Ternyata saya cemburu, padahal saya tidak berhak untuk melakukan itu. Dia bukan siapa-siapa saya lagi, jadi ketika dia memulai hidupnya lagi dengan berhubungan dengan seseorang kenapa saya harus cemburu.Mungkin benar kata teman-teman saya, cemburu yang saya rasakan akibat karena saya sampai sekarang ternyata belum bertemu dengan seseorang yang bisa mengisi hati saya. Saya merasa kalah oleh keadaan, kalah bersaing dengan dia yang ternyata lagi-lagi lebih dahulu menemukan pelabuhannya yang baru.
Picik memang kalau MISALNYA saya merasa seperti itu, tapi sumpah, tidak sedikitpun saya merasa tidak senang ketika dia menurunkan jangkar hatinya dan kemudian berlabuh. Cerita diantara kami sudah berakhir, diterminasi dengan cara yang dewasa. Saling sadar bahwa hidup harus terus berjalan meskipun tidak lagi bisa bersamaan. Hidup harus terus dijalani, dan apabila dalam perjalanannya bertemu dengan pasangan yang baru itu adalah takdir yang tidak bisa dihindari. Tidak mungkin kita selalu terpaku pada masa lalu.
Saya hanya cemburu. Entah untuk alasan apa. Terdengar klise pastinya apabila saya mempertanyakan kemudian seperti tidak tahu jawabannya dengan pasti. Disadari atau tidak, kalau saja saya mau melihat hati saya lebih dalam saya akan tahu jawabannya. Dengan JELAS. Jawaban yang sebetulnya sudah saya temukan sejak pertama kali menyadari bahwa dia sudah mulai menata hubungannya yang baru.
Kemudian hati saya tergelitik untuk bertanya pada diri saya sendiri. Jangan-jangan saya masih mencintainya seperti dulu? Tapi seperti biasa diri saya menolak untuk menjawab, seperti diberi pertanyaan retorik yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban. Tidak mau mengakui karena ada hal-hal yang membuat saya melihat lagi jalanan yang pernah kami lewati ketika masih bersamaan. Menggugat cerita-cerita yang bagai onak dalam daging. Menyakitkan ketika berusaha untuk disingkirkan. Dan mungkin karena itu saya lebih memilih onak itu tetap bersarang ketimbang harus menyingkirkannya dan merasakan kepedihan.
Saya mungkin bodoh. Melepas sebuah jalinan yang disadari atau tidak membuat saya berada di dalam bentuk kenyamanan yang luar biasa. Melepas seseorang yang sebetulnya mencintai saya jauh di luar kapasitas saya mencintai dia. Hanya gara-gara sedikit kesalahan yang sebetulnya dapat dengan mudah diabaikan, saya melepaskan genggamannya. Tapi itu bila dilihat dengan pikiran saya yang sekarang, dulu kesalahan itu tetap saja menyesakkan.
Menyesal di hari kemudian memang seringkali tidak ada gunanya. Tapi menurut saya tetap berguna. Setidaknya kita menjadi tahu bahwa kita pernah membuat sebuah kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi di waktu yang akan datang. Pembelajaran yang berharga bahwa ternyata melepas seseorang yang sebetulnya berkualitas itu ternyata sebuah kesalahan.
Soal cemburu, biarkan itu jadi urusan saya sendiri. Saya harus dengan dewasa belajar menjalani konsekuensi atas apa yang pernah saya perbuat. Lambat laun rasa itu mungkin akan terkikis seiring dengan kebahagiaan yang dia reguk dari hubungannya kali ini.
Tidak ada yang melebihi kebahagiaan saya selain melihat dia, seseorang yang pernah mengisi labirin hati saya mendapatkan kebahagiaannya.
Terucap sebingkai doa agar hubungannya kali ini bisa mengantarkannya pada kebahagiaan yang selama ini dia cari. Amin.


