Halaman

Minggu, 26 Juli 2009

Never Stop Writing


Temen gw nanya, kenapa gw jadi jarang nulis di blog? Memang gw jarang nulis blog yah? Hehehe. Ternyata iya. Sekarang setiap bulan paling produktif gw cuman bisa nulis 6 postingan. Itu kalo lagi produktif, kalo lagi males sebulan dapet 2 postingan aja udah syukur. Udah cuman 2 postingan isinya gak berbobot lagi, meskipun emang gw gak pernah bisa nulis berisi kayak bloger yang lain. Jadi sok ikut aksi aja, ikut rame-ramean.

Tapi beneran, akhir-akhir ini (udah hampir 3 bulan sih) gw kayak kehilangan gairah buat nulis. Ide sebenernya udah banyak, tapi ketika gw tuangkan di laptop semuanya ilang aja. Idenya gak ilang tapi gw kayak gak bisa ngembangin idenya itu. Palingan separagraf, abis itu kelar. Gw kayak kehilangan kata-kata. Kenapa ya? Jadi kalo temen gw itu nanya kenapa gw jadi jarang nulis, gw juga gak bisa jawab karena gw memang gak tahu kenapa jadi gak bisa nulis banyak-banyak kayak dulu lagi.

Kalo kemudian gw telaah satu-satu kemungkinan alesannya gw juga malah jadi bingung sendiri. Gw bingung karena semuanya juga tidak memberikan petunjuk yang jelas. Pertama, apa karena gw sedang tidak jatuh cinta? Dulu juga gw waktu jomblo seumur-umur itu saking lamanya, gw masih bisa tetep nulis kok. Buat gw masalah status tidak jadi halangan buat terus nulis. Ya mungkin kalo lagi pacaran, gw banyak nulis tentang pasangan gw itu, tapi kan tema nulis nggak musti tentang pasangan juga. Dan itu terbukti, gw masih bisa nulis waktu gw jomblo.

Kedua, apa karena gw sekarang patah hati? Adooh lebih gak penting. Hidup kan gak selalu patah hati, dan kalo patah hati jadi alesan buat gw untuk gak nulis kayaknya sooo silly aja. Konyol. Patah hati pasti menyita sedikit kehidupan gw untuk membenahi diri kemudian bangkit, dan sekarang gw udah bangkit. Tapi tetep aja gw gak bisa banyak nulis. Padahal kata temen gw, kalo kita sedang patah hati kita jadi mellow dan bisa nulis tentang apa aja. Kok itu gak berlaku buat gw yah? Gw malah banyak makan kemaren pas patah hati itu. Makanya gak heran juga kalo temen-temen gw bilang sekarang gw gendutan. Siyal!!! Patah hati bikin gw gendut.

Ketiga, apa karena postingan gw sekarang jarang ada yang komen? Huahahahhaha. Geli gw bahkan untuk memikirkannya aja. Nggak penting banget. Gw inget dulu awal-awal gw bikin blog, tujuan gw kan cuman pengen nulis dan gak peduli ada yang mau komen atau nggak. Dan selama 5 bulan pertama blog gw gak eksis dimana-mana gw masih bisa nulis 41 postingan ajah. Jadi harusnya gak ada alesankan kalo gw berhenti nulis karena postingan gw gak laku. Gw gak peduli sama yang begitu-begitu. Nulis buat gw kan cuman buat mengekspresikan perasaan hati gw aja. Jadi ada yang baca kemudian komen syukur, ada yang baca tanpa komen ya mangga, nggak ada yang baca juga gw gak peduli. Gw nulis hanya buat gw. Setidaknya bakal jadi testimoni perjalanan hidup gw yang sesekali bisa dibaca ketika gw tua nanti.

Tuh kan, gw beneran bingung kenapa gw jadi jarang nulis sekarang. Ya, mungkin otak gw lagi ngadat aja untuk sekedar mengurai cerita melalui kata. Mungkin gw musti ngerestart otak gw dengan sesuatu yang baru. Tapi tenang, Insya Allah gw akan tetap nulis kok. Setidaknya itu janji gw sama diri gw sendiri.

