Halaman

Kamis, 31 Desember 2009

Renungan Akhir Tahun

Tuhan memang selalu baik terhadap saya.

Tahun ini akan berakhir dan tidak ada rahmat Tuhan yang saya sangsikan. Semuanya saya syukuri baik yang membuat bahagia maupun yang membuat sedih. Saya sadar, perasaan sedih mungkin karena pemahaman saya terhadap maksud Tuhan yang agak berbeda. Tuhan tahu yang terbaik buat saya, jadi ketika sesuatu yang saya harapkan tidak terkabul dan membuat saya sedih, justru Tuhan sedang menyelamatkan saya. Tidak pernah Tuhan menzhalimi umatnya. Itu yang saya yakini.

Tahun ini saya banyak diberi berkat. Mulai dengan pindah kerja, meskipun untuk itu saya harus rela melepaskan jabatan dan kenyamanan yang saya dapatkan selama ini, tapi saya semakin dekat dengan mimpi saya. Menjadi Doktor. Tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaan saya ketika semakin mendekati mimpi dan merealisasikan angan. Saya rela menukarkan apapun untuk itu.

Tahun ini juga banyak sahabat-sahabat yang datang menyambangi. Pertemanan yang tidak terduga bisa terjalin sampai seerat ini. Potongan-potongan tulisan dan serakan kata dalam wacana yang akhirnya mempertemukan saya dan mereka. Sahabat-sahabat yang lahir dari sebuah blog yang kemudian tidak hanya bertukar kata tapi terealisasikan dalam dunia nyata sampai saat ini. Sahabat yang dikirim Tuhan untuk kembali membuat saya bahagia dan merasa bahwa saya tidak pernah sendirian dan ditinggalkan.

Sahabat baru juga ternyata lahir dari bukan hanya blog, tapi Tuhan mengirim sebagian dari mereka melalui perantaraan alat-alat berat pembentuk tubuh. Sahabat-sahabat baru yang saya temukan di gym. Sahabat yang kadang (sering) memompakan semangat tidak hanya pada saat latihan tetapi juga di kehidupan-kehidupan di luar itu. Para sahabat yang membuat saya tertawa dengan cara yang berbeda, sahabat yang seringkali membuat saya berpikir, “kok badannya bisa bagus sih?”

Bukan hidup namanya kalau hanya dikasih senyum dan bahagia. Sedih dan air mata jadi paket lengkap dalam hidup. Tahun ini juga saya dianugerahi dua hal tersebut. Saya dikirim tiga orang yang membuat saya mencicip air mata. Mata segaris yang dengan ketegaannya memaksa saya kembali menapak bumi setelah melambungkan saya bukan hanya ke langit ketujuh, tapi ke nirwana. Si cinta sebelah tangan saya, yang kemudian mengajarkan saya untuk TIDAK jatuh cinta lagi pada kekasih orang. Terakhir sahabat baru saya yang seringnya membuat saya terintimidasi oleh perasaan saya sendiri . Tapi berkat semua itu saya mengenal kompromi, mengetahui cara berdamai dengan keadaan, bahkan berdamai dengan diri sendiri.

Di tahun yang baru besok, seperti halnya doa yang terucap ketika saya ulang Tahun kemarin. Saya hanya ingin bahagia. Bahagia dengan cara yang memang telah Tuhan gariskan buat saya. Bahagia yang saya rasakan bahkan ketika banyak hal yang tidak bisa saya raih. Bahagia karena saya yakin saya masih punya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan saya, memiliki keluarga yang selalu mencintai dan mendukung saya, serta para sahabat yang selalu ada buat saya. Maka kebahagiaan saya sudah LEBIH dari cukup!

SELAMAT TAHUN BARU 2010 SEMUANYA!!!

Selasa, 29 Desember 2009

Kado Spesial

On the phone with XX:

XX : happy birthday Apis! I wish you all the best ya..

Me : makasih ya, amiiin. Eh gimana kabar semua keluarga di Surabaya? Sehat-sehat kan?

XX: Alhamdulillah semuanya sehat. Aku sedemikian kangennya sama Surabaya, sampai jarang di rumah lho, jalan-jalan terus.

Me: Pastinya lah, secara kamu juga udah lama gak pulang kan? Batuk kamu udah sembuh?

XX: Batuknya masih nih, tapi udah agak baikkan. Aku seneng disini, nggak sestres di Jakarta.

Me: Dooh segitu cintanya sama Surabaya. Pindah kesana aja!

XX: Eh, sebenernya aku mau ngasih kado sama kamu, tapi berhubung aku cuti sampai tanggal 3 takutnya keburu basi. Aku kasih by telpon aja yah?!


Me: Mana bisa ngasih kado via telpon. Aku gak mau denger kamu nyanyi yah! Hahahaha

XX: Bisa. Makanya dengerin dulu. Aku udah cerita belum kalau aku resign dari kantor lama. Dan mulai tanggal 4 itu aku mulai kerja di kantor yang baru?

