Senin, 11 April 2011
30 Anniversary
Semoga undakan baru ini bisa membuat kalian terus bertransformasi menjadi sesuatu, dan bersinergi serta mengokohkan janji yang sudah kalian ucapkan ketika pertama kali saling mengikatkan diri.
Semoga di usia pernikahan yang semakin tua, justru membuat kalian menemukan (lagi) berbagai kebahagiaan yang sebelumnya belum sempat dikecap. Kebahagiaan yang membuat kalian tidak akan pernah menyesal untuk senantiasa berdampingan. Kebahagiaan yang justru merekatkan ikatan yang sebetulnya telah kuat, dan membawa kalian pada rasa syukur berkepanjangan karena telah mempertahankan sebuah ikatan.
Saya selalu ikut mendoakan demi datangnya kebahagiaan-kebahagiaan itu. Tidak lelah juga saya mengucap syukur karena telah menjadi bagian dari perjalanan kalian. Menjadi semacam saksi atas pergerakan kalian mengitari hidup yang seringnya tidak gampang. Saya bangga menjadi bagian itu, saya bangga menjadi sebuah kebahagiaan yang mungkin pernah hadir dalam kehidupan kalian. Saya bangga memiliki kalian selamanya.
Tapi sampai saat ini saya yang justru belum memberikan kebahagiaan lain yang pastinya kalian harapkan. Saya tahu bukan harta atau kekayaan yang kalian harapkan dari saya. Kalian sudah memiliki itu semua, tapi bentuk kebahagiaan lain yang sampai saat ini belum bisa saya berikan. Bukan saya tidak mau, bukan juga saya tidak berusaha, tapi ternyata sulit sekali mendapatkan kebahagiaan yang kalian harapkan itu.
Maaf karena sampai usia pernikahan kalian yang ke-30 ini saya belum juga bisa membahagiakan kalian dalam hal itu. Jangankan cucu, pendamping hidup saja saya belum menemukannya. Saya tahu tanpa diucapkan, kalian mengharapkan itu. Melihat saya berdampingan dengan jodoh saya dan mengikuti jejak kalian menjalani hidup sambil berpegangan dan bukan sendirian. Saya benar-benar minta maaf karena semuanya tidak semudah yang kalian bayangkan. Tapi saya berjanji saya akan berusaha mengabulkannya. Kalau tidak sekarang mungkin nanti, bantulah saya dengan doa seperti biasanya.
Dan perlu kalian tahu, bahwa sebenarnya saya juga sudah tidak sabar untuk menunggu hari pernikahan saya sendiri. Saya ingin melihat jodoh seperti apa yang dikirim Tuhan sampai lama begini.
Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak 1 kali
Kamis, 07 April 2011
Harusnya Kubunuh Saja Dia
Harusnya kubunuh saja dia. Kubunuh sejak aku sadar bahwa dia mengikuti hidupku selayaknya bayangan yang tak mau enyah. Menguntitku kemanapun aku pergi, bahkan dia bersekolah di tempat aku sekolah. Berteman akrab dengan teman-temanku. Sampai sekarang. Ya, memang harusnya aku membunuhnya saja dari dulu.Dulu, aku merasa sangat nyaman hidup dengannya. Bermain dengannya membuatku selalu nampak ceria walaupun hatiku sedang berdarah-darah. Bersahabat dengannya membuatku banyak disukai oleh orang lain. Dampak dari kedekatanku dengannya tentu saja. Dia juga yang mengajarkan bagaimana selalu bersikap manis di depan orang-orang. Tapi kemudian dia juga yang melatihku bagaimana tidak punya malu. Argh, complicated juga bersahabat dan hidup bersamanya.
Tapi sekarang aku baru tahu, ternyata dampak jangka panjang dari berteman dengannya adalah menyulitkan. Menyulitkan aku untuk lepas dari bayang-bayangnya. Dia kadang mendominasi perilakuku sehingga jati diriku yang ingin aku munculkan tercover dengan sempurna. Kalau sudah seperti ini aku kadang hanya bisa berdamai dengannya. Mengikuti jalan alur pikirannya.
