Halaman

Senin, 09 Februari 2009

Homework

Finally, after through a long long exhausted weeks. I can join with this games. Such an interesting games


Rules of the game:
1. use google images to search for the answer of the question bellow
2. Choose a picture in the first page of search results, then post it as your answer
3. After that, tag other 7 people

Here are my answers:



1. The age of my next birthday

2. Place i like to travel to



3. A favorite places




4. Favorites foods


Idiom for Aci digoreng



Idiom for Aci dicolok



5. Favorite Things








6. Favoritr color



7. Where was i born



8. A city (cities) i've lived in



it takes 7 hours from Surabaya







9. Nick name i have
10. College Major



11. Hobies: Equal with favorite things

12. bad habit :





13. name of my Love

14. Whist List

university in Amsterdam








I tag :

  1. montirmanusia
  2. simpleguy
  3. dr pr
  4. enno
  5. brokolisehat
  6. ronald silitonga
  7. celeronpras

Minggu, 08 Februari 2009

Talents Mapping


Menurut ilmu psikologi popular yang terus berkembang, issue yang sekarang sedang hangat adalah mengenai pembagian bakat manusia menjadi 34 kelompok utama. Semua manusia memiliki ke-34 bakat tersebut hanya saja urutannya berbeda-beda, dari yang terkuat sampai yang terlemah.

Bulan desember kemaren, gue ikut tes bakat ini. Bersyukur banget gue ikut tes penerimaan karyawan di salah satu instansi yang dengan intens mengembangkan instrument tes bakat ini. Bahkan katanya instansi ini adalah instansi yang menggagas instrumennya, dan pengujiannya sudah melewati banyak tahap dengan validitas yang sudah diakui di seluruh dunia.

Tesnya 170 butir soal sajah, dan diulang-ulang seperti tes bakat pada umumnya sih. Tapi dari sekian belas tes bakat yang pernah gue ikutin, tes yang ini soal-soalnya baru gue alamin. Dalam artian, belum pernah ada lembaga pengujian bakat dan kepribadian yang pake instrument ini. Gue sih seperti bisaa, pas ngerjainnya ya sesuai dengan apa yang ada di hati gue. Nggak banyak bohong, lagian gue nggak punya alaesan buat bohong dan mengada-ngada, toh nggak ada benar dan salah.

Pas orientasi kerja kemaren, karena Alhamdulillah gue keterima di instansi itu. Hasil tes bakatnya dibagiin. Dibedakan 10 bakat utama dengan urutan 1 sampai 10 kemudian kelompok kedua 11 samapi 34. Pas gue baca hasil tes bakatnya, gue cuman bisa tertawa miris dan berpikir. Gue memang aneh ternyata.

Gue cuman mau bahas, bakat nomer 1 dan 2 serta bakat no 34(paling gak bakat, red). Bakat nomer 1 gue (yang paling kuat) adalah COMMUNICATION. Penjelasan untuk orang dengan bakat ini adalah : 1) Mudah sekali mengungkapkan apa yang dipikirkan dengan kata atau tulisan yang mudah dimengerti orang lain, 2) Dia bisa mengangkat topic yang kering dan membuatnya menarik dengan bumbu-bumbu yang berwarna-warni, 3) Senang menjelaskan, menjabarkan, bercerita, berbicara di depan umum dan menulis. TEMA bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran berikut: pengajar, sales, marketing, humas, juru bicara, juru kampanye, presenter, MC, pengacara, layanan pelanggan, penulis.

Bakat nomer 2 gue adalah CONNECTEDNESS. Ciri-ciri bakat ini adalah : 1) memiliki keyakinan dalam menjelaskan gejala secara ‘bathin”, 2) penuh pertimbangan, penuh perhatian, mudah menerima: inilah kata-kata yang tepat baginya, 3) segala sesuatu terjadi pasti ada sebabnya. Dia yakin akan hal itu, karena dalam hatinya dia tahu bahwa semua ini saling berkaitan. TEMA bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran berikut : pendengar dan pemberi saran/konselor, leader di dalam membangun team yang berbeda kelompok atau membantu orang lain merasa berguna.

Bakat nomer 34 (yang bukan gue banget) adalah : FOCUS. Cirinya adalah : 1) mengambil arah, mengikutinya, membuat koreksi seperlunya untuk tetap berada di jalur yang benar, 2) Apabila tidak ada tujuan, hidupnya atau pekerjaannya, bisa cepat membosankan. Dan demikianlah setiap tahun, setiap bulan, dan bahkan setiap minggu dia menetapkan tujuan-tujuan, 3) dia selalu tetap mengarahkan setiap orang pada tujuannya.
TEMA bakat ini adalah orang yang bekerja sebagai : project officer, team leader, tugas yang memerlukan focus.

See, kenapa gue ngakak bacanya. Gue kan peneliti sejati (mudah-mudahan) tapi kok bakat gue gak ada yang mengarah ke pekerjaan itu yah? Padahal selama gue menempuh pendidikan buat jadi peneliti itu nggak ada kesulitan sama sekali, tapi kok nggak bakat yah? Aduh kayaknya gue memang bener-bener salah ambil jurusan neh kayak yang temen-temen gue bilang. Kata mereka gue cocoknya kuliah di Fikom bukannya di biotek. Aduh……..

