“ayo salam sama Oom!” Dia menyuruh anaknya menyalami saya. Saya kemudian jongkok, menyambut uluran tangan anak kecil itu.“Aldo” anak kecil berumur sekitar 5 tahun itu menyebutkan namanya sembari tersenyum lebar memamerkan barisan giginya yang menghitam. Gigi khas anak-anak yang rusak digerogoti gula dan permen.
“Anak pintar” Saya kemudian mengelus kepalanya sambil berdiri dan tersenyum pada seseorang yang menggandeng tangannya.
“Apa kabar?” sapanya. Saya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Sejurus kemudian saya mulai mengutuki kenapa saya ingin jalan ke mall sore itu. Bertemu dengannya adalah sesuatu yang saya hindari sejak saya berpisah darinya beberapa tahun silam. Bertemu dengannya melemparkan saya pada malam itu. Malam terakhir kami.
Kami tidur saling memunggungi. Saya sibuk dengan pikiran saya sendiri, begitupun dia. Hening. Saking heningnya saya bisa mendengar detak jantung saya sendiri. Detak jantung yang berbunyi tanpa ritme, detak yang berusaha berdamai dengan keadaan yang sudah terpampang di depan mata.
Pelan saya mendengar dia menangis, dan saya bisa merasakan keperihan didalam isakannya. Ketika saya membalikan badan, saya melihat tubuhnya yang bergoncang karena tangis. Saya juga tiba-tiba menangis, sama perihnya dengan yang dia rasakan. Tangan saya memeluknya kemudian, merengkuhnya semakin dalam. Berdua kami menangis dalam tubuh yang merapat, seakan saling ingin menguatkan.
“Andai saya punya pilihan, saya akan memilih untuk tetap berada disamping kamu” Dia dengan terbata mengucapkan kalimat yang justru membuat saya makin pedih. “Kalau saja perjodohan ini bisa saya tolak, saya akan menolaknya dari awal. Atau jika saya punya keberanian lebih, pasti saya akan memilih untuk berontak dan tidak seperti ini” Banyak andai yang dia ucapkan saat itu, andai-andai yang justru membuat saya merasa kerdil, membuat saya justru merasa membebani langkahnya.
Saya hanya bilang mungkin ini yang terbaik untuk dia, untuk kami. Satu-satunya yang saya bisa lakukan saat itu adalah melepaskannya pergi. Membiarkannya menuju gerbang perkawinan yang telah dipersiapkan orang tuanya. Dengan saya, dia tidak punya harapan. Dengan saya dia hanya akan menderita karena harus selalu menentang orang tuanya. Saya sadar siapa saya, apa posisi saya, makanya saya rela melepaskannya pergi.
“ Saya mendoakan semoga kamu mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari saya. Orang yang bisa membahagiakanmu, atau setidaknya memeperjuangkan kamu lebih dari yang saya lakukan. Saya menyerah karena saya merasa ini satu-satunya cara membahagiakan mereka. Orang tua saya” Dia mengenggam tangan saya dan meletakannya di dadanya. “Jauh disini, di hati saya, kamu tidak akan pernah mati”.
Saya selalu mengingat malam itu, malam perpisahan kami. Malam ketika kami harus mengakhiri semuanya. Menyelesaikan cerita 4 tahun yang pernah kami lalui berdua. Mengenyam mimpi di taman tanpa realisasi.
“Pah, ayo. Jangan ngeliatin oom ini terus. Itu mama udah ngedadahin di depan” Seketika anak itu membuyarkan lamunan saya tentang masa lalu. Membuat saya kembali menapak bumi.
Saya kemudian tersenyum dan segera meninggalkan mereka. Meninggalkan kenangan tentang seseorang yang dulu pernah saya cinta, yang sekarang berjalan berpegangan tangan dengan anaknya.
Notes: Sumpah!!! Ini hanya fiksi, hasil rekayasa imaji ketika kantuk tak juga berlabuh di pelupuk.


