Halaman

Rabu, 13 Januari 2010

Ditinggal Menikah (Lagi)

Saya duduk di pos satpam bersama beberapa teman dekat. Waktu menunjukkan jam 11 malam. Angin meniupkan aroma laut yang dibawanya dari selat Madura yang terletak tepat di bagian belakang hatchery ini. Bau laut yang menemani hidup saya selama beberapa waktu. Bau yang selalu membuat saya betah untuk berdiri di pagar pembatas dan kemudian memandangi laut. Diam.

Saya sedang menunggu travel yang akan mengantarkan saya ke bandara Juanda Surabaya.

Malam itu satu lagi episode perjalanan hidup saya tamatkan. Saya memilih untuk menyelesaikannya dengan segera karena banyak yang tidak sesuai dengan perkiraan. Hidup jauh dari hiruk pikuk membuat saya mereview ulang keputusan yang telah dibuat. Kesepian, perasaan sendirian, jauh dari pelukan para sahabat memaksa saya untuk mengambil keputusan. Kembali ke titik nol.

Travel telah datang menjemput. Pelukan silih berganti menghujani tubuh saya yang ingin pulang. Doa banyak terucap mendoakan semoga saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Air mata jadi saksi ketika saya berada di perasaan yang membingungkan. Sedih sekaligus senang. Senang karena saya akan pulang ke Bandung, sedangkan sedih selalu tercipta di momen perpisahan. Tidak dipungkiri saya sedih akan kehilangan mereka, teman-teman yang menemani saya berproses selama di sana.

Saya siap ketika sebagian dari tubuh saya telah memasuki travel. Dari jauh seseorang berlari sambil berteriak minta ditunggu. Urung saya menaiki mobil, saya turun kembali. Saya melihat dia dalam keremangan malam menggapai-gapaikan tangannya. Tiba-tiba dia sudah ada dalam pelukan, dan saya membalasnya. Saya kemudian menatap wajahnya dan mencium keningnya.

“Ini tolong dibaca saat kamu sudah berada di Surabaya!” Dia memberikan sebuah amplop dan sebuah bungkusan berbungkus kertas kado. Saya hanya mengangguk.

Saat itu tahun 2006. Di Situbondo.

Di bandara, sambil menunggu pesawat, saya membuka surat dari dia. Membacanya dengan perasaan seperti direnggut nyawa. Sakit.

November 2006

To Apis

Assalamualaikum wr wb.

Akhirnya saat ini tiba juga ya? Saat dimana kamu memutuskan untuk melangkah meninggalkan BAJA, tempat yang mungkin gak kebayang sama sekali bakal jadi tempat tinggal kamu selama beberapa bulan. Pasti banyak sekali kenangan kamu disini, yang aku yakin beberapa hal, nggak kan mungkin kamu temuin n gak bakalan mau kamu lakuin. Entah masuk katagori memori terbaik, terjelek ataupun yang pengen kamu lupain. Aku senang ada dalam kisaran memori hidup kamu disini.

Aku pasti akan sangat kehilangan kamu Pis, untuk sebuah alasan yang aku sendiri nggak ngerti. Kalo aku mamih, aku kehilangan anak buah yang pintar, temen diskusi n temen untuk bergosip. Kalo aku mba Anit, pasti aku akan bingung karena gak akan ada yang mencela aku seperti kamu. Kalo aku pande, pasti aku sedih temen sekamarku pergi. Apalagi kalau aku mba Indri, wah bisa mati kutu aku, karena temen seperjuangan, temen curhat, temen “duet maut” Qu pergi. Kalo aku dicky, atau Ari, atau Agil, atau Yuli, atau Aconk, atau temen-temen ngumpul kamu yang lain pasti aku sedih karena hilang satu sumber keramaian. Tapi kalau aku adalah aku? Aku kehilangan apa? Temen sekamar? Wah itu mah harapan kejauhan. Temen kerja? Temen deket? Temen ngumpul? It was….sekarang? udah jarang banget, nyaris gak. Tapi aku kehilangan kamu Pis….Kehilangan seorang Apis….(Ya Allah, yang nama lengkap kamu aja aku gak tau). Itulah….Aku gak pernah ngerti “siapa kamu” buat aku, yang aku tau kamu berarti buat aku.

Kalo dalam akhir-akhir ini kita ada pada jarak yang dekat tapi berasa jauh, mungkin jarak yang jauh akan membuat kita dekat di hati. Dan selalu kubilang dan kuyakini bahwa Allah sayang ma aku, aku yakin ada hikmah dari pertemuan dan kebersamaan Qta yang singkat dan kepergian kamu disaat Qta tak lagi dekat. Selamat jalan Pis…..aku akan merindukanmu.

