Halaman

Minggu, 16 Maret 2008

IT TAKES 2 HEARTS TO FALL IN LOVE

Dalam cinta tak ada kata aku, yang ada adalah kita. Dalam cinta tak ada istilah aku harus memahamimu, tapi yang ada adalah kita harus saling memahami. Dan dalam cinta tak ada aku harus menerimamu apa adanya, tapi yang ada kita harus saling menerima keadaan kita masing-masing. Cinta memiliki arti bukan hanya aku, tapi kita. Aku dan kamu yang terhubung dalam lingkaran suci api nirwana. Cinta tak akan berhasil bila hanya ada aku melulu atau kamu melulu, cinta tidak seperti itu. Cinta bukan arena hitam dan putih, tapi perpaduan yang menjadikannya abu-abu. Hal itulah yang seharusnya terjadi pada cinta kita, bukannya cinta aku.

Malam ini aku mencoba membuka kembali lembar demi lembar kisah yang pernah kita torehkan dalam kasta bernama cinta. Aku membuka kembali lembar kisah kita, bukan kisah aku atau kisah kamu. Dari jendela kamarku aku melihat bulan yang mengigil diterkam warna malam. Bulan….selalu tampak romantis bagiku, dan setiap aku mengintip bulan, aku jadi ingat bahwa cintaku padamu seperti bulan. Bulan selalu indah dan selalu ada, sama seperti cintaku. Kala purnama, cintaku penuh padamu, ranum dan siap untuk direguk. Cintaku padamu akan selalu ada, kalaupun sedikit terkikis itu hanya akan menjadikannya sabit. Tidak hilang sama sekali. Kalau bulan menghilang ditutup jelaga malam, maka cukup kau rasakan. Pendarnya akan tetap ada dalam nuansa hatimu.

Bagaimana dengan siang? Siang tak ada bulan. Apakah itu artinya ketika siang datang, cintaku menghilang. Bukan…tidak seperti itu analogi cintaku. Ketika siang meraja, aku memberimu kesempatan untuk menjadi kamu. Bukan kita. Cinta tidak egois, cinta juga tidak harus selalu ada kita karena terkadang aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Lalu ketika kamu menjadi kamu lantas aku kemana? Aku akan sabar menanti datangnya saat kita kembali. Aku pasti akan kembali hadir dengan irama yang sama, seperti yang sudah bulan janjikan pada malam. Aku tidak akan mengekangmu karena aku tidak ingin cinta menjadikanku egois. Bulan tidak selalu menuntut langit untuk menghadirkannya, bulan mau berbagi dengan matahari di waktu yang berbeda. Bahkan bulan mau berbagi dengan jutaan bintang di waktu yang sama, saat kelam menganga.

Aku mau berbagi dengan sahabat-sahabatmu, dengan setumpuk pekerjaanmu, bahkan dengan waktu pribadimu. Aku mau berbagi dengan semua itu, membagi kamu tapi bukan cinta kamu. Cinta butuh dipertahankan, dan untuk itu tidak cukup hanya diikat oleh rantai dari untaian aksara, tapi butuh usaha. Cinta tidak akan berhasil kalau hanya aku yang berusaha, harus kita yang berusaha. Bulan selalu berusaha menyapa malam, meskipun dia rela tak teraba disaat terang. Tapi dia berusaha. Itulah yang aku inginkan dari kamu, berusaha. Berusaha agar pendar cinta kita tetap terjaga. Tak apa-apa redup asal jangan padam. Cinta itu melingkarkan aku dan kamu dan agar tetap terlingkar maka dibutuhkan bukan hanya usaha aku, tapi usaha kita. Cobalah meraba hati, menelusuri relief ruang hatimu yang dulu katanya mau kau bagi dengaku. Apakah aku masih ada di sana? Apakah aku masih menjadi bagian warna pelangi jiwamu? Aku harap masih, sehingga aku akan tetap berusaha selama kamu berusaha karena dibutuhkan dua hati untuk terpadu, it takes two hearts to fall in love.

