Halaman

Senin, 13 Juli 2009

Tentang Kunang-Kunang


Mungkin kamu kaget kenapa sekarang telpon darimu aku angkat setelah ratusan telpon sama yang sebelumnya tak kuacuhkan. Mungkin kamu juga mengira bahwa aku sudah menyerah dengan kegigihanmu karena berusaha menghubungiku kembali. Kamu merasa menang bahwasanya aku menyerah seperti biasanya. Menyerah setelah kamu dengan ketekunanmu membuatku berpikir bahwa kamu memang layak. Seperti dulu. Saat pertama aku mengenalmu.

Bukan. Sekarang tidak seperti itu. Sekarang keadaanya lain, keadaan yang memaksaku untuk berubah. Kenapa akhirnya aku mau menerima telpon darimu? Jawabannya hanya satu. Perasaanku sudah teramat biasa. Tidak ada lagi sakit, tidak ada lagi amarah. Yang ada hanya satu, memaafkan. Aku memaafkanmu yang sudah sedemikian teganya membuatku kembali jatuh ke jurang yang itu-itu saja, jurang patah hati. Aku mengampuni semua kesalahanmu kemarin. Tanpa syarat. Hidup dengan perasaan tak memaafkan dan tak mengampuni hanya membuatku tersiksa, membuat keropos jiwa yang sebenarnya telah rapuh. Karenanya aku tak mau, aku memaafkanmu.

Di awal pembicaraan kamu memulainya dengan permintaan maaf dan penjelasan. Maaf, aku tidak butuh lagi penjelasan dan pembelaan. Semua sudah terjadi, dan penjelasan serta pembelaanmu tidak akan membawa hubungan kita kemana-mana. Penjelasan hanya akan membuatku menggugatmu, padahal aku sudah tidak mau. Menggugatmu hanya akan mengungkit luka itu, membuatnya kembali berdarah di bagian yang sama. Cukup, bukan itu alasanku mau kembali berbicara denganmu. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa perasaanku sudah sedemikian membaiknya. Hatiku sudah tidak kelabu, dan aku bisa kembali tertawa denganmu.

Tapi semakin kutahan, semakin kuat kamu berusaha menjelaskan semuanya. Semakin kualihkan, semakin menggebu kau memberiku argument tak berkesudahan. Aku hanya memilih untuk mendengarkan karena aku memang tidak punya pilihan. Kamu bilang kamu khilaf, kamu lepas kendali. Terlena oleh sesuatu yang nyatanya tak seindah yang kamu pikirkan. Itu menurutmu, kembali aku hanya mendengarkan. Tidak berusaha menuntut, meghakimi apalagi menyalahkan. Aku sudah memilih untuk tidak berada dalam posisi itu. Aku sudah berdiri dikoordinat baru, tanpa rasa sakit itu.

Kamu juga kemudian bertanya, apakah aku masih mengingat konsep hubungan kita dulu. Dulu kamu bilang bahwa kita bagaikan sepasang kunang-kunang yang mencumbui bulan. Ketika salah satu kehilangan terang, maka cukup melihat bulan karena bulan akan menuntun salah satu dari kita menuju jalan pulang. Kelip fluorescens di badan kita menjadi pertanda bahwa kita saling menguatkan, saling mengarahkan kemana harus pulang. Ke hati kita berdua. Tapi itu dulu bukan? Ketika kamu belum menemukan terang yang lain, terang yang ternyata membuatmu juga merasa nyaman untuk kemudian menuntunmu pulang. Maaf aku jadi bertanya, padahal aku hanya ingin mendengarkan.

Kamu juga bilang, bahwa yang kemarin itu bukan bulan. Kamu salah menginderai terang. Katamu, kamu pikir dia mengarakanmu pulang menuju bulan, tapi ternyata hanya menuju lampu taman. Lampu yang terangnya temaram dan mati kala siang. Kamu kemudian tersesat dan tersadar bahwa penunjuk jalan ada dalam diriku. Aku tersenyum meski kamu tak melihatnya. Aku hanya berfikir, bagaimana aku bisa menuntunmu pulang sementara aku sudah memilih untuk berada dalam fase pupa. Tak ada lagi binar fluorescens di tubuhku yang akan menggiringmu mencumbui bulan. Bagaimana aku bisa membawa kamu berjalan ke arah yang dulu kita sepakati kalau aku sudah memilih untuk berhenti. Masuk kembali kedalam kepompong emas tempatku sekarang berlindung, menunggu saat yang tepat untuk menjadi kunang-kunang lagi bersama yang lain. Yang pasti bukan kamu.

