Halaman

Senin, 22 Agustus 2011

Mungkin Dia

Sampai saat ini sebetulnya saya sering bertanya, bagaimanakah sosoknya jodoh itu? Seseorang yang sudah dijanjikan Tuhan akan menjadi pasangan saya. Seseorang yang katanya diambil dari tulang rusuk saya yang mulanya menempel pada sternum, tulang dada. Seseorang yang ditasbihkan dalam suratan menjadi pendamping saya sampai mati.

Saya selalu bertanya tanpa kunjung ada jawaban. Dan kemudian saya bimbang.

Seringkali saya dirundung ketakutan. Bagaimana bila jodoh saya ternyata sudah meninggal ketika justru belum sempat kami beririsan. Bagaimana bila ternyata saya salah mengambil jalan yang ternyata justru menjauhkan saya dari sosoknya yang berdiri mengundang. Semua ketakutan itu saya pelihara dari mulai saya mengerti apa itu cinta sampai detik ini. Ketakutan-ketakutan yang sebetulnya tidak beralasan ketika saya percaya terhadap Tuhan.

Tapi saya manusia biasa. Gudang segala keraguan dan ketakutan.

Setiap saya menjalin sebuah hubungan, saya bertanya kepada semesta, bagaimana saya tahu kalau dia itu adalah jodoh saya yang telah Tuhan persiapkan? Bagaimana saya yakin kalau dengan dia saya akan menghabiskan sisa hidup saya, menjadi hamba Tuhan secara bersama-sama? Banyak bagaimana yang ternyata membuat saya limbung dan kemudian mengabaikan banyak pertanda. Tapi bukankah jodoh itu ketika saya abaikan dia akan datang lagi dan lagi dengan cara yang mungkin misterius? Saya percaya Tuhan tidak pernah tidur, jadi ketika saya salah membaca pertanda, saya akan kembali ditunjukan dan didekatkan kepada dia. Jodoh saya.

Katanya saya hanya perlu memupuk yakin. Mempersubur keimanan.

Sampai kemudian dia datang, sosok yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Hadir dari dunia yang tidak pernah terpikirkan akan saya jamah perantaraan senyumnya. Entah bagaimana awalnya, saya hanya merasa bahwa dia adalah orangnya. Beginikah cara Tuhan bekerja? Tanpa awalan Dia hanya menumbuhkan keyakinan yang sebelumnya seperti hilang tidak pernah terundang. Saya hanya merasa kalau bersamanya saya ingin menghabiskan sisa hidup saya. Bersamanya saya ingin membagi hidup saya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Jangan anggap saya seperti memudahkan. Berada di titik ini saya telah melampaui banyak persimpangan, pertentangan dan pertimbangan. Dan di ujung pencarian, hati saya tetap berujar bahwa dia adalah orang yang mungkin selama ini saya cari di setiap pergulatan. Dia adalah mungkin rusuk yang selama ini hilang dari urutan rusuk yang menyusun rangka badan saya. Memang saya masih menggunakan kata mungkin, karena keyakinan saya masih belum sepenuhnya utuh. Setidaknya saya mengalami kemajuan, belum pernah saya merasa seyakin ini ketika merintis sebuah hubungan. Bersamanya saya merasa dilengkapkan, bersamanya volume hidup saya mencapai batas maksimal.

Sekarang saya tidak lepas berdoa. Meminta diberi keyakinan yang terus berkembang kian matang. Meminta diberikan pertanda yang tidak lagi harus diraba, karena apabila hanya dipandang sudah nampak cukup meyakinkan maka saya akan yakin bahwa dia adalah orangnya. Jodoh saya. Seorang perempuan yang dikirim Tuhan dari dunia yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Seorang perempuan solehah yang kelak akan menjadi ibu anak-anak saya.

Tuhan, tolong saya dimudahkan agar saya tetap konsisten dengan perasaan yang sekarang tumbuh tidak kenal batasan. Dan tolong saya dibimbing agar saya tidak lagi terjerumus dan kembali pada episode-episode yang telah lampau. Biarkan itu menjadi sejarah saya, yang mungkin buram. Amin.

