Halaman

Rabu, 24 Februari 2010

Ambiguitas

Saya lagi sering senyum-senyum sendiri, tapi bukan gila. Lagi merasa lucu aja sama reaksi orang-orang di sekeliling, orang-orang dari masa lalu tepatnya. Entah itu mantan pacar, atau orang yang pernah deket tapi nggak sempet pacaran karena banyak factor rintangan.

Di kantor, di kamar, di toilet, dimanapun selalu senyum-senyum sendiri. Lagi kerja di laboratorium, lagi meeting, bahkan lagi seminarpun saya sering sekali tersenyum karena reaksi-reaksi mereka. Kerjaan yang lagi numpuk dan padet banget ternyata tidak bisa menyita pikiran saya untuk sedikitpun teralihkan dari sana. Ketika nyetir saya seringnya jadi salah belok atau diklaksonin orang dari belakang.

Semua gara-gara postingan saya yang terakhir.

Di postingan yang terakhir saya menulis mengenai mendokumentasikan waktu. Bagaimana saya mendokumentasikan sebuah kenangan dalam rekam imaji. Mem-file-kan lembar demi lembar kejadian masa lalu yang pernah membuat saya bahagia. Saat menulis itu, saya memang sedang duduk membuka lagi folder yang berisi semuanya. Mencoba mereka ulang alur yang pernah saya pijak bersama seseorang.

Hei kamu…iya kamu.

Kamu yang ambigu. Bermakna tidak hanya dua, tapi bisa banyak. Di tulisan itu saya memang tidak menuliskan secara spesifik untuk siapa saya tujukan tulisannya. Pokoknya buat kamu…iya kamu. Seseorang yang pernah hadir, mengisi kemudian pergi. Karena tidak spesifik itulah ternyata menimbulkan opini yang membuat saya tidak berhenti tersenyum sendiri.

Entah itu melalui media sms, email, chat, telpon langsung bahkan BBM hampir semua orang yang pernah dekat saya kemudian berekasi. Entah becandaan atau sungguhan, saya tidak tahu. Yang pasti mereka kebanyakan mempertanyakan. Bertanya kepada siapa saya mendedikasikan tulisan saya itu. Saya bungkam, konsisten dengan apa yang saya tulis. Pokoknya kamu…iya kamu!!! Siapapun itu, biar hanya saya dan Tuhan yang tahu.

Mereka boleh bertanya, mereka boleh menyimpulkan. Tapi itu saya, seseorang yang pernah hadir mengisi jambangan hati mereka kala itu. Kalaupun sekarang saya seperti merasa berhutang kepada mereka layaknya yang saya tuliskan di mendokumentasikan waktu, karena saya merasa bahwa mereka telah bertransformasi menjadi teman bahkan sahabat. Dan seorang teman atau sahabat memiliki kewajiban untuk selalu memompakan semangat, mengawasi dan mengingatkan. Jangan lagi menoleh kebelakang walau perpisahan yang terjadi seringkali didasarkan pengkhianatan atau berpijak pada sakit dan air mata. Hidup tidak surut ke belakang.

Hei kamu…iya kamu. Siapapun kamu, aku tetap menyayangimu seperti dulu meskipun dengan perspektif yang tidak lagi sama.

Jumat, 19 Februari 2010

Mendokumentasikan Waktu

Hey kamu…Iya kamu. Apa kabarmu? Sudah lama kita tidak berkomunikasi seperti dulu. Rasanya kangen juga diributkan oleh sesuatu yang seringkali tidak perlu. Selalu melapor sedang dimana, bersama siapa, mau kemana. Padahal kita bukan siapa-siapa. Kita hanya menikmati nyaman yang tercipta, berusaha berdiri di titik aman tanpa berusaha melangkah. Entah kenapa.

Hey kamu…Iya kamu. Aku ingat pernah berjanji kalau aku akan selalu menemanimu bertransformasi menjadi sesuatu, membantumu melewati hari-hari besar yang akan membawamu menjadi seseorang. Jangan pikir aku lupa, aku mengingat semuanya. Setiap detail apa yang pernah kita rencanakan dan apa yang perlu direalisasikan. Rasanya baru kemarin ya? Ternyata kita sudah jauh melangkah.

Maaf kalau sepertinya aku terlihat menjilat ludahku sendiri dengan tidak memompakan semangat yang dulu seringkali kulakukan. Maaf juga kalau selayaknya pecundang aku seperti tidak ingin menepati janji. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus memulainya lagi, rasanya rikuh untuk kembali terlibat dalam semua elemen itu. Aku terbelenggu canggung yang sampai kini juga aku tidak tahu kenapa.

Mungkin sebentar lagi waktu itu akan tiba. Waktu yang dulu aku rencanakan ketika datang, aku akan berada disampingmu. Menjadi semacam kekuatan untuk mendobrak semua belenggu. Menitis bagai hembus angin yang akan menentramkan ketika kamu gundah melangkah. Aku ingat pernah berjanji pada diriku sendiri untuk melakukan semuanya, tanpa harus ada imbalan. Aku hanya senang menemanimu, meski tidak jelas sebagai apa atau siapa.