Kunang-kunang yang pernah jadi pasanganku, pulanglah sendiri. Carilah jalan yang akan mengantarkanmu pada bulan. Jangan kamu memintaku lagi untuk menemanimu, aku sudah memilih. Aku sudah terlanjur menjadi pupa. Dan dalam penantianku untuk lahir kembali dengan cahaya baru, aku akan terus mengamatimu, karena apabila kamu tersesat, aku akan menuntunmu pulang. Sebagai sahabat.

Kamis, 02 Juli 2009

If Love is Blind


Ada satu hal yang menurut gw paling tabu dalam suatu persahabatan. Hal itu adalah jatuh cinta sama sahabat sendiri. Rasanya nggak manner aja kalau tiba-tiba status sahabat berubah menjadi pacar. Satu hal yang menjadi dasar pertimbangan kenapa menurut gw itu tabu, karena pas kita pacaran sama sahabat itu dan kemudian karena sesuatu kemudian hubungannya putus, pasti kita akan kehilangan sosok sahabat dalam diri dia. Nggak mungkin dia jadi sahabat yang seperti dulu lagi. Rasanya pasti lain.

Sialnya, belakangan ini gw lagi bener-bener jatuh cinta sama sahabat gw. Mungkin benar cinta itu buta, tapi kenapa musti dia? Kenapa musti ke sahabat gw sendiri cinta itu tumbuh? Gw udah sedemikian kuatnya menekan perasaan itu, tapi kok malah terus berkembang yah. Kemaren-kemaren sempet lebih rendah sih levelnya karena ada sesuatu yang jadi barier, tapi kok sekarang malah naik lagi yah. Bisa dibilang gw lagi cinta-cintanya sama dia. Tentu aja dia nggak tahu. Lagian dia juga udah punya pacar.

Gw kenal dia di kampus. Meski beda jurusan dan beda angkatan tentunya, kita nyambung dan klik aja. Sering jalan bareng, karaoke bareng, makan bareng, nonton bareng, berenang bareng, tidur bareng pernah gak yah? Nggak, yang itu belom pernah. My wish. Huahahahaha. Tapi bener, karena dia sering ngobrol dan curhat tentang kerjaan dan pacarnya dia, kok gw jadi suka yah? Apa itu lebih ke simpati dan bukannya cinta? Gw gak tahu, tapi yang pasti kalo gw ditelpon sama dia kok rasanya seneeeeeeeeng banget. Dooh, sebel deh sama perasaan gw yang ini.

Kadang kalau dia lagi curhat tentang pacarnya yang katanya kurang ngertiin dia, gw dalam hati sering bilang: “udah, putusin aja!” jalan sama gw ajah. Jahat yah gw? Tapi kadang kita nggak bisa ngebohongin perasaan kita sendiri. Sekuat apapun gw menekan perasaan itu, membuangnya jauh tapi ternyata malah semakin berkembang. Atau pernah ketika dia curhat tentang pacarnya dan gw menanggapinya, dia bilang andai pacar dia itu kayak gw. Siyal, itu justru bikin perasaan gw semakin gak karuan. Gw bingung, gw berdiri di tepaian asa. Satu sisi gw nggak ingin merubahnya menjadi kekasih, tapi disisi lain perasaan cinta itu berkembang dengan pesatnya.

Gw pernah nyoba becanda-becanda nyerempet soal perasaan gw itu sama dia dan dia sambil becanda juga jawab kalau gw bukan tipenya dia. Tuh kan dia itu nggak punya perasaan yang sama sama gw, tapi kenapa gw justru memilih untuk buta. Terus berusaha dengan banyak gerakan bawah tanah untuk sekedar membuatnya tersadar kalau gw sayang dan cinta sama dia. Gw memilih buta untuk tersadar bahwa jelas dia nggak menginginkan gw sama sekali. Dia lebih nyaman mengandalkan gw sebagai sahabat dan bukannya kekasih. Kenapa gw selalu memilih untuk buta?

