Halaman

Jumat, 15 Juli 2011

Somebody Else's Lover

Mencintai kekasih orang itu sering kali menyulitkan, terlebih ketika dia justru juga melayani.

Mencintai kekasih orang itu sering kali tidak lebih dari memboroskan energi. Mengorbankan apa yang seharusnya tidak layak dikorbankan, membelanjakan hati pada sesuatu yang tampak nyata padahal palsu. Semua hanya sia-sia.

Tapi katanya tidak pernah ada yang sia-sia dalam cinta. Tidak ada percuma ketika kita berjalan di haluan yang kita yakini benar, walau itu akan menyakiti. Bukan hanya menyakiti pasangan resmi dari orang yang kita cintai, tapi lebih parah. Menyakiti diri kita sendiri. Menyodorkan dengan rela sebongkah perasaan untuk dibuat menjadi serpihan. Kita sering tahu benar resikonya, tapi kita tetap menjalaninya. Entah untuk alasan apa.

Mencintai kekasih orang itu sering kali menyulitkan, terlebih ketika jerat cinta itu berbekas tak mau hilang dari labirin bernama memori.

Mencintai kekasih orang itu sering kali menyulitkan, terlebih ketika kita ternyata benar-benar jatuh cinta kepadanya. Memilih buta dengan menjalani apa yang tidak bisa ditolelir logika. Memilih didera ribuan kecewa karena ternyata kita seringkali menelan pahit yang dijejalkan paksa ke dalam selaksa. Membatin ketika dia, kekasih orang yang kita cintai itu dengan ringan bercerita tentang pasangannya. Rasanya hanya ingin berdua tanpa membicarakan sesuatu yang justru membuat luka semakin menganga.

Apa yang kita dapat dari itu semua? Tidak ada, kecuali kesakitan dan perasaan terabaikan.

Aku pernah mengalaminya. Mencintai dengan segenap hati seseorang yang masih dalam suatu hubungan. Berusaha menyelusup dalam runyam masalah yang sedang mereka hadapi. Menjelma menjadi zat yang justru memperkeruh. Layaknya rautan yang justru memperuncing, bagai apusan yang ingin menghilangkan apa yang telah dituliskan. Aku menjalaninya dengan sadar, sadar bahwa di akhir cerita aku pasti tidak akan mendapat apa-apa.

Aku menikmati semuanya. Menikmati remah-remah sisa yang aku pungut di halaman orang. Memanfaatkan semua kesempatan kecil untuk menunjukkan bahwa aku punya hati warna perak yang siap dibagi. Bodoh memang, karena meskipun aku mendapat sesuatu, itu pasti hanya bagian kecil dari apa yang seharusnya tidak aku banggakan.Potongan-potongan kecil itu tidak akan membawaku kemana-mana.

Ketika aku sadar, semua telah terlanjur jauh. Sudah banyak yang aku belanjakan. Sudah banyak fragmen-fragmen yang justru mengendap di labirin perasaan. Berkarat tak mau hilang, menancap menyebabkan luka ketika sedikit bergerak.

Aku memang menjauh. Dia juga menjauh. Tapi itu tidak lantas membuat semuanya usai. Sampai saat ini aku masih memendam perasaan. Entah untuk apa?

Rabu, 13 Juli 2011

Melalui Angin

Saya mengenal orang ini perantaraan angin. Melalui aksara yang diterbangkan bersamaan dengan debu. Aksara yang kemudian mengendap dalam imaji dan membangun sosok tanpa wujud asli. Saya hanya berharap bahwa angin ikut menghembuskan nyawa sehingga membuatnya menjadi nyata, tak hanya berupa kata.

Kepada angin saya kemudian selalu menitipkan pesan, mencoba mengenali jati dirinya. Mengorek detail relief hatinya yang seakan beku. Tetapi yang saya dapatkan hanyalah dingin, karena dia tidak mudah disibak. Dia berlindung dalam ketegaran laksana karang di tepian pantai. Kokoh berdiri diterjang gelombang.

Saya berjuang dalam keyakinan pada angin. Yakin bahwa angin akan menyampaikan semua pesan yang tak perlu saya ucapkan. Saya hanya yakin bahwa dibalik baju besi yang dia pakai, saya akan menemukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin saya cari selama ini dalam pengembaraan hati, pengembaraan yang tak jelas ujungnya karena seringkali hanya menempatkan saya di gurun tandus tanpa suara.

Saya memanjatkan doa perantaraan angin, berharap Sang Sutradara Hidup mendengar semua pinta. Saya hanya meminta diberi kesempatan untuk mengenal dia lebih jauh, menuntaskan apa yang sudah saya mulai. Menyelesaikan kepenasaran akan cinta. Melalui angin saya tak lagi berbisik, saya berteriak lantang : Tolong beri saya kepastian!!!