Me: Hah? Belum cerita kamu. Tapi masih di Jakarta kan? Terus kadonya bagian mana?
XX: Aku training di Jakarta 2 minggu, abis itu pindah ke cabang BSD.

Me: Hahahaha, ke BSD juga. Kadonya?

XX: Kadonya ya itu. Sekarang aku kerjanya office hour, Monday to Friday. Nggak pake shift.

Me: Pengaruhnya sama aku?

XX: Apis, kemarin kita tinggal di daerah yang sama tapi jadwal kita jarang sekali match karena jadwal kerja yang nggak tentu. Sekarang aku sabtu libur, malem juga available.

Me: terus??

XX: Ya, kita bisa lebih serius aja untuk menjajal segala kemungkinan. Aku tuh serius tahu sama kamu, cuma kemaren jadwal hidup aku tuh ganggu. Kerja di mall, pake shift, kerjaannya numpuk. Ya sekarang memang nggak jadi manajer lagi, tapi aku lebih senang. Kita bisa sering ketemu. Aku memang nggak mau buru-buru, tapi sekarang menginisiasi untuk saling bertukar pemikiran jadi semakin besar kemungkinannya. Itu kado buat kamu!!

Me: Hah?


Saya tiba-tiba melihat ribuan kuncup bunga beraneka warna mekar serentak. Hati saya penuh, entah oleh perasaan apa namanya. Yang pasti saya senang mendapatkan kenyataan kalau dia ternyata memikirkan semuanya.

Dia, seseorang yang saya kenal melalui perantaraan teman. Tinggal sedaerah dengan tempat saya tinggal sekarang, ternyata memberi kado paling istimewa di umur saya yang ke-28. Memang seperti yang dia bilang, saya maupun dia tidak mau terburu-buru untuk memulai segalanya. Kita hanya sedang berusaha menginisiasi dan menjajal semua kemungkinan yang terpampang di depan. Bertukar pemikiran sekedar untuk mengetahui seberapa cocok kami berdua dalam memandang sesuatu.

Dia, dengan kebiasaan merokoknya yang pernah membuat saya mengkhawatirkannya teramat sangat ternyata melakukan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Mengubah kenyamanan hidupnya hanya untuk mengambil resiko melihat persepsi saya dan menjajal kemungkinan untuk menyatukan hati saya dan hatinya dia. Saya tahu, mungkin saya bukan alasan satu-satunya atau bahkan bukan alasan utamanya untuk mengganti haluan karirnya. Banyak yang ada di dalam kepalanya, saya tidak tahu. Yang pasti ketika saya dijadikan salah satu alasan minornya, saya bisa apa kecuali mensyukurinya.

Dear You, terima kasih di hari ulang tahun saya kamu memberi sesuatu yang nggak pernah saya pikirkan sama sekali. Sesuatu yang tidak bisa ditakar dengan uang sekalipun. Saya siap untuk saling bertukar pandangan, mengawal rasa yang ada untuk terejawantahkan menjadi apa akhirnya saya tidak tahu. Yang pasti saya akan sangat senang menjalani semuanya. Saya berharap, kamu adalah jawaban atas doa-doa saya selama ini.

Minggu, 27 Desember 2009

28 on 27

27 on 27. Qiu Qiu. Saya pernah berharap bahwa pada angka itu saya akan mengalami titik balik. Titik dimana saya mengakhiri petualangan di dunia semu, menamatkan perjalanan saya pada titian warna kelabu. Ternyata saya masih sebegitu betahnya dalam kesemuan itu, masih sebegitu nyamannya diayun ambingkan belenggu kelabu. Sampai hari ini, 28 on 27.

Saat ribuan detik bergerak menuju pergantian waktu. Saat ribuan panah terlontar tanpa sarana. Saya duduk dalam kesederhanaan. Menikmati kesenyapan malam untuk sekedar menapaki hening. Berusaha mentafakuri segala yang pernah menimpa selama bertahun-tahun kebelakang. Hari ini saya diberi kenikmatan lebih oleh Tuhan. Menjejak usia 28.

Saya tidak muda lagi, saya tahu. Saya sudah harus bersikap dewasa, dari beberapa tahun yang lalu seharusnya. Saya harus lebih memikirkan jalan kedepannya akan seperti apa. Kadang jalan sudah terbentang menantang, maka saya tahu yang saya harus lakukan hanyalah berusaha menjalaninya dengan baik. Tanpa pemberontakan yang justru akan membuat jalannya jadi bergelombang.

Malam ini, tak lagi ada pesta. Tak ada lagi perayaan dengan menghentak lantai dansa. Tak ada lagi berhura-hura. Saya hanya duduk sendiri, menatap redup lilin yang saya letakan di atas kue tart pemberian seorang karib. Saya merenung tentang semuanya, saya berdoa akan banyak harap. Semuanya saya lakukan dalam perasaan indah. Penuh kepasrahan.

