Halaman

Rabu, 24 November 2010

Perjalanan Hati

Lihat, hujan sudah datang lagi hampir tiap hari. Sebenarnya tahun ini tidak ada kemarau, musim membelot, menghadirkan cumbu basah di hampir setiap kesempatan. Menciptakan genangan.

Harusnya musim menjadi pertanda, semacam tonggak bahwa waktu terus berputar merobek tanggal demi tanggal. Mengikuti titah, tanpa bantah. Dalam perjalanan waktu, selalu banyak cerita yang dihadirkan. Cerita yang dijemput ketika aku sekedar istirahat menghela nafas yang sedikit tersenggal, atau ketika aku mengelap keringat yang menetes di kening. Cerita yang tidak akan pernah bisa dihapus dalam ranah ingatan. Menjadi kenangan.

Kenangan sebagaimana namanya hadir hanya untuk dikenang. Ditampilkan ketika hati sedang ingin merunut sebuah perjalanan. Entah perjalanan yang memmbahagiakan ataupun menyedihkan, tapi semuanya pasti dilakukan untuk sebuah tujuan. Berkaca.

Musim berganti tak bisa ditahan membawa waktu dulu menjadi sekarang. Mengantarkan hati dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya. Perjalanan yang mungkin berseri atau perjalanan yang selalu mengharuskan memulainya dari titik nol. Semuanya tidak bisa dihindari karena sudah tercatat dalam buku takdir. Aku hanya menjalani.

Masa lalu hanya masa lalu. Kalaupun aku kemudian sedikit terpaut di belakang, itu bukan karena aku memang ingin. Bagaimanapun dibutuhkan sedikit waktu untuk melepaskannya, mengikisnya perlahan dari relief yang sudah terpatri. Tidak akan bisa dilupakan, karena semua hal pasti berbekas. Sekuat apapun aku berusaha menghapusnya, semua akan muncul lagi pada saat yang seringkali tidak bisa diduga. Makanya beri aku sedikit luang untuk menjejalkan semuanya ke dalam laci kenangan. Menumpuknya dengan barang-barang usang yang memang hanya bisa disimpan. Tidak dapat dilupakan.

Aku seperti halnya kamu, pasti punya masa lalu. Punya orang-orang di waktu terdahulu yang mengisi jambangan perasaan dengan rasa yang berwarna bagai pelangi. Dan itu tidak bisa dihindari, tidak bisa serta merta dihanyutkan dalam deras perasaan yang kini kamu berikan. Semuanya mengkristal, bisa dinikmati tanpa bisa diselusupi. Biarkan begitu, tak perlu dikhawatirkan.

Kalau kamu merasa terancam maka kamu salah. Aku sudah menamatkan peranku dalam cerita masa lalu. Kalaupun untuk yang terakhir itu aku masih sering tanpa sengaja mengungkit, semua hanya masalah waktu. Detik belum cukup menyembuhkan luka yang dulu menganga. Putaran jarum jam belum dirasa lebih untuk menyelusupkan semuanya ke dalam kotak-kotak kenangan. Semua masih tanpa terduga berlarian minta ditayangkan meski baur. Membayangi langkah.

Tidak perlulah kamu cemburu pada masa lalu. Cukup yakin bahwa sekarang aku nyata. Berdiri disampingmu memapah mentari meski hujan kerap menyembunyikannya di balik kelabu. Aku ada, bersamamu meniti rasa yang pastinya bukan lagi fatamorgana.

Jumat, 19 November 2010

Turus Waktu

Bukankah cinta itu seharusnya membebaskan? Memberangus semua perbedaan menjadi semacam jembatan dari dua kepentingan. Membebaskan hati yang terpasung ketidakberdayaan, membuatnya menemukan jalan pulang.

Aku melihat jalanan terpampang di hadapan. Tidak mulus memang karena masih dapat kuinderai adanya terjal dan kerikil yang menghadang, tapi aku merasa bahwa itu adalah jalan pulang. Jalan yang akan mengantarkanku pada ujung sebuah pencarian. Jalan yang akan membuatku terbebas dari gelap berkepanjangan. Aku hanya mengharapkan adanya rumah di akhir jalan yang tak lagi temaram. Rumah tempat merebahkan semua bentuk kebahagiaan.

Bukannya cinta itu seharusnya membebaskan? Membuat jernih semua kalut yang menggelayut muram. Menjadi sebuah pemberhentian untuk sekedar berteduh kala hujan yang datang tanpa pesan. Memberi naungan.

Cinta membebaskan, bukan membelenggu. Kalaupun cinta itu membelenggu, pasti karena ulah waktu. Seringkali apa yang disebut waktu tidak berpihak pada sesuatu yang sedang kita anyam. Berdiri bersebrangan seakan menantang untuk ditaklukan, memberi rintang yang seharusnya bisa dienyahkan ketika kita berjuang.

