Selasa, 29 April 2008
NAMAKU DICK
Kalo cowok biasanya paling ekstrim, mereka bisa ngasih nama yang masuk kategori nggak banget sampei katagori keren abies. Mulai dari si utun, ucok, jefrie sampe Michael. Kadang nama dia sama nama “barangnya” bagusan nama “barangnya”.
“Aduh “utun” gue sakit nih kejedot meja” merupakan kalimat yang biasa kita denger kalo lagi becanda-becanda. Back to that moment (SMP or SMA), “barang” gue dikasih nama siapa yah? Lupa euy soalnya sering ganti-ganti. Tergantung suasana hati. Kayaknya gue pernah ngasih nama Gundala deh (anak petir kali ah…..)
Cewek lebih lucu lagi, mereka biasanya ngasih nama kembar. Ya secara punya mereka kembar juga bukan? Ada yang ngasih nama micky dan minie, Donald and Desi, Romoe and Juliet, bahkan salah satu temen gue ngasih nama suka suki. Kata dia artinya susu kanan, susu kiri. Alah……
Kenapa gue ngomongin soal “barang” yang dikasih nama? Gue jadi keingetan setelah kemaren gue nonton film barunya Tora Sudiro yang judulnya Namaku Dick. Kok Tora jadi sering maen film bergenre sex komedi sih? Di film ini kembali dia mengekspos K****L nya. Sering sekali bidikan kamera yang mengarah ke “itu”nya dia. Iya sih gue akuin kayaknya gede. Baru kayaknya yah, soalnya gue belom liat langsung. Hehehe. Tapi kata temen gue Fa, “itu”nya gede itu nggak boleh diukur dari kelihatannya, karena cuman ada tiga cara buat tahu “itu’nya cowok gede apa nggak. Pertama, digenggam. Kedua, dikulum di mulut. Ketiga, dimasukin. Wah, gawat tuh temen gue. Bener-bener gila.
Kok gue jadi ngomongin ntu yah? Padahal gue kan mau ngomongin film Namaku Dick. Film baru yang gue kategoriin unrecommended movie. Filmya nggak banget. Nyesel deh gue nonton hari sabtu bukannya di promo nomat. Rugi.
Memang sih temanya fresh. Belom pernah ada. Nyeritain “barangnya” Tora yang jadi bisa ngomong, yang ternyata ganggu banget kehidupan si Tora. Tapi sayangnya berlebihan. Nggak segitunya juga kali mustinya. Satu-satunya kelucuan film ini adalah celetukan-celetukan tuh “barang” meskipun masih agak sedikit hambar. Komentar-komentar “barang” itu ceplas-ceplos, sedikit vulgar tapi nggak begitu lucu. Jatohnya malah jorok nanggung. Temen sebelah gue bilang, “cacat attitude”.
Kalo dari segi pesan moral, film ini dapet banget lah. Bukan pesan buat ngasih nama “barang” kalian, tapi biar cowok lebih wise dalam memperlakukan perempuan. Inti filmya sih itu, tapi beleber kemana-mana termasuk ke pergulatan batin antara si Tora sama “barang”nya itu. Ya semua kan balik ke ide kreativitas seseorang. Sah-sah saja kan kalo orang mau bikin film kayak gimana juga.
Gue sih sebagai penikmat film, pecandu film tepatnya cuman pengen film-film Indonesia itu lebih bagus lagi. Bukan cuman menghibur tapi juga mendidik. Mengangkat sesuatu yang sederhana dengan cara yang berkualitas dan berkelas. Besok nonton lagi akhhhhh….
TALI POCONG PERAWAN
Sumpah, nih film lebay banget. In all aspects lho! Gue sampei nggak punya banyak kata buat ngegambarin film ini, yang pasti menurut gue lebay. Titik. Sebenernya film ini standard film-film horor Indonesia lah, sekadar teror hantu gentayangan. Yang bikin beda dari film horror lain, film ini menampilkan banyak banget adegan syurnya. Gue jadi agak saru, film ini pakemnya horror atau bokep sih. Hehehehe. Nggak full sih, masuk kategori semi. Kok kesannya gue pemerhati film bokep yah. Ada yang punya gak? Minjem donk…..Ups!
