Halaman

Kamis, 02 September 2010

Untukmu Sahabat

Saya tidak menyangka perjalanan waktu akan mempertemukan lagi saya dan kamu seperti malam ini. Duduk bersama dengan dimensi yang masih sama seperti dua tahun lalu ketika saya pertama kali mengenalmu. Dimensi yang ternyata membuat kita merasa berada dalam satu kisaran, melingkarkan satu sama lain dengan ikatan yang kemudian kita sebut persahabatan.

Kamu tahu, saya senang sekali melihatmu tertawa seperti barusan. Rasanya saya memiliki keyakinan kalau hidupmu masih menyenangkan seperti dulu. Memang saya tidak selalu berada di sampingmu ketika banyak kejadian menempa kehidupanmu, tapi saya juga tahu kalau kamu selalu yakin saya selalu berada di dekatmu. Dapat diandalkan ketika kamu butuh sekedar kawan untuk berbincang.

Bukan saya tidak ingin intens berhubungan denganmu seperti dulu, tapi banyak alasan yang menyebabkan saya harus memilih opsi yang sebetulnya tidak ingin saya lakukan. Banyak pertimbangan yang menurut saya demi kebaikan. Kebaikanmu. Karena tidak ada yang melebihi kebahagiaan saya selain melihatmu menjalani hidup ini dengan baik. Dengan bahagia.

Ketika kamu memutuskan untuk berhubungan dengan seseorang, saya tidak pernah melarang. Sebagai seorang sahabat saya justru mendukung, mendoakanmu untuk mendapatkan kebahagiaan yang memang kamu harapkan. Tidak peduli konsekuensinya saya harus menjauh karena memang kemudian ternyata pasanganmu tidak menyukai saya, meski saya juga tidak tahu karena apa. Saya cukup tahu diri, saya tahu benar siapa saya dan siapa pasanganmu, jadi menyingkir buat saya adalah bentuk sokongan dan dukungan terhadap jalan yang akan kamu hadang. Saya tidak keberatan.

Saya senang melihatmu masih bisa tertawa seperti barusan, meski di akhir tawa kamu mengajarkan saya sesuatu. Bahwa seringkali yang terlihat menyenangkan belum tentu seindah kenyataan. Ternyata di balik tawamu kamu menyimpan luka. Hubunganmu yang mengharuskan saya menyingkir ternyata sedang dilanda prahara. Kamu sedang menghadapi marut dan runyam sebuah hubungan.

Saya sedih karena saya tidak pernah membayangkan bahwa kejadiannya bakalan seperti ini. Saya sedih karena dalam periode saya mengasingkan diri saya tidak peka untuk sekedar bertanya. Saya benar-benar berubah menjadi asing hanya dengan alasan tahu diri, dan saya menyesal untuk itu. Saya harusnya tetap menjadi seorang sahabat yang tetap bisa diandalkan meskipun saya tidak lagi beririsan dengan kamu dan hubunganmu. Seharusnya saya tetap menjadi sosok yang bisa menentramkan ketika gundah menggelayuti langkah yang kamu lakukan. Saya menyesal tidak berada disana.

Tapi saya memiliki keyakinan kalau kamu akan mampu menghadapi semuanya. Saya yakin kamu memiliki kualitas lebih untuk kemudian memutuskan apa yang harus kamu lakukan. Dan saya berjanji mulai saat ini saya akan kembali menjadi lebih peka, lebih pintar meraba apa yang kamu sembunyikan. Mungkin saya tidak bisa membantumu untuk menyelesaikan semua masalah, tapi mungkin dengan kembali menjadi nyata saya bisa menjadi semacam kekuatan untuk kamu menemukan terang.

Sahabat, saya senang melihatmu masih bisa tertawa malam ini seperti dulu. Dan semoga tawa itu tetap sama sampai kapanpun walau banyak kepedihan yang ternyata membayang di ujung penglihatan. Mari kita sama-sama songsong lagi cahaya dalam genggam erat sebuah persahabatan.

Senin, 30 Agustus 2010

Kepada Angin

Aku menitipkan surat kepada angin. Sepucuk surat cinta yang dibuat dari bulir-bulir air mata kerinduan. Surat yang kuretas perlahan sambil menunggu waktu yang tiba tidak menentu.