Ternyata tak perlu ribuan anak panah yang terlepas dari busurnya seiring waktu, angin kemudian memberi saya jawaban. Keterbukaan yang saya cari selama ini akhirnya terpapar dengan sempurna. Saya melihat dia justru dalam perspektif yang tidak lagi sama, dan ternyata saya tidak siap. Dia, seseorang yang saya ingin ketahui aslinya ternyata sedangkan memanggangkan tubuhnya dalam bara. Menomorsekiankan logika hanya karena cinta.

Angin tidak hanya memberikan jawaban, tapi angin juga membelot. Dia berubah menjadi badai, memporakporandakan hati dan perasaan saya. Memaksa saya untuk terhempas mundur dari dalam himpunan. Mencabuti rasa yang sedang saya semai, melucuti semua keyakinan saya akan damai.

Saya yang dihempas kenyataan kemudian bergumam : “Angin, entah ini cobaan atau becandaan, tetapi kenapa engkau mengirim lagi sebongkah hati dengan status kekasih orang?”

Kamis, 07 Juli 2011

Hujan

Lihat, di luar masih saja hujan padahal beberapa hari kemarin aku sudah membaui kemarau. Sudah jarang aku lihat gelungan awan yang membentuk ekor hujan, bahkan bau tanah kering sudah memenuhi lorong-lorong jalanan seperti dupa yang dibakar di malam keramat.

Aku menyukai kemarau, aku kecanduan kerontang. Dan aku benci hujan.

Hujan membuatku teringat padamu, melingkarkan lembar-lembar ingatan dengan ikatan kencang yang sebenarnya aku ingin terjang. Tapi bagaimana aku bisa beranjak kalau hujan sering memapah halaman, membasahi pepohonan yang belum sepenuhnya kering. Aku tidak suka hujan, karena menurutku hujan justru menyakitkan. Membawaku pada bongkah kesedihan yang seperti dikoyak berulang-ulang ketika debu digantikan becek jalanan.

Aku membenci hujan seperti halnya aku membencimu. Sudah ribuan kata maaf aku ucapkan, karena katanya memaafkan akan membebaskan jiwaku dari pasung berkepanjangan. Memaafkan akan menyuburkan hati untuk siap lagi ditanami. Memaafkan...dan aku sudah melakukan itu, berulang-ulang kali. Tapi kenapa ketika hujan datang perasaan membencimu justru tumbuh lagi. Seperti akar belukar yang kehilangan dormansi perantaraan lindian air, kembali berdaun setelah sebelumnya mati suri. Hidup menggagas jalar merajalela.

Di luar hujan, dan aku masih saja memupuk dendam.

Ingatkah apa yang sudah kamu lakukan waktu itu? Saat itu di luar hujan, dan aku menggigil. Bukan gigil karena dibekukan dingin, bukan juga gigil karena diterpa angin yang hilir mudik menyelusup melalui kaca nako yang dibiarkan terbuka. Aku menggigil karena aku tidak terima dengan apa yang sudah secara sepihak kamu putuskan. Aku memang menggunakan hakku untuk berbicara, membela diri karena aku merasa perlu. Mempertahankan apa yang sebetulnya masih bisa aku pertahankan. Tapi kamu memilih tuli, mengabaikan semua sarana.

Apa sih hebatnya dia sampai kamu memilih untuk beranjak dari hunian hati kita dan berpaling ke arahnya? Aku tidak bodoh, aku tidak akan mempermalukanmu di hadapan teman-temanmu. Aku tidak nista, dan meskipun aku nista aku akan berdiri setia kepadamu sampai kapanpun. Aku tidak miskin, aku punya pekerjaan yang menjanjikan yang artinya aku tidak akan menyusahkanmu secara finansial. Apa yang dia punya dan aku tidak? Apa yang dia tawarkan dan aku mungkin sungkan? Apa? Tidakkah kamu ingin menengok sejenak ke belakang untuk melihat apa yang sudah aku lakukan? Aku bukan perhitungan, aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku layak dipertahankan.

Aku membencimu karena hujan. Saat kamu berlari ke arahnya dan meninggalkanku, hujan sedang deras membanjiri ladang. Mengaliri parit-parit dan membuatnya tergenang, menghanyutkan segala perasaan yang hanya bisa dikenang. Akhirnya kukemasi segala sesuatu yang pernah kupelihara di lubuk perasaan. Kupunguti tetesan rindu yang pernah kutampung dalam berlembar-lembar surat cinta. Kusimpan semuanya di halaman, berharap datang bandang yang akan menghanyutkannya menabrak karang. Mengoyaknya hingga menjadi serpihan, hingga tidak ada lagi yang bisa di kenang kecuali ketika hujan.

