Dunia mendadak hening.Kata demi kata saya cerna menjadi satu kesatuan utuh, tidak lagi dibumbui banyak prasangka seperti ketika pertama kali saya melihat alamat email yang muncul di halaman muka email saya. Begitu banyak pertimbangan hanya sekedar memutuskan untuk membacanya atau tidak. Begitu banyak pergulatan mengenai dampak yang akan timbul jikalau saya memutuskan membacanya.
Saya membuka, membaca kemudian saya merasakan sesuatu. Hati saya hangat.
Dia, si mata segaris, mantan saya yang sekarang sedang kuliah di tempat yang jaraknya ratusan ribu mil dari sini kembali mengirim sebuah email setelah sekian lama. Dia, yang dulu pernah membuat saya seperti hidup di negeri dongeng kembali melemparkan sebuah sapa. Sesuatu yang justru membuat saya seakan tertarik kembali pada pusaran indah yang saya sebut cinta.
Saya tidak munafik, saya masih mengaguminya. Entah masih cinta atau tidak, saya tidak bisa memilah. Yang pasti pesonanya kerap kali menggetarkan dawai hati saya. Membuatnya menyenandungkan lagu seperti saat kami masih berjalan beriringan.
Dalam emailnya dia menceritakan bagaimana kuliah sangat menyibukan hari-harinya belakangan ini, bagaimana profesornya menekannya dalam mengerjakan tugas akhir, kemudian bagaimana dia merindukan saya. Sampai bagian ini, saya merasa ada turbulen yang memporak-porandakan sesuatu di laci kenangan saya. Rindu, dia merindukan saya. Ungkapan yang sama ketika kami berpisah di bandara, ungkapan ketika kami lekat berpelukan seakan tak ingin dipisahkan. Rindu yang mungkin terumbar sekian ratus ribu kali di awal-awal cinta jarak jauh kami.
Komitmen yang kami jalani memang tidak semulus yang dibayangkan, banyak rintangan yang akhirnya membuat kami mengambil keputusan untuk berpisah. Mungkin keputusan yang dilandasi keegoisan masing-masing. Keputusan karena emosi sesaat akibat kesakitan atau mungkin amarah. Tapi saya tidak menyesal pernah mengambil keputusan itu, seperti saya tidak pernah menyesal jatuh cinta kepadanya. Semua jalan hidup dan untungnya jalan hidup itu indah.
Di akhir email, dia menggagas kemungkinan untuk kami bersatu kembali. Memulai lagi segalanya dari awal tanpa mempermasalahkan cerita yang pernah tertoreh di belakang. Kemudian meyakinkan bahwa ke depan jalan akan lebih mudah dijalani karena kami telah sama-sama belajar, kami telah sama-sama merasakan pahit buah perpisahan. Dia meyakinkan kalau dunianya hanya kan mengorbit pada satu poros, saya.
Dunia hening seketika. Saya tidak tahu bagaimana saya harus bereaksi. Hati kecil perak saya meredup dan berbinar bergantian seakan kebingungan dengan rasa yang tidak bisa terejawantahkan.
Saya sudah bilang saya tidak munafik, hati saya masih hangat ketika saya mengingatnya. Tapi jarak bukan sesuatu yang mudah ditaklukan, rentangan ribuan detik perjalanan seringkali melunturkan sesuatu yang diyakini dengan sangat sekalipun. Bukan saya tidak percaya, bukan saya tidak mau berusaha tapi realita harus dipertimbangkan dengan logika.
Selesaikanlah dulu studimu, nanti kita bicarakan lagi. Saya tidak menjanjikan, tapi saya usahakan akan menunggu.