Aku bosan dengan tingkahnya. Aku kadang ingin menjadi diriku sendiri. Makanya sudah sepantasnya aku membunuhnya.
Salah satu temanku pernah bilang, jangan dibunuh karena suatu waktu pasti aku akan membutuhkan lagi kehadirannya. Menopengiku dengan keluguan yang bisa dimengerti, bisa dianulir.
Setelah bersahabat karib dengannya selama hampir 30 tahun, memang sangat menyulitkan ketika ingin beranjak meninggalkannya. Dia seperti sudah terikat erat dengan jiwaku. Menyatu dengan ikatan yang lebih dari sebuah persaudaraan. Dia sudah sedemikian menjelma dalam setiap tindak tandukku, menyerobot ketika aku berusah ingin mengenyahkannya sekejap.
Aku ingin lepas dari belenggunya sebentar saja, hanya untuk mengetahui reaksi teman, sahabat dan orang-orang terdekat dengan kepribadianku yang tidak dipengaruhinya. Makanya aku ingin membunuhnya.
Ya, harusnya aku bunuh saja dia. Dari dulu. Anak kecil yang ikut tumbuh dalam diriku.
Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak 1-2 kali
Senin, 04 April 2011
Teman Seperjalanan
Mau tidak mau, suka tidak suka, kalau kita bepergian agak jauh apalagi perginya sendirian pasti kita akan punya temen seperjalanan. Temen seperjalanan dalam artian orang asing yang duduk di sebelah kita. Mau pergi pake travel, bus umum, kereta api, bahkan pake pesawat terbang sekalipun, kita pasti akan bertemu dengan temen seperjalanan ini.Sayangnya, temen seperjalanan nggak bisa kita pilih. Masih mending kalau kita datangnya belakangan, kita punya hak prerogative penuh buat milih dengan orang yang kaya gimana kita pengen duduk. Inipun kalau konteksnya dalam bis umum. Tapi kalau duduknya sudah ditentukan berdasarkan nomer di tiket, berarti tinggal nunggu nasib aja.
Peraturan nomer satu kalau kita bepergian pake bis umum dan kita punya hak untuk milih dengan siapa kita mau duduk adalah don’t judge a book by it’s cover. Jangan tertipu penampilan. Gaya oke, tampang menjanjikan tapi pas diajak ngobrol tulalit dan garing bisa bikin kita mati gaya. Apalagi kalau jarak tempuhnya jauh, derita lo bakal panjang. Kalo dah gini mending pura-pura tidur aja (meski nggak ngantuk) atau sibuk sendiri dengerin iPod (meski iPod lo abis batere). Pretending is better than garing.
Kalo temen seperjalanan lo udah diatur pake nomor di tiket, peraturannya laen. Lo boleh memulai pembicaraan, tapi inget jangan terlalu bersemangat. Bisa-bisa temen seperjalanan lo malah ilfil dan berusaha ngindarin lo dengan sok sibuk sendiri. Biasa-biasa aja. Lempar topik yang sederhana, jangan yang berat-berat, yang bisa ngasih lo gambaran dia orangnya kayak apa. Syukur-syukur kalo asik, tapi kalo garing……kembali ke peraturan awal, sok sibuk sendiri. Kalo nggak bisa, tinggalin tidur!
Berdasarkan pengalaman gue, maka temen seperjalanan itu bisa dikelompokan menjadi :
Temen seperjalanan yang pendiam. Dari mulai duduk aja dia udah sok pura-pura tidur. Itu tandanya dia ngasih warn buat “jangan ganggu gue!”
Temen seperjalanan yang ramah. Selalu tersenyum dan bertanya ini itu atau menjawab pertanyaan kita dengan sopan.