Angin aku pilih sebagai sarana karena aku yakin kalau dia tidak akan berdusta. Kalaupun dia tersesat, dia hanya akan berputar-putar pada kisaran tujuh arah mata angin. Pada akhirnya pasti akan sampai pada tujuannya. Mungkin angin tidak akan segera sampai, karena aku tahu kalau dia sering labuh sebentar di ujung batang. Mengamati embun yang menyublim di lembaran daun, atau mengawasi gutasi yang menetes ketika pagi. Tapi aku yakin kalau dia sadar akan tugasnya, menyampaikan suratku pada seseorang yang menunggu di negeri seberang.

Sebelum mengenal angin, pernah aku menampung rindu dalam berlembar-lembar surat cinta. Kemudian kusimpan surat itu di buritan, berharap ombak akan menghanyutkannya dan menabrak karang di negeri seberang. Negeri tempat sebelah hatiku sedang meretas mimpi. Mewujudkan sesuatu yang dari dulu dicita-citakannya. Menjadi seseorang.

Tapi ombak membelot, dia tidak menepati janjinya. Dia menggulung surat itu menjadi serpihan, menawarkan pada hiu untuk mencabik dan menghancurkannya dalam sekali gigitan. Ombak membuat cintaku waktu itu kandas tidak pada tuannya. Ombak membuatku kehilangan satu kesempatan. Ombak merenggut harapan untuk menyandingkan perasaan yang sering timbul tenggelam. Ombak memberiku suatu pengalaman. Kehilangan.

Hingga aku bertemu angin. Darinya aku belajar lagi bagaimana percaya, bagaimana cara memberi kesempatan kedua. Angin mengajariku bahwa memaafkan dan melupakan jauh lebih baik dari memendam. Berusaha tidak mengungkit-ungkit akan membawa cara pandang baru dalam melihat sesuatu. Angin membentukku dengan pola pikir yang lebih baru tentang dia. Si mata segaris.

Dulu buatku kesalahannya tidak termaafkan, atau kalaupun sudah kumaafkan bukan berarti aku mau kembali. Cukup sudah dia menciptakan banyak prahara, rasanya begitu banyak noktah yang dia cecerkan di putih rasa yang aku berikan. Tapi perasaan ternyata tidak bisa dipungkiri, aku masih menyimpan sesuatu. Pendar cinta yang ternyata belum mati semua, ada binar kecil yang masih menyala di sudut asa. Angin kemudian meniupnya, memberikan napas kehidupan. Membuatnya menjadi besar. Membuatnya kembali berbinar.

Ketika dia, belahan hatiku yang masih meretas mimpi di negeri seberang bertanya untuk kesekian kalinya tentang kesempatan kedua, aku menjawab tidak lagi ragu. Aku berujar sekeras angin yang menerbangkanku pada cakrawala penuh warna. Aku mengatakan iya. Aku memberinya kesempatan kedua. Kesempatan untuk merangkai kata penjadi prosa kemudian drama. Kesempatan untuk kami mengejawantahkan mimpi yang sebelumnya tertunda sementara. Aku kembali padanya.

Aku menitipkan surat kepada angin. Tidak peduli sesering apa dia hinggap di cabang-cabang ranting untuk mengamati absisi, atau labuh di ujung genting untuk menelaah purnama. Aku tidak peduli, karena sekarang aku yakin kalau pesanku tidak akan disabotase seperti halnya yang dilakukan ombak. Aku yakin pesanku akan sampai tujuan dengan selamat, ke haribaan seseorang yang tak ragu lagi kusebut sayang.

Sekarang aku menunggu waktu berpihak kepadaku. Waktu ketika dia akan kembali pulang, selamanya.

Selasa, 24 Agustus 2010

Mencintai kekasih orang

Mencintai kekasih orang itu sering kali menyulitkan, terlebih ketika dia justru juga melayani.

Mencintai kekasih orang itu sering kali tidak lebih dari memboroskan energi. Mengorbankan apa yang seharusnya tidak layak dikorbankan, membelanjakan hati pada sesuatu yang tampak nyata padahal palsu. Semua hanya sia-sia.