Bandung, 4 maret 2008
Di kamarku, saat pekat membahana dan ingat kamu.

ELEGI GERIMIS

Hari ini gerimis datang lagi. Rinainya menyapa jutaan kuncup bunga, mencumbunya kemudian jatuh ke tanah, menghapus jejak yang tersisa. Aku benci gerimis meski orang bilang gerimis itu romantis. Aku benci gerimis, karena gerimis mengingatkanku padamu. Gerimis hanya mengungkit cerita lama, cerita getir, cerita penuh air mata. Cerita antara aku dan kamu.

Aku benci gerimis karena biasanya gerimis hanya datang sesaat. Aku benci gerimis karena kesesaatannya itu tetap menghasilkan jejak. Jejak air mata. Aku kadang berharap yang muncul hujan besar bahkan badai dan bukannya gerimis. Aku lebih memilih terporakporandakan badai daripada terkoyak gerimis. Gerimis itu getir. Gerimis itu darah. Gerimis itu luka. Aku benci gerimis, karena gerimis hanya menyingkap tirai masa lalu. Masa dimana ada aku dan kamu. Sayang gerimis hanya sesaat, hanya mampu mengoyak. Tidak memporakporandakan.

Ingatkah kamu saat kau memintaku untuk tidak membencimu? Saat itu gerimis. Rinai itu jadi saksi. Katamu aku boleh melupakanmu, tapi jangan membencimu. Katamu benci hanya akan menutup pintu maafku padamu. Saat itu gerimis, dan gerimis tak datang sekali. Bagaimana aku bisa melupakanmu kalau tiap gerimis datang yang terbayang hanya kamu. Aku benci gerimis, karena gerimis membuatku selalu ingat kamu. Mengingatmu berarti menyobek hatiku. Aku benci mengingatmu.

Di depanku jalan tak hanya lurus, tapi ada juga ke kiri dan ke kanan. Aku tinggal memilih mau kemana . Tapi kenapa ketika gerimis datang, aku memilih berjalan ke belakang, bukannya lurus ke depan atau belok ke kiri dan ke kanan. Berjalan ke belakang, mengingatmu yang telah menyakiti hatiku. Aku benci gerimis, karena gerimis membuatku tak punya pilihan. Aku mengutuki langit yang menurunkan gerimis. Mengutukimu yang datang menunggang gerimis.

Masih perlukah sebuah kata maaf terucap? Masih perlukah pintu maaf terbuka? Kamu bilang jangan membencimu, karena benci menutup pintu maafku. Aku benci pernah mencintaimu, karena mencintaimu membuatku rela menjadi yang kedua, menjadi selingkuhan dan menjadi yang marginal. Aku tidak bisa memilikimu sepenuhnya, tidak seperti bumi yang berhak atas langit. Mencintaimu membutakan aku, seperti matahari yang dibutakan malam.

Saat gerimis kamu memutuskan untuk memilihnya, berlari ke arahnya kemudian memeluknya. Kamu meninggalkanku yang mengigil di tengah gerimis. Meninggalkanku dengan harapan agar aku tidak membencimu, karena kamu masih mengharapkan sepenggal maaf. Kalaupun aku memaafkanmu, aku akan tetap membencimu karena gerimis. Gerimis membuatku teringat padamu, dan aku benci itu. Aku benci gerimis.

Gerimis……. Aku sudah lelah. Jangan kau siksa aku dengan rintikmu. Aku lelah terpenjara dalam asa. Aku lelah mengingatnya karenamu.

TAMAN YANG PALING INDAH

“Taman yang paling indah hanya taman kami, taman yang paling indah taman kanak-kanak. Tempat bermain, berteman banyak. Itulah taman kami taman kanak-kanak” Sepenggal syair lagu anak-anak yang aku yakin sangat akrab di telinga semua orang entah itu laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak maupun manula. Mereka semua mungkin setuju bahwa taman yang paling indah itu memang taman kanak-kanak.