Wassalamualaikum wr wb.

Aku.

Kini, Jakarta 2010.

Saya menerima undangan perkawinan dia. Seseorang yang katanya pernah mencintai saya dalam diam. Seseorang yang cintanya tidak pernah saya balas karena suatu alasan. Mungkin saya jahat, mungkin saya dianggap tidak punya hati, tapi saya punya alasan untuk itu. Saya hanya tidak ingin menyakiti dia lebih jauh. Berharap pada sesuatu yang tidak bisa saya kabulkan, tidak bisa saya wujudkan.

Sekarang saya bahagia mendengarnya akan menikah. Setidaknya saya tidak meberinya kesedihan berkepanjangan. Dia kuat, saya yakin. Dia bisa bangkit meskipun saya tahu akan sakit menerima penolakan waktu itu. Dia bisa tegar, seperti saat kami berdiskusi mengenai masalah ini di tepi pantai pasir putih sambil menggenggam hati masing-masing. Berusaha saling mengerti.

Saya mendoakan semoga penikahan dia berlangsung bahagia. Semoga dia memilih orang yang tepat untuk mendampinginya seumur hidup. Saya berdoa untuk dia tadi malam, seorang wanita yang saya kenang sebagai cinta episode situbondo.

Senin, 11 Januari 2010

Bersaing

Dari kecil orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk bersaing dengan orang lain. Menurut mereka, bersaing dengan orang lain memiliki “aroma” negatif karena saya akan melakukan segala cara entah itu halal atau haram untuk memenangkan persaingan tersebut.

Dulu saya berontak, bagaimana saya bisa keluar sebagai seorang pemenang kalau tidak bersaing dengan orang lain? Bagaimana orang lain bisa tahu saya kuat kalau saya tidak bersaing dengan mereka, dan menang? Banyak pertanyaan yang saya lontarkan sebagai tanda protes. Tapi kemudian orang tua saya menjelaskan bahwa saya tetap harus bersaing, tapi bukan dengan orang lain. Saya harus bersaing dengan diri saya sendiri.

Waktu itu saya tidak mengerti bagaimana caranya saya bersaing versi mereka. Apa untungnya saya bersaing dengan bagian diri saya yang lain? Tapi waktu menjawab, kedewasaan ikut andil memberikan pengertian. Saya kemudian mengerti apa maksud mereka. Orang tua saya. Dan kemudian saya mengamini serta menerapkannya sampai sekarang.

Saya hanya akan bersaing dengan diri saya sendiri. Ketika saya gagal, artinya saya kalah. Contoh konkrit dan ekstrim, dalam silsilah keluarga besar hanya saya yang TIDAK menjadi dokter. Apa saya kecewa? Tentu saja. Tapi saya mengerti bahwa saya telah kalah bersaing, bukan bersaing dengan ribuan bahkan ratusan ribu peserta UMPTN yang juga ingin jadi dokter. Tapi saya kalah bersaing dengan sebagain diri saya sendiri yang malas, yang menyepelekan sesuatu. Saya kalah dari semua itu. Kalau saja saya lebih rajin, kalau saja saya tidak menyepelekan banyak hal. Banyak kalau saja, tapi apa saya kemudian menyerah? Tidak. Saya belajar banyak dari itu.

Anehnya banyak orang yang selalu menjadikan saya acuan untuk bersaing, padahal saya tidak sedang bersaing dengan mereka. Mereka selalu berpikir bagaimana bisa lebih baik dari saya. Bagus memang, membuat orang untuk senantiasa berusaha dan berjuang. Tapi saya seringnya merasa risih. Apa untungnya mereka merasa bersaing dengan saya? apa untungnya bagi mereka kalau mereka jadi lebih baik dari saya? Toh saya bukan siapa-siapa.

Jadi buat yang selalu merasa saya adalah saingan, silahkan melakukan apapun yang menurut kalian bisa membuat kalian “mengalahkan” saya. Saya tahu itu pasti mengenai hal yang baik. Karenanya saya akan sangat bersyukur ketika ada orang yang jauh lebih baik dari saya. Apalagi bila mengenai ibadah dan kebaikan hati. Nanti saya akan belajar dan berguru pada kalian.

Jumat, 08 Januari 2010

Maaf

Dia : “Beri saya satu alasan saja untuk bisa benci sama kamu!”

Saya : “Saya tidak mencintai kamu dan tidak ingin belajar mencintai kamu”

Dia: “Itu tidak cukup untuk membuat saya membenci kamu”

Sepenggal kecil percakapan saya dengan dia malam itu. Dipisahkan oleh meja makan di salah satu restoran, saya duduk berhadap-hadapan dengannya. Dia tidak banyak berubah, masih seperti setahun lalu ketika terakhir saya melihatnya. Ini kali ketiga saya bertemu dengan dia.