Saya Apis, malam ini melontarkan ribuan ucap syukur atas umur yang Tuhan telah beri. Menguntai ribuan doa demi keinginan yang ingin terkabulkan. Tak lupa dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada semua keluarga, teman, sahabat, kolega atas berbagai pengalaman, doa, kesenangan dan kesedihan yang telah diberikan selama ini. Saya sadar tanpa kalian semua, Apis tidak akan sekuat ini. Ijinkan saya lebur dalam syukur karena dianugerahi kalian semua. Sesuatu yang tidak akan saya sesali sampai mati.

Hari ini saat saya berada di titik 28 on 27. Saya hanya bisa berharap dapat mengalami transformasi lanjut menjadi sosok yang jauh lebih baik dari sekarang. Berubah menjadi seseorang yang hidup dalam kebenaran menurut Tuhan, bukan lagi kebenaran menurut saya.

Tuhan, saya hanya ingin bahagia. Kalaupun bahagia menurut saya sangat sulit untuk dikabulkan, maka ijinkan saya meminta diberi kebesaran hati untuk berdamai dengan jalan yang telah Engkau gariskan. Ijinkan saya meminta perasaan sederhana yang terus bertambah subur dalam memaknai takdir yang telah Engkau tuliskan. Biarkan saya terus belajar mengerti bahagia yang telah Engkau tentukan.

Selasa, 22 Desember 2009

Untuk Mami

Namanya Ika. Umurnya 50 tahun. Dia lahir dari ayah yang asli Bandung dan ibu yang peranakan Tionghoa. Sedari kecil katanya dia dididik untuk bekerja keras dan percaya akan kekuatan doa. Berkat doa itu pulalah katanya dia juga mampu tidak hanya mengenyam mimpi tapi mewujudkannya menjadi jalan hidup. Sampai sekarang.

Ketika umurnya belum genap 22 bahkan saat gelar yang dibanggakannya belum berhasil dia raih, dia mengambil langkah paling berani sepanjang hidupnya. Dia menerima ajakan menikah dari kakak kelasnya jaman SD yang ternyata juga seniornya waktu di universitas. Dia menikah dengan laki-laki yang baru saja memulai kehidupannya, laki-laki yang juga punya cita-cita sama luhurnya dengan dia. Bahagia, hanya itu yang ada dalam pikirannya waktu itu.

Dari pernikahan itu dan dari rahimnya yang agung kemudian lahirlah apisindica dan apisdorsata. Saya dan adik saya. Dia kemudian tidak hanya menjelma menjadi seorang ibu yang hebat tetapi menjadi wanita tangguh. Wanita yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk ratusan pasien dan kami berdua anaknya. Wanita yang sedemikian rela dibebani oleh ocehan kami sampai saat ini, bahkan menjadi wanita yang sedemikian cekatan membagi waktunya dan seringkali mengabaikan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan saya dan adik saya.

Saya memanggilnya Mami.

Mami, di hari ibu ini saya ingin mengucapkan terima kasih atas semua cinta dan kasih sayang yang tercurah tiada henti dari saya lahir sampai sekarang. Saya tahu Mami merasa itu sudah kewajiban Mami, tapi di mata saya itu merupakan pengabdian akan tujuan hidup yang selalu Mami dengung-dengungkan. Saya belajar dari semua itu Mi, mencoba menjalani jalan hidup dengan satu tujuan. Membagi kasih.

Saya tahu, saya belum bisa membahagiakan Mami menurut versi saya maupun versi Mami. Tapi ketika Mami bilang, kalau saya hidup dengan benar, tidak pernah menyakiti orang, dan selalu percaya akan Tuhan, Mami sudah cukup bahagia. Karenanya saya mencoba untuk berlaku seperti itu walau kadang ternyata sulit sekali menjalankannya. Saya berusaha Mi, tidak lain hanya ingin membuat Mami bahagia. Karena hanya itu satu-satunya yang saya ingin wujudkan selama saya hidup. Melihat Mami bahagia.

Saya juga meminta maaf kalau masih ada kelakuan yang ternyata tidak Mami harapkan. Saya sadar, diucapkan atau tidak, Mami tahu banyak tentang saya. Banyak yang ternyata diluar kuasa saya. Seandainya saya bisa memilih kemana angin akan menerbangkan saya, tentu saya akan memilih untuk selalu berada di kisaran yang Mami harapkan. Sayang, angin kadang tidak bisa diajak kompromi, tidak bisa diajak berkontemplasi. Tetapi saya tetap berusaha Mi, percayalah.

Di hari ibu ini, ingin rasanya pulang ke rumah sekedar untuk membasuh kaki Mami dan kemudian meminta doa serta maaf di pangkuan Mami seperti dulu. Saat kenyataan hidup yang menghampiri tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Mami adalah kekuatan saya untuk tetap bertahan, tetap berjuang karena tujuan hidup saya adalah melihat Mami bahagia dan bangga.

Mom, there are so many things that I like in this world, such as studying, going out, games. But the best of all the things that I like is having a great mother like you. Thanks for always being there. Being a best mom, best friend and best companion. All the romantic words wouldn’t be able to express the love that I have for you. Just look inside and you would understand.

HAPPY MOTHERS DAY MOM!!!! I LOVE YOU SO MUCH!