Jumat, 19 Agustus 2011

2 tahun Silam

Masih ingatkah kamu Ramadhan dua tahun lalu? Saat itu dengan tegas kamu mengatakan tidak untuk tawaran hati yang aku ungkapkan dengan terbata. Kamu bilang kamu tidak ingin menjadkan aku sebagai pelarian, meskipun sebetulnya tidak sedikitpun aku keberatan. Memang, saat itu kamu belum sepenuhnya lepas dari kekasihmu yang menurutmu hanya memberimu kekosongan. Kamu masih diambang keraguan diantara pilihan untuk tetap bertahan atau mengambil langkah menyudahkan.

Dan aku datang membuat runyam. Memperkeruh keadaan yang sedang tidak jelas juntrungannya. Menawarkan sebongkah hati untuk saling berbagi, mengulurkan tangan untuk saling berpegangan. Awalnya kamu memang gamang, melayani apa yang sedang aku lakukan. Tapi beberapa kali kamu berhenti, menengok ke belakang dan kemudian bimbang. Sesaat melepaskan genggaman, kemudian menyambutnya lagi dan berjalan berdampingan.

Saat itu aku tidak peduli. Aku memilih buta ketika kamu seringkali beringsut mundur dan menghampiri pacarmu yang kosong untuk sekedar menggugat. Tidak aku pedulikan perasaanku yang sebetulnya juga berdarah-darah, dipermainkan oleh sikapmu yang seringnya ambigu. Tapi aku bertahan juga entah untuk apa. Mungkin aku bodoh, tapi saat itu sepertinya aku tidak punya pilihan selain memperjuangkan apa yang aku rasakan sampai titik akhir yang belum jelas tergambar.

Saat itu ramadhan. Dan kamu menolakku. Memberiku kepedihan yang lumayan karena aku sudah terlanjur membelanjakan banyak hal. Mempertaruhkan persahabatanku dengan banyak orang yang justru menentang apa yang aku lakukan. Menurut mereka aku salah jalan, memboroskan perasaan terhadap orang yang tidak layak. Aku bergeming, memilih diam dan bertahan kepada kebodohanku mencintaimu yang masih bimbang dan belum mau memutuskan.

Aku memang salah. Datang seperti rautan yang memperuncing keadaan antara kamu dengan pacarmu yang kosong. Seperti hapusan aku ingin menghilangkan coretan cerita yang pernah kalian torehkan dalam putaran waktu terhitung bulan. Tapi kenapa kemudian kamu melayani? Tapi kenapa kemudian kamu sepertinya nyaman dengan apa yang aku lakukan? Kamu seakan memanfaatkan kebodohanku demi kepentinganmu.

Sampai aku tersadar ketika kamu akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melayani. Memilih menjadi bagain kosong kekasihmu yang sering kamu ributkan. Aku menerima dan kemudian beringsrut mundur, memberi kesempatan bagi hatiku sendiri untuk tersembuhkan meskipun harus dengan cara menutup semua akses komunikasi denganmu. Aku tidak ingin kamu dilimbung bimbang, dan aku tidak ingin perasaanku terombang-ambing lagi dengan kebodohan yang bisa saja berulang.

Tapi kamu mengikutiku bagai hantu, bahkan sampai saat ini. Untuk apa kamu memfollow twitterku dan sering berkomentar tentang apa yang aku tuliskan? Untuk apa kamu berulang-ulang meng-add pin BB ku. Seperti tidak jera ketika aku hapus dan kamu meng-add-nya kembali, begitu seterusnya sampai aku bosan dan menyerah di ujung jalan. Kamu masih mengungkit cerita lama, menghadirkan perasaan yang sebetulnya belum purna menghilang. Kamu tahu itu, dan lagi-lagi kamu memanfaatkannya.

Sudahlah, aku tidak ingin melakukan kebodohan seperti saat ramadhan 2 tahun silam. Aku memang masih sendirian, tapi bukan berarti aku bisa kembali kepadamu yang sudah aku ibaratkan sebagai barang usang. Pantang bagiku mengorek-ngorek barang lama meskipun mereka menjanjikan rasa baru yang mungkin lebih menawan. Sekian.

Rabu, 17 Agustus 2011

Pagi

Menangislah, menangislah terus sampai kamu merasa beban yang membatu dihatimu terkikis hingga musnah. Bukankah itu fungsinya glandula lakrimalis si kelenjar air mata yang Tuhan ciptakan menggantung di kedua sudut kelopakmu? Membantu mengenyahkan apa yang menggelayut berat dihatimu ketika hati itu sendiri tidak lagi bisa diajak berkompromi. Menangislah, karena menangis tidak selalu menunjukan kalau kamu lemah. Kadangkala untuk menjadi kuat kita harus berteman dengan air mata.

