Saya duduk di pos satpam bersama beberapa teman dekat. Waktu menunjukkan jam 11 malam. Angin meniupkan aroma laut yang dibawanya dari selat Madura yang terletak tepat di bagian belakang hatchery ini. Bau laut yang menemani hidup saya selama beberapa waktu. Bau yang selalu membuat saya betah untuk berdiri di pagar pembatas dan kemudian memandangi laut. Diam.Saya sedang menunggu travel yang akan mengantarkan saya ke bandara Juanda Surabaya.
Malam itu satu lagi episode perjalanan hidup saya tamatkan. Saya memilih untuk menyelesaikannya dengan segera karena banyak yang tidak sesuai dengan perkiraan. Hidup jauh dari hiruk pikuk membuat saya mereview ulang keputusan yang telah dibuat. Kesepian, perasaan sendirian, jauh dari pelukan para sahabat memaksa saya untuk mengambil keputusan. Kembali ke titik nol.
Travel telah datang menjemput. Pelukan silih berganti menghujani tubuh saya yang ingin pulang. Doa banyak terucap mendoakan semoga saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Air mata jadi saksi ketika saya berada di perasaan yang membingungkan. Sedih sekaligus senang. Senang karena saya akan pulang ke Bandung, sedangkan sedih selalu tercipta di momen perpisahan. Tidak dipungkiri saya sedih akan kehilangan mereka, teman-teman yang menemani saya berproses selama di sana.
Saya siap ketika sebagian dari tubuh saya telah memasuki travel. Dari jauh seseorang berlari sambil berteriak minta ditunggu. Urung saya menaiki mobil, saya turun kembali. Saya melihat dia dalam keremangan malam menggapai-gapaikan tangannya. Tiba-tiba dia sudah ada dalam pelukan, dan saya membalasnya. Saya kemudian menatap wajahnya dan mencium keningnya.
“Ini tolong dibaca saat kamu sudah berada di Surabaya!” Dia memberikan sebuah amplop dan sebuah bungkusan berbungkus kertas kado. Saya hanya mengangguk.
Saat itu tahun 2006. Di Situbondo.
Di bandara, sambil menunggu pesawat, saya membuka surat dari dia. Membacanya dengan perasaan seperti direnggut nyawa. Sakit.
November 2006
To Apis
Assalamualaikum wr wb.
Akhirnya saat ini tiba juga ya? Saat dimana kamu memutuskan untuk melangkah meninggalkan BAJA, tempat yang mungkin gak kebayang sama sekali bakal jadi tempat tinggal kamu selama beberapa bulan. Pasti banyak sekali kenangan kamu disini, yang aku yakin beberapa hal, nggak kan mungkin kamu temuin n gak bakalan mau kamu lakuin. Entah masuk katagori memori terbaik, terjelek ataupun yang pengen kamu lupain. Aku senang ada dalam kisaran memori hidup kamu disini.
Aku pasti akan sangat kehilangan kamu Pis, untuk sebuah alasan yang aku sendiri nggak ngerti. Kalo aku mamih, aku kehilangan anak buah yang pintar, temen diskusi n temen untuk bergosip. Kalo aku mba Anit, pasti aku akan bingung karena gak akan ada yang mencela aku seperti kamu. Kalo aku pande, pasti aku sedih temen sekamarku pergi. Apalagi kalau aku mba Indri, wah bisa mati kutu aku, karena temen seperjuangan, temen curhat, temen “duet maut” Qu pergi. Kalo aku dicky, atau Ari, atau Agil, atau Yuli, atau Aconk, atau temen-temen ngumpul kamu yang lain pasti aku sedih karena hilang satu sumber keramaian. Tapi kalau aku adalah aku? Aku kehilangan apa? Temen sekamar? Wah itu mah harapan kejauhan. Temen kerja? Temen deket? Temen ngumpul? It was….sekarang? udah jarang banget, nyaris gak. Tapi aku kehilangan kamu Pis….Kehilangan seorang Apis….(Ya Allah, yang nama lengkap kamu aja aku gak tau). Itulah….Aku gak pernah ngerti “siapa kamu” buat aku, yang aku tau kamu berarti buat aku.
Kalo dalam akhir-akhir ini kita ada pada jarak yang dekat tapi berasa jauh, mungkin jarak yang jauh akan membuat kita dekat di hati. Dan selalu kubilang dan kuyakini bahwa Allah sayang ma aku, aku yakin ada hikmah dari pertemuan dan kebersamaan Qta yang singkat dan kepergian kamu disaat Qta tak lagi dekat. Selamat jalan Pis…..aku akan merindukanmu.
Wassalamualaikum wr wb.
Aku.
Kini, Jakarta 2010.
Saya menerima undangan perkawinan dia. Seseorang yang katanya pernah mencintai saya dalam diam. Seseorang yang cintanya tidak pernah saya balas karena suatu alasan. Mungkin saya jahat, mungkin saya dianggap tidak punya hati, tapi saya punya alasan untuk itu. Saya hanya tidak ingin menyakiti dia lebih jauh. Berharap pada sesuatu yang tidak bisa saya kabulkan, tidak bisa saya wujudkan.
Sekarang saya bahagia mendengarnya akan menikah. Setidaknya saya tidak meberinya kesedihan berkepanjangan. Dia kuat, saya yakin. Dia bisa bangkit meskipun saya tahu akan sakit menerima penolakan waktu itu. Dia bisa tegar, seperti saat kami berdiskusi mengenai masalah ini di tepi pantai pasir putih sambil menggenggam hati masing-masing. Berusaha saling mengerti.
Saya mendoakan semoga penikahan dia berlangsung bahagia. Semoga dia memilih orang yang tepat untuk mendampinginya seumur hidup. Saya berdoa untuk dia tadi malam, seorang wanita yang saya kenang sebagai cinta episode situbondo.










