pompakan. Suplementasi energy, aku memberimu banyak tambahan. Mungkin memang kurang, tapi hanya segitu yang aku mampu berikan. Tidak masalah seharusnya karena selama kita yakin, kita akan keluar sebagai pemenang. Aku bilang kita. Kita berdua akan jadi pemenangnya di ujung batas pencapaian.

Aku mohon, jangan berhenti mencintaiku. Karena sekali kamu berhenti maka aku akan sulit untuk meyakinkanmu kembali. Aku sudah teramat jatuh cinta kepadamu walaupun bentukmu masih jauh dari yang kuharapkan. Tapi percayalah aku mengagumimu bagaimanapun keadaanmu sekarang karena aku memiliki keyakinan bahwa kamu akan berubah. Bermetamorfosis ke bentuk yang paling sempurna. Karenanya sekali lagi aku meminta, tolong jangan berhenti berusaha untuk menjadi lebih sempurna.

Apisindica sedang berbincang dengan otot di sebagian besar tubuhnya. Sudah mau setahun nge-gym, tapi bentuk tubuhnya masih begini-begini aja. Entah bagian apanya yang salah?