Tapi kan katanya bakat itu tidak selamanya bisa selaras dengan pekerjaan yang kita gelutin. Mungkin gue belum menemukan bakat terpendam gue buat jadi peneliti sejati. Mudah-mudahan dengan berjalnnya waktu bakat itu bisa kentara dan bikin gue lebih bersinar. Tapi miris gak sih kalo baca penjelasan tema bakat gue nomer 34 di bagian akhir. Tugas yang memerlukan focus. Gue memang bener-bener nggak punya focus, atau fokusnya sering teralihkan. Padahalkan sebagai peneliti hal itu gak boleh kejadian.

Au ah gelaph………………..

Realisasi Doa Jaman Dulu


Tuhan, aku yakin kalau Engkau pasti masing ingat doa-doa yang aku panjatkan ketika aku baru lulus kuliah dulu. Aku sangat ingin meniti karier di Jakarta. Aku yakin Engkau masih ingat semua itu, dan aku yakin kalau Engkau tahu bahwa alasanku ingin berkarir di Jakarta bukan karena ingin hidup bebas yang katanya metropolis, bukan itu. Aku hanya ingin berkarir dengan jejak yang jelas. Karir yang titiannya pasti karena aku sangat yakin, dengan background pendidikanku yang sudah sangat spesifik akan sulit sekali berkarier di Bandung. Padahal aku cinta mati dengan kota kelahiranku ini.


Tuhan, kala itu aku terus menunggu jawaban atas doaku. Menanti realisasi kuasaMu atas permintaanku. Sayang mungkin Engkau punya itikad baik yang tidak aku mengerti, setelah aku menunggu, tak juga Kau kabulkan semua harapanku. Tapi aku tidak lantas berburuk sangka Kepadamu. Aku tahu dan yakin Engkau bekerja dengan cara yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku kemudian mengubah haluan, bukan mengalihkan keinginanku untuk meniti karir di Jakarta, tapi untuk sementara menundanya. Aku memutuskan untuk melanjutkan studiku sambil terus berharap bahwa ketika aku menyelesaikan studiku nanti, Engkau kemudian mengijabah doaku.


Tapi Tuhan, ketika studiku telah berakhir dan kembali aku meminta kepadaMu untuk memberiku karir di Jakarta, lagi-lagi Engkau menunjukkan cara yang tidak kumengerti. Engkau tidak lantas memberiku kesempatan untuk hengkang ke Jakarta. Engkau malah mengirimku ke kota yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Kota kecil yang sangat jauh. Tapi aku tidak menyesalinya, karena itu menambah relief indah di dinding perjalanan hidupku. Ketika aku memutuskan pindah dari kota itu, Engkau kembali memberi karier di kota yang bukan Jakarta. Untungnya sekarang tidak seterpencil kota yang dulu. Sampai saat ini, karierku yang ini ketika aku diberi naungan rizki di pinggiran jauh Jakarta. Tapi Tuhan, kembali aku tekankan, aku tidak menyesali semuanya. Aku tidak berburuk sangka.


Dengan pikiran dewasaku, aku mencoba menelaah semuanya karena aku yakin ada rencana indah dan baik dibalik semuanya. Aku tahu dan mengenal siapa diriku sebenarnya, aku tahu akan seperti apa aku di Jakarta. Dengan karier dan pekerjaan yang mapan, aku pasti akan jauh dariMu. Kenapa aku yakin seperti itu? Seperti aku bilang tadi, karena aku tahu dan mengenal siapa diriku. Karier mapan di Jakarta hanya akan membuat diriku hancur, menjebakku dalam dosa. Aku yakin itu, oleh karenanya aku tahu kenapa Engkau tidak mengabulkan semua doaku. Karena Engkau menyayangiku.


Sekarang, ketika aku pasrahkan semuanya. Mencoba berdamai dengan hati dan keadaan. Engkau kembali menunjukkan kuasaMu. Tanpa disangka-sangka, Engkau memberiku karier di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, langsung di jalan protokol, di daerah segitiga Emas di Jakarta. Harusnya aku bersyukur bukan? Doaku akhirnya terkabulkan. Tapi sungguh ketika aku menelaahnya lagi dengan pikiran dewasaku, aku hanya bias tersenyum. Engkau begitu menyayangiku duhai Tuhan.


Dulu, aku meminta karier jelas di Jakarta, Engkau tidak mengabulkannya. Kini, ketika aku sudah mulai berdamai dengan keadaan, Engkau tiba-tiba mengirimku ke Jakarata. Karier mungkin sangat jelas, aku tahu itu. Tapi sebagai pegawai pemerintah, abdi negara, aku tahu dengan jelas penghasilanku. Makanya aku tahu Engkau menyayangiku Tuhan. Engkau tidak membiarkanku tenggelam dalam kegiatan hura-hura. Tapi aku tidak menyalahkanmu Tuhan, aku justru mendalami arti dari kuasamu. Terima kasih Tuhan. Engkau sangat baik.


