Aku tidak tahu harus bicara apa ketika kamu akhirnya bilang kalau kamu akan pergi. Rasanya tadi malam aku mendengar hatiku robek. Perih. Terbayang di pelupuk mata kalau aku akan kehilangan semua momen yang hampir setahun lebih ini membuncah memenuhi rongga dada, menggoda untuk direalisasikan lagi dalam nyata.Aku sadar aku bukan siapa-siapamu, jadi aku tidak memiliki cukup alasan untuk menahanmu agar tidak pergi. Kalaupun aku punya, aku tidak akan menggunakannya untuk sekedar menggugat. Aku tidak ingin menjadi egois apalagi ini berhubungan dengan masa depanmu. Akhirnya kamu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanmu yang sekarang dan menerima pekerjaan baru di Negara tetangga itu. Meninggalkan aku yang memang bukan siapa-siapa.
Selama ini aku bohong. Kalau aku pernah bilang sudah berhenti mencintaimu, itu semua bohong. Aku memang berusaha untuk berhenti, tapi aku tidak sanggup. Pesonamu tidak bisa enyah bahkan untuk sekejap dalam imaji yang terkungkung memori. Memang aku tidak menunjukkannya seperti dulu ketika kamu juga melayani, menyambut semua kedekatan kita dengan apa yang disebut perhatian. Tapi ketika kamu mempertontonkan penolakan, egoku terlalu besar untuk mencobanya lagi bahkan ketika kamu datang kembali.
Kamu tahu, kamu adalah satu-satunya teman yang pernah membuatku jatuh cinta. Tabu memang untuk jatuh cinta pada seorang teman, seorang sahabat. Tapi hati tidak bisa dibohongi. Ketika kamu datang dengan semua keluh dan sifatmu yang tidak biasa, itu justru membuatku jatuh cinta. Membuat aku berusaha menunjukkan kalau aku bisa diandalkan. Mungkin aku buta, memilih buta tepatnya tapi aku memiliki keyakinan kalau kamu pantas untuk diperjuangkan. Jangan tanyakan alasannya, karena sampai detik ini aku juga tidak pernah tahu.
Sekarang kamu akan pergi. Artinya mungkin akan sedikit terlambat kalau aku mengagas lagi sesuatu yang dulu pernah kita bicarakan. Mungkin juga jawabanmu akan tetap sama seperti saat itu, tapi setidaknya aku ingin jujur lagi kepadamu. Aku tidak pernah bisa mematikan perasaanku ini. Bolehlah banyak orang yang hilir mudik memasuki pelataran hatiku, tapi kamu masih kusisakan ruang teristimewa di sana. Karena kamu tidak akan pernah mati dan aku tidak akan pernah berhenti berharap. Aku yakin suatu hari kamu akan mengerti.
Jarak memang harusnya bukan menjadi suatu penghalang karena itu bisa diakali. Luasan yang terbentang harusnya bukan rintangan karena itu juga bisa dimanipulasi. Tapi hati dan perasaan tidak bisa diakali ataupun dimanipulasi. Aku bisa saja berpura-pura berhenti mencintaimu, tapi batinku berontak. Aku juga tidak bisa serta merta mematikannya begitu saja, apalagi aku merasa masih punya harapan. Tapi ketika sekarang kamu memutuskan untuk pergi, akankah ini juga merupakan pertanda kalau aku harus berusaha lebih kuat untuk melupakan dan melepaskanmu? Aku tidak tahu.
Tadi malam aku seperti dipaksa untuk menelan sesuatu yang sebenarnya aku tidak suka. Dijejalkan begitu saja tanpa aku memiliki kesempatan untuk menolak. Tapi kamu jangan khawatir, aku pasti akan baik-baik saja seperti episode yang pertama. Butuh waktu memang, tapi aku akan bisa melewatinya seperti dulu. Hilangkan perasaan bersalahmu hanya karena melihat aku mengeluarkan air mata. Aku hanya sedih.
Buat kamu, cinta sebelah tanganku. Aku mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga dengan memulai hidup yang baru kamu akan belajar menjadi lebih dewasa dengan tidak banyak mengeluh. Semua memiliki konsekuensi, seperti halnya aku yang mencintaimu meski dalam diam atau meski dalam perih. Jadi hiduplah dengan keputusan yang sudah kamu buat lengkap dengan konsekuensinya.
Perlu kamu ingat. Aku tidak akan pernah berubah. Masih kusediakan sebuah tempat teristimewa dalam kuadran hatiku bila suatu saat kamu ingin kembali karena mungkin cinta ini tidak akan pernah hilang. Biarkanlah dia aku dormankan dan kutimbun dalam tumpukan cerita yang akan aku jelang kemudian.
Aku mencintaimu (dalam diam). Selalu!!!


