Halaman

Jumat, 28 November 2008

Ada yang Flirting (AGAIN!!!)


Gue suka bingung sama kejadian-kejadian yang kerap terjadi sama gue. Memang gue sebegitu obviousnyakah sampai mereka bisa “mengendus” aura gue? Atau kadang gue suka mikir, mungkin feromone gue yang udah nyebar duluan tanpa diperintah, padahal gue lagi nggak minat nyebar feromone.

Kaya kemaren, di salah satu toko buku diskon di Bandung. Dari jauh gue bisa ngeliat kalau orang itu dari tadi kok ngeliatin gue terus. Karena gue memang lagi nggak niat flirting juga makanya gak begitu gue tanggepin, sumpah, lagi nggak niat! Tapi kok dia terus-terusan liatin gue yah. Curi-curi pandang sih, tapi sering banget ke gap sama gue. Good looking and such a great body juga, tapi karena gue lagi nggak pengen flirting, ya tidak sebegitu menariknya untuk ditanggepin.

Harusnya dia nyadar kan kalo misalnya gue nggak tanggepin. Tiap gue jalan ke rak yang lain, pasti dia juga ada di daerah yang bisa gue liat. Aduh, nampak psycho juga yah. Tapi kayaknya nggak, soalnya dia nggak move forward. Saat itu gue cuman berusaha nikmatin aja diliatin orang (teteup), boleh donk kali-kali berasa tenar, berasa artis.

Nah pas gue liat katalog-katalog buku di komputer online, gue nge-gap-in dia lagi nelpon dengan mata masih ngeliat ke arah gue. Apa sih maksudnya nih orang? kalo berani nyamperin aja jangan cuman ngeliatin. Bikin risih, sampe-sampe gue mikir apa karena baju gue nggak matching dan ketinggalan jaman yah? (meski nggak mungkin) apa karena ada kotoran di muka gue?. Sialan tuh orang bikin gue begah dan pengen cepet-cepat keluar dari toko buku.

Tapi wait………Pas gue nge-gap-in dia lagi nelpon sambil liatin gue itu, gue liat dia senyum dan menganggukan kepalanya. Dengan samar gue juga bisa liat dia mengucapkan “hai” tanpa suara. Hahhhhhhh, mati gue. Dengan kikuk gue cuman bisa membalas dengan senyum bego dan anggukan kepala lagi. Apa gue ngedeketin dia aja ya? Tapi males, kalo dia malah menjauh pas gue mendeket gimana? Apa nunggu dia ngedeketin aja? Tapi kok ya nggak beranjak. Daripada pusing, gue cepet-cepet ke kassa buat bayar dan keluar dari toko itu. Thanks God it’s over.

Siyal, di parkiran gue ketemu dia lagi, dan gue yakin nggak sengaja. Mobil gue sama mobil dia cuman kepisah 1 mobil aja. Jadi pas gue jalan ke mobil gue dan dia ke mobilnya, gue bisa jelas liat dia senyum lagi dan ngucapin hai lagi. Mampus nih gue, mati kutu. Ya udah gue bales senyum dan sekarang gue berani buat ngomong hai. Eh, kok dia malah nyamperin gue. Takut gue, takut pingsan. Hihihihihi. Berlebihan gak sih?!

Dia mengulurkan tangannya dan mengucapkan sebuah nama. Kita ngobrol hanya sebentar tapi sempet tukeran nomer handphone juga sih. Maafkan aku Tuhan, tapi kan gak salah juga kalau ada orang ingin kenalan, menambah teman. Memperluas jaringan, siapa tahu bisa memperbesar bisnis. Nampak marketing banget yah gue?!

Malemnya, dia nelpon gue donk. Nggak disangka nggak dinyana.
Dia : “Hai, Gue yang tadi siang. Masih inget kan?”
Gue : “Oh iya. Ada apa?”
Dia : “Nggak ada apa-apa sih. Cuman kepikiran kamu terus. Mau ketemuan gak?”
Gue : “Hah? Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut. Gue keburu pingsan.

Hihihihihihihi. Tepat sasaran.

Yuda : Gue temuin jangan yah?!

Rabu, 26 November 2008

Kembali Sendiri


Siapa yang harus disalahkan ketika semua ini terjadi? Never ending question. Atau jangan-jangan itu adalah jawaban dan bukannya pertanyaan. Jawaban atas kejadian-kejadian yang terjadi antara aku dan kamu. Mencari siapa yang salah tidak akan membawa hubungan kita ke arah yang lebih jelas, yang lebih terang. Dengan terus mencari siapa yang salah justru akan memperumit cara untuk memperjelas akhir itu sendiri.