Kembali, kau akan menyelamatkanku dari kemungkinan terjauh darimu. Menjadikanku hamba yang harus senantiasa menyambangiMu, untuk bersyukur dan meminta lebih. Aku juga sangat yakin, Engkau tak akan pernah bosan aku datangi. Aku hanya meminta, bimbinglah aku agar selalu berada di jalanMu. Amien.

Kembali ke Kampus


Tenang-tenang, judul postingan ini bukan mau bilang gue udah join sama salah satu program doktor. Pasti sih join suatu saat nanti, tapi belum sekarang. Gue belum memutuskan mau kemananya juga. Ke Jepang gitu yah? Tapi nanti ketemu si dia lagi. Males. Apa ke Belanda aja? Tapi gue udah berkomitmen buat setia. Nanti kalo kuliah ke Belanda, ketemu si from the past itu malah luntur lagi idealisme gue. Hehehe. Itu sih guenya aja yang kegatelan. Tapi yah gak tau juga, kemana aja lah. Liat Nasib yang dikasih Tuhan aja.

Kembali ke kampus disini, gue mau nyeritain kalau senin kemaren gue ke kampus gue dulu. Ngurus translate ijasah sama transkrip nilai. Nah kalau yang ini memang salah satu syarat yang harus gue urus biar bisa sekolah S3 ke luar (yang entah kapan itu tadi). Tapi kalau diurus lebih awal kan lebih tenang, siapa tahu gue keusap sesuatu dan memutuskan buat sekolah dalam waktu dekat. Amien.

Ternyata kampus gue ini nggak banyak berubah. Setiap sudutnya masih kayak dulu, waktu gue pertama kali menginjakan kaki disana. Paling yang berubah cuman tempat parkirnya aja. Gila yah, nampaknya mahasiswa sekarang kaya-kaya. Mobil dimana-mana, sampe susah nyari parkiran kayaknya. Memori yang ada di otak gue semua terpanggil ketika gue ngelewatin bangunan-bangunan “bersejarah” itu. Bangunan yang nemenin gue bertransformasi jadi gue yang sekarang. Bangunan yang juga jadi saksi ketika gue jatuh bangun mengejar sesuatu bernama cinta. Ugh, semuanya berlarian di kepala gue minta ditayangkan.

Di kampus ini juga, gue pertama kali mengerti apa itu cinta. Apa itu kangen. Apa itu sakit. Semuanya bikin gue mundur ke beberapa tahun kebelakang. Tapi semuanya nggak gue sesalin, justru gue bersyukur pernah ngalamin itu semua di kampus ini. Semuanya begitu indah.

Nah waktu kemaren gue kampus itu, gue janjian sama si simpleguy yang gue kenal di blog. Kita dah sering komen-komenan, sering chat di YM tapi belom ketemu secara langsung. Mumpung gue ke kampus dan gak tahu kapan bisa ke kampus ini lagi makanya gue ajak ketemuan aja dia. Lagian dia juga lagi di kampus, sekalian aja. Waktu gue dah nyampe kampus, gue nelpon dia dan kita janjian di salah satu tempat di deket gedung departemen gue. Aduh, berasa dejavu gue. Berasa jadi anak kuliahan jaman baheula yang masih hijau. Untung ketemuannya gak pake deg-degan. Hehehe. Eh, dia nanya gue pake kemeja warna apa? Pertanyaan standar orang mau kopi darat nggak sih?

But wait……Kemeja? Aduh, dari sejak jaman kuliah gue nggak pernah pake kemeja. Gue pake kemeja itu pas mulai kerja aja, karena nggak mungkin kan ke kantor masih pake kaos oblong. Di hari ke kampus itu juga gitu, mana mau gue pake kemeja. Gue pake kaos oblong, jins belel, dan sepatu kets. Sumpah kangen banget pake style itu ke kampus. Nampak muda gue. Eh, si simpleguy bilang bukan nampak muda, tapi berasa muda. Siyal!!!!

Karena pas kita ketemuan udah masuk makan siang, kita memutuskan untuk makan di luar aja. Pas mau ke parkiran, gue ketemu sama pacarnya si simpleguy. Untung dia udah cerita sama pacarnya kalo dia mau ketemuan sama gue jadi kan gak berabe. Kasian aja kalau nanti mereka berantem gara-gara salah paham. Gue juga dah cerita sama yayang gue kalo gue mau ketemuan, dan dia ngerti. Malah tadi dia yang nganterin gue ke kampus. Maklum lagi gak ada mobil. Alesan, padahal guenya aja yang lagi manja.

Tapi sumpah, hari ini gue seneng banget. Selain bisa napak tilas jaman-jaman keemasan gue dulu. Bisa ketemuan sama simpleguy juga menyenangkan. Orangnya asyik dan bawel (jangan GR ya bro….). Kadang, hal-hal kayak gini seperti kembali ke tempat-tempat dimana kita pernah tumbuh dan dewasa, juga ketemu dengan orang-orang baru bisa ngerefresh pikiran kita. Mengisi ulang baterai di hati.