Sekarang waktu sedang tidak berpihak kepadaku. Dia bersekongkol dengan jarak memberiku batasan dalam ruang yang menyesakan. Waktu seperti memperlambat putarannya, berjalan mungkin tanpa awahan sehingga lebih lama sampai tujuan. Aku pikir hanya jarak yang membelot, tapi ternyata waktu juga. Keduanya berkontemplasi, memberiku sebuah arena untuk berjuang. Memaksaku untuk beringsut melawan.

Bukankah cinta itu seharusnya membebaskan? Memberi kelonggaran dalam mengekspresikan apa yang disebut kasih sayang. Menyibak aturan-aturan normatif yang seringkali menyusahkan. Membenarkan atas semua bentuk usaha yang dilakukan berdasar keyakinan. Yakin kalau semua halang rintang bisa dilalui dengan benar.

Aku ingin cinta segera membebaskanku dari jerat waktu yang mengungkung. Waktu yang memaksa aku untuk membuat turus dari hari yang berlalu di dinding reka imaji. Setiap hari goresan turus bertambah satu, memapah sebuah perjumpaan yang dirasa langka. Perjumpaan yang baru akan terlaksana setelah hitungan turus genap sempurna. Aku setia menanti sambil mengores turus demi turus, karena aku yakin bahwa ini memang sudah jalannya. Ditasbihkan untuk aku lalui bersamanya.

Waktu, aku tahu kalau kamu hanya memainkan perananmu. Karenanya aku tidak akan menggugat, tidak akan pula menyumpah. Aku hanya minta satu hal, temani aku melewati detik. Menjemput setiap pertemuan yang pastinya akan berjarak. Jadilah saksi dari setiap turus yang kugores, turus yang juga menggambarkan kerinduanku yang mendalam.

Sayang, aku rindu padamu. Dan apabila kamu bertanya seberapa aku merindukanmu, genggamlah jantungku dan hitung denyutannya. Sebanyak itulah aku merindukanmu.

Senin, 01 November 2010

Jarak

Kepada jarak,

Aku tidak tahu kenapa engkau senantiasa mengikutiku. Mengintil tak mau lepas memegang ujung baju, seperti seorang bocah yang takut terpisah dari ibunya ketika diajak ke pasar malam. Menempel layaknya kembar siam pada dada dengan belahan hati tunggal sehingga ketika dicoba dipisahkan pasti harus mengorbankan salah satu. Terlalu kuat engkau menempel, membuatku sedikit terbelenggu. Membatasi ruang gerak yang seharusnya bisa membebaskan.

Sedemikian jatuh cintanyakah engkau kepadaku duhai jarak?

Lagi-lagi engkau memberiku batasan, memasung perasaan yang sebetulnya dimungkinkan untuk terbang. Engkau memenjarakanku pada ruangan sempit yang sebetulnya hanya membekukan langkah. Masih punya hati engkau rupanya, memilih hanya membelenggu kaki sementara engkau bebaskan tangan dan badanku untuk meraih apa yang masih bisa digapai. Tapi tetap saja itu memberatkanku. Bagaimanapun aku butuh langkah untuk maju.

Sesekali engkau memang melepaskan cengkramanmu, membuatku dapat melangkah bebas. Ternyata engkau masih bisa diakali, masih bisa dimanipulasi meskipun kesempatan tersebut datangnya langka. Seperti menetes dari ujung keran ke dalam periuk yang aku simpan untuk menadah, dan aku baru bisa lepas setelah periuknya penuh. Memakan waktu. Itupun dengan berbagai perjanjian yang mengharuskan aku kembali dalam pasunganmu.

Akhirnya aku hanya bisa belajar menikmati. Menyerap sari dari apa yang tengah terjadi. Kejadian berulang-ulang dengan jarak yang selalu jadi halangan. Menjadi semacam barier dalam menemukan kebahagiaan, menjadi faktor pembatas untuk menguatkan hati yang sedang dihinggapi suka. Berontak tidak akan membawaku kemana-mana, karena itu hanya akan membuatku cepat lelah dan menyerah. Padahal aku tidak ingin menyerah, aku masih yakin kalau semuanya bisa diperjuangkan. Mencari strategi agar waktu berjalan secepat kecepatan cahaya untuk kemudian mengalahkan jarak.

