Halaman

Rabu, 09 November 2011

AKUPUN SAMA

Akupun sama, tidak memiliki alasan kenapa harus menunda-nunda. Bahkan waktu seperti sudah tidak bersahabat memburu minta dihentikan untuk kemudian kembali diputar. Nanti, ketika aku sudah menemukan pegangan yang tidak lagi membuatku gamang merapal langkah di jalanan. Tapi sekarang waktu masih saja memburu, membuatku lelah dan terengah-engah.

Tentu saja akan aku hadiahkan sebuah kebahagiaan. Sesuatu yang sudah aku persiapkan ketika aku mulai tersadar beberapa tahun silam. Sayang, bentuk kebahagiaan itu belum juga menemukan ruang untuk kemudian ditampilkan. Semua masih semu, masih berselimutkan seludang kelabu yang sulit disibak bahkan oleh seperangkat doa.

Akupun sama, tidak lepas merapal doa sambil menengadahkan tangan ke udara. Seringkali merasa sia-sia dan tidak berguna, tapi untungnya aku masih diberi sehelai rasa percaya. Sehelai yang beranak pinak menjadi tameng kokoh yang aku rasa melindungiku dari segala mara bahaya. Atau setidaknya dari salah langkah yang seringkali aku coba.

Aku mungkin bukan orang baik, tapi sekuat tenaga aku berusaha untuk melakukan yang terbaik. Mungkin aku masih saja bingung dilimbung persimpangan yang menghadang, tapi aku berusaha untuk lepas dari segala cengkraman yang sudah sekian lama meninabobokan.Keluar dari nyaman sarang yang membuatku lupa akan dosa. Aku berusaha walaupun seringkali aku justru balik lagi pada titik yang serupa.

Tidak tahu kenapa godaan itu seperti sukar untuk dienyahkan, terus membuntutiku yang sebetulnya ingin berubah. Sudah cukup berbagai pengalaman aku gambar dalam dinding perasaan, sudah banyak sari yang aku ambil sebagai bentuk sebuah pembelajaran. Tapi seperti tidak pernah cukup, godaan itu datang dan datang lagi menggoyahkan kaki yang sudah lelah berlari. Membuatku akhirnya menyerah dan kembali berdarah.

Aku tidak sekuat apa yang aku bayangkan. Kerap kali aku berusaha keluar tapi malah terperosok semakin dalam. Aku mencoba menghindar, tapi selalu saja aku diketemukan. Dipaksa mereguk manis dosa yang dihadirkan sosok yang diam-diam aku puja. Mereka datang tanpa diundang, mereka bertandang tanpa tahu aturan. Tanpa mengindahkan tanda mereka menerobos masuk membelaiku kembali dengan rasa yang sebetulnya aku ingin lupa.

Akupun sama, ingin segera keluar sebagai juara. Tidak peduli ketika harus kugadaikan nyawa sebagai tanda bukti untukku melupakan masa lalu. Hitam sudah tertoreh tebal, tapi jangan khawatir, lewat doa akan aku beli sebuah pengampunan untuk menghapusnya perlahan. Noda sudah tercetak, tapi jangan khawatir karena lagi-lagi lewat doa aku akan mengiba sebuah bentuk pemaafan. Tidak ada yang mustahil untuk dikerjakan bukan?

Permudahlah jalanku. Begini saja, bagaimana kalau nanti malam kita bertemu dalam mimpi. Nilai aku sepuasnya, setelah itu kamu boleh pergi. Tidak kembali. Berpikir ulang setelah pergi untuk kemudian kembali. Atau tidak pergi sama sekali sehingga tidak perlu kembali. Kamu yang menentukan.

Senin, 07 November 2011

Drama di Kepala

Aku menjadikan kepalaku sebagai panggung tempat pementasan drama. Puluhan cerita siap dipentaskan ketika aku menekan tombol on di sebelah tulang mata. Tanpa perlu aba-aba, babak demi babak akan runut dimainkan sesuai dengan skenario yang aku gubah sendirian. Kadang penuh persiapan tapi seringkali spontan ketika aku sedang butuh tontonan.

