Halaman

Senin, 10 Mei 2010

Kelak

Aku menunggu di ujung bernama kelak

Kelak ketika sudah waktunya datang, maka aku akan menyambutnya. Tidak hanya dengan euphoria embun pagi yang menyejukan tapi dengan riuh tabuh kegembiraan.

Aku menunggu di ujung bernama kelak

Kelak yang kuyakini akan datang menyambangi. Kelak yang bukan mustahil untuk diamini. Kelak yang selalu kutunggu di ujung lorong gelap sebuah penantian.

Aku menunggu di ujung bernama kelak

Menunggu sambil menasbihkan ribuan doa, menggelar ratusan puja. Untuknya aku mengucap tak hanya harap, tapi juga pinta. Untuknya kemudian aku bersedia didera, dipancung kerinduan yang tak jelas tepiannya.

Kelak,

Kelak aku yakin akan datang seseorang yang sudah dipersiapkan Tuhan. Membawa kebahagiaan, membebaskan dari tangis-tangis panjang kesedihan. Kelak seseorang itu akan membawaku ke nirwana untuk menyicip sebuah rasa berjudul cinta.

Kelak aku yakin dia akan hadir. Memberi keceriaan yang mampu menyibak jelaga sepi tak berkesudahan. Mengakhiri ngangaan luka kesendirian. Bersamanya aku akan meretas mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata. Tidak lagi semu, tidak lagi buram. Semuanya jelas, sejelas aku merindukan kehadirannya yang akan datang kelak.

Aku menunggu di ujung bernama kelak

Bersama sabar aku menanti sang kelak turun dari langit laksana hujan. Menitis dalam bentuk yang bisa diraba dengan raga, menjelma menjadi sesuatu yang bisa aku ucap dengan kata.

Aku menunggu di ujung bernama kelak. Ya, kelak. Kelak yang aku belum tahu kapan dia datang. Aku hanya meyakini, aku hanya mengamini. Dia akan datang. Pasti, meski kelak.

Jumat, 07 Mei 2010

Memotret Memori

Kemarin aku datang lagi ke kampus untuk mengurus beberapa hal tentang rencana masa depanku yang pernah aku ceritakan kepadamu. Dan kamu tahu tidak? Sejak aku turun di parkiran, pikiran ini sepertinya membelot untuk tidak bisa berpaling dari bayanganmu. Kamu tidak hanya meraja disana, tapi menjajah kepingan-kepingan kenangan yang sengaja masih kusimpan di salah satu kompartemen hatiku. Rapih.

Banyak yang berubah dari kampus kita itu. Aku berjalan sembari menelisik setiap sudut yang pernah kita lewati dulu. Dua tahun bukan waktu yang sekejap untuk bisa melunturkan memori yang sepertinya terpatri di setiap kebisuan ruang. Dua tahun menjalin cinta denganmu membuat semua jalanan dan gedung di kampus itu menyeruakan aromamu. Indah.

Parkiran mobil sebelah gedung perpus ungu sekarang sudah beralih fungsi, berubah jadi parkiran motor. Parkiran itu sebenarnya tonggak pertemuan kita. Parkiran tempat kita saling bertukar surat lewat wiper mobil. Parkiran tempat kita malu-malu kenalan saat bertemu pertama kali setelah sekian lembar serial surat wiper itu terentaskan. Parkiran penuh cerita.

Karena parkiran itu sekarang tidak ada, kemarin aku parkir di parkiran depan. Dan seperti biasa untuk menuju ke departemenku, aku harus melewati gedung fisika yang tegelnya kotak-kotak kecil. Masih bikin pusing. Dulu kalau kita berdua lewat kesana, kita selalu komplain mengenai tegelnya yang bikin pusing. Tapi ada sisi baiknya, kita suka curi-curi pegangan tangan dengan beralasan biar pusingnya tidak berasa. Aku merasakan kehadiranmu disana meski dalam imaji.

Berjalan ke arah belakang, aku tidak menemukan lagi kantin tambang. Kantin itu sudah tutup. Kantin di departemenmu yang seringnya sepi karena letaknya yang lumayan agak jauh sekarang tinggal kenangan. Mungkin seperti aku dan kamu yang sekarang juga tinggal kenangan. Tapi dengan melihat gedung bekas kantinnya saja aku masih bisa mereka dengan jelas apa yang pernah kita habiskan disana. Melewati sore-sore senyap, duduk berdua tanpa banyak bicara. Semua ingatan hadir, berlarian berebut minta ditayangkan.