Hal-hal yang menurut gue lebay banget di film ini :
SATU. Soundnya. Memang sih gue akuin kalo sound film horror yang satu ini memang keren banget. Beda dari film horror lain. Tapi saking bagusnya kok terasa berlebihan yah, adegan yang biasa-biasa aja diiringi sama sound yang berlebihan. Buat segi sound, lebaynya masuk kategori positif. Bagus maksudnya.
DUA. Pemainnya. Kok pemainnya Dewi Persik sih? Aduh, gue bukan mau ikutan latah tiba-tiba nyekal Dewi Persik lho. Siapa gue coba? Tapi please deh, masih banyak kali pemain bagus yang bisa berakting. Kalo maksud majang Dewi Persik buat bikin film ini berkesan sensual, sutradaranya berhasil banget. Makanya gue bilang di awal, film ini kok kaya film semi. Pokoknya di film ini Dewi Persik lebay banget deh, dengan muka mesumnya, suaranya yang parau-parau kucing kawin, cara ngomongnya, lengkap sudahlah tujuan film ini.
TIGA. Adegannya. Banyak adegan nggak penting yang nggak berhubungan banget sama jalan ceritanya. Apalagi adegan-adegan syurnya itu. Repeat my word…L-E-B-A-Y, with capital word. Adegan yang paling nggak penting menurut gue adalah, pas temennya Dewi Persik mau mandi, aduuuuuh dramatisasinya lebay banget. Siapa sih sutradaranya? Terkenal gak? Kenal gue nggak? (teu penting……^-^)
EMPAT. Pocongnya. Gue baru tau kalo pocong juga nggak musti loncat-loncat jalannya. Malah di film ini digambarin terbang segala. Terbang kayak superman gitu, kepala di depan kaki di belakang. Masih untung posisi tangannya nggak kayak superman kalo lagi terbang, atau di jidatnya nggak ada rambut yang dibentuk huruf P untuk pocong. Untung-untung. Apa jangan-jangan pocong sekarang udah pada berguru sama superman kali yah? Udah timbul kesadaran gue rasa, kesadaran kalo loncat-loncat itu cape, makanya mending terbang aja. Ugh…Lebay.
Kembali ke tujuan awal gue yang cuman pengen seru-seruan ngomentarin film tali pocong perawan yang baru gue tonton. Bukan pengen menghakimi, never been there. Tapi cuman mo sharing aja, sekedar mencurahkan unek-unek emosi jiwa. Ya, akhirnya gue mutusin buat masukin film ini ke kelompok recommended movie deh. Filmya beda soalnya, pakemnya lain, serasa nonton film semi di bioskop dengan pemainnya yang pas banget. Ups….Kok balik lagi ke sana. Maaph.
Kamis, 24 April 2008
MENJADI SELINGKUHAN
Draft Email [Non Edit]
Dear You,
Aku nggak tahu harus memulainya dari mana, tanganku gemetar menulis email ini. Semuanya membingungkan, semuanya tak karuan. Sebenarnya aku tak mampu lagi menggugat, tapi aku harus kuat. Aku lelah.
Aku mulai dari awal perjumpaan kita. Sore itu, di sebuah gerai kopi, kamu tiba-tiba minta izin untuk duduk semeja denganku. Aku kaget. Aku tidak mengenalmu, bahkan ketika aku berusaha membuka memori ingatanku aku tak jua menemukan file kamu. Nama mungkin aku sering lupa, tapi wajah harusnya ingat. Paling nggak pernah lihat. Tapi saat itu aku benar-benar blank, nggak tahu siapa kamu. Dan dengan muka bego aku hanya berujar “silahkan”.
Percakapanpun dimulai. Sebenarnya kamu yang lebih banyak cerita, sementara aku hanya mendengarkan. Aku memang terbuka, tapi tidak seterbuka kamu, apalagi terhadap orang asing. Kamu bilang bahwa kamu sudah memperhatikan aku sejak tadi, aku yang tak peduli dengan keramaian gerai, yang matanya hanya tertuju pada layar laptop sore itu. Dan kamu juga bilang bahwa kamu tertarik padaku, makanya memberanikan diri untuk menyapa dan duduk semeja denganku.
Aku kemudian menemukan kualitas lain darimu. Ternyata kamu tak hanya good looking tapi juga smart. Sesuatu yang membuatku kemudian nyaman ngobrol denganmu saat itu. Kamu banyak cerita tentang pekerjaanmu, tentang ketertarikanmu pada politik, bahkan tentang kehidupan pribadimu. Jangan salahkan aku yang waktu itu tak bisa lepas menatap wajahmu. Suruh siapa senyummu manis. Suruh siapa matamu hilang kalau ketawa.
