Halaman

Senin, 13 Juni 2011

Jealous

Ternyata saya cemburu, padahal saya tidak berhak untuk melakukan itu. Dia bukan siapa-siapa saya lagi, jadi ketika dia memulai hidupnya lagi dengan berhubungan dengan seseorang kenapa saya harus cemburu.

Mungkin benar kata teman-teman saya, cemburu yang saya rasakan akibat karena saya sampai sekarang ternyata belum bertemu dengan seseorang yang bisa mengisi hati saya. Saya merasa kalah oleh keadaan, kalah bersaing dengan dia yang ternyata lagi-lagi lebih dahulu menemukan pelabuhannya yang baru.

Picik memang kalau MISALNYA saya merasa seperti itu, tapi sumpah, tidak sedikitpun saya merasa tidak senang ketika dia menurunkan jangkar hatinya dan kemudian berlabuh. Cerita diantara kami sudah berakhir, diterminasi dengan cara yang dewasa. Saling sadar bahwa hidup harus terus berjalan meskipun tidak lagi bisa bersamaan. Hidup harus terus dijalani, dan apabila dalam perjalanannya bertemu dengan pasangan yang baru itu adalah takdir yang tidak bisa dihindari. Tidak mungkin kita selalu terpaku pada masa lalu.

Saya hanya cemburu. Entah untuk alasan apa. Terdengar klise pastinya apabila saya mempertanyakan kemudian seperti tidak tahu jawabannya dengan pasti. Disadari atau tidak, kalau saja saya mau melihat hati saya lebih dalam saya akan tahu jawabannya. Dengan JELAS. Jawaban yang sebetulnya sudah saya temukan sejak pertama kali menyadari bahwa dia sudah mulai menata hubungannya yang baru.

Kemudian hati saya tergelitik untuk bertanya pada diri saya sendiri. Jangan-jangan saya masih mencintainya seperti dulu? Tapi seperti biasa diri saya menolak untuk menjawab, seperti diberi pertanyaan retorik yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban. Tidak mau mengakui karena ada hal-hal yang membuat saya melihat lagi jalanan yang pernah kami lewati ketika masih bersamaan. Menggugat cerita-cerita yang bagai onak dalam daging. Menyakitkan ketika berusaha untuk disingkirkan. Dan mungkin karena itu saya lebih memilih onak itu tetap bersarang ketimbang harus menyingkirkannya dan merasakan kepedihan.

Saya mungkin bodoh. Melepas sebuah jalinan yang disadari atau tidak membuat saya berada di dalam bentuk kenyamanan yang luar biasa. Melepas seseorang yang sebetulnya mencintai saya jauh di luar kapasitas saya mencintai dia. Hanya gara-gara sedikit kesalahan yang sebetulnya dapat dengan mudah diabaikan, saya melepaskan genggamannya. Tapi itu bila dilihat dengan pikiran saya yang sekarang, dulu kesalahan itu tetap saja menyesakkan.

Menyesal di hari kemudian memang seringkali tidak ada gunanya. Tapi menurut saya tetap berguna. Setidaknya kita menjadi tahu bahwa kita pernah membuat sebuah kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi di waktu yang akan datang. Pembelajaran yang berharga bahwa ternyata melepas seseorang yang sebetulnya berkualitas itu ternyata sebuah kesalahan.

Soal cemburu, biarkan itu jadi urusan saya sendiri. Saya harus dengan dewasa belajar menjalani konsekuensi atas apa yang pernah saya perbuat. Lambat laun rasa itu mungkin akan terkikis seiring dengan kebahagiaan yang dia reguk dari hubungannya kali ini.

Tidak ada yang melebihi kebahagiaan saya selain melihat dia, seseorang yang pernah mengisi labirin hati saya mendapatkan kebahagiaannya.

Terucap sebingkai doa agar hubungannya kali ini bisa mengantarkannya pada kebahagiaan yang selama ini dia cari. Amin.

Rabu, 08 Juni 2011

Backpacker

Saya orangnya tidak suka diremehkan, apalagi tentang hal-hal yang sebetulnya tidak tampak dari luar. Bukan berarti karena gaya hidup yang selama ini saya jalani kemudian orang-orang di luaran sana menilai bahwa saya tidak mau diajak ini dan itu yang nampak menyusahkan. Saya bisa kalau saya mau.