Aku sedang tidak hidup dalam kenangan. Aku hanya sedang terlingkarkan dengan memori masa lalu yang mau tidak mau terbongkar lagi dari lacinya ketika aku melewati waktu dan ruang yang pernah tercipta. Aku tahu sekarang kamu sudah bahagia, karenanya aku tidak ingin memberatkan langkahmu dengan bertindak seolah-olah memaksamu untuk kembali dan menoleh ke masa dulu. Tidak. Aku hanya sedang mengenang sesuatu yang indah, sesuatu yang memang pantas untuk dikenang. Kamu.

Aku hanya berharap senyummu masih seperti dulu. Senyum yang sama ketika mengantarkanku menuju ke podium dan membacakan pidato kelulusanku. Senyum tulus di bandara ketika akhirnya kamu memutuskan untuk pulang ke daerahmu dan bercita-cita membangunnya. Senyum yang ronanya tidak akan pernah redup dalam pandanganku sampai kapanpun.

Aku mengenangmu anak tambang ITB 97. Kemarin, kini dan mungkin nanti.

Rabu, 05 Mei 2010

about having baby

Sumpah, belakangan ini saya lagi pengen banget punya anak. Bener-bener bayi hidup, yang suka nangis oek-oek itu. Nggak tahu kenapa, yang pasti kalo di kantor atau di kosan lagi ada waktu luang buat ngelamun, lamunannya nggak jauh dari about having baby. Real baby.

Pernah coba sharing sama temen soal ini, dan responnya dia cuma bertanya balik: “habis liat anak bayi lucu dimana lo?” Saya jawab nggak tahu karena saya nggak yakin kalau itu adalah pencetusnya. Lihat anak bayi lucu sudah jadi makanan saya sehari-hari dari jaman kecil. Rumah bersalin Mami saya selalu dipenuhi bayi, entah bayi yang beneran lucu atau bayi yang biasa aja lucunya. Dan itu tidak membuat saya lantas ingin memiliki bayi.

Apa karena faktor umur? Bisa jadi sih, meskipun usia saya masih dibawah 30 tapi untuk ukuran “setua” ini memang sudah pantas menimang anak. Temen-temen saya aja anaknya udah pada gede, udah bisa diajak lari-lari di taman. Dooh…pengeeeeen! Tapi masa sih karena faktor umur? Toh saya masih merasa belum “matang” atau lebih tepatnya nggak tahu diri karena selalu merasa belum “matang”. Age just a numbers kan? Kematangan tidak bisa dikorelasikan dengan angka.

Saking pengennya punya anak, pernah kepikiran buat ngambil anak yang biasanya diterlantarkan begitu saja di rumah bersalin Mami terus dibawa ke kosan dan dirawat. GILA. Pikiran gila memang, tinggal aja masih ngekos tapi sok-sokan pengen melihara anak. Dan anak beneran lagi, anak yang butuh disusuin kalau lagi laper, diganti popoknya kalau ngompol, dijemur pagi-pagi biar nggak kuning. Pokoknya anak yang butuh curahan kasih sayang sepenuhnya.

Masalahnya, saya belum mau menikah atau tepatnya belum ada yang mau saya ajak nikah. Jadi gimana mau punya anak??

Kalau dipikir-pikir mungkin ada baiknya kalau saya punya anak. Kenapa? Karena menurut saya anak akan mengajarkan saya untuk tidak egois. Bagaimana saya harus melepaskan berbagai ego pribadi saya untuk kebahagiaan anak. Bagaimana saya harus berpikir untuk tidak menjadi centre of the world, karena pastinya saya harus lebih memperhatikan si anak. Atau bagaimana saya harus memanage waktu agar tidak menterlantarkan anak saya kelak. Semua harus dipikirkan meskipun sebenernya bisa belajar sambil dilakukan. Tapi anaknya manaaaaaa? Kalau nggak ada dia saya tetap nggak akan bisa belajar.

Hal yang akan menjadi masalah juga adalah bagaimana saya harus keluar dari comfort zone saya untuk saya “tukar” dengan kebahagiaan memiliki anak. Apakah saya siap menyetop hobi belanja baju karena budgetnya rebutan dengan belanja pampers dan susu? Apakah saya mampu mengurangi atau bahkan menghentikan kebiasaan kongkow-kongkow di coffee shop karena saya harus menemani dan membacakannya cerita sebelum dia tidur? Apa saya bisa berhenti dari kebiasaan saya dugem karena budgetnya terpakai karena anak saya tiba-tiba sakit? Banyak pertanyaan yang hilir mudik di kepala saya.

