Halaman

Rabu, 31 Desember 2008

Reunion



Pasti kalian mikir kok gue jalan sama tante-tante yah? Igh...bukan kalee, mereka bukan tante-tante. Mereka itu temen gue kuliah jaman S2. Iyah sih udah agak berumur, secara mereka dah masuk kuliah waktu gue masih SD. Hihihi

Pada tahu lah kalo S2 kan juga banyakan dari daerah-daerah gitu, terus orangnya pada serius. Bener-bener calon peneliti atau dosen deh. Beda sama gue yang cuman pengen kuliah doang. Nah temen gue yang berdua ini juga kuliahnya rada-rada sama lah sama gue. Santai bener. Ngartis abies. Teuteup. Tapi jangan salah, kita bertiga lulus cum laude lho! Makanya suka heran sama yang kuliahnya bener-bener tapi hasilnya kok segitu doang (Plak..gue minta ditampar!)

Setelah hampir setahun setengah nggak ketemuan, akhirnya kemaren pas gue ulang tahun kita ketemuan juga. Di Hanamasa. Tetep pokoknyamah di tempat makan. Kita itu penjahat kuliner, nggak bisa liat cafe baru buka pasti dijajal. Makan paling gila kita adalah waktu gue abis ngemsi di Danar Hadi, dapet voucher makan sejuta di jakarta. Per voucher seratus ribu. Jadi gue punya sepuluh voucher.

Pulang kuliah kita bela-belain ke jakarta buat ngabisin voucher gue itu. Bukannya maruk tapi limit waktunya udah tinggal sebentar. Kebayang donk, makan di beberapa tempat seharian. Sampe begah perut kita. Tapi seru. Gila-gilaan yang jadinya kayak orang gila beneran.

Karena kesibukan masing-masing. Yang satu malah udah punya anak dan yang satu sibuk pacaran, kejar target merit tahun 2009. Kita jadi jarang ketemu. Kalau sms-an sama chating sih sering tapi nampak gak seru aja kalau nggak ketawa-ketawa langsung. Makanya kemaren pas ketemu lagi rasanya semua kangen itu ilang. Jadi inget jaman kuliah dulu.

Ternyata meskipun kita jarang ketemu nggak ada yang berubah dari kita yah?! Tetep kayak dulu. Seru abis. Pokoknya setelah ini harus sering ketemuan lagi yah. Tapi Teh Wini mau merit dan tinggal di malaysia yah? Ya sudah lah, kita pasti bahagia dengan jalan kita masing-masing. Loph u Dear Friends.

Selasa, 30 Desember 2008

Birthday Gift


Gue baru tahu kalo si dia yang nggak mengenal menyerah dan berusaha mendapatkan perhatian dan rasa sayang gue itu ternyata romantis abis. Kalau dari tingkah laku sih gue dah bisa nebak kalau dia orangnya romatis. Tapi nggak nyangka aja kalo dia juga jago buat puisi yang bikin hati gue meraung-raung.

Kurang apa yah dia? Gue juga nggak ngerti. Dia sudah banyak berkorban demi perasaannya. Semua cara sudah dia lakukan hanya untuk membuat gue kemudian tertarik. Dasarnya aja gue yang Ndablek. Kayak hari ini (27 Desember), pas gue ulang tahun dia yang pertama memberi gue nyanyian selamat ulang tahun. Padahal tanggal 27 baru aja lahir. Dia nelpon gue jam 00.00.03. Nampak niat gak sih?

Terus tadi pagi waktu gue baru bangun, di kamar gue udah ada kue tart. Pas gue baca kartu ucapannya, ternyata dari dia. Bukan tentang kue tartnya tapi di kartunya itu dia bikin puisi yang tadi gue bilang bikin gue meraung-raung.

I can’t give you gold
Or silver, or even a flowers to hold

Only love and listening ear
Tell you I’m always near
May God’s love beyond compare
Always be with you
Today, and all your whole life through


Time is too slow for those who wait
Too swift for those who fear

Too long for those who grieve

Too short for those who rejoice
But for those who in love (which is you and me)

Time is eternal


Today on your speciall day
No wonderfull gifts are given to you

No shiny jewels are here for you
No glamorous clothes, no excellent rhymes

But look up there dear soulmate
You’ll see a blinking star

High up in the twilight sky

Saying “soulmate forever”, that’s you and me


Kelar baca gue nggak bisa ngomong apa-apa. Hati gue penuh. Hati gue menggelembung diisi perasaan cinta dan sayang yang tiba-tiba membuncah.

Sabtu, 27 Desember 2008

My Birthday


Ribuan detik kuhabisi
Jalanan lenggang kutentang
Oh, gelapnya, tiada yang buka
Adakah dunia mengerti?

Milyaran panah jarak kita
Tak juga tumbuh sayapku
Satu-satunya cara yang ada
Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah, wahai waktu
Ada “Selamat Ulang Tahun”
Yang harus tiba tepat waktunya
Untuk dia yang terjaga menantinya

Tengah malamnya lewat sudah
Tiada kejutan tersisa
Aku terlunta, tanpa sarana
Saluran tuk ku bicara

-Selamat Ulang Tahun, Dewi Lestari-

My Gosh, waktu berlalu begitu cepat. Tiba-tiba aku kembali ke titik ini. Titik dimana dua puluh sekian tahun yang lalu aku dilahirkan. Malam ini ketika waktu serasa berputar kembali ke titik itu, tak ada yang bisa kuucapkan selain rasa syukur pada Sang Ilahi, yang sudah memberiku kesempatan untuk hidup sampai saat ini.