Memang pementasan drama di kepalaku cenderung asosial. Tidak ada penonton yang bertepuk tangan di akhir pertunjukan, atau mengeluarkan sumpah serapah karena sudah membayar sejumlah uang dan tontonannya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Bahkan tidak ada penonton yang tertidur pulas di bangku keras karena keburu bosan sebelum cerita sampai pada klimaksnya. Pementasan drama di kepalaku sepi pengunjung, tapi tidak pernah berhenti berlangsung.

Aku tidak peduli dengan rating karena sebetulnya drama yang aku cuplik bukan untuk konsumsi publik. Aku tidak peduli dengan tidak adanya komersial yang katanya akan meningkatkan nilai jual. Aku hanya ingin panggung yang memang sudah ada tidak miskin cerita, aku ingin mereka tetap gempita meskipun kenyataannya banyak yang kontra. Aku hanya ingin pemeran-pemeran tanpa casting yang sudah aku reka menemukan nyawanya dalam alur sebuah laga.

Terkadang aku membuka sedikit sekat agar pementasan drama yang tengah diputar di kepala menemukan udara. Membuatnya sedikit lega karena terlepas dari pengap yang mendera. Lewat jendela imaji paparan demi paparan aku unggah penuh makna. Bukan untuk mengumbar ataupun membanggakan atas apa yang sedang dirasakan, aku hanya ingin sosok-sosok yang kerap aku pelihara dalam bandrol drama mengenal dunia. Aku ingin mereka lantas bercerita bahwa mereka sebetulnya ada.

Tidak terlalu berlebihan rasanya ketika mereka aku hadirkan layaknya nyata. Menunggang aksara mereka membungkuk memperkenalkan perannya dalam sebuah jalan cerita. Menitis dalam kata mereka memainkan skenario yang digubah penuh prahara. Tapi jangan kasihani mereka, karena mereka hanya bersandiwara. Jangan kasihani aku karena aku hanya seorang penggubah cerita, seorang penggila drama dalam pentas tanpa suara di kepala.

Lewat jendela imaji aku berbagi. Menyapa serakan ribu maya yang berkunjung merapal kidung. Bagai cermin di pinggiran trotoar aku berdiam, menyediakan awahan bagi pejalan kaki yang sekedar ingin merefleksi. Berdiri sebentar kemudian meraba hati, berharap setelah itu sebuah senyum terulas di wajah sang pejalan kaki. Meski tipis tapi aku tahu kalau dia merasa tidak pernah hidup sendiri. Ada orang sepertinya yang memainkan peran yang sama dalam drama yang pentas di kepala. Bedanya hanya karena dia itu nyata.

Aku penggila drama, karenanya aku gagas banyak pertunjukan di dalam kepala. Meski tanpa riuh deru penonton yang gemuruh, pertunjukan tetap harus dijalankan. Mengikuti jadwal kesepakatan antara pihak-pihak yang tidak kelihatan.

Aku penggila drama, dan kalaupun aku umbar ceritanya melalui aksara, aku hanya ingin membersihkan panggung dari debu yang menggunung. Agar ketika sudah sedikit bersih, aku bisa menciptakan lagi babak baru yang kusenandungkan dalam nyanyian. Sendirian.

Jumat, 04 November 2011

Bersemi (Kembali)

Hilang kata. Semua menguap ke udara ketika sosok itu berdiri tersenyum di hadapanku kemarin senja. Tanpa kabar dia tiba-tiba bertandang, membuat limbung seketika. Mengoyak semua tatanan yang tersusun rapi di dalam kepala, membuatnya bergerak acak berlarian tanpa pola. Kebanyakan berebut minta disembunyikan, tapi ada beberapa bagian yang justru menantang ingin ditampilkan.

Sekian tahun tidak ada yang berubah. Hanya gurat kedewasaan yang semakin banyak dipertontonkan wajahmu yang tetap rupawan. Senyummu masih sama, senyum yang pernah membuatku seperti hilir mudik diantarkan ke nirwana. Senyum yang senantiasa mengembang mengiringi bergulirnya hari. Senyum yang pernah padam seperti api terguyur hujan ketika selepas ashar kita bersitegang dan memutuskan tidak lagi berpegangan.