Dengan kesadaran beramunisi penuh aku menyadari yang salah mungkin aku. Yah, aku. Aku dengan segala kesibukanku kerap membuatmu merasa jadi prioritas kedua, meski aku tidak bermaksud seperti itu. Dan harusnya kamu menyadari bahwa kamu selalu menjadi prioritas utamaku, tak ada yang bisa menggantikan posisimu di urutan nomor satu. Kalaupun aku sibuk, telpon dan sms bukannya terus mengalir dariku atau darimu hanya sekedar untuk melepas rindu. Berusaha untuk tetap menjaga pendar api antara kita.

Apakah pertemuan yang kita jalani hanya 2 atau 3 kali seminggu tidak lantas membuatmu mengerti? Tidak cukup bagimu untuk tetap mempercayaiku? Padahal meskipun tidak bisa bertemu muka atau sekedar pegangan tangan, kita terlibat dalam percakapan panjang di telpon sampai berjam-jam. Tidak cukupkah semua itu? Dan bukankah ketika akhir minggupun kita tidak bisa bersama karena aku ada kerjaan di kota asalku, aku membayarnya di hari-hari berikutnya? Tak cukupkah itu?

Mungkin benar aku yang salah maka aku memohonkan sebaris maaf. Tak akan ada pemicu dari perilakumu kalau aku lebih bisa mendalami perasaanmu, menyelami semua nadir kehidupanmu. Tapi aku kembali bertanya, mengapa kamu melakukannya berulang? Bukankah di awal komitmen kita, kita menyepakati bahwa tidak ada ampun untuk ketidaksetiaan. Tidak ada alasan yang masuk akal untuk membenarkan tindakan itu, meskipun itu berlandaskan kesepian karena masing-masing kita terikat dengan kesibukan yang teramat sangat.

Sebagai pembenaran dan sedikit pembelaan atas diriku, aku dari awal sudah mengutarakannya bahwa aku bekerja sebagai karyawan baru dengan posisi yang sudah lumayan di atas sehingga tanggung jawabku juga berlipat-lipat. Kesibukanku bukan hanya melulu soal kerjaaan inti tapi sisi manajemennya juga turut aku benahi. Mungkin kamu masih ingat seringkali aku mengirim pesan padamu kalau aku sedang meeting padahal waktu jam kerja sudah berlalu dari sore tadi. Tapi itu semuanya benar, aku tidak mengada-ngada. Kalau aku punya pilihan, aku lebih memilih berdua denganmu menghabiskan titisan malam menggelayut berat daripada semua itu.

Ketika akhir minggu aku pulang, kamu juga tahu bahwa aku punya bisnis yang harus diurus. Kamu tahu itu. Dan bukankah setiap kali kamu kuajak serta bersamaku, kamu menolaknya. Kamu lebih memilih menghabiskan minggu bersama teman-temanmu. Aku pikir kamu bahagia dengan mereka dan itu bisa menghilangkan perasaan kesepianmu. Ternyata tidak, kamu justu menjadikan itu semua untuk membenarkan tindakanmu selingkuh, membagi cinta, atau mungkin hanya berbagi nafsu.

Sekali mungkin aku bisa memaafkannya, menelaah kesalahanku. Tapi ketika itu dilakukan sampai 2 kali dengan orang yang berbeda pula dalam waktu 2 bulan, aku merasa itu bukan hanya kesalahanku. Itu kesalahan kolektif, atau mungkin itu sudah sifat dasarmu. Aku bisa apa? Yang bisa aku lakukan hanya melepaskanmu, membebaskanmu, agar kamu tidak merasa terbelenggu oleh aku, oleh hubungan kita.

Kini biarkan aku berjalan di setapak kecil berbatuku. Sendiri.

Minggu, 23 November 2008

Mengadu Pada Tuhan (Lagi)


Tuhan, dulu aku pernah sangat bersyukur ketika Engkau menciptakan cinta dengan sejuta keindahannya. Aku juga tak berhenti menghaturkan jutaan harap agar suatu saat cinta itu bisa kurasakan. Kemudian aku juga tak lupa mengucapkan terima kasih dan rasa syukur karena akhirnya Kau menganugerahiku seseorang untuk aku cintai dan mencintai aku. Nikmat yang tiada tara dari-Mu ya Tuhan, Penguasa langit dan Bumi.

