Halaman

Minggu, 07 Juni 2009

i'm back


Setelah 2 minggu menghilang dari peredaran....

setelah sekian lama tidak menghentak dunia pergaulan...

dan setelah dihantui bunyi suara sirine...pelajaran baris berbaris...senam poco-poco...ngantuk saat materi...

setelah dengan sangat tidak rela menanggalkan rambut di kepala menjadi botak ...

dan setelah pertemuan dengan temen-teman baru yang pada akhirnya seru...

Aku kembali lagi...

Siap bercerita ribuan makna yang udara kabarkan perantaraan angin

Siap menguntai kelopak cerita berwarna yang menetes sehabis gerimis

Dan bertanya, apa kabarmu SAHABAT????

Jumat, 22 Mei 2009

Ambigu


Panggil saja aku ambigu karena tidak ada kata yang menggambarkan siapa diriku selain ambigu. Aku lahir dari dunia yang nyata, dibesarkan dengan cara yang nyata tapi aku tumbuh dalam keambiguan. Karenanya aku merasa aku ambigu.

Awalnya aku merasa diriku tidak ambigu. Aku sama dengan anak-anak lain yang sering bermain di pekarangan depan atau taman belakang rumahku. Aku tidak berbeda dengan mereka, meski kadang mereka kemudian merasa kalau aku berbeda dan meninggalkanku sendirian. Apa aku sedih? Awalnya, tapi setelah itu tidak. Kukunci pintu pagarku, kemudian kukeluarkan ratusan mainan yang dibawa pulang oleh orang tuaku ketika mereka bertugas ke luar negeri sebagai oleh-oleh. Kugelar semuanya berantakan. Dan ketika mereka, teman-teman itu melongok dari terali pagar ke arah mainan, maka dengan sombong aku akan membereskan semuanya ke dalam kotak dan masuk ke rumah dengan perasaan menang. Lihat, dari kecil aku sudah bisa menyiasati bagaimana menghadapi mereka yang memandangku ambigu. Entah siapa yang mengajarkan.

Kesendirian dan kesepian kadang menjadi pupuk bagi kemabiguanku. Kesendirian membuatku merasa nyaman dengan dunia penuh ilusi, penuh pengharapan, penuh warna yang tidak hanya ada biru dan kuning. Sementara kesepian membuatku menkritisi arti ambigu yang setelah kutemukan artinya, aku semakin menikmatinya. Kesendirian dan kesepian ternyata tidak membunuhku, hal-hal itu justru membuatku menjadi seseorang dengan hati yang tertempa.

Sampai saat ini aku tidak mengerti kenapa aku nyaman dengan perasaan ambigu ini. Aku merasa ambigu bukanlah hal nista karena aku tetap bisa tumbuh jadi sosok yang menurutku tidak memalukan. Aku bisa membawa diriku ke jalan yang semua orang tidak bisa. Mungkin memang itu semua hanya keberuntungan, semua kesenangan yang aku alami hanya berupa keberuntungan. Apakah kemudian ambigu bagiku juga merupakan sebuah keberuntungan? Aku tidak tahu.

Dulu aku merasa bahwa yang ambigu hanya aku dan duniaku. Makanya kadang aku merasa terasing dengan lingkungan sekitarku, merasa marginal meski aku tetap bahagia. Selayaknya anak autis yang tetap bersemangat dalam dunia kaca kehidupannya. Tapi ketika aku membuka mataku lebar-lebar ternyata banyak juga yang ambigu sepertiku, bahkan jauh sebelum aku merasa bahwa aku ambigu. Mereka sudah berada di dunia mereka yang sekarang ternyata sedikit banyak bersinggungan dengan duniaku.

Keambiguanku semakin bertambah ketika aku bertemu kemudian jatuh cinta dengan seseorang yang ambigu juga. Jatuh cinta tetap indah, meski kata orang cinta kami aneh, cinta kami tidak lazim, cinta kami salah. Siapa yang berani menggugat cinta? Apa karena mereka merasa mereka tidak ambigu kemudian mereka merasa yang paling benar dan menyalahkan cinta kami. Sekali lagi cinta tidak bisa digugat. Biarkan kami merasakan cinta meski menurut kalian itu salah. Bagi kami, cinta kami tidak salah, cinta kami seperti juga cinta kalian. Tulus dan tidak membebani.