Buat aku, taman yang paling indah selain taman kanak-kanak tentunya adalah taman aksara. Taman yang di dalamnya terserak jutaan aksara yang dapat aku rangkai menjadi kata. Aku jatuh cinta pada aksara sejak pertama kali aku mengenalnya, sehingga aku berterima kasih pada orang-orang yang memperkenalkan getar asmaraku yang pertama pada aksara kemudian kata. Di taman ini aku senantiasa tersungkur, tersungkur dalam cinta dan tersungkur dalam keindahan makna sebuah kata.

Berada di taman aksara seringkali membuat aku lupa, lupa pada kenyataan kalau aku bukan fatamorgana tapi nyata. Aku bisa berubah menjadi siapa saja di taman aksara. Berubah menjadi seseorang yang terjebak di dalam jiwaku, alam pikiranku bahkan dalam nyawaku. Kecintaanku pada aksara dan kata mampu mewujudkan semua asa yang kadang tak bisa terjamah raga. Di taman akasara aku bisa menjadi pujangga ketika aku sedang jatuh cinta, bisa menjadi sangat cengeng ketika terjerembab dosa dan bisa menjadi sangat pemarah ketika durjana menyapa jiwa. Aku bisa menjadi semua itu di taman aksara tanpa ada yang bertanya mengapa.

Aku jatuh cinta pada taman aksara, taman yang bisa menyembunyikan siapa aku sebenarnya. Aku bisa menyamar sepuasnya disana, sembunyi di balik makna sebuah kata, dan kadang aku akan berkamuflase menjadi orang asing. Orang yang sama sekali tak kukenal. Mereka hanya kupinjam arwahnya untuk kususupkan sementara dalam jasadku. Semua itu perantara aksara dan kata.

Aku paling senang ketika arwah pujangga menyusupi ragaku, aku akan menjadi sangat romantis. Jutaan kata cinta bisa terbingkai dalam puisi, syair dan sajak meskipun aku bukan pecinta yang beruntung. Semuanya karena aksara. Aksara memberiku kekuatan untuk mendobrak semua belenggu yang mengikat, melabrak semua norma pembenaran bahkan meruntuhkan dinding yang dibangun dari kesombongan. Kekuatan itu membuatku bisa berjalan di setapak kecilku tanpa orang tahu. Aksara menjadikanku prajurit yang tangguh, yang memanggul panji-panji makna kata. Aksara tak menjadikanku ambigu atau anomali karena aksara tak bisa digugat cerca. Aku beruntung mengenal kemudian jatuh cinta pada aksara.

Mari kita bermain di taman aksaraku, agar kita semua terjerembab dalam rasa cinta yang sama. Kujanjikan akan kau lihat kupu-kupu di sana, bahkan di tempat-tempat yang tak pernah kau bayangkan sama sekali. Tak sekedar permainan petak umpet yang kutawarkan, tapi lebih dari itu. Selamilah duniaku melalui goretan aksara dan kata yang kutoreh di sana. Nikmati, kemudian kau akan mengenal siapa aku sebenarnya. Seseorang yang tak lagi bertopeng kata, seseorang yang akan mengajakmu berarung jeram menyusuri riak-riak aksara. Seseorang yang akan membuatmu menyesal tak mengenal aksara dari dulu. Bergabunglah dan akan kuucapkan,
“Selamat jatuh cinta di taman aksaraku”

KARENA KITA S2

Kemaren gue ngumpul sama temen-temen gue. Temen-temen yang punya kesamaan nasib. Terhimpun dalam kelompok yang hampir semua anggotanya jobless. Sebenernya bukan jobless dari awal lulus dulu tapi ada juga yang baru resign, kayak gue. Yang bikin kita semua agak getir karena kita semua S2. Gila, udah sekolah tinggi-tinggi sampe S2 masih aja susah cari kerja. Indonesia kejam sekali engkau, hehehehe.