Sabtu, 18 Juli 2009

Dilanda Dilema


Rasanya aneh dan kikuk melihatmu lagi secara langsung sore itu. Aku terakhir kali melihatmu di bandara saat kamu akan beranjak ke negeri Singa. Hampir 2 bulan yang lalu. Dan semenjak itu kita hanya berkomunikasi lewat kata, itupun berhenti sebulan terakhir karena aku memutuskan untuk berhenti. Iya, aku yang memutuskan untuk berhenti, karena kata yang kemungkinan tercipta hanya akan membuahkan air mata dan rasa sakit. Karenanya aku memutuskan berhenti.

Sore itu ketika aku dan kamu berjanji untuk bertemu, sekedar untuk meleburkan rasa rindu yang memang masih mengendap berat di hatiku, entah di hatimu. Damn, ternyata aku masih merindukanmu teramat sangat. Sayang kamu bukan siap-siapa lagi untukku. Hanya seorang sahabat baru hasil metamorphosis dari seseorang yang dulu aku sebut kekasih, pasangan jiwa.

Aku masih bisa melihat binar cinta di matamu senja itu, dan aku yakin di mataku juga menyemburat binar yang sama. Sekuat apapun aku berusaha menyembunyikan cinta yang ternyata masih menganga, pasti sebagian alurnya merembes lewat retina dan terpancar perantara mata. Rasanya aku menemukan oase di tengah tandus pencarianku akan cinta yang menghilangkan dahaga. Apa itu tandanya aku masih mencintainya? Apakah itu artinya kemarin aku hanya terpenjara dalam bingkai egoisme hati karena terlanjur sakit? Aku tidak bisa menjawab dengan jelas. Semua nanar oleh kabut dan temaram.

Salahkah aku jika kemudian di sore itu dan hari-hari selanjutnya dalam rentetan pertemuan yang terjadi membiarkannya mengecup lembut kening ini seperti kebiasaanya dulu setiap kali bertemu? Salahkan aku ketika labuh sesaat dalam dekap erat tubuhnya, sekedar mengentaskan rindu. Dalam beberapa detik dekap itu berlangsung, ternyata aku masih bisa merasakan gelombang yang sama. Turbulen yang kemudian memporakporandakan pertahananku akan cinta, seperti dulu, saat aku pertama kali menganggukan kepala dan menerimanya menjadi seorang kekasih.

Aku bingung, aku dilanda dilema. Otak dan kata hati seakan bergerak berlawanan dalam koridor yang sama. Kenapa otak tidak memerintahkan hati untuk sejalan dengannya. Adakah kesalahan sinapsis yang terjadi sehingga jalur rambat otak terganggu? Atau mungkin hati memberontak dan tidak tunduk pada perintah otak seperti biasanya. Hati mungkin sudah muak dengan otak yang selalu memerintahkan aku untuk bergerak meninggalkan, tidak memaafkan dan tidak memberikan kesempatan kedua untuk dia. Hati berontak karena merasa bahwa otak hanya mempengaruhiku dengan logika. Padahal cinta bukan logika, tak ada yang pasti dalam cinta.

Aku kemudian bingung, haruskah aku memberinya kesempatan kedua? Sebetulnya bukan dia yang aku beri kesempatan, tapi lebih ke mampukah aku memberi kesempatan hatiku sendiri untuk berdamai dengan keadaan? Karena aku kemudian tidak bisa berbohong. Masih ada cinta disana.

Mungkin aku harus memaafkan dan kemudian bergerak. Bergerak kembali ke arahnya adalah suatu pilihan yang tercipta. Pertanyaanya hanya, maukah aku?

Senin, 13 Juli 2009

Tentang Kunang-Kunang


Mungkin kamu kaget kenapa sekarang telpon darimu aku angkat setelah ratusan telpon sama yang sebelumnya tak kuacuhkan. Mungkin kamu juga mengira bahwa aku sudah menyerah dengan kegigihanmu karena berusaha menghubungiku kembali. Kamu merasa menang bahwasanya aku menyerah seperti biasanya. Menyerah setelah kamu dengan ketekunanmu membuatku berpikir bahwa kamu memang layak. Seperti dulu. Saat pertama aku mengenalmu.