Temen seperjalanan yang suka nawarin cemilan. Semua yang dia makan atau dia minum selalu ditawarin ke kita. Kalo mau, lo boleh ambil. Tapi kalo kata gue mendingan jangan. Bukannya suudhon, tapi kalo besoknya lo ditemukan pingsan tak sadarkan diri sementara barang lo raib semua kan lebih berabe. Mending ati-ati timbang kejadian
Temen seperjalanan yang egois. Dari mulai ngobrol, yang diomongin cuman dia dan kehidupannya. Waktu lo nguap pura-pura ngantuk, dia malah nawarin permen kopi. Biar nggak ngantuk katanya. Hu-uh. Bikin keki.
Temen seperjalanan yang suka pamer. Symptomya jelas. Omongannya selalu tinggi, bahkan nggak jarang suka nepuk-nepuk dada sendiri. Orang kayak begini biasanya juga nggak mau disela omongannya.
Temen seperjalanan yang tulalit. Kita ngomong kemana, dia nanggepin kemana. Kalo ada yang begini, langsung minum antimo biar ngantuk
Temen seperjalanan yang sok asik. Laganya kayak yang gape akan semua hal, tapi lama kelamaan kok malah ketahuan kalo wawasannya nggak luas.
Temen seperjalanan yang asik beneran. Yang beginian bisa dibawa enjoy sepanjang perjalanan. Nyambung terus, even for some hard topics. Berasa surga deh kalo uadah nemu temen seperjalanan kayak gini
Temen seperjalanan yang minta digampar. Nanya-nanya mulu, bahkan untuk masalah-masalah pribadi yang nggak mungkin juga gue umbar sembarangan. Ngejar-ngejar terus sampe dia ngedapetin jawaban yang dia harapkan
Temen seperjalanan yang punya maksud terselubung. Abis asik ngobrol ngalor ngidul, eh ujung-ujungnya nawarin produk MLM nya dia. Mana maksa mau maen ke rumah buat ngenalin produknya. Igh….dasar mental MLM. Jualan aja pikirannya.
Kita boleh mengharapkan temen seperjalanan kayak gimana, tapi alangkah lebih baiknya kalo kita menset diri kita biar jadi temen seperjalanan yang menyenangkan buat orang lain.
Besok-besok gue mau jadi temen seperjalanan yang lebih tau diri ah………
Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1 kali
Jumat, 01 April 2011
Saya Takut
Gemetar saya membuka surat itu.Berbagai ketakutan hadir bergantian ditayangkan dalam bingkai ketidakpastian. Saya mencoba menguatkan hati saya, mencoba siap dengan segala kemungkinan. Yang terburuk sekalipun.
Baris demi baris saya lewati dengan detak jantung yang berdegup di luar ritme kewajaran. Belum sampai di akhir surat mata saya terasa kabur. Air mata yang mengambang membuat penglihatan saya seperti tertutup embun. Saya mendadak lemas, tulang rasanya dilolosi dari tubuh saya sendiri. Tidak lagi ada kekuatan untuk sekedar menopang bobot tubuh, Saya terduduk lemas di bangku tunggu rumah sakit tadi malam.
Seharusnya saya siap. Seharusnya saya sudah bisa menebak hasil diagnosis yang akan dokter berikan. Tapi saya salah duga, saya tidak sekuat apa yang saya bayangkan. Vonis itu tetap membuat saya seperti dihadapkan pada kiamat kecil. Bagaimanapun saya tidak akan kuat untuk menerima kenyataan bahwa penyakit itu memang benar bersarang di badan saya. Ikut tumbuh dengan leluasa tanpa bisa dihindari.