Gunakan waktumu, tidak peduli kalau beberapa hari ini kamu habiskan waktumu untuk berderai tidak berhenti. Biarkan saja air mata itu membentuk jejak dan mengkristal di wajahmu. Setidaknya kamu akan merasa puas karena telah menumpahkan perasaanmu dalam denting kesedihan, atau mungkin justru penyesalan. Entahlah. Yang pasti menangislah terus ketika kamu merasa masih perlu, dan baru berhenti saat kamu merasa sudah cukup.

Aku belum bisa menyibak tirai kesedihanmu. Kamu masih bersembunyi di balik tameng besi seperti tempurung kura-kura yang kuat tersendikan antara plastron dengan epistronnya. Tempurung atas dan tempurung bawah. Kamu masih belum bersedia menguak apa yang menjadi kekhawatiranmu, kesedihanmu dan mungkin bisa jadi penyesalanmu. Aku mengerti, makanya aku memberimu keleluasaan. Tidak ada paksaan untuk kamu menceritakan apa yang sebetulnya kamu rasakan.

Biarkan aku menerka-nerka. Menelisik dari kumpulan prosa yang mengalir dalam dawai beraromakan cinta. Mungkin aku salah karena aku hanya meraba-raba, mungkin aku berlaku sok tahu karena hanya mengejawantahkan kumpulan kata menjadi sebuah premis yang mungkin akan kamu tentang habis-habisan. Aku hanya khawatir, tidak suka melihatmu terlarut dalam kesedihan panjang seperti sekarang.

Aku rasa semua ini karena pagi. Pagi yang kamu inderai lewat ujung cuping hidungmu. Pagi yang datang menurunkan embun yang ternyata memabukkan, sementara kamu terlanjur menyesapnya terlalu dalam. Kamu kemudian terlena karena embun itu menyejukan hatimu yang sedang dihadang kerontang akibat sebuah pengkhianatan. Pagi itu datang, membawa kegembiraan melalui sebuah pengharapan. Dan kamu hidup dalam pengharapan itu, sebut saja berlebihan. Mungkin.

Kamu hanya terbuai. Kamu tidak sadar kalau sebetulnya pagi akan berubah siang meski besok pagi pasti akan kembali datang. Kamu terlanjur asik mencumbui apa yang pagi hadirkan seperti ketika kamu memutuskan duduk di tepian danau sambil menikmati tarian angsa yang berputar penuh keindahan. Sambil kamu sesap terus udara pagi, kamu meretas banyak harapan yang tidak sempat terungkapkan. Kamu bertaruh atas dasar keyakinan yang lagi-lagi menurutmu patut untuk diperjuangkan.

Ketika pagi beranjak makin terang, kamu dilimbung silau. Tidak siap dengan berbagai kemungkinan yang sebetulnya sudah kamu sadari dari awal. Akhirnya kamu hanya bisa bersedih seperti sekarang karena ternyata kenyataan tidak sejalan dengan apa yang kamu harapkan. Pagi ternyata tidak abadi, pagi ternyata termiliki, dan pagi ternyata punya jalannya sendiri.

Apapun itu, aku harap kamu belajar sesuatu. Tidaklah mudah menurunkan sauh untuk berlabuh meski perlahan tanpa cukup perbekalan. Tidak ada sebuah negeri yang berisi hanya sepenggal pagi, sehingga kamu harus siap berbagi dengan siang, sore bahkan malam. Dan kalau pagi ternyata memutuskan untuk berjalan di pematangnya tanpa kamu dalam gandengan, maka cukup kamu ikhlaskan. Karena pasti akan datang pagi-pagi lain yang membawa kepastian di hari-hari mendatang.

Menangislah. Kalau perlu sampai kamu tertidur karena letih. Tapi kamu perlu tahu bahwa disini masih ada aku, sahabat yang mengamatimu dari jauh. Yang siap untuk mendengar keluhanmu ketika kamu sudah merasa perlu dan mampu. Aku berjanji tidak akan menghakimi, karena seperti halnya kamu, aku juga pernah terlena sebuah negeri bernama pagi.

Senin, 15 Agustus 2011

Ingatan tentangmu

I miss you, still.