Tapi katanya tidak pernah ada yang sia-sia dalam cinta. Tidak ada percuma ketika kita berjalan di haluan yang kita yakini benar, walau itu akan menyakiti. Bukan hanya menyakiti pasangan resmi dari orang yang kita cintai, tapi lebih parah. Menyakiti diri kita sendiri. Menyodorkan dengan rela sebongkah perasaan untuk dibuat menjadi serpihan. Kita sering tahu benar resikonya, tapi kita tetap menjalaninya. Entah untuk alasan apa.

Mencintai kekasih orang itu sering kali menyulitkan, terlebih ketika jerat cinta itu berbekas tak mau hilang dari labirin bernama memori.

Mencintai kekasih orang itu sering kali menyulitkan, terlebih ketika kita ternyata benar-benar jatuh cinta kepadanya. Memilih buta dengan menjalani apa yang tidak bisa ditolelir logika. Memilih didera ribuan kecewa karena ternyata kita seringkali menelan pahit yang dijejalkan paksa ke dalam selaksa. Membatin ketika dia, kekasih orang yang kita cintai itu dengan ringan bercerita tentang pasangannya. Rasanya hanya ingin berdua tanpa membicarakan sesuatu yang justru membuat luka semakin menganga.

Apa yang kita dapat dari itu semua? Tidak ada, kecuali kesakitan dan perasaan terabaikan.

Aku pernah mengalaminya. Mencintai dengan segenap hati seseorang yang masih dalam suatu hubungan. Berusaha menyelusup dalam runyam masalah yang sedang mereka hadapi. Menjelma menjadi zat yang justru memperkeruh. Layaknya rautan yang justru memperuncing, bagai apusan yang ingin menghilangkan apa yang telah dituliskan. Aku menjalaninya dengan sadar, sadar bahwa di akhir cerita aku pasti tidak akan mendapat apa-apa.

Aku menikmati semuanya. Menikmati remah-remah sisa yang aku pungut di halaman orang. Memanfaatkan semua kesempatan kecil untuk menunjukkan bahwa aku punya hati warna perak yang siap dibagi. Bodoh memang, karena meskipun aku mendapat sesuatu, itu pasti hanya bagian kecil dari apa yang seharusnya tidak aku banggakan.Potongan-potongan kecil itu tidak akan membawaku kemana-mana.

Ketika aku sadar, semua telah terlanjur jauh. Sudah banyak yang aku belanjakan. Sudah banyak fragmen-fragmen yang justru mengendap di labirin perasaan. Berkarat tak mau hilang, menancap menyebabkan luka ketika sedikit bergerak.

Aku memang menjauh. Dia juga menjauh. Tapi itu tidak lantas membuat semuanya usai. Sampai saat ini aku masih memendam perasaan. Entah untuk apa?

Rabu, 18 Agustus 2010

Hanya Perlu Percaya


Akan kubiarkan jiwaku menggelandang
Menyusuri parit-parit kotor tanpa batasan
Menikam sunyi yang berkepanjangan bila diperlukan
Semuanya hanya untuk satu tujuan

Berlabuh.

Kadang angin menantang menghandang
Meruntuhkan asa yang sebetulnya telah remuk redam
Kuretas perlahan harap yang masih tampak di ujung penglihatan
Suram tapi menjanjikan di akhir penantian

Tak kupedulikan telapak yang mengelupas digerogoti aspal jalanan
Kusingkirkan takut yang mengikis bongkah-bongkah keberanian
Aku jatuh untuk kemudian tidak hanya bangkit tapi berlari
Mengejar cahaya berpendar dari wujud yang tampak berkilauan

Seseorang,

Sosok itu masih juga belum jelas
Tapi kuyakin dia menyongsong dengan tangan terbuka penuh kasih sayang
Senyum pasti tersungging di wajah yang masih sedikit samar
Dia tidak mau mendekat meski tidak juga lantas menghindar

Aku tahu dia menungguku datang
Menjadi semacam hadiah dari apa yang telah aku terjang
Buah dari semua harap yang kuuntai dalam bulir doa nan panjang

Bilakah akhir dari semua pencarian ini?
Sebuah pertanyaan mendengung bising di gendang pendengaran
Kapanpun itu kuharap waktu tidak membelot dari apa yang kurencanakan
Setia menantiku menyelesaikan tiap episode yang memang harus dimainkan

Seseorang itu pasti akan datang, aku hanya perlu percaya.