Tuhan, aku seringkali mengadu kepada-Mu ketika kenyataan akan cinta tak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tapi Engkau juga tahu kalau aku tak lantas menyalahkan-Mu. Aku tetap bersyukur, karena itu mengajarkan aku sesuatu, mengajarkan aku tentang hidup dan rasa sakit. Dan aku bersyukur pula karena dengan semua itu aku bisa sekuat ini, semua karena takdir dan titah-Mu Ya Rabb, penguasa hidup ini.

Ketika aku menangis, sesenggukan di hadapan-Mu karena aku kecewa akan sesuatu dikarenakan cinta yang tak tersampaikan, sesungguhnya aku malu wahai Tuhan. Aku merasa masih banyak nikmat yang telah Kau berikan yang seharusnya membuatku selalu tersenyum, bersyukur, dan menangis mengadu pada-Mu dalam limpahan nikmat selain perasaan patah hati. Tapi aku sadar Tuhan, aku hanya ingin mengadu, bercerita kepada-Mu bahwa aku kadang merasa kalah. Tak sanggup.

Engkau tidak pernah beranjak meninggalkanku walaupun aku seringkali mengeluh dan mengadu. Engkau dengan Bijak selalu memberiku kesadaran untuk bangkit dan berjalan kembali. Aku harap aku dituntun di jalan-Mu meskipun dalam kenyataannya aku selalu tergelincir dan berbelok. Selalu ya Tuhan, tapi aku bersyukur karena Engkau tidak pernah meninggalkanku walau sekejap.

Engkau selalu ada ketika aku butuhkan. Engkau dengan setia mendengarkan ocehan sakit hatiku yang disebabkan patah hati, dikhianati, diduakan. Engkau dengan setia mendengar semuanya, meski Engkau tidak langsung menjawabnya, tapi aku tahu kalau Engkau bekerja dengan cara yang tidak kumengerti, yang sering membuatku bertanya-tanya apakah Engkau serius mendengarkan dan menjawab keluh-kesahku.

Tuhan, aku tahu kalau Engkau masih bersedia mendengarkan keluhanku akan cinta. Aku mohon Tuhan, sekali lagi kali ini aku mengadu kepada-Mu. Aku bingung Tuhan, aku limbung. Aku merasa bahwa apa yang sudah aku lakukan selama dua bulan ini untuknya demi kebahagiaan kami ternyata sia-sia. Berulang kali dia melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak mau mendahuli-Mu dengan tidak memaafkannya, karena memaafkan adalah ajaran-Mu. Tapi ketika dia berulang kali melukai hatiku, dan berharap pada akhirnya aku memaafkannya, aku tidak sanggup.

Aku sanggup memaafkannya, tapi tidak untuk bertahan dengannya lebih lama. Aku sudah cukup bersabar yang juga Engkau ajarkan, tapi aku sudah lelah. Mungkin sekarang saatnya aku untuk menyerah kembali. Menyerah pada cinta yang dari awal aku perjuangkan berkat kuasa-Mu, tapi tidak menyerah pada takdir-Mu, karena aku yakin akan ada skenario baru yang pastinya lebih baik yang telah Engkau persiapkan untukku.

Tuhan aku mohon ajarkan aku menjadi tegar. Dengan atau tanpa dia sekarang, aku tetap memiliki-Mu. Dzat yang hakiki, dimana cinta sejati sesungguhnya bisa kucari. Aku hanya mohon pada-Mu, izinkan aku mengecap kebahagiaan lagi, dan lagi. Sampai Mati.

Bandung , 22 Nopember 2008

Jumat, 21 November 2008

Dapet Duit Lagi


Sekarang gue lebih tahu apa bedanya kucing kampung, kucing anggora dan kucing persia based on their ability to delivered their children. Ini juga berdasarkan pengalaman gue miara tiga jenis kucing tersebut. Dulu waktu pets shop belom menjamur kaya sekarang, terus gue masih belom punya duit dan orang tua gue belom mau ngedukung hobi gue miara kucing maka pilihan gue adalah miara kucing kampung. Gue suruh pembantu gue mungut anak kucing kampung yang sering lewat depan rumah, gue mandiin terus gue pelihara. Ngasih makannya juga gak ribet, cukup nasi yang digado sama ikan tongkol, dikasih minum, kadang susu, banyakan air putih, hidup deh dia dengan makmur. Yang paling penting, kalau dia nggak pulang karena keasikan jalan-jalan atau nemu jodoh gue nggak begitu khawatir