Jangan bertanya apakah saat itu aku merasa kehilangan, atau apakah aku tidak menyesal. Berminggu-minggu aku sakaw mencandu kehampaan sampai akhirnya bebal. Berhari-hari aku selayaknya setan yang bergerak melayang. Tidak aku rasakan kaki yang menapak menopang massa seakan teori relativitas Einstein bekerja tanpa kerangka. Aku kehilangan meskipun sebetulnya sakit yang tengah dia hidangkan.

Bukankah seharusnya ada segumpal maaf yang menggelembung di ujung ketersiksaan? Bukankah seharusnya aku bisa memilih buta dan berdamai dengan apa yang sudah dia lakukan? Sayang aku tidak bisa memilih opsi itu, aku lebih memilih membuka mata tentang kenyataan bahwa dia sudah membagi apa yang seharusnya tidak dia bagikan. Aku lebih memilih melepaskan karena mungkin itu bisa membuat dia lebih bahagia. Aku belajar tidak egois.

Tapi lihat, setelah sekian tahun aku belajar melupakan, sekarang dia datang lagi. Menimbulkan turbulensi yang masih tetap memporakporandakan. Membuatku menaiki mesin waktu ke masa lampau untuk merinci apa yang tidak bisa hilang dari pekarangan kenangan. Dia begitu indah, karenanya dia dan aroma memorinya aku bingkai dalam pigura tanpa kaca. Menyisakan secuil kemungkinan untuk aku rogoh dan aku hadirkan ketika aku ingin bertamasya. Berjalan di pematang yang sering aku dan dia lewati dalam bayangan.

Ratusan pertanyaan berawalan ingatkah bermunculan perantaraan tatapannya yang melumat diriku hingga lekat. Tidak banyak suara yang menggetarkan udara, tidak banyak pertanda yang harus diterjemahkan rasa. Aku dan dia hanya duduk dalam hening dengan jalan pikiran yang saling bertumbukan, mencipta momentum-momentum jawaban dari semua pertanyaan yang keluar bergantian. Merapal semua kemungkinan.

Aku tidak bisa menjanjikan taman untuk saling bercengkrama seperti dulu. Dia juga tidak menjanjikan untuk menyemai ratusan benih bunga beraneka warna sebagai hiasan. Masa lalu telah mengajarkan aku dan dia bahwa terlalu berharap hanya akan menimbulkan kesakitan berkepanjangan. Terlalu dalam menggali perasaan hanya akan menjadikan semuanya sebagai jeratan yang siap menghadang.

Untuk saat ini aku dan dia hanya memulainya dengan rasa percaya. Mengobati luka yang masih menganga, entah untuk berapa lama.

Rabu, 02 November 2011

Aksaraku Mati

Aksaraku mati
Semalam dia meregang nyawa di jalanan
Menyisakan cerita yang menggenang belum usai

Aksaraku mati
Tercerabut dari media tumbuhnya yang menawan
Membawa kelukaan yang tidak bisa dijelaskan
Berdarah kemudian melepas nafas satu satu

Dia datang telanjang
Membelai harapan dengan raut muka yang menantang
Kurapal dengan tangan yang sepenuhnya gemetar
Memberinya pakaian agar sesuai dengan tema dan ruang
Semenjak itu kucandu dia sampai Tuhan cemburu

Dia datang
Menemani aku yang tengah kesepian
Menarikan sebuah penghiburan dalam temaram

Aksaraku mati
Setelah beberapa kali sekarat dan akhirnya kehabisan nafas
Dia menyerah pada awal sebuah alenia

Aksaraku mati
Membusuk khusuk dalam liang tak bertuan

Aksaraku mati
Meninggalkan sebuah prosa tanpa akhiran
Meninggalkan duka di ujung sebuah pengharapan

Aksaraku mati
Dan aku yakin pasti akan hidup lagi
Nanti