Aku tidak akan bersimpuh dan memelas belas kasihanmu, jarak! Jangan harap. Aku sudah terbiasa diikutimu bahkan dipenjarakan olehmu, jadi kalau terjadi sekali lagi itu hanya akan membuatku semakin kuat. Semakin yakin bahwa sebetulnya engkau bisa ditaklukan dan engkau hanya sekelompok soal yang harus diselesaikan dalam ujian. Ketika aku berhasil mengerjakannya dengan tepat maka aku akan keluar sebagai pemenang. Juara.

Jangan bosan ketika aku kadangkala bertanya apa maksud kehadiranmu. Apakah engkau memang diutus Tuhan untuk menjadikanku pejuang, atau justru engkau dikirim setan untuk membuatku tenggelam? Aku hanya ingin tahu. Hanya itu, meski apapun jawabannya itu tidak akan mempengaruhi keputusanku untuk senantiasa berusaha. Memperjuangkan apa yang aku yakini.

Bersahabatlah kali ini denganku, jarak! Aku ingin Long Distance Relationshipku kali ini bisa berhasil dan menjadikan aku dan dia sebagai pemenang.

Jumat, 29 Oktober 2010

Mesin Waktu

Saya sedang menunggangi mesin waktu. Berbeda dengan orang kebanyakan yang menggunakannya untuk menjelajahi masa depan, saya justru menggunakannya untuk menyusuri alur masa lalu. Mencoba meniti kembali perasaan yang dulu pernah membuncah di dada. Perasaan yang membuat saya seperti berada di nirwana. Jatuh cinta.

Bukan membuka laci kenangan dengan orang dari masa lalu. Tidak. Saya tidak hidup untuk masa lalu, apalagi dengan orang yang memang sudah ditamatkan ceritanya dalam untaian takdir. Bukan pula mencoba menyebrangi jembatan kemungkinan untuk merunut kembali cerita yang dulu sebenarnya belum tuntas dimainkan. Jembatan itu hanya menghubungkan saya pada keputusasaan. Jembatan tanpa ujung yang seringkali membuat saya tersesat dipermaikan perasaan.

Saya mengenang masa lalu untuk kemudian bersyukur bahwa ternyata saya belum mati rasa. Saya masih bisa merasakan apa yang orang bilang dimabuk asmara. Perasaan dilambung harapan yang membuat saya serasa bermain di atas gumpalan awan. Bahagia. Bersama mesin waktu saya mengumpulkan lagi serakan-serakan puzzle yang dulu berantakan untuk kemudian saya susun menjadi gambar hati penuh berwarna merah.

Saya menemukan lagi seseorang.

Bersamanya saya menemukan rasa yang sempat hilang dalam lorong perjalanan. Bersamanya saya menggambar lagi seulas senyum kebahagiaan yang tidak hanya nampak di bibir tetapi juga di hati. Bersamanya saya seperti menaiki roller coaster, menimbulkan ketegangan-ketegangan perasaan yang justru menciptakan kelegaan di setiap akhir putaran. Kelegaan yang seringkali justru membuat ketagihan. Ingin terus mencobanya lagi dan lagi.

Kadang saya tidak mengerti bagaimana mulanya perasaan itu bisa muncul kemudian bertumbuh. Saya hanya seperti sedang memakan gulali. Manis. Sensasi yang layaknya dialami anak kecil ketika berhenti menangis karena gulali tersebut memenuhi rongga mulutnya. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain menghisap sarinya kemudian tersenyum bahagia. Saya ingin seperti anak kecil itu. Tersenyum bahagia.

Dari balik jendela sambil menaiki mesin waktu saya mengamati hujan yang tidak kunjung reda, tapi ada perasaan lain disana. Perasaan tidak lagi takut akan guntur bahkan kilat. Rasa yang justru menggoda saya untuk bermain di luar menikmati tiap cipratan air ketika mereka menyentuh tanah. Saya ingin menikmati sensasi basah tanpa takut mengigil dingin setelahnya. Saya tidak lagi takut karena saya merasa bahwa saya sekarang sudah memiliki seseorang. Seseorang yang pastinya menghangatkan saya dengan peluknya setelah saya bermain hujan di tegalan.

Saya memanggilnya seseorang. Seseorang yang membuat hati saya hangat ketika namanya muncul di layar telpon. Seseorang yang sudah saya reka untuk berjalan bersamanya sambil tak lepas berpegangan tangan menuju satu hal. Bahagia.

Saya sedang menaiki mesin waktu. Bergerak mundur mengumpulkan serakan mimpi dan perasaan yang sempat tertinggal di belakang. Tapi saya tidak ingin tertambat di sana karena sekarang saya sudah memiliki mimpi yang harus mulai diretas. Saya sedang mengumpulkan amunisi dari masa lalu untuk kemudian melesat. Bersamanya saya hanya ingin beriringan sesuai titah alam tanpa perlu lagi menunggangi mesin waktu.