Tengah tahun lalu saya ditantang untuk melakukan perjalanan backpacker ke negara tetangga. Biasa, ada promo tiket pesawat murah untuk terbang di tahun berikutnya. Merasa ditantang dan diremehkan karena teman-teman saya menganggap kalau saya tidak akan bisa, maka saya pun mengiyakan. Jadilah tengah tahun lalu saya dan beberapa teman membeli tiket untuk perjalanan Backpacker saya yang pertama. Negara yang ditujupun sebetulnya tidak asing buat saya. Singapura.

Karena terbang untuk tahun berikutnya, saya sampai lupa kalau saya ada rencana untuk pergi backpacker tersebut. Kalau saja sebulan sebelumnya pihak maskapai tersebut tidak mengirimi saya email tentang konfirmasi ulang keberangkatan saya, mungkin saya akan lupa.

Jadilah minggu kemarin itu saya mengunjungi Singapura (lagi), bedanya dengan perjalanan sebelum-sebelumnya adalah kali ini saya beneran backpakeran. Pergi hanya dengan satu buah tas gendong, dan tanpa ada embel-embel masalah hati.

Selayaknya perjalanan backpacker, saya dan 4 orang teman menginap di salah satu hostel di dekat kawasan little India. Dan ini juga pengalaman pertama saya menginap di hostel yang satu kamar berisi 8 orang penghuni campur dengan tamu-tamu yang lain. Awalnya saya takjub dengan suasana kamarnya, tapi selama ada kasurnya pikiran saya aman. Dan untuk pertama kalinya pula saya tidur di ranjang tingkat bagian atas. Seru juga ternyata, karena harus mikir-mikir kalau mau banyak gerak takut si bule di bawah terganggu. Harus hati-hati pas turun tangga biar tidak jatuh dan tidak menimbulkan banyak suara.

Perjalanan kali ini, saya total mengikuti apa yang sudah direncanakan teman-teman saya. Turun naik MRT, jalan kaki, istirahat sambil curi-curi tidur siang sebentar di mushola, makan di tempat makan murah yang setiap mau makan yang pertama dilihat adalah harganya dan bukan menunya dan harus nasi. Semuanya menyenangkan, dan saya tidak mengeluh. Kecuali bagian gerahnya karena Singapura kemarin itu sedang benar-benar panas amat sangat. Tapi keseluruhan perjalan backpacker kemarin sungguh menyenangkan, dan saya tidak kapok. Catet, saya tidak kapok.

Bukan ke Singapura kalau tidak belanja, dan meskipun judulnya backpacker tetap saya dan teman-teman ‘menyempatkan’ diri untuk mengunjungi orchard semalaman. Dan karena ketertarikan masing-masing berlainan, maka kami memutuskan untuk berpencar dan berjanji untuk bertemu di tempat yang sudah ditentukan pada jam yang sudah ditentukan juga. Dan ini kesempatan bagi saya untuk melipir bertemu dengan calon mertua (tidak jadi) yang sebelumnya sudah janjian untuk bertemu. Sepertinya mereka masih sayang sama saya, meskipun anaknya sudah tidak (sedikit curcol). Mereka membawa saya makan di restauran yang lumayan dan membelanjai saya beberapa barang. Kata mereka mumpung Tangs lagi sale besar-besaran. Saya bukan memanfaatkan keadaan, tapi kalau dikasih saya tidak menolak.

Inti dari perjalanan kemarin ke Singapura, Backpacker itu hanya slogan saat pergi karena pulang dari sana saya tetap menjadi miss jing-jing. Tapi saya tidak kapok lho buat pergi backpacker, jadi kalau misalnya ada yang mengajak saya untuk backpacker lagi. Asal cocok dengan jadwal kerjaan, saya pasti mengiyakan. So, anyone???

Senin, 06 Juni 2011

Mari Berbincang

Kemarilah, duduk di sebelahku dan mari kita berbincang seperti layaknya dua orang dewasa. Dua orang yang sudah paham benar apa itu hidup sehingga tidak lagi ada kata yang beramunisikan amarah.

