Di luar hujan. Kadang lebat kadang gerimis. Tapi aku tahu keduanya menghasilkan basah. Rintik yang mencumbui ujung-ujung genting menciptakan melodi getar. Menyuarakan perih. Kekalutan yang dilapisi hitam. Pekat yang bersenggama dengan mendung yang kemudian membuahkan hujan. Tengah malam.Aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Ada kecamuk di labirin hati yang tidak aku mengerti. Entah apa. Semakin aku mengejarnya demi sebuah kejelasan, semakin cepat dia berlari. Keluar masuk labirin-labirin lain di sebelahnya. Aku lelah, hingga akhirnya aku menyerah. Membiarkan rasa itu bermain seenaknya, berjingkrakkan memainkan perasaanku. Bersekongkol dengan otak dan mata untuk membuatku terjaga.
Di luar hujan. Tak akan kutemukan bintang di pekat hitam. Padahal kuharap kantuk akan menjelang ketika aku berusaha menghitung bintang.
Semua gara-gara sebuah email. Email pendek yang tadi siang datang membawa perang. Pergolakan batin, perasaan bersalah, egoisme dan perasaan diharapkan. Kenapa lagi-lagi dia datang menunggang aksara? Kenapa untuk kesekian kalinya dia menggugat perantaraan maya? Kenapa rasa itu di hatinya tidak lantas mati? Kenapa? Terlontar ribuan kenapa tanpa jawaban. Semuanya saru oleh bunyi air. Di luar hujan.
Melalui email dia mempertanyakan lagi semua harap yang pernah terucap raga. Dia dengan pintarnya mengirimkan serpihan email-email yang dulu pernah aku kirimkan. Dulu. Ketika aku masih berjalanan berdampingan dengannya. Saat kami belum memutuskan untuk berpisah mengambil jalan yang berbeda di persimpangan yang menghadang. Dulu.
Aku ingat semua bajar-banjar kata yang terangkai menjadi prosa, yang kemudian aku kirimkan melalui maya. Dulu, melalui dia kami saling berkirim sapa. Demi komunikasi yang katanya bisa mempererat hubungan walau jarak memisahkan tatap dan belai. Aku ingat semuanya. Tapi itu dulu.
Jadi ketika aku mendapatkan kiriman email yang ditulis oleh aku sendiri, aku hanya limbung. Dipaksa bergerak mundur ke masa lalu. Digugat oleh cerita yang sebenarnya aku ingin lupa.
Sayang, jangan khawatirkan aku. Aku siap menghadapi semuanya. Kita hanya dipisahkan jarak, tapi kita harus yakin kalau hati kita berlekatan satu sama lain. Kuharap hati kita tetap mendendangkan lagu isyarat cinta, mejaganya tetap bernada merdu. Jangan risau melihat air mata ini, karena air mata ini akan kutampung dalam berlembar-lembar surat cinta. Akan kusimpan suratnya kemudian di dekat buritan, berharap suatu saat gelombang mengenyahkannya jauh dan membentur karang di negeri seberang. Tempat dimana kamu menungguku dengan peluk tanpa syarat.
Aku ingat pernah menulis itu. Tapi tolong jangan kamu jadikan senjata untuk menarikku ke masa dulu. Semua cerita sudah usai, menguap seiring pergantian musim yang sekarang tak jelas waktunya. Jangan khawatir, aku sudah memaafkanmu dari dulu. Aku juga tidak akan pernah melupakanmu. Kamu salah satu indah dari yang terindah. Karenanya kamu menempati tempat khusus di sana, di kristal kenangan yang kusimpan dalam diam. Cukup aku yang tahu.
Di luar hujan. Makin deras. Enyahlah kau bersama air yang terlindi menuju saluran. Biarkan aku bergelung dalam selimut malam. Dengan cinta yang mungkin akan aku semai.