Beda sama kucing anggora, mau itu anggora murni maupun peranakan anggora-persia. Miaranya lebih ribet dan ongkos yang dibutuhkan untuk pemeliharaannya jauh lebih mahal. Dikasih makan nasi, bulunya rontok. Dikasih minum susu, nggak boleh susu untuk orang dewasa, harus susu formula. Dikasih makanan khusus kucing, nggak boleh sembarangan, takut alergi jadi harus ada trial and error dulu. Pokoknya ribet. Belom lagi check up ke dokter yang musti rutin, which is very important. Nah parahnya kalo lagi masuk musim kawin, hilang sebentar dari penglihatan langsung bikin gue parno, takut hilang. Maklum, mahal boo. Secara waktu itu belom musim peternak-peternak yang nyewain jantan buat ngawinin kucing betina yang masuk musim kawin.

Yang ini paling ribet, meski paling worthed. Duit memang nggak pernah boong. Kucing persia perawatannya jauh-jauh lebih mahal. Makanannya aja harus yang kualitasnya paling bagus dan ini berarti paling mahal, kalo nggak yang itu bulunya nggak mau lebat. Susunya musti yang low lactose content, mandiin musti di pet shop karena kalo mandiin sendiri dan nggak kering bener, jamur dengan gegap gempita langsung tumbuh di badannya. Imunisasinya juga lengkap, selengkap anak manusia. Untungnya, kucing persia itu enak diliat dan karena agak pemalas kalau musim kawin pun dia cuman nungging-nungging gak jelas sama ngeong-ngeong terus ngasih sign sama kita kalo dia lagi horny. Kalau dah gini tinggal ngontak peternak kucing yang nyewain kucing jantan unggul buat ngawinin kucing gue. As simple as that.

Kalau musim kawin udah lewat dan biasanya mereka bunting, perilaku mereka juga berbeda. Kucing kampung tetap aktif, ibaratnya wanita karier, kehamilan tidak mengurangi aktivitas. Kalo yang anggora, sedikit pemalas, nggak banyak jalan-jalan. Persia malasnya minta ampun, kerjaannya tidur sama makan doank. Nggak mau gerak-gerak, palingan jalan kalau mau makan sama pup. Tapi untung juga sih dia jadi pemalas, takutnya kalau banyak gerak entar keguguran. Rugi bandar, secara ongkos nyewa jantan itu 500 rebu lho. Kan gawat kalau sampe keguguran. Hihihihi.

Kucing persia gue kemaren (14-11-2008) ngelahirin, dan ternyata memang nyusahin tuh kucing. Dia nggak tahu caranya ngeden, kalaupun ngeden nggak ada tenaganya. Karena gue nggak ada di bandung, adik gue yang parno. Dia bolak-balik nelponin gue di kantor. Katanya anak kucing yang pertama baru keluar setengah tapi ibunya nggak mau ngeden lagi. Akhirnya gue nyuruh adik gue bawa ke dokter hewan aja. Di dokter hewan, kucing gue diinduksi, disuntik gitu. Tiap kali mau ngeden disuntik sekali dan karena anaknya 5 artinya disuntik 5 kali, yang artinya juga 5X50rebu, 250 rebu buat ngebantu ngelahirin aja. Fuih, mahal ya Cin!!!Tapi mau gimana lagi, timbang ibunya mati kehabisan darah. Lebih rugi.

Kalau dikalkulasi biaya nyewa pejantan, biaya perawatan selama hamil, dan biaya ngelahirin kan jadinya mahal banget tuh untungnya kaya gue bilang tadi kalo itu worthed. Kenapa worthed, karena setelah umur sebulan anak-anak kucing itu kalau gue jual satunya bisa laku 800rebu bahkan lebih. Ada yang mau? Kalau ada yang mau hubungin no ini XXX, sms yang kamu terima langsung dari HP saya (niru iklan-iklan SMS selebritis!!). Huahahahahaha.

Bentar lagi gue banyak duit nih, sayang anak kucing pertama mati karena kelamaan kegantung-gantung setengah badan tanpa lahir. Kalau ada yang nanya apa gue nggak kasian sama induknya dipisahin sama anak-anaknya demi pundi-pundi rupiah gue? Come on Darlin, setelah 2 bulan induknya juga masuk musim kawin lagi. Lupa deh dia sama anak-anaknya. Yang untung gue karena dipikiran gue udah ada duit jutaan lagi dari hasil ngejual anak kucing yang berikutnya, yang belum lahir, yang belum dikandung juga. Ya iya, baru juga ngelahirin masa dah bunting lagi. Gila kali ah……