Tapi kemudian muncul satu pertanyaan di benak gw, salahkan kalau gw jatuh cinta sama sahabat gw? Salahkah kalau gw berjuang agar sahabat gw jatuh cinta? Mungkin sebagian orang akan bilang kalau itu jelas-jelas salah. Dan kalaupun salah, tolong salahkan gw saja, jangan salahkan cinta. Cinta tak pernah salah. Cinta tak bisa digugat dan dicerca.

Kamis, 25 Juni 2009

I'm Back (Lagi!!!!)


Seperti postingan gw yang sebelumnya. Aku kembali (lagi) sekarang. Setelah sekian lama absen dari dunia perblog-an dan untuk sejenak rehat karena banyak hal yang ternyata butuh waktu ekstra buat memulihkannya. Gw siap untuk kembali sekarang.

Karena kemaren-kemaren itu gw juga sedemikian memblow up hubungan gw sama si mata segaris, jadi sekarang gw juga berkewajiban untuk mengupdate status gw sama si mata segaris itu. Karena satu dan lain hal, hubungan gw sama si mata segaris harus berakhir. Ya, mungkin bukan jodohnya. Mungkin kemarin kita hanya keasyikan bermimpi tanpa mau menjejak tanah. Tapi ketika kenyataannya tiba, gw berada di titik ini kemudian. Sendiri.

Jangan khawatir, gw sudah sedemikian baik kok perasaanya sekarang. Episode nangis-nangis gak jelas (bencong banget yah?!) udah lewat. Gw udah bisa menapaki jalan lagi meski sendiri. Gw udah bisa menatap lagi cerah dan berwarnanya dunia ini. Yah, meski tetep ada sebagian diri gw yang kosong, tapi gw merasa kalo itu wajar. Maenannya hati bo, jadi kalo hilang yah pasti bikin kita kelimpungan. Tapi itu kemaren-kemaren. Sekarang gw udah jauh lebih baik. Apisindica sudah menata kembali hidup dan hatinya. Sendirian.

Tak perlu gw jelasin kenapa hubungan gw sama si mata segaris itu harus berakhir. Udah gak penting juga. Hidup kan tidak surut ke belakang makanya gak usah dibahas-bahas lagi. Selain males, nanti juga biking w sakit ati (maaf curcol……). Tapi gak apa-apa, semua itu member i gw pelajaran baru kok. Nggak pernah ada yang sia-sia di dunia ini ketika telah dijalani. Semuanya menjadikan kita lebih dewasa. Lebih berperspektif dalam menjalani hidup. So, im fine for being alone!

Gw mau ngucapin banyak terima kasih buat temen-temen yang sudah menemani dan menghibur dikala masa-masa sulit kemaren. Nggak sulit kayaknya, cuman gwnya aja yang lebay. Drama queen. Mendramatisir segala sesuatu. Tapi beneran, berkat semangat dan doa dari kalian semua gw bisa bangkit lagi. Terima kasih sudah berada disana, menemani. Mendengarkan semua keluh kesah, omelan dan hal-hal gak penting lainnya. Bersyukur banget memiliki kalian. Terima kasih Tuhan sudah mengirimku sahabat seperti mereka.

Buat kalian yang merasa sahabat gw. Pastinya gak suka donk liat gw kesepian dan sendirian. Makanya kalo punya temen lain yang prospektif buat gw jadiin pacar, jual gw yah jangan lupa! Promosiin paling nggak. Huahahahahahaha. Astagpiruloh!!!!!!

Beneran inih, Jual gw yah!!!!!

Minggu, 07 Juni 2009

i'm back


Setelah 2 minggu menghilang dari peredaran....

setelah sekian lama tidak menghentak dunia pergaulan...

dan setelah dihantui bunyi suara sirine...pelajaran baris berbaris...senam poco-poco...ngantuk saat materi...

setelah dengan sangat tidak rela menanggalkan rambut di kepala menjadi botak ...

dan setelah pertemuan dengan temen-teman baru yang pada akhirnya seru...

Aku kembali lagi...

Siap bercerita ribuan makna yang udara kabarkan perantaraan angin

Siap menguntai kelopak cerita berwarna yang menetes sehabis gerimis

Dan bertanya, apa kabarmu SAHABAT????