Hey kamu…Iya kamu. Ayo semangat! Jangan jadikan mendung di luaran menggelayuti pikiranmu. Aku yakin kamu akan sanggup melalui semuanya. Bukan hanya itu, aku yakin kamu akan keluar sebagai pemenang. Jangan hiraukan waktu yang katanya terlambat mengantarkanmu menuju tujuan asa, jangan lagi bersembunyi dibalik ketidakberdayaan karena semuanya pasti bisa dilewati. Hari hanya tinggal hitungan jari, jadilah pejuang yang sesungguhnya. Tangguh tak luruh diterjang gemuruh.

Meski mungkin aku terasa jauh, yakinlah kalau aku tetap mengawasimu. Melihat keseluruhan proses pendewasaan yang menempamu. Mendokumentasikan perjalanan yang kerap diwarnai pemberontakanmu tentang semua perasaan bimbang dan ragu. Aku menjadi saksi semua itu meski tak pernah kamu sadari.

Hei kamu…Iyah kamu. Ternyata aku masih menyimpan sedikit rasa itu. Di hatiku.

Selasa, 16 Februari 2010

Ngerjain Tugas

Dapet tugas dari pohon. Sebenernya males ngerjain, tapi berhubung si guwe itu lebah baik hati nan menawan, gue kerjain juga deh. Disela-sela istirahat makan siang, saat mendung menggelantung di ujung pandang (halah, tetep harus pake bahasa lebay!!!)

1. WHERE IS U'R CELL PHONE
Yang pasti harus berada dekat dan mudah dijangkau. Di saku celana, saku kemeja, sebelah laptop. Pokoknya kapanpun telponnya bunyi bisa segera diangkat atau direject!

2. RELATIONSHIP
Sedang menanti jodoh yang dalam perjalanan. Perjalanan dikirim Tuhan maksudnya. Konkritnya sedang berusaha mendapatkan pasangan yang bisa melengkapi gambar hati di dada.

3. U'R HAIR?
pendek dan dari jaman dulu gak berubah style-nya. kalau digondrongin takut jatohnya kayak edi brokoli.

4. WORK?
dikontrak seumur hidup sebagai abdi negara yang menitis pada tubuh peneliti sinting.

5. U'R SISTERS?
satu orang. Adik laki-laki yang dengan tidak sopan lebih pinter, dan jadi dokter. Gara-gara dia lengkaplah penderitaan gue. Menjadi satu-satunya bukan dokter di kelurga.

6. U'R FAVORITE THING
Ngomong. Mulut adalah modal utama, dari sana bisa keluar sesuatu yang berkualitas, doa sampai sampah. dari sana juga gue mendapatkan berlembar-lembar rupiah.

7. U'R DREAM LAST NIGHT
Akhir-akhir ini lagi sering mimpi gak penting yang entah apa maksudnya. Mimpi terakhir tentang menerangkan biosintesis gibberelin di depan audience. Oh no...kenapa mimpinya juga mengenai kerjaan!!!

8. U'R FAVORIT DRINK?
air putih tentu saja. Cemilan sehat, kalau laper, minum aja. kembung-kembung deh!

9. U'R DREAM CAR?
Apapun itu yang penting mobil dengan 2 pintu saja. Tapi bukan mobil bak terbuka.

10. U'R SHOES?
casual, cats, sneaker, pantovel mengkilat.

11. U'R FEARS
Pertama, takut ketika mati tidak dalam keadaan islam yang seutuhnya. Kedua, takut Allah murka dengan segala dosa yang terus dijalani. Ketiga, Takut GENDUT!!!!!!

12. WHAT DO U WANT TO BE IN 10 YEARS?
Kalaupun tidak jadi profesor, cukuplah jadi doktor yang mengajar di universitas ternama di Eropa. Amiiiiiiin.

13. WHO DID U'R HANG OUT WITH LAST WEEK?
sama sekumpulan alat-alat berat di fitness center. Teman-teman yang sungguh inspirasional dalam memahat otot.

14. WHAT ARE U NOT GOOD AT?
nggak pintar menyembunyikan perasaan. kalau udah sebel sama seseorang, nggak bisa ditutup-tutupi. Nggak pintar juga dalam menjaga keimanan serta keislaman. kadang selalu melakukan dosa dengan sadar.

15. ONE OF U'R WISH LIST ITEM?
Seorang anak yang lahir dari hati

16. WHERE U GREW UP?
dari lahir sampai lulus S2 selalu di Bandung. Giliran kerja baru bermigrasi ke ibukota.

17. LAST THING U DID?
makan siang sambil ngerumpi

18. WHAT ARE U WEARING?
pakaian kerja pas badan. Teuteup!!!!

19. U'R COMPUTER?
Laptop acer ajah. Ya lumayanlah, kalau dibawa konferensi atau seminar ke luar negeri nggak malu-maluin amat!

20. U'R PET?
ada 3 kucing persia betina medium dan satu jantan persia pignose. Tiap beranak, anaknya dijual. Lumayan buat tambah-tambah belanja di Top Man ataw Zara.