Obrolan sore itu diakhiri dengan saling tukar nomer HP. Dan kita berjanji untuk bertemu di tempat yang sama dua hari lagi. Ya, dua hari lagi. Dua hari yang ternyata membuatku tak bisa melepaskan pikiranku tentangmu. Dua hari yang menyiksa. Dua hari penuh penantian panjang. Apalagi sebelum kita ketemuan lagi, kamu selalu membuatku luluh lantak. Kaya siang itu waktu aku sms kamu buat nanya kamu sedang apa, kamu jawab bahwa kamu sedang di kantor, depan komputer, mikirin aku. Sialan….itu membuat aku tak mampu lagi menunggu.
Sore yang ditunggu datang juga. Hatiku dag dig dug. Nggak tahu nanti mesti ngomongin apa. Nggak tahu musti ngapain. Tapi rasanya senang, kayak anak kecil yang dijanjikan bakal dapet permen.
Gerai kopi masih sepi waktu kita ketemu, tapi hatiku gaduh. Kamu sangat menawan dengan pakaian kerjamu. Obrolan kita mengalir dengan sendirinya. Saling membuka hati. Saling meyelam di dalamnya.
Tiba-tiba aku tersentak dengan pengakuanmu. Kamu bilang bahwa kamu sebenernya sudah memiliki kekasih, meskipun hubungannya nggak berjalan lancar. Kamu juga bilang bahwa pacaran dengan dia itu hampa karena dia kosong. Beda sama aku katamu. Aku bisa mengimbangi semua topik pembicaraanmu, karena aku nggak kosong seperti pacarmu.
Aku jauh lebih tersentak ketika kamu memintaku menjadi selingkuhanmu. Kamu janjikan bahwa kamu akan putus dengan pacarmu. Tinggal menunggu momen yang tepat katamu. Kamu nggak tahan lagi dengan kekosongan yang dia beri.
Menjadi selingkuhanmu. Itulah satu-satunya pilihanku saat itu. Aku terlanjur mengagumi kepintaranmu, kepribadianmu, dan keberadaanmu. Ya, jadi selingkuhanmu. Itu yang aku putuskan.
Bulan demi bulan kita menjalin “hubungan” itu, tapi kamu tidak juga memutuskan pacarmu. Kamu bilang, kamu masih belum bisa. Waktunya belum tepat. Lalu kapan? Aku tersiksa dengan semua ini. Tapi aku sadar dengan konsekuensi atas keputusan yang telah kubuat. Jadi selingkuhanmu.
Pagi sampai siang kamu selalu jadi milikku, selalu ada untukku. Tapi sore membuatku sakit. Tiap sore kamu datengin pacarmu di kantornya untuk pulang bareng kemudian makan malam. Sementara aku? Ya aku sebagai selingkuhanmu kembali ke kamar kostku hanya untuk mengenangmu. Makan malam sendirian sambil didera cemburu. Tapi aku sadar, aku bisa apa? Aku hanya selingkuhan, sekedar selingan dari kekosongan pacarmu itu.
Sama halnya dengan sabtu. Dari pagi kita selalu bersama, di kostku atau di rumahmu. Tapi kalau waktu menjelang sore, kembali aku terhempas ke pusaran yang sama, tersadar sebagai selingkuhan. Aku sering dandanin kamu, menyuruhmu pakai baju yang mana, menyisir rambutmu. Semuanya tidak bukan agar kamu terlihat so great di depan pacarmu.
Mungkin kamu nggak mendengar kalau hatiku menjerit. Perih. Menjadi selingkuhan membuatku rela menjadi yang kedua. Menjadi Mayang Sari bukannya Halimah.
Minggu lalu akhirnya kamu bilang bahwa kamu sudah putus dengan pacarmu. Akhirnya kamu putus juga. Akhirnya aku bisa memilikimu sepenuhnya. Kamu bilang selain kosong, pacarmu juga ternyata selingkuh. Alasan yang aku rasa absurd untuk putus sebenernya. Bagaimana tidak, kamu marah karena pacarmu ketahuan selingkuh sementara kamu sudah selingkuh denganku dari berbulan-bulan yang lalu. Tapi semuanya nggak penting. Yang penting aku bisa memilikimu sepenuhnya. Tak lagi berbagi.