Mungkin memang saya yang telat memeriksakan. Mentolelir semua tanda keberadaannya hanya sebagai penyakit biasa. Tidak pernah berpikir lebih lanjut bahwa itu bisa saja merupakan symptom dari penyakit yang mematikan. Saya akui saya salah. Terlambat menyadari, terlambat memeriksakan, dan terlambat melakukan serangkaian tes untuk membuktikan bahwa sebenarnya itu hanyalah penyakit biasa. Saya salah prediksi, semakin saya biarkan ternyata penyakit itu justru dengan gegap gempita mensabotase tubuh saya. Membuatnya kehilangan kendali atas kekuatannya sendiri.
Saya teringat mati, dan saya belum siap untuk itu. Saya belum membahagiakan kedua orang tua saya. Saya belum memberikan kesempatan untuk jodoh saya bertemu dengan pelabuhan terakhirnya, saya. Semakin mengingat itu, semakin menyesakan beban yang seperti tertanam di rongga dada saya yang sempit. Sesak. Saya juga ingat dosa, sekian lama saya hidup pasti dosa saya tidak lagi sedikit. Bagaimana saya bisa menguranginya kalau ternyata waktu yang tersisa tidak lagi lama. Saya takut mati. Saya benar-benar takut.
Sel-sel tidak wajar itu entah bagaimana bisa sampai hidup menumpang di otak saya. Tumbuh dengan subur kemudian memblokade fungsi otak itu sendiri dengan membuat saya sering mengalami black out. Harusnya dari sana saya menyadari ada yang tidak beres dengan kepala saya, tapi seringkali saya mentolelirnya. Saya pikir itu hanyalah efek dari rutinitas saya yang akhir-akhir ini diluar batas kemampuan. Efek kelelahan luar biasa akibat tubuh dijejali beban diluar kemampuannya. Ternyata saya salah. Lagi-lagi saya salah.
Tapi minggu lalu saya menyerah. Saya menyeret tubuh saya yang sudah kehilangan banyak fungsi ke rumah sakit. Malam sebelunya saya mengalami kejang hebat kemudian sakit kepala dan mual yang disertai muntah yang tidak mau berhenti. Saya tahu ada yang tidak beres, makanya dari kamar kos saya memaksakan diri ke rumah sakit menggunakan taksi. Saya memeriksakan diri ke dokter yang kemudian menyarankan saya untuk melakukan serangkaian tes laboratorium. Dokter memberi diagnosis awal yang menakutkan, tapi untuk menyakinkan sebaiknya saya melakukan tes laboratorium.
Hasil tesnya baru keluar hari ini. Diagnosis dokter dan ketakutan saya terbukuti. Seperti jalan yang terhalang kemudian mendadak terang. Sejelas saya melihat titik akhir di ujung pandangan, sebuah kematian.
Saya belum sampai akhir membaca surat hasil analisa laboratorium itu. Belum sampai akhir, saya sudah mengulangnya lagi dari awal. Dengan demikian saya berharap bahwa ada keajaiban yang akan mengubah akhir dari surat tersebut. Tidak sanggup saya meneruskan sampai akhir, saya ketakutan. Baru sampai kalimat kanker stadium 4, saya mengulanginya lagi dari awal. Begitu terus sampai beberapa kali. Saya benar-benar takut mati.
Tapi ada kekuatan yang menggerakan yang entah datang darimana. Kekuatan itu memaksa mata saya yang kabur untuk terus membacanya sampai akhir. Menamatkan ketakutan saya, menyelesaikan sebuah kekhawatiran yang tidak lagi tidak beralasan. Saya meneruskan membaca kalimat setelah kanker stadium 4. Kalimat yang kemudian membuat saya sedikit lega, karena di akhir kalimat selanjutnya saya membaca tulisan : Maaf, anda sedang saya kerjai karena ini April Mop.
Apisindica – Untuk memahami postingan idi diperlukan membaca sebanyak : 1 kali
Note: setelah menulis ini saya mengetok-ngetok kepala dan meja secara bergantian. Knock on wood, knock on wood. Amit-amit, amit-amit.
Langganan:
Komentar (Atom)