Kenal melalui situs fri**e, kemudian karena sedang kebetulan sama-sama di Bali kita kemudian memutuskan untuk bertemu. Pengalaman pertama saya bertemu dengan bule hasil perkenalan di situs internet. Saat itu kamu bilang kamu suka sama saya, bahkan dari awal ketika kamu melihat profil picture saya di Negara asalmu. Saya hanya tersenyum saat itu. Rayuan Basi.

Kali kedua kita bertemu di Jakarta. Urusan bisnis mengharuskanmu datang ke Jakarta, dan kita bertemu lagi. Kamu mengundang saya datang ke hotelmu, tapi saya menolak. Saya lebih memilih tempat umum karena saya dari awal tidak ingin memberikan harapan lebih. Saya menerima ajakanmu untuk bertemu hanya untuk menghargai niat baikmua saja. Siapa tahu kita bisa berteman.

Malam itu kamu bercerita tentang banyak hal. Tentang hidupmu, tentang cita-cita, pengharapan dan pekerjaanmu. Kamu mengakhirinya dengan mengajak saya untuk pindah ke negaramu, mengajak untuk membangun cita-cita bersama. Memulai sesuatu yang menurutmu akan indah. Bahkan kamu menawarkan untuk membiayai pendidikan doktor saya di Inggris sana, di Negara kamu, dengan imbalan saya mau pindah kesana dan tinggal bersama kamu. Saat itu saya juga hanya tersenyum dan berkata tidak.

Keadaan tidak sesederhana yang kamu bayangkan, dan tujuan saya tidak kesana. Mungkin dulu Apis muda bermimpi seperti itu. Berharap ada seorang ksatria berkuda yang akan membawanya pergi ke Negara lain dan mengajak menetap. Tapi itu dulu, Apis kemudian berevolusi dan merevolusi tujuan hidupnya. Mimpi konyol masa lalu ditanggalkannya beserta mimpi-mimpi tak masuk akal lainnya.

Semenjak pertemuan itu komunikasi kita nyaris berhenti, id YM kamu saya permanently appears offline. Bukan bermaksud apa-apa, tapi saya hanya tidak ingin terus melambungkan harapanmu. Mungkin sekedar berteman yang aku tawarkanpun tetap tidak bisa kamu terima. Karenanya saya memutuskan untuk membatasi komunikasi. Anehnya kamu dengan setia tetap mengirimkan heart setiap harinya di profil saya, sampai saya cape sendiri menghapusnya.

Sampai sebulan lalu akhirnya saya luluh, saya mengaktifkan lagi id YM-mu. Saya kemudian menyapa dan menyampaikan terima kasih atas kekonsistenan kamu mengirimi saya hati setiap harinya. Maksud saya hanya itu tidak lebih. Ternyata kamu berencana untuk kembali ke Jakarta bulan ini dan mengajak saya bertemu.

Saya pikir kamu telah berubah. Saya pikir kamu telah menamatkan cinta atau apapun itu namanya terhadap saya. Ternyata saya salah. Kamu masih tetap keukeuh mengajak pindah dan menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sampai percakapan mengenai benci itu terlontar.

Saya tidak tahu alasan apa yang saya punya untuk membuat kamu membenci saya. Saya hanya bisa berkata maaf kalau saya tidak bisa. Benar-benar tidak bisa. Maaf.

Rabu, 06 Januari 2010

Blog Muram dan Award

Dulu waktu awal-awal ngeblog, rasanya iri deh kalo liat blog orang dapet award. Kesannya itu blog keren banget (dan emang dasarnya keren). Terus pernah kepikiran, kapan yah dapet award kayak gitu? Perasaan ngeblog udah sekian lama tapi gak pernah ada yang notice kalau taman aksara itu ada. Ya iya lah, gimana orang-orang mau notice kalau gue nggak pernah woro-woro punya blog, nggak pernah blogwalking ke blog-blog yang lain dan ninggalin jejak. Kayak mimpi menang hadiah tapi nggak pernah ikutan kuis. Mustahil.

Gue terus berproses, terus menulis tanpa peduli ada yang baca atau nggak, tanpa peduli kualitas tulisan gue seperti apa karena yang ada di kepala cuma nulis dan nulis. Dari sana gue juga tahu dan kemudian ngerti sesuatu. Gimana ada yang mau ngasih award kalo tulisan gue sebegitu rupa. Nggak ada bagus-bagusnya (emang sekarang bagus??) meskipun sampai sekarang gue ngerasa, tulisan gue sangat biasa kalau dibandingkan sama bloger lain. Tapi gue kemudian menemukan sesuatu, gue ngerasa gue punya ciri khas. Permainan diksi.