Beberapa hari kemudian ketika aku memintamu untuk menjemputku di kantor, kamu bilang kamu nggak bisa. Kenapa? Dan mengalirlah cerita itu. Kamu bilang kamu sudah balik lagi dengan pacarmu. What? Kemarin malem dia nelpon kamu, bilang kalau dia lagi sakit dan memintamu untuk balik lagi dengannya. Dan kamu mau. Sekali lagi, dan kamu mau. Sesuatu yang aku nggak ngerti.
Aku seperti tersadar. Berdiri di point of no return, aku teriak di gagang telpon kantorku. Aku minta putus denganmu. Aku sudah lelah. Sudah banyak aku korbankan perasaanku. Tapi kini aku sudah sadar, apalagi dengan sikapmu yang sepertinya nyaman dengan keadaan itu. Kalau bisa dapat dua kenapa musti satu. Sialan.
Puluhan kali kau menelponku, tapi aku tak angkat. Puluhan SMS aku tak acuhkan. Kamu minta maaf. Tapi menurutku sudah basi. Silahkan menikmati kekosongan yang kau benci tapi kau layani. Biarkan aku menenangkan diri. Mencoba menghapus jejakmu di hatiku.
Kamu masih mencoba menelpon dan meng-sms ku, bahkan sampai hari-hari berikutnya. Dan ketika aku sudah mulai lebih tenang, aku membalas singkat smsmu.
“Aku sudah lelah. Baca saja email yang akan kukirimkan padamu sekarang”
Hugs, Yuda
Malam itu seusai aku mengirimkan email untukmu, aku menghapus nomer HP mu dari phonebook ku. Aku berjalan gontai, menutup pintu kamarku, menutup juga pintu hatiku untukmu.
PURA-PURA MENIKAH
Masih temen gue yang sama, tahun 2006 itu nanyain perusahaan tempat gue kerja, juga dengan alamat lengkapnya. Nggak curiga apa-apa ya gue kasih aja toh nggak ada ruginya. Kegiatan nanya-nanya itu nggak berhenti sampai
BABAK 1
Temen gue pengen berhenti kerja dari perusahaannya tapi nggak punya alasan tepat yang bikin bosnya nge-approve keinginannya itu. Setelah mutar otak, akhirnya dia ngambil keputusan bahwa alasan yang paling make sense adalah menikah. Kenapa gue yang dipilih, (selain kayaknya emang dia cinta ma gue, hehehehe) karena gue kerjanya di luar
BABAK 2
Bosnya temen gue itu tidak mudah melepaskan karyawannya ternyata. Dia beralasan
BABAK 3
Gue pikir keterlibatan gue cuma sampe babak 2 doank, eh ternyata berlanjut. Bosnya itu pengen bantuin pernikahan (pura-pura) kita. Terlibat secara aktif maksudnya. Gawat. Tapi bener banget apa yang dibilang orang baheula, sekali bohong pasti bakal ada kebohongan yang lain. Kita memutuskan buat bilang kalo pernikahannya cuman akad nikah dulu, ntar baru resepsi. Dan di resepsi itu kita janji bakal melibatkan bosnya itu secara aktif. Meski sampe sekarang tuh resepsi nggak jadi-jadi. Alhamdulillah dia mau ngerti. Waktu itu kok gue ikut deg-degan yah, padahal liat muka bosnya temen gue itu aja belom.
TAMAT
BABAK 4
Ternyata tuh sandiwara belom tamat, padahal udah mau hampir dua tahun. 2006 ke 2008. Makanya waktu temen gue itu nanya tempat kerja dan alamat gue di
TAMAT (MUDAH-MUDAHAN TAMAT BENEREN)
Catatan Kaki :
Dulu gue memang pernah jatuh cinta sama temen gue itu meski belom sempet terucapkan. Apakah itu pertanda bahwa dia jodoh gue (ngarep!!!!!!), soalnya udah pake sandiwara pura-pura nikah segala. Sinetron banget yah hidup gue?? Buat temen-temen S1 gue yang kebeneran baca, jangan nebak-nebak dia itu siapa. Kalau mau tau, just email me or sms me. I’ll tell you who is she exactly.