Dari dulu saya SANGAT sadar kalau mulut saya tidak lebih dari sebuah comberan. Banyak sekali kalimat-kalimat makian atau hinaan yang kerap keluar dari sana. Sebagian besar teman saya malah menyebutnya mulut silet, karena yang keluar dari sana selalu menyakitkan. Bikin sakit hati. Saya sadar mengenai hal itu, benar-benar sadar.Lahir dengan kelebihan yang ada di mulut, membuat saya sering berpikir apakah itu harus saya maknai sebagai kelebihan atau justru kelemahan. Dari dulu, mulut bisa menafkahi saya. Dengan kemampuan mulut saya itu, lembaran-lembaran rupiah bisa tercetak. Jangan berfikir yang macam-macam!!! Saya tidak pernah menjual ciuman, saya tidak pernah menggadaikan mulut atau bibir saya pada setan. Saya bersyukur tidak pernah sedikitpun tergoda, meski pada beberapa kasus saya justru menggratiskannya.
Saya menjual kemampuan mulut saya dengan cara menjadi seorang MC. Mami saya yang menjerumuskan. Kata dia dibanding saya banyak ngoceh tapi nggak dibayar dan cuma bikin berisik, lebih baik belajar public speaking. Dan terbukti, setelah itu saya mencintai dunia ‘ngomong’ lebih dari apapun. Saya bisa mendapatkan uang sekaligus sedikit ketenaran (semu). Salahkan Mami saya kalau saya dari kecil ingin jadi artis timbang presiden!
Kenapa saya lebih senang menyebut mulut saya comberan dibanding mulut sampah, karena kalau sampah kesannya selalu kotor. Nggak pernah ada baik-baiknya, meski ada sampah organik yang katanya ramah lingkungan. Tetap saja sampah dan berkonotasi kotor. Sedangkan kalau comberan, ada saatnya bersih kalau sedang bersih walaupun sesaat kemudian pasti kotor disertai bau. Saya bisa berwujud ibu peri dan ibu tiri dalam waktu yang berselingan, bahkan bersamaan.
Sebetulnya saya tidak sesumbar dalam mengeluarkan kata-kata hinaan atau apapun itu yang kemudian diartikan teman-teman saya menyakitkan. Boleh dicek kepada siapa saja biasannya saya mengelurakan kepedasan kata, kepada teman-teman dekat yang sudah saya katagorikan asik. Tidak mudah tersinggung, karena mereka juga sebetulnya tahu kalau saya dalam kapasitas bercanda. Kadang memang kebablasan, tapi tidak pernah keluar dalam koridor canda, lucu-lucuan.
Salahnya, saya seringkali tidak mampu melihat mood dari lawan bicara. Tetap hajar dengan ngomong asal ceplos nggak jelas juntrungannya. Saya harus lebih banyak belajar, bukan hanya sekedar bagaimana membaca mood lawan bicara tetapi terlebih bagaimana mengerem mulut biar tidak terlalu banyak omong. Belajar mengomentari hanya dalam hati, belajar memaki tanpa ekspresi.
Kalau saya diberi kesempatan untuk lahir kembali, saya akan memilih menjadi orang yang bisa lebih diam. Mungkin akan lebih tidak banyak konflik, mungkin akan menghadapi lebih sedikit konfrontasi. Hidup mungkin akan jauh lebih aman dan tidak menjadi sosok yang seringkali menyebalkan.
So, buat siapapun di luaran sana yang pernah tersinggung dengan sesuatu yang keluar dari mulut saya, saya minta maaf. Tidak ada maksud sedikitpun untuk menyakiti perasaan kalian. Saya hanya merasa bahwa dengan becandaan model begitu, kita bisa jauh lebih dekat. Mungkin itu salah satu refleksi rasa sayang saya terhadap kalian. Boleh diterjemahkan aneh, karena saya yakin ketika pertama kali kalian bertemu dengan saya, yang ada dalam benak kalian pasti juga ‘aneh’. Sekali lagi saya minta dimaafkan.
Bila nanti dalam perjalanan waktu ke depan saya masih mengulangi dan mengulanginya lagi. Mungkin lebih baik saya tidak usah ditemani.