Mungkin buat beberapa (banyak) orang, blog gue itu terlalu gloomy. Suram dan muram. Kesannya gue cuman bisa ngeluh, cuman terlingkarkan dengan sesuatu yang berbau sendu dan kesedihan. Gue akui itu. Tapi itu proses tanpa sadar. Ketika gue menulis, jatohnya kembali ke mendayu bahkan ketika gue menulis sesuatu yang bahagia. Gue kemudian mikir bahwa itu adalah ciri khas, kemampuan gue hanya disekitar bagaimana memainkan diksi. Gue nggak bisa nulis seringan orang, mengalir penuh makna tanpa harus membuat berpikir orang yang membacanya.

Bukan berarti gue nggak berusaha merubah style, gue selalu belajar. Gue kadang ingin nulis sesuatu yang bitchy, yang orang kemudian merasa bahwa mereka juga memiliki pengalaman ke-bitchy-an yang sama dengan gue. Atau kadang pengen nulis pengalaman gue dengan penuh humor atau muatan yang terasa ringan. Tapi hasil akhirnya selalu nggak bagus (menurut gue lho!) jadi ketimbang nggak bagus, gue kembali ke style gw yang orang bilang muram. Gue berkutat disana dengan nyaman.

Gue hanya berharap meskipun blog gue terasa muram, gue tidak menularkan aura kemuraman itu pada yang baca. Gue hanya bermaksud membagi pengalaman (yang nggak seberapa) dan mudah-mudahan ada yang bisa diambil. Kalaupun nggak ada, dilepeh lagi aja dari otak. Anggap hiburan nggak penting, sekedar intermezzo tanpa arti. Jangan jadi terbawa muram dan suram.

Kembali ke soal award, yippieee!! Akhirnya gue dapet beberapa dan dengan nggak tahu dirinya gue nggak antusias untuk mengambilnya. Sebenarnya bukan nggak antusias, tapi lebih ke malu (sejak kapan gue tahu malu?). Gue nggak ngerjain tugas dan perintahnya, jadi gue nggak ngambil. Maaf yah buat yang udah ngasih, bukan nggak ngehargain lho. Dirapel aja yah sekarang sekalian.

Award pertama dari Mbak Enno katanya buat apisindica si lebah yang tabah (tabah karena saat itu gue lagi sibuk posting mengenai cinta bertepuk sebelah tangan gue itu). Awardnya bukan nggak antusias diambil, tapi karena ada perintahnya. Disuruh bikin puisi mengenai Indonesia. Waduh, jiwa pujangga dalam diri gue terberangus habis oleh kuliah science yang jelimet. Jadi udah nggak pernah bisa bikin puisi lagi. Maaf yah Mbak. Dengan tidak tahu malu, sekarang gue ambil meski puisinya tetap gak dikerjain.


Award kedua dari Pohon. Awardnya boleh diambil kalau gue menuliskan 10 resensi buku yang gue baca. Nggak gue kerjain juga. Maaf. Soalnya pasti nggak asik kalo gue menuliskan 10 buku yang terakhir gue baca. Masa gue bikin resensi mengenai Molecular Biotechnology atau Microbial Physiology. Pasti nggak seru dan nggak menarik kan? (pembelaan diri lagi) Tapi beneran, sekarang jarang baca novel atau buku-buku lainnya.


Award ketiga dari Ninneta. Mbak gue yang satu ini, ngasih award kayak ngasih baju di keranjang diskon. Banyak dan bebas mau milih yang mana aja tanpa ada tugasnya. Gue milih yang ini aja yah Mbak dengan pertimbangan lebah dan kupu-kupu kekerabatannya lebih dekat (alasan gak penting). Makasih banyak ngasih gue keleluasaan buat milih award mana yang mau gue ambil.




Award keempat dari pohon (LAGI). Buat lebah madu yang lagi main di taman aksara katanya. Awardnya dikasih pas tutup tahun kemarin. Katagori awardnya bikin bingung soalnya “smart and diligent blog”. Bingung gue itu pinter dan rajin sebelah mananya. Tapi apapun itu terima kasih buat anugerahnya yah.



Sekali lagi terima kasih buat semua yang telah mengapresiasi blog lenjeh-lenjeh yang gue buat ini. Baik yang ngefans (gue yakin nggak ada) atau buat yang antipati. Kalian semua membuat gue senantiasa ingin terus belajar dewasa. Terima kasih ya!