Sebaris kalimat pembuka yang aku terima dari emailmu semalam. Email yang membuatku tersenyum sendiri dan mengingat sebuah episode tentang kita. Dulu. Episode yang (lagi-lagi) terpaksa ditamatkan karena waktu tayangnya yang sudah habis. Bukan karena kita tidak ingin memperpanjangnya menjadi season 2 seperti halnya sinetron di Indonesia, tapi saat itu kita sama-sama berdiri di tingkat kewarasan penuh. Sadar bahwa semua akan sulit untuk diperjuangkan.

Email semalam adalah perangkat komunikasi kita yang sempat terputus beberapa tahun lalu. Kita sama-sama berhenti berkirim kabar bahkan untuk saling mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu yang meminta, katamu akan sulit untuk berhenti memikirkan tentang kita apabila kita masih intens berkomunikasi. Aku setuju, guna menjaga perasaanmu. Tidak ingin lagi ada kegiatan saling menyakiti, cukup bagiku pernah menyakitimu sekali waktu itu. Waktu aku akhirnya meninggalkanmu di bandara.

Kamu membuka emailmu dengan pertanyaan-pertanyaan ingatkah aku? Tentu saja aku ingat. Semuanya. Kamu dan memorinya masih menempati sepenggal ruang di dalam ingatanku, selamanya akan begitu. Aku tidak ingin menghapusnya dengan alasan apapun. Kamu terlalu istimewa untuk disingkirkan dengan mudah, terlalu indah untuk tidak dikenang sebagai masa lalu yang mendewasakan. Kamu akan tetap begitu, istimewa dan indah.

Aku ingat bagaimana kamu mengkhawatirkanku saat aku menjalankan puasa di tengah musim panas yang melelahkan. Aku ingat bagaimana pertengkaran-pertengakaran kita ketika kamu bersikukuh menyuruhku membatalkan puasa karena katamu wajahku terlihat pucat. Aku ingat semuanya. Bahkan aku ingat bagaimana kamu menemaniku berbuka dan sahur sambil mengantuk di meja makan apartemen kita. Mukamu lucu ketika itu, ada sungkan tapi kamu merasa perlu. Perpaduan antara keberatan dan rasa sayang.

Katamu, kamu kemarin teringat aku karena ada mahasiswamu yang juga melakukan puasa. Dan itu seperti memacu ingatanmu untuk menaiki mesin waktu dan kembali ke masa lalu. Masa-masa yang pernah kita lalui bersama yang di dalamnya terdapat irisan bulan puasa yang aku jalankan bersamamu. Ya bersamamu, karena kadang kamu juga melakukan puasa meskipun sering siang-siang aku terima sms mu yang mengabarkan kalau kamu minum karena tidak kuat, atau kamu yang meminta ijin untuk makan duluan pada jam-jam terakhir kita melakukan puasa.

Semua ingatan berlarian minta ditayangkan dalam gambar kenangan. Mungkin itu juga yang kamu rasakan disana, berhenti pada titik-titik memori tentang kita. Tentang kita yang ternyata harus mengubur impian untuk terus berpegangan, saling berbesar hati untuk melepaskan mimpi yang kita genggam bersamaan. Semua demi tujuan yang tidak bisa lagi kita perjuangkan, tujuan yang ternyata mengharuskan kita berjalan berlawanan.

Tapi seperti yang kamu bilang dulu ketika kita berpisah di bandara, tidak pernah ada yang sia-sia dengan cinta. Tidak ada yang salah ketika kita memutuskan untuk tidak lagi beriringan. Semua sudah ditasbihkan, semua hadir karena alasan. Dan katamu butuh banyak alasan untuk melepasku waktu itu. Masa studiku yang telah berakhir dan mengharuskanku kembai ke Indonesia, kariermu yang mulai menanjak dan tidak akan pernah gampang untuk ditinggalkan, semua jadi alasan yang mengantarkan kita pada perpisahan. Tapi kita sudah sama-sama dewasa, tidak ada lagi keegoisan dalam keputusan yang kita buat. Semua sudah dipikirkan.

Ramadhan tahun ini kamu datang lagi, perantaraan kalimat-kalimat maya di layar komputerku. Saling mengenang satu sama lain untuk alasan yang mungkin sama. Demi masa lalu. Soal kerinduanmu, jangan khawatir. Aku juga merindukanmu dengan caraku sendiri yang mungkin tidak akan kamu mengerti.