Itu sebabnya kenapa saya bilang memiliki anak akan mengajarkan saya untuk tidak egois, karena saya akan menjawab semua pertanyaan diatas dengan jawaban kalau saya mau melakukan semua itu. Beneran deh.

Saya siap jadi orang tua. Jadi kalau ada orang di luaran sana yang sevisi dengan saya kemudian mau juga menjadi partner dalam membesarkan anak, baik itu anak kita sendiri maupun anak yang lahir dari hati kita, yuk kita wujudkan mimpi itu. Alangkah lebih ringannya membesarkan anak berdua ketimbang sendirian, makanya saya mengajak untuk berbagi beban. Segera!

Senin, 03 Mei 2010

Sendiri, Melajang dan Bahagia

“Dicintai itu seperti vas kosong, yang ditaruh kembang ke dalamnya sehingga ia kemudian pantas disebut vas bunga. Nah, kalau pada suatu hari si vas tak pernah bertemu si kembang dan tak pantas disebut vas bunga, keduanya toh tetap cantik dan berguna. Sendiri itu baik. Berdua lebih baik. Sendiri itu lebih baik, berdua itu baik. Sekarang tergantung lensa mata, otak, serta nurani bagaimana melihatnya”
Samuel Mulia, Kompas Minggu 25 April 2010

Saya tergelitik membaca parodi minggu kemarin mengenai lajang atau melajang. Saya rasa semua orang pernah mengalami pergolakan batin mengenai kesendirian, termasuk saya. Dan saya mengamini kalimat-kalimat yang ditulis Samuel Mulia di atas. Tidak bisa lagi tidak setuju. Mata, otak serta nurani saya ikut mengangguk begitu beres membaca artikelnya.

Sendiri atau kesendirian, satu hal yang banyak ditakuti oleh banyak orang. Menjalani hidup dengan kesendirian apalagi di masa tua sangat tidak diharapkan, dan kemudian itu menjadi semacam momok yang menakutkan. Menjadi semacam beban berat yang tak juga menemukan jalan keluarnya apalagi untuk orang-orang seperti saya yang mungkin sedikit sudah berdamai dengan hidupnya sendiri.

Kalau saya ditanya apakah saya takut sendirian? Maka saya akan mengangguk sebagai tanda mengiyakan. Tapi kemudian saya berfikir apakah dengan selalu merasa takut maka saya akan terbebas dari belenggu kesendirian itu, saya menemukan jawabannya. Tidak. Ketakutan semacam itu justru akan membuat pikiran kita menjadi kerdil, lebih parahnya kita akan melakukan banyak hal yang sebetulnya tidak sesuai dengan nurani kita hanya untuk sekedar tidak sendirian. Apa itu layak dilakukan? Saya menggeleng.

Baca lagi bagian akhir dari tulisan Samuel Mulia. “Sendiri itu baik. Berdua lebih baik. Sendiri itu lebih baik, berdua itu baik. Sekarang tergantung lensa mata, otak, serta nurani bagaimana melihatnya”. Yang terbaik bagi kita hanya kita yang tahu, oleh karena itu jangan pernah menggunakan kacamata orang untuk menilai hidup kita. Gunakan kacamata kita sendiri, niscaya kita akan selalu bersyukur tentang apapun yang pernah, sedang atau akan kita jalani. Sendiri ataupun berdua kemudian menjadi pilihan, dan pilihan itu harus dijalani dengan bahagia walaupun pilihannya ternyata adalah sendiri.

Menjalani hidup sendiri bukan berarti kita tidak bisa bahagia. Bahagia itu diciptakan, bukan pemberian, karenanya tidak jaminan kalau kita memutuskan untuk sendiri maka kita tidak akan bahagia. Semuanya tergantung dari bagaimana kita memaknai kesendirian itu, mengisinya dengan hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan. Sendiri bukan akhir dari dunia, sendiri bukan kiamat kecil bagi kehidupan manusia. Menurut saya, sendiri itu adalah tantangan yang harus ditaklukan.

Jangan mengeluh karena kita sendirian. Jangan menggugat karena Tuhan menciptakan kita tanpa atau belum berpasangan. Hidup akan jauh lebih bermakna ketika kita menjalani semua yang sudah Tuhan beri dengan keikhlasan luar biasa, meskipun yang Tuhan beri ternyata adalah kesendirian. Ada maksud di balik semua penciptaan takdir dalam hidup kita, tapi seringkali kita tidak sabar untuk menterjemahkannya.

Saya Apisindica, saya sendirian, saya lajang, dan saya bahagia. Saya juga berharap bisa membagi kebahagiaan itu terhadap orang-orang disekeliling saya.