21. U'R LIFE?
harus terus dijalani walau itu sedang senang maupun sedang susah. kadang hanya itu yang bisa dilakukan. Menjalani. tentu saja dengan ikhtiar dan doa.

22. MISSING?
kamar tidur di rumah dengan segala pernak-pernik dan bau khasnya.

23. WHAT ARE U THINKING RIGHT NOW?
Gimana caranya mendapatkan profesor buat jadi promotor doktor gue. Profesor yang gampang. Gampang ngasih nilai bagus, gampang ngelulusin, dan kalau bisa gampang dipacari. hahaha

24. U'R CAR?
semenjak jadi abdi, mobil ditinggal ngejugruk di bandung. Nggak kuat ngebiayainnya disini. dana serba terbatas.

25. U'R KITCHEN?
pindah-pindah. Kadang di restauran, kafe, bahkan di warteg dan tenda pinggir jalan.

26. U'R FAVORIT COLOR?
merah, hitam dan putih.

27. LAST TIME U LAUGH?
barusan, waktu temen kantor ngomenin status gue di twitter.

28. LAST TIME U CRIED?
kemaren. Ketika ngadu sama Tuhan, kenapa seringkali hidup berjalan tidak sesuai dengan apa yang gue inginkan. Cuman ngadu yah bukan menggugat.

29. LOVE?
Cinta bukan matematika. Jadi nggak perlu menghitung berapa yang sudah gue kasih ke pasangan dan berapa yang pasangan sudah atau harus kasih ke kita. Cinta itu ikhlas.

30. SO WHO WANTS TO SHARE THEIR ONE'S? HOW ABOUT?
mungkin otak encernya lagi beku karena mendung di luar sana. Gag ngerti maksud pertanyaanya.

31. PERSON ELECTED TO THE TAG...
Dapet tugas itu adalah beban, dan sebagai orang baik gue lagi nggak pengen membebani orang lain. maaf buat yang udah bikin peraturan, aturannya gue modifikasi. jangan marah yaa, ingat hidup itu harus ikhlas. hehehe. Piss ah!!!

Minggu, 14 Februari 2010

Kenangan

Barang itu masih terlipat rapi di lemari. Usianya satu tahun tepat hari ini, 14 februari. Mungkin hampir terlupakan kalau saya tidak iseng membongkar dan membereskan barang-barang yang lainnya di sana. Saya kemudian menyadari kalau ternyata saya masih menyimpannya. Barang pemberian seseorang setahun lalu, barang yang katanya refleksi rasa sayang.

Barang itu mengingatkan saya padanya. Tahun lalu saya masih berjalan beriringan dengannya, saling menggenggam tidak hanya tangan tapi juga hati. Saling mempercayai dan mengamini kalau cinta akan membuat kami berlabuh di dermaga yang sama. Melempar jangkar untuk kemudian bersatu meski badai hilir mudik menghadang berkali-kali.

Itu tahun lalu. Tahun ini kami sudah tidak bersama. Kami sudah memutuskan untuk berlayar menggunakan kapal yang berlainan, mencari pemberhentian sendiri-sendiri. Jangkar sudah dinaikkan sehingga angin membawa kami ke arah yang berlawanan. Dia telah menemukan penumpang sementara saya berusaha memilih nahkoda. Seseorang yang akan menuntun saya mengarungi gamang, menunggangi banyak perasaan.

Barang itu saya keluarkan dari tempatnya, hanya ingin mengamati. Menelisik lagi kenangan yang mungkin tersisa disana. Bukan ingin membuka cerita lama, bukan juga ingin hidup di masa lalu. Saya hanya ingin sedikit melihat ke belakang, tersenyum untuk sebuah perjalanan yang pernah saya lalui. Mungkin belajar dari sebuah kesalahan, kealfaan yang harus membuat saya berjuang makin keras untuk terus memperbaiki diri. Untuk saya, bukan untuk siapa-siapa.

Perantaraan barang tersebut, saya tersenyum. Menyadari percintaan bagai remaja yang pernah kami lewati. Melakukan hal-hal bodoh yang tak sesuai dengan umur yang terpampang, memanjakan perasaan dengan permainan yang hanya pantas dilakukan murid taman kanak-kanak. Bersamanya saya seperti anak kecil, tak sabar menanti esok hanya demi sebuah permen yang dijanjikan.

Semua telah usai, dan saya tidak sedih. Masa-masa muram telah berlalu seiring detik yang menjemput hari. Saya sudah kuat, saya sudah siap menerima orang baru. Saya hanya ingin menoleh sejenak untuk kemudian berlari. Bukan lagi berjalan. Meninggalkan apa yang sebetulnya memang telah saya tanggalkan tanpa penyesalan.

Hari ini saya memasukan barang itu kembali ke dalam tempatnya. Barang yang masih tampak baru karena saya baru memakainya sekali. Bukan tidak menghargai pemberian, tapi karena suatu alasan yang membuat saya enggan.

Saya menyimpan kembali barang itu. Sebuah t-shirt bergambar wajah shizuka.