Bukan. Sekarang tidak seperti itu. Sekarang keadaanya lain, keadaan yang memaksaku untuk berubah. Kenapa akhirnya aku mau menerima telpon darimu? Jawabannya hanya satu. Perasaanku sudah teramat biasa. Tidak ada lagi sakit, tidak ada lagi amarah. Yang ada hanya satu, memaafkan. Aku memaafkanmu yang sudah sedemikian teganya membuatku kembali jatuh ke jurang yang itu-itu saja, jurang patah hati. Aku mengampuni semua kesalahanmu kemarin. Tanpa syarat. Hidup dengan perasaan tak memaafkan dan tak mengampuni hanya membuatku tersiksa, membuat keropos jiwa yang sebenarnya telah rapuh. Karenanya aku tak mau, aku memaafkanmu.

Di awal pembicaraan kamu memulainya dengan permintaan maaf dan penjelasan. Maaf, aku tidak butuh lagi penjelasan dan pembelaan. Semua sudah terjadi, dan penjelasan serta pembelaanmu tidak akan membawa hubungan kita kemana-mana. Penjelasan hanya akan membuatku menggugatmu, padahal aku sudah tidak mau. Menggugatmu hanya akan mengungkit luka itu, membuatnya kembali berdarah di bagian yang sama. Cukup, bukan itu alasanku mau kembali berbicara denganmu. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa perasaanku sudah sedemikian membaiknya. Hatiku sudah tidak kelabu, dan aku bisa kembali tertawa denganmu.

Tapi semakin kutahan, semakin kuat kamu berusaha menjelaskan semuanya. Semakin kualihkan, semakin menggebu kau memberiku argument tak berkesudahan. Aku hanya memilih untuk mendengarkan karena aku memang tidak punya pilihan. Kamu bilang kamu khilaf, kamu lepas kendali. Terlena oleh sesuatu yang nyatanya tak seindah yang kamu pikirkan. Itu menurutmu, kembali aku hanya mendengarkan. Tidak berusaha menuntut, meghakimi apalagi menyalahkan. Aku sudah memilih untuk tidak berada dalam posisi itu. Aku sudah berdiri dikoordinat baru, tanpa rasa sakit itu.

Kamu juga kemudian bertanya, apakah aku masih mengingat konsep hubungan kita dulu. Dulu kamu bilang bahwa kita bagaikan sepasang kunang-kunang yang mencumbui bulan. Ketika salah satu kehilangan terang, maka cukup melihat bulan karena bulan akan menuntun salah satu dari kita menuju jalan pulang. Kelip fluorescens di badan kita menjadi pertanda bahwa kita saling menguatkan, saling mengarahkan kemana harus pulang. Ke hati kita berdua. Tapi itu dulu bukan? Ketika kamu belum menemukan terang yang lain, terang yang ternyata membuatmu juga merasa nyaman untuk kemudian menuntunmu pulang. Maaf aku jadi bertanya, padahal aku hanya ingin mendengarkan.

Kamu juga bilang, bahwa yang kemarin itu bukan bulan. Kamu salah menginderai terang. Katamu, kamu pikir dia mengarakanmu pulang menuju bulan, tapi ternyata hanya menuju lampu taman. Lampu yang terangnya temaram dan mati kala siang. Kamu kemudian tersesat dan tersadar bahwa penunjuk jalan ada dalam diriku. Aku tersenyum meski kamu tak melihatnya. Aku hanya berfikir, bagaimana aku bisa menuntunmu pulang sementara aku sudah memilih untuk berada dalam fase pupa. Tak ada lagi binar fluorescens di tubuhku yang akan menggiringmu mencumbui bulan. Bagaimana aku bisa membawa kamu berjalan ke arah yang dulu kita sepakati kalau aku sudah memilih untuk berhenti. Masuk kembali kedalam kepompong emas tempatku sekarang berlindung, menunggu saat yang tepat untuk menjadi kunang-kunang lagi bersama yang lain. Yang pasti bukan kamu.