Aku benci hujan. Bagaimana aku bisa melupakanmu kalau setiap ada kesempatan kamu datang menunggang hujan. Menitis dalam rintik yang hinggap di pucuk cemara.

Senin, 04 Juli 2011

Perpisahan

Saya tidak suka perpisahan. Perpisahan hanya akan membuat jambangan kesedihan saya bertambah lagi isinya. Perpisahan hanya akan meninggalkan bekas luka, jejak air mata. Karenanya saya sebisa mungkin menghindari perpisahan.

Tapi bagaimana saya bisa menghindari perpisahan padahal sudah menjadi tasbih alam ketika ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Ketika ada awal pasti akan ada sebuah akhir. Meskipun begitu saya tetap saja tidak menyukai perpisahan. Perpisahan itu muram, menghambat sejenak langkah yang harusnya berpacu seiring waktu.

Semalam saya dipaksa mengucapkan perpisahan. Dipaksa karena sebenanrnya saya tidak ingin melakukannya. Keadaan membuat saya tidak punya pilihan, keadaan membuat saya egois untuk meningalkannya.

Saya tidak ingin berpisah dengannya. Bersamanya saya meraih apa yang saya mau, bersamanya saya pernah melalui hari-hari berat penuh rintangan dan keluar sebagai pemenang. Saya dan dia seperti tidak terpisahkan, terpautkan oleh sesuatu yang saya sebut dengan tujuan. Memang seringkali saya berbuat curang, mengkhianatinya dengan berbagai alasan tapi akhirnya saya tetap kembali kepadanya. Merapal lagi janji untuk setia sampai nanti.

Dia memberi saya kepuasan. Menghadiahi saya dengan bentuk yang selama ini saya idam-idamkan. Sebagian orang memanggil saya gila, memandang hubungan saya dengannya tidak lagi sehat. Mereka bilang, dia membuat saya menyiksa diri. Mereka bilang dia membuat saya sering menarik diri dari undangan perjamuan makan. Saya tidak peduli, saya suka dan nyaman hidup bersamanya. Orang lain boleh bilang saya menyiksa diri, tapi saya bilang saya mendapatkan kepuasan. Hidup dengannya seringkali membuat saya memperoleh multiple orgasm. Kepuasaan lahir batin.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya untuk mengucapkan perpisahan terhadapnya. Sekian tahun kami sudah hidup bersama, rasanya begitu berat ketika harus memutuskan mengakhiri apa yang dulu pernah kami sepakati. Jujur, saya tidak ingin berpisah darinya. Dijauhkan dari dia mungkin akan membuat saya gila, kehilangan pegangan yang selama ini menuntun saya untuk berjalan bahkan ketika saya berada di titik kulminasi paling rendah dalam hidup. Dia ada disana, di samping saya menyaksikan bagaimana saya tumbuh. Bertransformasi dari bentuk layaknya abstrak sampai bentuk mendekati yang saya mau. Dia testimoni hidup saya.

Sayang, keadaan tidak seterusnya berpihak kepada kami. Keadaan yang tidak menguntungkan seperti sekarang membuat saya harus menggagas ulang hubungan kami. Dan saya sampai pada keputusan bahwa hubungan ini harus disudahi. Mungkin nanti bisa digagas kembali, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Keadaan tidak memungkinkan bagi kami untuk segera kembali. Saya yakin dia akan mengerti, meyakini bahwa ini adalah hal yang terbaik untuk saya saat ini. Dia akan baik-baik seperti biasanya, meski saya tidak yakin apakah saya akan baik-baik saja setelah perpisahan ini. Saya akan mencoba tegar, menjalani semua konsekuensi.

Tidak ada pesta perpisahan yang meriah. Tidak juga ada peluk mesra ketika kami akan berjalan berlawanan. Semua sudah takdir yang memang harus diikuti, demi kebaikan semuanya. Saya mungkin menangis, tapi saya yakin bahwa apa yang sudah saya putuskan adalah jalan yang paling baik untuk saat ini. Tidak boleh ada penyesalan di akhir cerita, tidak boleh ada pengingkaran di batas pengharapan. Saya dan dia resmi melakukan perpisahan.

Semalam saya hanya mengucapkan sepenggal kalimat perpisahan lirih tanpa rima. “Dengan aktivitas saya belakangan ini yang super padat dan sakit saya yang berulang dalam rentang jarak waktu hanya 6 bulan, sepertinya saya tidak bisa lagi melibatkan kamu dalam hidup saya. Biarkan saat ini saya sendiri dulu tanpa ada kamu, DIET!”