Aku tidak merugikan kalian semua meskipun aku dicap ambigu. Aku tidak lantas mejelma menjadi orang yang jahat dan berhati busuk meskipun memiliki cinta yang selalu kalian cerca. Aku manusia biasa, meski ambigu. Aku masih berhak memutuskan jalan kehidupanku sendiri walau kalian tetap melihatnya salah. Aku akan tetap menjadi aku yang ambigu.

Kalau kalian mau bersikap adil padaku, cukup buka mata kalian lebar-lebar. Yang menurut kalian ambigu hanya satu dari sekian aspek yang bisa kalian nilai atas kehidupanku. Tidak adil rasanya kemudian jika kalian menggeneralisasi semua tentang aku hanya dari sisi itu, yang kebetulan ambigu. Anomali dalam perspektif kalian. Tapi yakinlah meskipun aku mabigu dan anomali, aku tetap memiliki hati yang sama seperti kalian. Hati untuk berbagi. Hati untuk saling berjabatan tangan dan bergandengan dalam persahabatan dan damai.

Hari ini, aku yang ambigu, yang memiliki perspektif lain tentang makna sebuah cinta hanya ingin berteriak lantang. Aku bangga menjadi aku yang ambigu, karena meskipun kalian seringnya merendahkan keambiguanku, aku tetap bisa mengalahkan kalian yang menurut kalian sendiri normal dan tidak ambigu dalam beberapa hal. Tidak semua memang, tapi aku tetap saja bangga. Aku bangga menjadi aku yang ambigu. Sekarang, besok dan nanti.

Sekali lagi, panggil saja aku ambigu….

Rabu, 20 Mei 2009

Perantara Mimpi


On the phone with my mom:

Mom: Apis, itu temen kamu yang cina itu kemana sih? Kok jarang keliatan

Apis: Temen cina yang mana sih Mom? (padahal hati gue deg-degan)

Mom: Itu lho, yang sering maen ke rumah. Yang waktu itu ngasih mommy bingkisan buah
Apis: Oh, si mata segaris yah? Emangnya kenapa Mom?

Mom: Perasaan kok jadi jarang liat. Kalau kamu di Bandung juga dia jadi jarang maen ke rumah. Sakit dia?

Apis: Emang kenapa sih Mom? Kok tiba-tiba nanyain dia? (hati gue makin nggak karuan)

Mom: Udah dua hari berturut-turut mommy mimpiin dia. Aneh aja, makanya nanya sama kamu

Apis: Hah mommy mimpiin dia? Kok bisa? Mimpiin gimana sih mom? (gue bener-bener kepo!)

Mom: Jadi mommy tuh mau praktek, tapi yang nyetirin dan nganter-nganter dia. Yang nggak bisa mommy lupa itu senyumnya. Tulus banget, kayak yang sayang gitu sama mommy…

Apis: Ih, mommy genit. Mommy jatuh cinta kali sama dia. Adoooooh……

Mommy: Orang gila! Bukan, kok yah aneh aja mommy bisa mimpiin dia. Sampe dua hari berturut-turut. Makanya mommy nanya sama kamu, dia kemana? Takutnya ada apa-apa

Apis: Dia udah pindah Mom, pindah ke Singapur, nerusin bisnis papihnya. Udah mau dua minggu.

Mommy: Kok pindahan nggak pamitan sama mommy? Gimana sih tuh anak..

Apis: Dia asalnya mau pamitan, tapi waktu itu kan mommy lagi ada seminar di Bali, jadi nggak sempet ngomong langsung. Mungkin dia dateng di mimpinya mommy karena dia mau pamit kali, sekalian mau bilang kalau dia sehat-sehat aja.

Mommy: Iyah kali yah, tapi kok sampai dua hari berturut-turut yah?

Apis: Mungkin dia mau bilang juga kalau dia sayang sama mommy..

Mommy: Hahahahahaha. Sayang sama mommy? Masa sih. Sama kamu sayang nggak dia? (GUBRAK!!!)

Apis: Apaan sih Mom, suka asal deh ngomongnya!

Mommy: Ya udah, nanti kalau kamu telpon-telponan sama dia, bilang mommy kangen. Suruh ketemu mommy kalalu kapan-kapan dia balik ke Indo

Apis : Iyah Mom, ntar Aku bilangin.


Cinta, orang bilang mimpi itu hanya bunga tidur, hanya hiburan saat mata tak terjaga. Tapi aku yakin bahwa kadang mimpi juga merupakan sebuah pertanda, sebuah isyarat hening. Mungkin tidak bisa dipercaya sepenuhnya, tapi aku yakin bahwa ada maksud di semua pertanda yang hadir perantaraan mimpi.