Dulu waktu gue baru kelar S2 dan susah nyari kerja (beneran susah banget!), sempet kepikiran kalo kayaknya gue salah ngambil jurusan deh. Bioteknologi gitu lho, ilmu “lieur” kalo kata temen gue. Mustinya gue ngambil ekonomi aja biar jadi MM atau sekalian MBA bukannya MSi bioteknologi. Hiks…Sempet kepikiran gue mau ngulang lagi S2 di bidang ekonomi tapi harus beasiswa. Gila aja kalo nggak beasiswa, bekas biaya kuliah S2 bioteknologi aja belom balik modal masa udah mau ngeluarin biaya lagi. Curiga bangkrut ntar bokap ama nyokap gue. Dan kalo gue tetep maksa kayaknya gue bakal jadi anak durhaka, terus dikutuk jadi batu. Igh..knock on wood!

Untung gue nggak ngotot buat nyari beasiswa ngulang S2 itu, kalo ngotot dan dapet (kayak bisaanya) pasti gue bakal nyesel dunia akhirat deh. Ada momen yang bikin gue bersukur nggak jadi ngambil S2 ekonomi setelah S2 sains gw kelar. Bulan Januari kemaren, gue ada panggilan tes (psikotes) di salah satu perusahaan retail terbesar di Indonesia. Mereka butuh Management Trainee, tapi hebatnya yang dibutuhkan itu kualifikasinya S2. Hebat yah! Baru kali ini gue nemu ada yang buka lowongan buat management trainee tapi S2, nggak maksimal umur 25 lagi. Kalo pake maksimal umur 25 pastinya gue udah nggak masuk kaleeee. Sedih yah umur udah di atas 25 tapi hidup belom settle. Nasib, nasib!

Pas gue tes itu, pesertanya 105 orang. S2 semua, hampir 90% lulusan ekonomi dan yang bikin shock mereka juga nggak punya kerjaan tuch. Tepatnya susah nyari kerja. Berarti mau dari jurusan apapun tetep aja susah dapet kerja, nggak ngaruh. Lulusan ekonomi aja yang lahan garapannya banyak susah nyari kerja, apalagi gue yang bidang ilmunya spesifik banget. Lahannya makin sedikit, bo! Kering. Mungkin yang salah memang di Indonesianya kali yah? Masa penduduknya makin berkualitas dalam hal pendidikan tapi nggak bisa nampung mereka dalam dunia kerja. Payah.

Kembali ke kumpulan gue dan temen-temen gue yang jobless itu. Kita diskusi ringan soal kerjaan apa yah yang cocok buat kita, gampang, nggak cape tapi menghasilkan banyak uang (jangan bilang jadi simpenan ah, basi! Sport jantung tao, wakakakakak). Salah satu temen gue yang gelarnya MBA (bayangkan, MBA susah dapet kerja!) akhirnya menyimpulkan bahwa kerjaan dengan kriteria di atas dan pastinya cocok buat kita semua adalah “JUAL DIRI”. What?! Katanya ada dua alasan kenapa jual diri jadi sangat menguntungkan buat kita-kita (anggota kelompok itu, red). Pertama, kalo jual diri itu gampang nyuci peralatannya (literally), dan Kedua, katanya kalo kita jual diri kita bisa matok harga jauh diatas pasaran. Kenapa? Dia bilang, pas nego sama “klien” bilang dari awal kalo harga kita beda. Kalo “kliennya “ nanya, jawab ya iya agak mahal lah, saya kan S2. Kalau nggak percaya, ini saya bawa CV, foto copy ijazah dan transkrip akademik yang udah dilegalisir plus kartu kuning, kartu tanda pencari kerja.

“Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”