Waktu itu saya masih tinggal di Bandung, jadi kalau ada events di Jakarta saya bolak balik Bandung Jakarta. Sebagai orang yang tidak mau dipusingkan oleh keribetan jalanan dan kesemrawutan kemacetan, saya lebih memilih menggunakan sarana transportasi umum semacam travel ketimbang bawa kendaraan sendiri. Tinggal duduk manis kemudian sampai tujuan.Saya ingat, waktu itu saya habis ada acara di Pondok Indah dan berniat untuk langsung pulang ke Bandung menggunakan travel langganan. Sambil menunggu jam pemberangkatan, saya duduk di ruang tunggu sambil membaca majalah yang disediakan. Tepat di hadapan saya duduk seorang bapak yang sedari tadi terus memandangi saya, mau tidak mau saya juga sering melihat ke arahnya untuk sekedar memastikan apakah dia masih memandangi saya atau tidak. Ternyata masih, dan lama.
Saya memutar otak. Membuka laci-laci ingatan karena saya yakin benar kalau bapak itu tidak asing. Ada satu waktu dimana saya pernah satu scene hidup bersamanya, entah kapan.
Saya terus berusaha memutar ingatan dan violaaaa, saya mengingatnya. Saya menemukan chapter kecil dimana saya pernah berinteraksi dengan dia. Chapter yang mungkin terselip ditumpukan cerita-cerita inti sehingga sulit sekali untuk sekedar menemukannya. Tapi saya berhasil menguaknya, mengingat serpihan kecil cerita itu.
Kami ngobrol, saya yang menyapanya terlebih dahulu. Saya menanyakan apakah dia benar ayah dari teman kuliah saya. Dan ternyata benar. Kemudian dia balik bertanya, dimana dia pernah berinteraksi dengan saya dalam waktu yang relatif lama. Saya menjawab pernikahan anaknya, sahabat saya.
Dari sana dia bercerita tentang keluarganya secara detail. Mengungkapkan kebanggaanya terhadap semua anak dan menantunya bahkan cucunya. Dia sampai mengeluarkan handphonenya dan menunjukan sms cucunya yang sedang liburan ke Praha. Awalnya saya bingung, kok dia bercerita dengan sangat detail padahal ini mungkin kali kedua saya bertemu dengannya. Maklum dia termasuk orang yang sibuk. Tapi saya waktu itu hanya menikmati ceritanya, hanyut dalam kebanggaanya terhadap keluarga yang dia bangun.
Ceritanya masih terngiang-ngiang di otak saya bahkan sampai saat ini.
Ketika saya menyampaikan kepada sahabat saya mengenai apa yang ayahnya ceritakan, dia dan kakak serta adikknya sempat heran. Katanya Papi biasanya tidak seperti itu, Papi orangnya tertutup dan jarang bercerita kepada orang lain apalagi tentang keluarganya. Heran. Itu yang mereka sekeluarga rasakan.
Hari ini, tepat 3 tahun lebih satu bulan dari hari pertemuan saya dengan papi. Saya memanggilnya Papi, mengikuti panggilan anak-anaknya. Dan hari ini tepat 3 tahun meninggalnya papi. Ya, satu bulan setelah pertemuan saya dengannya, dia meninggal karena stroke. Dan saya kemudian sadar bahwa ternyata saya adalah orang yang dia pilih untuk menyampaikan pesan pada keluarganya. Pesan bahwa betapa dia sangat bangga dengan keluarganya, istri, anak, menantu dan cucunya.
Terima kasih Papi, sudah mempercayakan amanat kepada saya. Orang yang mungkin tidak Papi kenal sebelumnya.
Mengenang dr. Venusri Latif Sp.S (Alm). Semoga Arwah Papi selalu mendapat tempat yang paling indah di sisi Allah. Amin.