Lihat, kamu sudah sedemikian rupa mengambil hati mommy. Nggak hanya waktu kalian bisa bertatap muka langsung, tapi disaat jauhpun kamu masih saja berusaha mengambil hati mommy dengan menunggang mimpi. Bahagia rasanya menyaksikan bahwa kamu tak juga lelah mencoba untuk berusaha agar kamu bisa diterima di hati mommy. Apapun usahanya itu, aku sangat menghargainya.

Mungkin mommy ku bukan mami kamu yang dengan sangat terbuka menerima aku di tengah keluarganya, di hatinya. Menyayangi aku seperti anaknya sendiri. Mungkin mommyku bukan mami kamu yang sudah dengan sangat terbuka menerima hubungan kita, bahkan ikut merasa berkewajiban menjaga hubungan ini. Tapi yakinlah, mommy ku pasti akan bisa menerima semuanya, meskipun entah kapan. Itu nggak penting, yang paling penting kamu ada di hatinya mommy. Setidaknya datang melalui mimpi adalah cara yang paling tepat untuk tetap mengingatkannya tentang kamu.

Sayang, terima kasih untuk selalu berusaha membuat semuanya semakin mudah. Membuatnya semakin jelas untuk dijalani. Yang perlu kita lakukan sekarang hanya berusaha, berusaha mempertahankan apa yang memang patut untuk kita pertahankan, karena percayalah bahwa ini semuanya indah. Cinta kamu indah, cinta aku indah, cinta kita indah. Semoga indah dan kekal untuk selamanya.

Tapi kamu curang….Kenapa kamu hanya datang di mimpinya mommy? Tak inginkah kamu menyambangiku dalam mimpi? Aku rindu tau, dan aku berharap dengan memimpikanmu bisa mengikis sedikit rindu yang ada disana. Di hati aku.

Datanglah dalam mimpiku malam ini, besok malam dan selamanya. Sampai kita akhirnya bisa bersama kembali suatu hari nanti. Aku mencintaimu….

Selasa, 19 Mei 2009

Nuhun


Kemaren baca postingannya Fa yang terbaru yang judulnya sorrow. Gue kok ngerasa banyak kemiripan yah sama ceritanya itu, kebetulan mirip banget sama cerita gue yang ditinggal si mata segaris itu pindah ke luar negeri. Tapi jangan pikir yang diceritain Fa itu gue, gue nggak kenal sama Fa, jadi mana mungkinkan Fa nyeritain gue.

Membaca tulisan Fa, membuat gue sadar bahwa gue juga sedemikian beruntungnya punya temen-temen yang perhatian, yang seperti Fa tunjukkan sama temennya itu. Memberikan perhatian, memberikan dukungan, penguatan dan menemani saat gue nangis nggak berhenti.

Fa mengingatkan gue untuk mengucapkan terima kasih dan tersungkur dalam rasa syukur yang teramat dalam. Kemaren-kemaren gue mungkin keasyikan tenggelam dalam kesedihan, berenang dalam air mata dan lupa akan keadaan sebenarnya bahwa banyak teman yang peduli. Dan gue lupa itu. Maafkan teman, gue kemaren bener-bener dibutakan pedih, ditulikan sakit. Tapi saat ini gue udah sadar, udah bangkit, udah gak terlalu sedih lagi, karena seperti kalian bilang bahwa hidup tetap harus berjalan.

Izinkan gue mengucapkan terima kasih karena sudah tetap berada disana, berdiri menemani meski jauh. Terima kasih untuk sms-sms yang memberikan dorongan di malam terakhir gue bisa merengkuh nyata si mata segaris. Terima kasih sudah menawarkan diri untuk menemani gue mengantarkan si mata segaris ke bandara. Maaf, bukan tidak mau ditemani, tapi waktu itu gue hanya ingin berdua. Terima kasih sudah menelpon untuk menanyakan keadaan gue sesaat setelah pesawatnya lepas landas. Terima kasih sudah menemani gue menangis ketika gue nggak tahu apa yang harus diucapkan. Terima kasih sudah menculik dan membawaku jalan-jalan meskipun hanya sekedar makan. Semuanya berarti, dan untuk itu gue mengucapkan banyak terima kasih.

Apalah artinya gue tanpa kalian, teman-teman yang gue sayang. Yang tanpa kehadiran kalian membuat gue merasa tidak utuh dan tidak lengkap. Sekali lagi izinkan gue mengucapkan terima kasih atas apa yang sudah kalian lakukan. Berkat kalian juga gue bisa bangkit. I love you all….NUHUN PISAN!