Kunang-kunang yang pernah jadi pasanganku, pulanglah sendiri. Carilah jalan yang akan mengantarkanmu pada bulan. Jangan kamu memintaku lagi untuk menemanimu, aku sudah memilih. Aku sudah terlanjur menjadi pupa. Dan dalam penantianku untuk lahir kembali dengan cahaya baru, aku akan terus mengamatimu, karena apabila kamu tersesat, aku akan menuntunmu pulang. Sebagai sahabat.

Kamis, 02 Juli 2009

If Love is Blind


Ada satu hal yang menurut gw paling tabu dalam suatu persahabatan. Hal itu adalah jatuh cinta sama sahabat sendiri. Rasanya nggak manner aja kalau tiba-tiba status sahabat berubah menjadi pacar. Satu hal yang menjadi dasar pertimbangan kenapa menurut gw itu tabu, karena pas kita pacaran sama sahabat itu dan kemudian karena sesuatu kemudian hubungannya putus, pasti kita akan kehilangan sosok sahabat dalam diri dia. Nggak mungkin dia jadi sahabat yang seperti dulu lagi. Rasanya pasti lain.

Sialnya, belakangan ini gw lagi bener-bener jatuh cinta sama sahabat gw. Mungkin benar cinta itu buta, tapi kenapa musti dia? Kenapa musti ke sahabat gw sendiri cinta itu tumbuh? Gw udah sedemikian kuatnya menekan perasaan itu, tapi kok malah terus berkembang yah. Kemaren-kemaren sempet lebih rendah sih levelnya karena ada sesuatu yang jadi barier, tapi kok sekarang malah naik lagi yah. Bisa dibilang gw lagi cinta-cintanya sama dia. Tentu aja dia nggak tahu. Lagian dia juga udah punya pacar.

Gw kenal dia di kampus. Meski beda jurusan dan beda angkatan tentunya, kita nyambung dan klik aja. Sering jalan bareng, karaoke bareng, makan bareng, nonton bareng, berenang bareng, tidur bareng pernah gak yah? Nggak, yang itu belom pernah. My wish. Huahahahaha. Tapi bener, karena dia sering ngobrol dan curhat tentang kerjaan dan pacarnya dia, kok gw jadi suka yah? Apa itu lebih ke simpati dan bukannya cinta? Gw gak tahu, tapi yang pasti kalo gw ditelpon sama dia kok rasanya seneeeeeeeeng banget. Dooh, sebel deh sama perasaan gw yang ini.

Kadang kalau dia lagi curhat tentang pacarnya yang katanya kurang ngertiin dia, gw dalam hati sering bilang: “udah, putusin aja!” jalan sama gw ajah. Jahat yah gw? Tapi kadang kita nggak bisa ngebohongin perasaan kita sendiri. Sekuat apapun gw menekan perasaan itu, membuangnya jauh tapi ternyata malah semakin berkembang. Atau pernah ketika dia curhat tentang pacarnya dan gw menanggapinya, dia bilang andai pacar dia itu kayak gw. Siyal, itu justru bikin perasaan gw semakin gak karuan. Gw bingung, gw berdiri di tepaian asa. Satu sisi gw nggak ingin merubahnya menjadi kekasih, tapi disisi lain perasaan cinta itu berkembang dengan pesatnya.

Gw pernah nyoba becanda-becanda nyerempet soal perasaan gw itu sama dia dan dia sambil becanda juga jawab kalau gw bukan tipenya dia. Tuh kan dia itu nggak punya perasaan yang sama sama gw, tapi kenapa gw justru memilih untuk buta. Terus berusaha dengan banyak gerakan bawah tanah untuk sekedar membuatnya tersadar kalau gw sayang dan cinta sama dia. Gw memilih buta untuk tersadar bahwa jelas dia nggak menginginkan gw sama sekali. Dia lebih nyaman mengandalkan gw sebagai sahabat dan bukannya kekasih. Kenapa gw selalu memilih untuk buta?

Tapi kemudian muncul satu pertanyaan di benak gw, salahkan kalau gw jatuh cinta sama sahabat gw? Salahkah kalau gw berjuang agar sahabat gw jatuh cinta? Mungkin sebagian orang akan bilang kalau itu jelas-jelas salah. Dan kalaupun salah, tolong salahkan gw saja, jangan salahkan cinta. Cinta tak pernah salah. Cinta tak bisa digugat dan dicerca.