Tak ada keinginan untuk merayakannya dengan menghentak lantai dansa seperti biasanya, tak ingin berhura-hura ngobrol di kafe sampai pagi, tak ingin keliling-keliling Bandung tanpa tujuan yang jelas hanya sekedar untuk membunuh waktu dan merayakan sesuatu atas nama ulang tahun. Tahun ini aku hanya ingin diam. Menikmati sepotong kue tart dalam perasaan sederhana.

Di ulang tahunku kali ini aku ingin merefleksikan diri atas apa yang sudah terjadi. Mencoba menghayati arti kehadiranku di dunia ini. Bukan ingin bersedih atau mellow, aku hanya tersadar bahwa ternyata usiaku sudah tidak semuda dulu. Kedewasaan akan menghadang meskipun kenyataannya sudah mengahadang dari beberapa tahun yang lalu. Tapi boys will be boys. Aku akan tetap menjadi aku yang seperti ini. Sampai kapanpun.

Terima kasih teman, karib, kolega, keluarga yang sudah memanjatkan doa di hari jadiku kali ini. Tolong jangan berhenti menguntai doa buat aku. Jangan berhenti mendoakan aku untuk menjadi orang yang lebih baik dari tahun ke tahunnya. Maaf juga tak ada pesta tahun ini.

Semoga di usiaku yang sekarang ini aku terlahir menjadi manusia baru dengan perilaku yang lebih baik. Tidak sering menyakiti banyak orang (yang seringnya aku tak sadar). Menjadi anak yang lebih berbakti buat orang tuaku. Dan menjadi umat yang lebih taat kepada agama dan Tuhanku. Amien.

Sekali lagi, maafkan aku tak akan ada pesta tahun ini.

Jumat, 26 Desember 2008

Funky Scientist was Born


Akhirnya peneliti gaya, keren dan muda Indonesia akan segera hadir. Psttt….jangan ribut dulu yah (sambil bisik-bisik). Alhamdulillah, gue keterima jadi PNS di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Republik Indonesia. Alhamdulillah sekali lagi. Allah selalu baik sama gue. Terima kasih Allah.

Sebenernya gue nggak pernah ngebayangin jadi PNS, kalaupun gue jadi PNS pasti itu sebagai dosen muda yang gaya (teteup) dan bersemangat. Dari dulu, waktu lulus SMA yang ada di pikiran gue cuman gimana caranya biar jadi dosen. Tapi ternyata keinginan itu bakal cuman jadi harapan sekarang. Bisa sih nanti kalau nyambi. Mudah-mudahan bisa. Amien. Pantesan tiap gue ikutan tes jadi dosen selalu aja ada hambatannya. Ternyata jalan gue bukan disana.

Jadi PNS? Aduh nggak kebayang deh mikirin gajinya. Huahahaha. Kemaren gue ngakak (dalam hati) pas pemberkasan diterangin gue masuk golongan berapa dengan gaji pokok berapa. Dari jaman gue mulai kerja dulu, sumpah nggak pernah gue digaji dengan gaji sekecil ini. Tapi gue kan gak boleh suudzhon sama rencananya Allah, makanya gue tetap bersyukur. Kalau rezeki pasti udah ada yang ngatur. I always believe in that.

Dengan jadi PNS juga gue harus menanggalkan beberapa kenyamanan yang udah gue dapet sekarang. Karena gaji gue yang gak seberapa itu gue musti melepaskan kenyamanan berbelanja baju yang biasanya bisa hampir tiap minggu. Nggak apa-apa lah, lagian baju di lemari gue udah seudug-udug. Jarang dipake juga. Tinggal pinter-pinternya gue mix and match pasti tetep jadi pusat perhatian juga. Hihihi. Selamat tinggal distro-distro Bandung!

Kedua, yang harus gue tanggalkan adalah jabatan manager gue. Gue bakal melepaskan mahkota manager itu, padahal seumur-umur kerja baru sekarang lho gue jadi manager. Meskipun jadi manager itu tidak seenak dan segampang yang gue pikirin. Lumayanlah pernah 9 bulan nyicipin jadi manager dengan segala intrik dan permasalahannya. Tapi balik lagi Allah itu adil, jadi kenapa gue harus sangsi.

Ketiga, gue harus mengembalikan semua fasilitas yang udah dikasih kantor yang sekarang. Good bye mobil dinas gue beserta fasilitas sopirnya. Terima kasih sudah menemani gue selama ini menjalankan titah dan tugas luar. Hidup gue akan dimulai lagi dari nol, nggak usah pake mobil-mobil segala (kecuali pake mobil pribadi gue). Pake motor aja kali yah, biar lebih bersahaja. Atau pake angkot aja kaya jaman SMA? Yang penting kan berkarya, bukan alat transportasinya. Doakan aku kuat yah! Amien.

Yang paling berat gue lepaskan adalah temen-temen gue. Kita udah deket banget, seumpama keluarga dekat. Meskipun gue atasan tapi mereka nganggep gue itu temen deket. Terima kasih udah menemani menjalani semuanya. Kapan yah kita jalan-jalan lagi terus foto box, karoke sampei kehabisan suara, makan sampai nggak bisa bangun, ketawa-ketawa sampai berlinangan air mata. I’m gonna miss that moments. Terima kasih kawan! Gue tahu kalian ikut bahagia dengan keputusan yang udah gue ambil. Semoga mendapatkan atasan yang lebih baik dari gue dan lebih gaya (yang ini gue nggak yakin!).

Pokoknya terima kasih semuanya. Terima kasih sudah memberi kenangan yang tidak akan mudah untuk dilupakan. Kita akan tetap menjadi keluarga. Percayalah!