Aku dan kamu sama-sama sudah tahu bahwa dalam menuju ‘kita’ dibutuhkan banyak usaha. Diperlukan ribuan langkah berani untuk sekedar menjajal semua kemungkinan yang bisa dipertimbangkan. Dibutuhkan tidak hanya satu jalan karena jalan yang awalnya terlihat bisa saja berujung pada kebuntuan, atau ternyata jalan tersebut terjal sehingga menimbulkan sebuah ketidakmungkinan. Tapi aku dan kamu sama-sama berusaha, saling menggagas semua cara untuk sampai pada sebuah titik pemberhentian. Kita.

Aku dan kamu berproses. Saling meredam ego masing-masing, saling mengalah padahal mungkin sebetulnya tidak ada yang ingin merasa kalah. Tapi aku dan kamu melakukan itu, menghilangkan segala bentuk dominansi, sama-sama merasa memiliki tanggung jawab untuk sekedar membuat apa yang sudah dirintis setidaknya berguna. Tidak kemudian menjadi sia-sia karena terpentalkan oleh tindakan yang justru akan menjauhkan.

Sini, mari berbincang seperti layaknya dua orang dewasa. Dua orang yang sudah banyak pengalaman untuk urusan hati. Dua orang yang tidak akan saling mendendam ketika keadaan memaksa untuk melangkah mundur dan kemudian saling terpisahkan.

Dalam perjalanan menuju ‘kita’ proses mutlak dibutuhkan. Diperlukan aktivitas saling mengamati, menilik bagaimana sebetulnya kamu di mata aku dan sebaliknya. Proses saling mengenal karakter masing-masing untuk kemudian dipertimbangkan apakah memungkinkan untuk saling melangkah bergandengan. Dan itu tidak akan sebentar, dibutuhkan sedikit waktu ekstra untuk saling merefleksi. Saling meraba hati. Jadi jangan kamu umbar kata cinta terlalu dini, karena selayaknya manusia dewasa aku dan kamu sudah paham betul apa itu konsekuensi.

Kalaupun ternyata aku sekarang melangkah mundur, bukan berarti itu adalah keputusan yang tergesa-gesa. Bukan pula mengecilkan arti semua proses yang sudah kita jalani belakangan ini. Bolehlah kamu bilang aku menyerah, tapi aku merasa menyerah sekarang akan jauh lebih baik daripada nanti pada saat aku dan kamu sudah menjadi ‘kita’. Proses yang sudah aku dan kamu lewati ternyata tidak membawa ke sebuah titik nyaman, karena aku merasa banyak hal yang tidak bisa disatukan.

Jangan menutup mata, aku juga tahu benar kalau kamu merasakan hal yang serupa. Kamu hanya berusaha lebih, ingin memperbaiki ini dan itu sambil berjalan bergandengan. Kamu hanya ingin mempertaruhkan sesuatu yang sebetulnya kamu tidak yakin akan bermuara pada apa yang sebetulnya kita impikan. Aku tidak ingin seperti itu, karena pada akhirnya aku dan kamu hanya akan saling menyakiti. Dan aku tidak ingin menyakitimu.

Marilah kita berbincang selayaknya dua orang dewasa. Kita bicarakan apa yang memang harus kita diskusikan. Tidak saling memaksakan keinginan apalagi kita sudah bisa mereka akhir cerita yang akan menghadang. Aku dan kamu berhak untuk bahagia, dan mungkin kebahagiaan tersebut harus diraih dengan menempuh jalan yang justru saling menjauhkan.

Aku tidak ingin hidup layaknya kelopak bunga, entah itu kelopak mawar atau justru kamboja. Indah sesaat yang kemudian luruh dan menjadi hiasan pusara.

Senin, 23 Mei 2011

Istriku Seorang Lesbian

Tenang, bukan saya yang mengalaminya karena saya memang belum menikah. Mungkin judulnya sangat propokativ, seperti halnya saya yang terprovokasi ketika melihat judul tulisan tersebut di salah satu tulisan majalah online sepoci kopi.

Selesai membaca artikel tersebut hati saya perih. Entah saya yang memang cemen atau terlalu mendalami artikel tersebut tapi kenyataannya saya memang sedih. Tidak habis pikir bagaimana seorang laki-laki yang baik kemudian disia-siakan dengan cara dimanfaatkan oleh seorang perempuan (baca : lesbian) untuk keluar dari sebuah masalah.

Seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan yang belum dikenalnya terlalu lama karena desakan dari pihak si perempuan. Setelah menikah mereka memutuskan untuk segera memiliki anak, dan beruntung sebulan setelah perkawinan si perempuan kemudian hamil. Semenjak kehamilan itu, si perempuan tidak lagi mau disentuh suaminya bahkan setelah kelahiran putri cantik mereka. Masalah tidak lantas selesai sampai disana karena setelah mempunyai anak, si perempuan menjadi lebih berulah yang pada akhirnya keluarlah pengakuan kalau dia adalah seorang lesbian.

Panjang kalau saya ceritakan bagaimana detailnya, tapi kalau mau baca cerita lengkapnya bisa dibaca DISINI.

Saya mengerti bahwa dalam kultur kita, menikah adalah salah satu sarana membahagiakan orang tua. Menikah adalah jalan keluar dari serentetan pertanyaan panjang dari banyak orang yang kadang tidak berhenti mempertanyakan, meskipun kadang pernikahan bukan jawaban akhir dari sebuah pencarian kebahagiaan. Ini pendapat saya, jadi jangan terlalu dipermasalahkan karena bisa saja salah.

Tentang orientasi seksual, saya juga tidak bisa menghakimi. Seseorang terlahir, tumbuh, besar dan berkembang dengan caranya sendiri-sendiri. Jadi ketika mereka sudah sadar benar dan menentukan orientasi seksualnya akan seperti apa, kenapa kita tidak berusaha untuk sekedar menghormatinya. Mereka yang telah memilih orientasi seksual yang mungkin menurut banyak orang tidak sesuai juga berhak memperjuangkan dan mendapatkan kebahagiaannya.

Masalahnya adalah bagaimana memperjuangkan dan mendapatkan kebahagiaan itu. Bukan berarti untuk mendapatkan kebahagiaan, kita harus mengorbankan kebahagiaan orang lain. Kasus laki-laki yang berkeluh tentang istrinya yang seorang lesbian di atas adalah salah satu contoh ketidakbijaksanaan seseorang dalam mendapatkan kebahagiaannya. Apakah untuk membahagiakan kedua orang tua, jalan satu-satunya adalah menikahi laki-laki yang kemudian akan dia rusak kebahagiannya? Saya rasa tidak.

Buat saya, ketika kita sudah memilih sesuatu termasuk orientasi seksual maka kita harus bertanggung jawab penuh terhadap pilihan kita tersebut. Saya yakin pada saat akhirnya memilih dan konsisten dengan pilihannya, semua konsekuensi sudah dipahami benar sehingga tidak adil ketika kemudian kita menghancurkan kebahagiaan orang lain hanya untuk sekedar mendapatkan sebuah kebahagiaan “semu”. Lagi-lagi ini menurut saya, jadi bisa jadi lagi-lagi salah.

Saya jadi teringat curhatan seorang sahabat lesbian yang orientasi seksualnya sudah diketahui orang tuanya tentang hidupnya yang sedang dihadapkan pada tiga opsi pilihan. Mencari pasangan pria dan menikah, memberi pengertian bahwa dia tidak akan menikah dalam waktu dekat, atau memilih egois dengan memutuskan untuk tidak mengabulkan permintaan orang tuanya yang mungkin adalah permintaan terakhirnya. Saya disana ketika dia dalam posisi sulit tersebut, tidak berusaha menginterferensi karena analisis saya mungkin akan salah. Saya hanya memberinya nasihat bahwa hidup dia harus dia yang memutuskan. Dia lebih tahu apa yang dia mau.

Tapi ketika dia balik bertanya kepada saya, akan mengambil langkah yang mana bila berada dalam posisi dia? Maka saya akan mengambil langkah yang pertama. Saya akan menikah, dengan pasangan yang saya lihat kualitas di dirinya bisa merubah saya ke arah yang lebih baik. Yang mungkin bisa memberi saya kebahagiaan lain yang selama ini saya menutup mata tentangnya. Pasangan yang juga bisa menumbuhkan usaha saya untuk mencintainya lahir batin, sampai mati.

Kebahagiaan itu harus diperjuangkan, dan dalam prosesnya pantang untuk mengorbankan kebahagiaan orang lain yang sebetulnya tidak seharusnya terlibat.