Sampai saat ini sebetulnya saya sering bertanya, bagaimanakah sosoknya jodoh itu? Seseorang yang sudah dijanjikan Tuhan akan menjadi pasangan saya. Seseorang yang katanya diambil dari tulang rusuk saya yang mulanya menempel pada sternum, tulang dada. Seseorang yang ditasbihkan dalam suratan menjadi pendamping saya sampai mati.
Saya selalu bertanya tanpa kunjung ada jawaban. Dan kemudian saya bimbang.
Seringkali saya dirundung ketakutan. Bagaimana bila jodoh saya ternyata sudah meninggal ketika justru belum sempat kami beririsan. Bagaimana bila ternyata saya salah mengambil jalan yang ternyata justru menjauhkan saya dari sosoknya yang berdiri mengundang. Semua ketakutan itu saya pelihara dari mulai saya mengerti apa itu cinta sampai detik ini. Ketakutan-ketakutan yang sebetulnya tidak beralasan ketika saya percaya terhadap Tuhan.
Tapi saya manusia biasa. Gudang segala keraguan dan ketakutan.
Setiap saya menjalin sebuah hubungan, saya bertanya kepada semesta, bagaimana saya tahu kalau dia itu adalah jodoh saya yang telah Tuhan persiapkan? Bagaimana saya yakin kalau dengan dia saya akan menghabiskan sisa hidup saya, menjadi hamba Tuhan secara bersama-sama? Banyak bagaimana yang ternyata membuat saya limbung dan kemudian mengabaikan banyak pertanda. Tapi bukankah jodoh itu ketika saya abaikan dia akan datang lagi dan lagi dengan cara yang mungkin misterius? Saya percaya Tuhan tidak pernah tidur, jadi ketika saya salah membaca pertanda, saya akan kembali ditunjukan dan didekatkan kepada dia. Jodoh saya.
Katanya saya hanya perlu memupuk yakin. Mempersubur keimanan.
Sampai kemudian dia datang, sosok yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Hadir dari dunia yang tidak pernah terpikirkan akan saya jamah perantaraan senyumnya. Entah bagaimana awalnya, saya hanya merasa bahwa dia adalah orangnya. Beginikah cara Tuhan bekerja? Tanpa awalan Dia hanya menumbuhkan keyakinan yang sebelumnya seperti hilang tidak pernah terundang. Saya hanya merasa kalau bersamanya saya ingin menghabiskan sisa hidup saya. Bersamanya saya ingin membagi hidup saya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.
Jangan anggap saya seperti memudahkan. Berada di titik ini saya telah melampaui banyak persimpangan, pertentangan dan pertimbangan. Dan di ujung pencarian, hati saya tetap berujar bahwa dia adalah orang yang mungkin selama ini saya cari di setiap pergulatan. Dia adalah mungkin rusuk yang selama ini hilang dari urutan rusuk yang menyusun rangka badan saya. Memang saya masih menggunakan kata mungkin, karena keyakinan saya masih belum sepenuhnya utuh. Setidaknya saya mengalami kemajuan, belum pernah saya merasa seyakin ini ketika merintis sebuah hubungan. Bersamanya saya merasa dilengkapkan, bersamanya volume hidup saya mencapai batas maksimal.
Sekarang saya tidak lepas berdoa. Meminta diberi keyakinan yang terus berkembang kian matang. Meminta diberikan pertanda yang tidak lagi harus diraba, karena apabila hanya dipandang sudah nampak cukup meyakinkan maka saya akan yakin bahwa dia adalah orangnya. Jodoh saya. Seorang perempuan yang dikirim Tuhan dari dunia yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Seorang perempuan solehah yang kelak akan menjadi ibu anak-anak saya.
Tuhan, tolong saya dimudahkan agar saya tetap konsisten dengan perasaan yang sekarang tumbuh tidak kenal batasan. Dan tolong saya dibimbing agar saya tidak lagi terjerumus dan kembali pada episode-episode yang telah lampau. Biarkan itu menjadi sejarah saya, yang mungkin buram. Amin.


